My Cruel Husband

My Cruel Husband
Bukan seperti dulu


__ADS_3

Devan membanting pintu mobilnya. Dan para pekerjanya melakukan tugas dengan baik. Ada yang mengambil alih mobilnya untuk masuk ke dalam basement mansion. Adapula yang membawakan segala perlengkapan Devan.


Ketika salah satu wanita tua akan mengambil alih satu kantung plastik di tangan Devan, Lelaki itu mencegahnya.


"Aku yang akan membawa ini,"


Setelah mengatakan itu, Devan berjalan memasuki mansionnya. Biasanya Lovi akan duduk di ruangan khusus untuknya. Ruangan yang dipersiapkan Devan sebelum Lovi kembali dari rumah sakit pada saat itu.


Matanya tidak melihat keberadaan Lovi. Ia bertanya pada salah satu pelayan yang sedang berjalan tak jauh darinya.


"Dimana Lovi?" serunya pada pelayan itu.


"Nona ada di taman, Tuan," jawabnya langsung.


Devan menajamkan matanya. Tak habis pikir dengan pelayan yang memilih untuk melanggar perintahnya.


"Kau bodoh atau apa?! Bukankah sudah aku katakan untuk melarangnya ke taman lagi?"


Pelayan itu tersentak begitu Devan mengeluarkan amarahnya. Ia bingung harus mematuhi ucapan siapa. Bila harus melarang Lovi untuk duduk di taman rasanya Ia tidak setega itu.


"Kenapa kamu membiarkannya?"


"Nona tidak mungkin hanya berdiam di kamar, Tuan. Aku sudah membujuknya untuk pergi ke perpustakaan. Namun Ia menolaknya,"


"Seharusnya kamu melaporkan itu padaku,"


Sekarang langkah yang di ambilnya justru salah di mata Devan. Lagipula Ia tidak habis pikir dengan sikap arogan Devan dalam melindungi Lovi. Menurutnya itu terlalu membatasi pergerakan Lovi. Di akuinya kalau ia bersalah karena seharusnya Ia tidak melawan Devan.


"Maafkan saya, Tuan,"


Devan mengusir wanita itu melalui gerakan tangannya. Ia mengusap kasar wajahnya dan menghela napas pelan. Berusaha menghilangkan sesuatu yang nantinya akan membuat Lovi tidak nyaman. Dengan melihat eksrpesi wajahnya yang dipenuhi amarah, rahangnya yang mengeras, tentu saja Lovi akan ketakutan.


Devan memasuki area taman mansion yang luas itu. Ia melihat Lovi yang sedang duduk menghadap ke arah matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Tangannya mengusap perut yang sudah membesar itu.


Devan menatap sekeliling taman. Ia bisa bernapas lega ketika dilihatnya para pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Lovi ada di sana dalam radius yang tidak terlalu jauh memperhatikan setiap kegiatan yang Lovi lakukan.


Devan menghampiri Istrinya. Mengusap bahu Lovi membuat perempuan itu sedikit terkejut.


"Siapa yang mengizinkanmu ke sini? bukankah aku sudah melarang?" tanya Devan ketika tubuhnya duduk di samping Lovi.


"Lagi-lagi jawabanku hanya bosan,"


"Kamu bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan, Lov," jawab Devan dengan lembut seraya menghela surai Lovi yang terbawa oleh hembusan angin.


Mata Lovi langsung antusias. Ia langsung menegakkan tubuhnya untuk menatap lurus mata Devan.


"Misalnya?"


"Belanja mungkin?"


Lovi meluruhkan bahunya. Bibirnya sedikit mengerucut hingga Devan tidak tahan untuk mengusap sudutnya.


"Aku tidak suka belanja,"

__ADS_1


Devan berdecak. Kenapa Perempuan itu sangat berbeda dengan para wanita yang Devan kenal. Apapun yang ada dalam dirinya seolah berbanding terbalik dengan semua hal yang seharusnya menjadi hal lumrah untuk para wanita di luar sana.


"Lalu apa kesukaanmu?"


"Tuan..."


Devan langsung melumat bibir Lovi begitu Ia mendengar kata Tuan lagi dari Lovi. Dulu Ia merasa bangga ketika Lovi memanggilnya seperti itu. Karena dengan panggilan tersebut seolah Lovi mengakui kekuasaan Devan atas perempuan itu.


Melihat Lovi yang mulai sulit bernapas, Devan melepaskan tautan yang terjalin itu.


"Baiklah maafkan aku," ucap Lovi dengan napas tersengal. Jujur Ia belum terbiasa dengan perilaku Devan yang seperti itu.


"Vanilla saja suka berbelanja. Kamu yakin tidak menyukainya juga?"


Mendengar nama Vanilla disebut, membuat Lovi langsung mengingat gadis itu. Sudah cukup lama Ia tidak melihat keberadaan Vanilla di mansion itu.


"Hmmm..."


Lovi tampak ragu untuk bertanya membuat Devan mengerinyit.


"Ada yang menggangu pikiranmu?"


"Dimana Nona Vanilla?"


"Panggil saja dia Vanilla, Lov. Tidak perlu pakai Nona ! Kamu bukan lagi seperti dulu. Mengerti?" ucap Devan dengan decakan kesalnya.


"Dimana Vanilla?"


Lovi mengulang pertanyaannya. Ia cukup merindukan gadis yang dulu sering menghinanya itu.


Lovi membulatkan matanya. Tidak mungkin Raihan melakukan itu pada anak gadisnya.


"Benarkah?"


Melihat eksrpresi Lovi yang sangat menggemaskan ketika penasaran mampu mengundang tawa Devan. Ia menarik hidung bangir Istrinya. Kemudian beranjak seraya menggenggam tangan Lovi.


"Aku membawa bubur ketan hitam sesuai pesananmu,"


Lovi langsung menatap kantung plastik kecil yang dibawa oleh Devan. Senyumnya langsung terukir dengan manis.


"Terimakasih dan maaf sudah merepotkanmu," ucapnya dan menghentikan langkah. Devan terkejut ketika Lovi meraih wajahnya dan mengecup bibirnya. Lovi belum pernah seagresif itu padanya. Namun Devan sangat bahagia.


"Aku juga ingin minta maaf,"


Mereka kembali berjalan menuju ruang makan di mansion tersebut. Lovi sudah tidak sabar menyantap bubur ketan hitam yang di inginkannya sejak tadi.


"Untuk apa meminta maaf?"


Devan menarik salah satu kursi untuk Lovi. Kemudian Ia duduk di hadapan perempuan itu. Devan meraih tangan Lovi yang ada di atas meja makan untuk digenggamnya membuat perempuan itu mengerinyit.


"Tadi kamu menelponku?" tanya Devan langsung. Lovi langsung mengangguk kemudian berkata,


"Tapi tidak bisa. Entahlah aku juga tidak mengerti. Mungkin saja pulsaku habis," ucapnya dengan polos membuat Suaminya menyemburkan tawa.

__ADS_1


Devan menggunakan salah satu jarinya untuk mengusap sisi wajah Lovi.


"Tidak mungkin kamu kehabisan pulsa, Lov,"


"Mungkin saja. Aku bukan orang kaya,"


Lovi tersenyum sembari mengatakannya. Dan Devan suka dengan pemandangan itu. Ia kagum dengan Lovi yang selalu merendahkan hatinya. Seolah dia yang paling miskin di dunia. Bahkan Dia tidak mengakui kekayaan Devan sebagai miliknya.


"Aku pastikan kamu tidak pernah kehabisan pulsa. Aku ini orang yang kaya raya. Kamu tahu itu bukan?"


Tanpa sadar Lovi memutar bola matanya. Devan tahu kalau Lovi tidak suka dengan ucapannya. Tapi Ia hanya berkata apa adanya.


"Aku selalu memeriksa ponselmu,"


Jawaban Devan makin membuat Istrinya kesal. Lovi mendengus dan membuang wajahnya.


"Ya, terserah Tuan tampan yang terhormat," dengan santai perempuan itu menjawabnya. Ia mengangkat bahunya acuh. Lagipula tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan dari ponselnya. Ia tidak menyimpan hal-hal yang aneh di sana.


"Kamu tidak bisa menghubungiku karena aku memblokirmu Dulu. Dan aku lupa membukanya," jelas Devan dengan menekan kata Dulu.


Devan memilih jujur. Karena selama diperjalanan Ia selalu memikirkan itu. Ia merasa sangat bersalah pada Lovi. Devan tidak peduli lagi dengan reaksi Lovi nantinya. Yang terpenting sekarang Ia sudah mengatakannya dengan jujur.


Istrinya diam seraya menyantap bubur ketan hitam yang baru saja di sajikan oleh pelayan.


"Lov?" panggil Devan dengan suara pelan. Ia khawatir Lovi marah padanya. Devan tidak bisa di acuhkan seperti ini.


"Sekarang?" tanya Lovi setelah menelan suapannya yang pertama.


"Tidak lagi,"


Devan dengan yakin menjawabnya. Ia juga meraih ponsel di saku celananya untuk ditunjukkan pada Lovi.


"Sudah aku buka blokirnya. Kamu tenang saja,"


"Lagipula aku juga jarang menghubungimu. Tidak masalah jika diblokir," jawab Lovi tanpa diduga Devan.


"Kamu marah padaku?"


Lovi terkekeh sebelum menjawab,


"Itu tidak penting untukku. Sebentar lagi anakku akan lahir jadi hal-hal kecil seperti itu tidak ingin aku ambil pusing,"


Devan menghela napas lega. Ternyata reaksi Lovi tidak seperti bayangannya. Perempuan itu terlihat santai dalam menanggapi hal tersebut. Padahal akhir-akhir ini mood nya sedang naik turun.


"Aku juga ingin itu,"


Mata Devan melirik bubur ketan hitam yang tinggal sebagian. Melihat Lovi yang sangat menikmatinya membuat Devan juga ingin. Ia menyesal tidak membeli dua porsi.


Lovi mendekatkan mangkuknya ke arah Devan namun Lelaki itu menggeleng.


"Kamu yang menyuapi aku,"


***************

__ADS_1


Ini pnjg gess bnrn ga boong. Jgn pelit like, comment, vote nya yawww. Tencuuu


__ADS_2