
Aira dan Heru berjalan bergandengan sambil bercanda menuju pintu lift, sorot mata tertuju pada sosok Heru yang biasanya dingin, namun terlihat hangat saat bersama adik iparnya.
"Mas beberapa hari lagi Mas Heru menikah, kenapa masih saja sibuk dengan urusan perkerjaan sih?" tanya Aira yang berjalan beriringan bersama Heru.
"Kerjaan di kantor masih banyak yang harus di selesaikan, belum lagi urusan pabrik dan pembangunan pabrik baru di daerah Cijantung."
"Wow kalau pabriknya sudah jadi, mas Heru harus menetap di sana dong?"
"Ya begitulah, sebenarnya Mas Heru kasihan melihat Aldi yang harus mengurus perusahaan sendiri, tapi mau gimana lagi, sebaiknya kamu juga harus belajar bisnis menjalankan perusahan Aira, karna papa punya rencana untuk pensiun dini,.katanya udah capek ngurusin perusahaan, maunya menikmati saja, biar anak dan menantu yang menjalankan perusahanya." Heru
"Bearti kalau mbak Tari nikah sama mas Heru, nanti bakalan di ajari bisnis juga?" tanya Aira.
Mereka pun masuk kedalam mobil secara bersamaan.
"Mungkin, tapi Mas Heru ngak ingin maksa,.sebenarnya Mas Heru lebih suka jika seorang istri hanya mengurusi rumah tangganya, cuma ngurusi anak dan suami," jawab Heru sambil memutar kunci mobil dan menutar strir mobil agar bisa keluar dari tempat parkiran.
"Nah loh istrinya ngak di paksa kerja, kok Aira malah di suruh belajar bisnis sih?" protes Aira.
"Sebenarnya perusahan ini tuh milik Papa dan Bunda Rita, jadi Aldi lah yang akan mewarisi semua perusahan pabrik pengolahan kayu tersebut, sedangkan Mas Heru buka pabrik sendiri di daerah Cijantung."
"Meski masih mikro tapi itu adalah hasil usaha Mas Heru sendiri," papar Heru.
"Oh ya, Pabrik apa Mas?" tanya Aira.
"Pabrik pengolahan makanan seperti sosis, nuget dan lain-lain," terangnya lagi.
"Wah enak dong Aira bisa makan sosis sepuasnya," ucap Aira sambil menepuk kedua tanganya.
"Iya nanti Mas Heru kirim satu kontainer ya untuk Aira, biar Aldi yang bayar."
"Ehm,.Aira mana boleh makan makanan yang begituan sama mas Aldi Mas, katanya ngak sehat."
"Iya tandanya dia sayang sama kamu, turuti saja Aldi, Aldi orangnya ngak suka di tentang, keras kepala lagi, tapi kalau kamu turuti semua perintahnya niscaya, dia juga akan menuruti semua kemauan kamu."
"Iya Mas, udah diruti semua kok," sahut Aira.
"Satu lagi Aira, tolong jangan bicarakan tentang masalah kasus hukum kamu sama mama dan papa ya! karna Mas Heru khawatir papa menjadi ke pikiran dan menjadi sakit, tapi kamu tenang saja, Mas Heru akan berusaha bagaimana caranya agar kamu bisa terbebas dari tuntutan."
"Iya Mas, sebaiknya kita jangan bicara tentang masalah hukum, kita bicara tentang kebahagian mas Heru saja yang sebentar lagi akan menikah."
"Kita berlomba aja Mas siapa yang dulu punya anak, Mas Heru atau Mas Aldi." cetus Aira.
Heru tersenyum mendengar ucapan Aira,
"Pastinya Aldi dong yang duluan, jam terbangnya kan udah banyak, bisa melakukan di mana saja dan kapan saja lagi,"cetus Heru sambil tersenyum simpul menyindir Aira.
"Ehm, Mas Heru gitu deh," ucapnya sambil memukul-mukul bahu Heru dengan pelan.
"Ihhsss sebel di ledekin terus,"ucap Aira dengan terus menerus memukul bahu Heru.
"Aw aw sakit Aira, ntar kita nabrak nih," kata Heru sambil menurunkan kecepatanya.
Aira melihat sekilas ke wajah Heru sejurus kemudian ia langsung membuang mukanya dengan bibir yang mengkerucut.
Hum, dengus Aira sambil membuang wajahnya kembali.
Heru kembali melirik kearah Aira ketika Aira meliriknya kembali, ia menarik turunkan alis nya sambil tersenyum untuk menggoda Aira.
"Akh, biasa aja wajah mas Heru itu, ngak usah lihat Aira dengan tatapan aneh seperti itu."
Aira merasa kesal dan malu, karna merasa Heru meledeknya atas perbuatan gilanya bersama Aldi di kantor.
"Aneh? apanya? emang kamu ngak boleh di lihat?" tanyanya sambil tersenyum.
"Iya tapi Mas Heru pasti sedang meledek Aira kan? karna kejadian di kantor itu kan?"
Aira kembali membuang muka dari tatapan nakal Heru yang terus menggodanya.
__ADS_1
"ehm siapa yang nyindir, kamu aja yang terasa," sangkal Heru sambil tersenyum geli Heru menutup mulutnya untuk menahan tawa kecilnya.
Ia merasa sikaf Aira masih kekanakan.
"Akh udahlah mas, kalau mas Heru masih melirik Aira seperti itu, mending Aira turun di sini," ucapnya sambil membuang muka, dan menyilang tanganya ke arah dada.
Heru mengkelitik perut Aira," Jangan cemberut gitu ah, nanti mas Heru kelitikin nih," ucap Heru sambil mengkelitik perut Aira.
Karna merasa geli di kelitiki oleh Heru Aira yang tadinya cemberut menjadi tertawa dan tak jadi marah.
"Ihs Mas Heru, geli tau,"
"Ayo masih mau marah, Mas kelitikin lagi ya?"
Heru menyetir mobil sambil mengkelitiki Aira, karna ia tahu Aira paling ngak tahan kalau di kelitiki.
"Iya udah, ampun Mas, Aira ngak marah lagi deh," ucapnya memohon agar Heru berhenti mengkelitikinya.
Aira dan Heru terus bercanda di dalam mobil, sebelum Aira menikah dengan Aldi, Aira memang lebih dekat dengan Heru ketimbang dengan Aldi.
Mereka sering menghabiskan waktunya bersama jika Heru tak berada di luar kota.
Bagi Aira sendiri, Heru seperti saudara kandingnya, karna ia merasa bebas bercerita apa saja sambil mentampaikan keluh kesahnya.
Bagi Heru sendiri, Aira seperti saudara sekaligus teman, mereka tak sungkan bicara apa saja termasuk hal pribadi.
Tanpa terasa mereka pun masuk ke halaman parkir bandara, saat itu Maya dan Satria sudah menunggu mereka di pintu keluar.
***
Setelah luluran dan spa rempah, Tari berbaring merebah kan tubuhnya di atas tempat tidur dengan pikiran yang menerawan jauh.
*Bagaimana jadinya jika aku menikah dengan Heru, kami terlihat sangat canggung sekali saat bersama, apa mungkin seperti ini rasanya jika menikah karna perjodohan.
Setiap pengantin pasti merasa bahagia di mendekati hari pernikahanya tapi, kenapa aku merasa gelisah,seperti ada sesuatu yang salah dan tak mengena di hatu ku, tapi apa ya?
Oh Tuhan jika pernikahan ini adalah cara ku untuk ku mendapat kebahagian, maka bantu lah aku untuk melupakan perasaan ku terhadap Romeo, berilah aku rasa cinta dan kasih sayang untuk mencintai suami ku dan hanya mencintainya*.
Tok..tok..
Dengan malas Tari bangkit dari duduknya dan membukakan pintu.
Krek... pintu terbuka.
"Hai," sapa seorang wanita yang hampir berusia parohbaya namun masih terlihat cantik.
Tari tak mengenali wanita tersebut, tapi ia tersenyum lebar sembari membuka pintu lebih lebar pintu kamarnya.
"Silahkan," ucap Tari.
Perempuan itu masuk ke dalam kamar Tari dan mempersilahkanya untuk duduk.
Tari mengulas senyumnya sekilas kearah wanita tersebut, dan di balas dengan senyum pula.
"Sini Nak duduk," ucap perempuan tersebut sambil menepak kasur yang ada di sebelahnya.
Dengan canggung Tari duduk di samping wanita tersebut.
"Kamu pasti tak mengenal saya kan?" Tanya Maya.
"Saya Mamanya Heru," ucap Maya sambil menyodorkan tangan untuk berjabatan.
Tari tersenyum dan meraih tangan wanita tersebut kemudian mencium punggung tanganya.
Maya tersenyum kembali kerah Tari seraya meraba wajah cantik yang ada di hadapanya, netra Maya terus menatap jeli setiap inci dari wajahnya.
"Siapa nama kamu Nak?" tanya Maya sambil membelai rambut Tari yang terurai.
__ADS_1
"Mentari Senja, Tante," jawab Tari.
Mata Maya tak beranjak dari wajah gadis yang ada di hadapanya.
"Mentari Senja?" Kamu pasti lahir di sore hari ya?" tanya Maya.
Tari mengulas senyum sedikit," Iya Tante, Saya lahir menjelang waktu Magrib."
"Ngak usah panggil Tante, bukanya sebentar lagi kamu akan menjadi menantu saya, panggil mama saja," tuturnya sambil mengelus pipi mulus tersebut.
Mata Maya berkaca-kaca saat melihat wajah cantik tersebut, wajah cantik yang membuatnya senang.
Melihat Maya yang terlihat sedih, timbul pertanyaan dalam hati Tari.
"Maaf Ma, kenapa Mama melihat Tari seperti itu? apa sebelumnya kita pernah saling mengenal?"
Maya kembali mengulas senyumnya ia kembali mengusap pipi lembut tersebut.
"Ngak sayang, mama baru kali ini melihat kamu, tapi kenapa rasanya kamu begitu dekat, kamu seperti tak asing bagi Mama," ucap Maya dengan mata yang berembun mentap Tari.
Tari semakin binggung melihat sikaf wanita yang di hadapanya kini.
Wanita tersebut menarik tubuh Tari dalam pelukanya, seketika air mata haru membasahi pipi Maya, saat memeluk Tari ia merasa seperti telah menemukan sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
Entah kenapa Tari merasa ada perasaan yang berbeda saat Maya memeluknya.
Beberapa saat berlalu dan keadaan mereka pun hening.
***
Di dalam mobil Satria heran melihat sang istri yang hanya diam sedari tadi.
"Ma, mama kenapa sih?", setelah melihat calon menantu kita kok mama terlihat sedih sih? Kenapa? apa menantu kita tak sesuai ekspektasi?" Tanya Satria sambil melirik kearah Maya yang terlihat melamun.
"Ah ngak kok Pa, calon menantu kita cantik Pa, bahkan sangat cantik."
"Kalau begitu apa yang membuat Mama terlihat sedih?" Tanya Satria kembali.
Maya mulai menitikan air matanya tapi kemudian langsung di hapusnya.
Maya menarik nafas panjang dan menghembuskanya dengan perlahan.
"Melihat calon menantu kita, Mama jadi ingat Rahma Pa, jika saja putri kita masih hidup pasti usianya sama seperti Tari," tuturnya dengan sedih.
Maya pun kembali menangis, mengingat kembali rasa sakit karna kehilangan putri tercinta.
Satria merentangkan tanganya dan merangkul tubuh Maya.
"Sudahlah Ma, perasaan Mama saja, besok kita ziarah ke makam Rahma ya," usul Satria sambil mengusap lembut rambut sang istri.
"Iya Pa sudah lama kita tak ziarah ke makam Rahma Pa." Maya
"Habisnya Mama kalau ziarah ke makam Rahma pasti mama sedih dan tak mau pulang, mama histeris, meski sudah puluhan tahun, tapi tetap saja mama masih bersedih atas kepergianya,"ucap Satria.
"Tentu saja Pa, mama begitu menginginkan anak perempuan, tapi setelah mendapatkanya, tiba-tiba anak kita meninggal karna penyakit jantung bawaan"
Ibu mana yang tahan melihat putri cantiknya meninggal sesaat setelah di larirkan Pa, bahkan mama belum pernah mendengar putri kita menangis Pa, ujarnya berurai air mata.
Maya menghapus air mata tersebut hingga kering di pipinya.
"Yang bikin mama sedih adalah, Mama merasa jika putri kita itu masih hidup Pa, mama merasa sangat kehilangan Pa," ucap Maya yang kembali menangis dengan terisak.
"Ya sudah Ma, kita sudah punya dua menantu, anggap saja mereka berdua putri kita Ma," bujuk Satria, ia mengusap pelan pundak sang istri.
Maya mengatur nafasnya ia mencoba untuk menguatkan hati, ia sudah lama melupakan peristiwa tersebut tapi entah kenapa setelah melihat Tari, ia kembali ingat dengan putrinya, mungkin karna usia mereka sama dan Tari pun lahir pada waktu senja sama seperti putri mereka.
Berkali-kali ia menyeka air matanya, namun perasaan haru dan rindu terhadap putri yang telah tiada membuatnya kembali menitikan air mata sedih.
__ADS_1
Satria mengusap punggung sang istri, sejak kepergian Rahma, Maya memang selalu bersedih, dan untuk membantu Maya melupakan kesedihanya karna di tinggal sang putri, mereka berdua memetuskan untuk hijrah ke Malaysia.
sekian dulu, yang berkenan memberi dukungan bagi author Author ucapkan terima kasih, thang q, sie-sie, haligato, dan Koniciwa 😚