
Aldi naik ke kamar nya dan menghempas kan tubuh nya di atas kasur, kata-kata Romeo masih terngiang di telinganya.
"Apa benar apa yang di katakan Romeo, jika gue bukan lelaki jantan, jika memang benar seperti itu, apa gunanya punya wajah ganteng dan harta melimpah, tapi gue ngak bisa nikmatin hidup gue sebagai laki-laki." Aldi
"ahkkk!!!!"
Ia pun melempar semua barang yang ada di sekitarnya hingga membuat berserakan, tak hanya itu, remot tv tak luput dari sasaran kekesalanya, ia pun melempar di dekat pintu kamarnya, dan saat itu Aira muncul dengan tiba-tiba di balik pintu, lemparan Aldi mengenai kening Aira.
"Aduh," Aira meringis kesakitan ia pun menyentuh bagian kening yang terkena lemparan Aldi.
"Aduh Aira, kamu ngapain sih di sini," sungutnya kesal.
Aldi pun mengusap kening Aira yang terkena lemparan, Aldi sebenarnya sangat emosi, dan ingin melampiaskanya pada Aira, tapi melihat mata Aira memerah, emosinya pun mereda, justu kini ia berbalik mengasihani Aira.
Aldi meniup sambil mengelus kening Aira agar tak terasa sakit, saat itu Aldi begitu dekat dengan nya, bahkan saat Aldi meniup keningnya, Aira masih bisa mencium segar dan harum nya nafas Aldi.
Sepersekian detik detak jantung Aldi terdengar oleh Aira.
Aira begitu senang karna ini lah pertama kalinya ia begitu dekat dengan Aldi, semua terasa nyaman, saat hembusan nafas Aldi menyentuh permukaan keningnya. ada damai yang di rasakan Aira, dan ia belum pernah merasakan perasaan ini sebelum nya.
Setelah beberapa detik mengusap kepala Aira, Aldi pun sedikit menjauh beberapa langkah.
"Aira kenapa kamu kesini sih?" tanya nya dengan nada sedikit kesal.
"Aira mau ijin pergi ke Mall sama Mas Heru."
"Ah pakai ijin segala, biasanya kamu sama Heru pergi gitu aja," sahut Aldi.
"Tapi Mas Heru bilang, harus ijin sama Mas Aldi, kalau Mas Aldi ada di rumah, katanya Aira adalah tanggung jawab Mas Aldi, karna Mas Aldi yang membawa Aira ke rumah ini." Aira.
"Ya sudah pergi saja, tapi hati-hati, kamu ngak boleh jauh dari Mas Heru, kamu itu tanggung jawab Mas Aldi, kalau terjadi sesuatu sama kamu, Mas Aldi bisa di tuntut sama bapak kamu," papar Aldi.
"Iya Mas, Aira pergi dulu," Aira pun undur diri.
Aldi menatap gadis yang perlahan menjauhinya, meski kesal, entah kenapa ia tak bisa marah pada Aira.
Ia pun kembali membereskan kamar yang sudah di berantakan sendiri olehnya.
***
Aira dan Heru keluar dari pintu gerbang rumah mereka, dan di ikuti oleh sebuah mobil yang membuntuti mereka.
Mereka pun mulai obrolan santai.
"Aira nama panjang Aira siapa sih?" tanya Heru.
"Rianti Alfaira, Mas," jawab Aira.
"Nama yang bagus,"sahut Heru.
"Kalau Mas Heru siapa nama panjangnya ?" tanya Aira balik.
"Khairuman Hero satria," Heru.
"Kok ngak ada Heru nya?" tanya Aira.
"Hero dan satria itu kan sama Mas, tapi kok di panggil Heru?"Aira
"Oh dulu Mas Aldi ngak bisa sebut Hero, dianya sebut Hero itu Heru, jadi sampai sekarang Mas di panggil Heru."
"Oh begitu Mas, terus nama panjang Mas Aldi siapa?" tanya Aira lagi.
"Nama panjang Aldi itu Alllllldiiiiiii," jawab nya bercanda.
"Ih Mas Heru, Aira serius,"
"Udah mau tahu saja nama calon suaminya, kenapa ngak tanya sendiri sih sama Aldi, dia kan calon suami Aira?" balas Heru.
"Habis Mas Aldi galak, Aira jadi takut deket-deket sama dia."Aira.
"Ngak usah takut, sebentar lagi kamu dan Aldi akan menikah, Mas Heru juga sudah memberitu tahu sama Mama dan Papa, katanya bulan depan mereka akan pulang, mereka ingin lihat calon menantu nya," papar Heru.
__ADS_1
Deg,
Jantung Aira berdebar kencang mendengar penuturan Heru, Aira jadi ragu apakah orang tua mereka mau menerima dirinya.
Aira merasa dirinya tak pantas bersanding dengan Aldi, lagi pula sepertinya Aldi juga tak menyukainya.
"Jadi masih mau tahu ngak nama Mas Aldi siapa?" tanya Heru.
Aira pun mengangguk.
"Reynaldi Alfian," jawab Heru
"Bagus banget nama Mas Aldi, nama belakangnya saja hampir sama dengan Aira, Alfian dan Alfaira, mirip kan Mas?" tanya Aira bahagia.
"Iya mirip, mungkin kalian jodoh," balas Heru, dan Aira mengaminkanya di dalam hati.
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di Mall, dan disana Aira di ajak bermain sepuasnya.
Mulai dari melempar bola basket, sampai balapan mengunakan ala motor GP, Aira terlihat sangat senang, meski ia berada di usia remaja, Aira terlihat seperti kekanak-kanakan.
Setelah puas menemani Aira bermain, Mereka pun singgah di stan es krim, Heru membeli es krim dan menyuapkanya pada Aira, Aira pun teringat pada Igun yang selalu membawakan es krim untuk nya.
Aira pun melamun sejenak, teringat akan Igun.
"Aira kamu kenapa ?" tanya Heru.
"Aira kangen sama seseorang Mas?"
"Siapa, Orang tua Aira, atau pacar Aira ?" tanya Heru penasaran.
Aira mengelengkan kepalanya.
"Lalu siapa Aira ?" tanya Heru lagi.
"Aira kagen sama Kak Igun, orang yang membawa Aira ke rumah sakit."
"Oh kalau Aira kangen, nanti Mas Heru antar menemui kak Igun ya, sekarang kita pulang saja, Aira pasti sudah lelah." Heru.
"Iya Mas, terima kasih Mas Heru, Mas Heru baik sekali sama Aira," ucapnya.
"Kesepian? Mas Heru ngak punya pacar ya ?" tanya Aira.
"Pacar, ada tapi sudah dua tahun kami LDR-an " jawab Heru.
"Mas Heru type cowok setia ya," Aira.
"Harus lah, itu komitmen kita berdua, Setelah dia kembali, baru kami akan menikah," papar Heru.
Mereka pun pulang, dan tanpa di sadari sebuah mobil kembali membuntuti mereka.
***
"Lapor Bos, Kami sudah mengetahui keberadaan gadis itu, dia kini tinggal di sebuah rumah mewah." kacung 1
"Bagus, terus awasi dia, dan jika ada kesempatan kalian culik saja dia," Bos.
"Tapi Bos, kenapa Bos masih menginginkan gadis itu, kenapa tidak kita cari gadis lainya untuk mister Bos yang di amerika?" kacung 2
"Bukan seperti itu, gadis itu telah banyak mengetahui rahasia kita, dan jika dia menceritakan kepada orang lain atau polisi, maka kita akan hancur." Bos.
"Oh pantes saja Bos tetap menginginkan gadis itu, meski kita harus susah payah mencarinya."
"Kenapa gadis itu tidak di habisi sekalian saja Bos, dengan demikian kita akan aman," kacung 1
"Tidak mudah menghabisinya, orang-orang akan curiga, tapi jika dia kita kirim dia ke Amerika, kita bisa mengilangkan jejaknya dan akan mendapat banyak keuntungan." Bos.
"Terus awasi Aira, jika ada kesempatan, kalin langsung bawa dia kemari, ingat pekerjaan ini harus rapi, jika tidak, kita yang mati," Bos.
Aira pulang sudah menjelang Magrib, dan saat sampai di rumah, sudah ada Doni dan Romeo, mereka menunggu Aldi.
Melihat penampilan Aira yang semakin cantik, mereka pun mencoba mengodanya.
__ADS_1
"Hai Aira," sapa Romeo dan Doni.
Tanpa sungkan Romeo berdiri menghampiri Aira, dan menarik tanganya untuk duduk di samping mereka, sementara Heru masih berada di garasi.
Aira pun duduk di antara Romeo dan Doni.
"Aira, Aira makin cantik saja, mau ngak Aira jadi julietnya abang Romeo?" tanya nya bercanda.
"Cuihhh, abang Romeo, nyadar woi calon bini teman loh tuh," sahut Doni.
"Biarin kan masih calon, selama janur kuning belum terpasang di depan rumah, masih bisa milik bersama," tutur Romeo dengan bercanda.
Sementara Aira hanya tersenyum, Aira tahu Romeo orangnya suka bercanda, jadi ia tak mau ambil hati.
"Eh Aira, lihat tuh ada apa di samping bang Doni," Romeo menunjuk ke sisi kanan Aira.
Seketika Aira menoleh, dan saat Aira menoleh ke sisi kananya, Romeo malah mendekat kan wajahnya ke arah Aira, dengan maksud, saat Aira kembali memaling kan wajahnya, ia bisa mencium Aira, seolah tanpa sengaja.
Benar saja, saat Aira menoleh, Bibir Romeo mendarat di pipinya.
"Cup.., he he, Aira kok cium abang sih?" tanya Romeo.
"Ih bang Romeo bisa saja cari kesempatan," tutur Aira malu, ia pun menyentuh pipinya.
"Abis gemes sih," ujar Romeo dengan santai.
Doni kaget melihat tingkah Romeo yang sedikit kurang ajar itu.
"Woi Romeo, ngapain loh cium Aira, wah makin brengsek aja loh, dia itukan calonnya Aldi, " hardik Doni.
"Ah kan ngak sengaja, iya kan Aira?" sahutnya dengan enteng.
"Ngak sengaja palak lu, jelas-jelas itu loh sengaja," sambar Doni.
"Iya, gue sengaja, gue cicipin dulu, beracun ngak, jika udah aman, baru gue serah kan ke Aldi, lumayan udah lama ngak cium pipi cewek nih, empuk banget, pasti masih perawan tuh pipi," papar Romeo santai, ia pun menarik turunkan alisnya sambil tersenyum ke arah Doni.
Sementara Heru yang melihat Aira berada di antara keduanya, langsung menyuruh Aira naik kekamarnya.
"Aira, masuk ke kamar mu" Heru.
Aira beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju lantai atas.
"Bye Aira, " ucap Romeo memberi kissbye pada Aira.
Aira hanya tersenyum kearah Romeo yang jahil itu.
"Anjritt, Anjrittt, dasar Romeo ngak ada akhlaknya lo, punya teman aja loh embat, ntar di gampar Aldi baru tahu rasa loh," sungut Doni kesal.
"Biarin ," sahutnya santai.
Aira naik ke atas dan berpapasan sama Aldi, tak satu patahkan katapun keluar dari mulut Aldi, Aira mencium aroma parfum Aldi yang membuatnya semakin menyukai Aldi.
Ia hanya bisa melihat Aldi yang berlalu begitu saja di hadapanya.
Aira masuk kedalam kamarnya, dan di sana sudah menunggu Mbok Jum yang sudah siap dengan lulur dan minyak zaitun yang akan di gunakan untuk perawatan kulit Aira.
"Non Aira, kok kayaknya sedih sih, padahal baru saja jalan-jalan ke Mall ?"tanya Mbok Jum.
"Ngak kok Mbok, bulan depan Papanya Mas Aldi akan pulang, Aira hanya takut jika orang tua Mas Aldi tak menyukai Aira."
"Oh..., Non ngak usah khawatir, tuan dan nyonya itu baik, yang bawel itu nyonya besar, neneknya Mas Aldi."
"Mbok yakin mereka pasti setuju dengan pernikahan non Aira dan Mas Aldi," tutur Mbok, meyakinkan Aira.
"Tapi Aira ngak yakin Mbok, apalagi sepertinya Mas Aldi ngak suka sama Aira."
"Ah ngak gitu, kalau Mas Aldi ngak suka dengan non Aira, kenapa Mas Aldi menyuruh Mbok untuk mengurus semua keperluaan non Aira, Mas Aldi emang kayak gitu, susah di tebak," papar si mbok.
"Semoga saja Mbok," ucapnya dengan senyum di paksakan.
Maaf ya raeder, berhubung kesehatan author terganggu, untuk sementara author belum bisa up setiap hari, terima kasih untuk terus mendukung karya ini, tetap jaga kesehatan.
__ADS_1
jangan lupa dukunganya, untuk menyemangati author.
Love u all.