Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Penyesalan


__ADS_3

Doni dan Heru tertunduk pada sebuah sofa di ruang tamu milik keluarga Romeo, sesekali mereka menyaksikan pak Hadi mondar mandir di depan mereka, sementara ibunda Romeo menangis terisak saat mengetahui Romeo membawa kabur istri Aldi.


"Romeo, tega sekali kamu sama mama Romeo, mama pilih kan kamu jodoh yang terbaik, kamu malah bawa kabur istri orang, kamu bejat sekali Romeo," ucap ibunda Romeo dengan suara yang parau.


Nadira memeluk ibunya, ia juga merasa geram dengan Aira, menurutnya Aira lah yang telah menggoda dan membujuk Romeo untuk lari.


Berbagai spekulasi bermunculan dari kasus ini.


Sebagian menyalahkan Romeo, sebagian lagi menyalahkan Aira.


Igun sendiri tak menyangka jika Romeo bisa terlibat asmara bersama Aira, sementara ia sendiri masih menyimpan perasaan cintanya untuk Aira, meski rasanya tak mungkin untuk memiliki Aira, Aira adalah cinta pertamanya, namun sayang, ia terlanjur di jodohkan dengan Nadira sepupunya sendiri dan harus menikahinya..


Igun sendiri merasa khawatir atas keselamatan Aira, apalagi ia tahu seperti apa Romeo, Romeo tak pernah serius dalam menjalani kisah asmaranya.


Semoga Romeo benar-benar menjaga Aira dengan baik, tak perduli bersama siapapun Aira, semoga ia bahagia bersama Romeo, guman Igun.


Setelah berdiskusi dan tak mendapat kan keputusan, Heru pun mengeluarkan pendapatnya.


"Bagaimana, apa kita harus lapor polisi saja?" tanya Heru sambil meremas tanggannya, ia geram sekali kepada Romeo.


"Jangan lapor polisi, Romeo bisa di penjara," ucap Suci dengan tangis terisak.


"Lalu saya harus bagaimana, saya harus menemukan Aira secepatnya, karna menurut mbok Jum, Aira sedang hamil sekarang," ungkap Heru.


Doni hanya diam, ia sendiri binggung harus bagaimana.


"Kita cari saja mereka sampai ketemu, saya akan kerahkah orang untuk mencari keberadaan mereka, " ucap Heru lagi.


Pak Hadi berfikir sejenak," Benar sudah tiga hari mereka tak pulang, jika pun mereka lari, pasti mereka pergi ke desa-desa terpencil, karna Romeo sendiri belum pernah menempuh perjalan luar kota sendiri, mereka pasti tak jauh dari sini, kita kerah kan orang untuk mencari keberadaan mereka," ucap Pak Hadi.


"Iya pak saya setuju, sebelum terjadi hal yang lebih buruk, secepatnya kita cari mereka," ucap Heru.


Setelah sepakat, untuk mencari keberadaan Romeo dan Aira, mereka pulang kerumah masing-masing.


***


Dokter sudah memperbolehkan Rita untuk keluar dari rumah sakit, Aldi sedang bergegas membereskan barang-barang mereka.


"Aldi, kamu maukan temani mama tinggal di sini, sampai menunggu papa Hendro pulang dari Brunai?" tanya Rita pada Aldi.


Belum sempat Aldi menjawab pertanyaan dari Rita, ia sudah dapat telpon dari Heru.


"Hallo Aldi," suara seberang telpon.

__ADS_1


"Iya mas, ada apa?" tanya Aldi khawatir.


"Aira dan Romeo menghilang secara bersamaan Di, jadi kami pun menduga jika mereka pergi bersama," papar Heru.


Bagai tersenyengat listrik tegangan tinggi, Aldi begitu kaget mendengar berita yang di sampaikan Heru.


Iya merasa begitu kecewa terhadap Aira, baru sebentar ia tinggal, Aira malah lari bersama lelaki lain dan meninggalkan masalah mereka yang belum terselesaikan.


Aldi terdiam sejenak, bulir bening perlahan menetes di sudut netranya.


"Aldi lo masih di sanakan?" tanya Heru karna hanya terdengar hening di telpon.


"Iya mas," jawab Aldi lirih.


"Satulagi Di, ini ada kabar baik untuk loh, Aira sedang mengandung anak kamu," tambah Heru lagi.


Kembali, Aldi seperti tersengat listrik tegangan tinggi, mendengar berita kedua yang di sampaikan oleh Heru, apa kah ia harus bahagia atau bersedih, karna Aira kini telah mengkhianati dirinya.


Aldi tergaman dengan air matanya yang menggenang, hatinya terasa begitu sakit, seperti di tusuk belati tajam dari dua arah sekaligus, arah depan dan arah belakang.


Aldi mencoba untuk tegar, ia menutup matanya dan membiarkan bulir bening itu tumpah membasahi pipinya, di saat kerinduanya untuk bertemu Aira sudah di puncak, ia kini harus menerima kenyataan pahit, di tinggal pas lagi sayang-sayangnya.


" Ia Mas sebentar lagi gue akan pulang, cari Aira sampai ketemu, aku ngak peduli lagi sama Aira, aku hanya peduli pada anak yang di kandungnya, " ucap Aldi dingin, matanya menatap lurus dengan tanggan yang mengepal.


Aldi berusaha untuk tetap tegar di hadapan mama Rita, rasa cinta dan Rindunya pada Aira harus ia lawan, dan berganti dengan rasa benci dan dendam.


Aldi mendekati Rita, matanya memerah.


"Aldi kamu kenapa nak?" tanya Rita sambil mengintipi wajah Aldi yang tertunduk.


"Ma, kita pulang ke Indonesia, Aldi ada urusan, setelah urusan Aldi selesai, Aldi janji akan menuruti perintah mama termasuk menikahi Laura," ucapnya datar, ia pun memasukan pakaian Rita kedalam tas.


Rita tersenyum tipis, "Ada apa sih Nak?" tanya Rita tersenyum sambil melirik kearah Aldi.


"Aira kabur bersama Romeo, dan Aldi harus dapatkan dia, karna Aira tengah mengandung anak Aldi, Ma," ucap Aldi dengan nada emosi, mata dan wajahnya pun memerah.


"Hm, menarik sekali, rugi jika aku tetap di sini menunggu kabar baiknya, kesempatan ku untuk membuat Aldi membenci Aira," guman Rita ia pun tersenyum licik.


"Aldi kasihan sekali kamu Nak, apa mama bilang, perempuan seperti itu memang ngak pantas untuk kamu, belum resmi bercerai saja, dia udah selingkuh aja."ucap Rita memanasi Aldi.


"Iya Ma, ayo kita pulang sekarang."


Seperti mendapat obat mujarab, tubuh Rita menjadi segar kembali," Rencana ku berhasil." gumannya.

__ADS_1


Aldi dan Rita terbang dari Singgapura menggunakan Hellikopter pribadi milik suami Rita, dan mendarat di hellypad yang terdekat di rumah nya.


Setelah melakukan perjalanan berjam-jam mereka pun sampai di rumah, hampir magrib.


Sesampainya di rumah, Aldi langsung menemui mbok Jum.


"Mbok, mbok," teriak Aldi.


Mbok Jum pun menghampiri Aldi dengan tergesa-gesa.


"Mas Aldi sudah pulang?" tanya Mbok Jum basa-basi.


"Mbok dari mana mbok tahu Aira Hamil?" tanya Aldi, mata berkaca-kaca.


Mbok Jum diam sejenak.


"Sebelum Non Aira pergi Mbok lihat dia muntah-muntah, kata non Aira, sejak menikah sama mas Aldi, non Aira ngak pernah libur dari melayani mas Aldi, karna dia ngak pernah datang bulan, jadi si mbok curiga, jadi mbok suruh mang ujang beli tespack."


Aldi masih menyimak penuturan Mbok Jum, hatinya begitu sedih mengingat kenangan bersama Aira, memang benar selama mereka menikah, hanya beberapa hari saja ia bolong tak menyentuh istrinya tersebut, tapi kini Aira seolah lupa dengan kehangatan dan cinta yang ia berikan selama menjalani rumah tangganya bersama Aldi.


"Mbok suruh Non Aira melakukan tes, dan hasilnya satu garis terlihat tegas dan satu garis terlihat samar, mbok tanya ke non Aira tentang hasil tesnya, katanya cuma satu garis, mungkin karna merasa hasil nya negatif, alat tersebut di buang Non aira di tempat sampah yang ada di kamar, setelah Non Aira pergi dari rumah ini, mbok mau bersih-bersih dan mbok temukan alat tespack itu dengan dua garis," papar simbok.


Mata Aldi berkaca-kaca, di Saat ia menerima berita baik, justru ia harus menerima kenyataan pahit karna merasa terkhianati Aira, sementara Aldi sendiri tak mengetahui alasan di balik kepergian Aira sebenarnya.


Iya berspekulasi jika Aira sengaja lari, agar bisa kawin lari bersama Romeo.


***


Di balik jeruji besi, seorang pria paruhbaya menangis di dalam sujud, ia menyesal telah meninggalkan Aira sendiri di rumah itu, hingga Aira menusuk Retno yang ingin memperkosanya, untuk menebus kesalahannya pada Aira, pak Tarman mengakui jika dia adalah orang yang menusuk Retno, Air mata semakin deras mengalir' saat ia mengingat dosa-dosa yang di lakukanya terhadap putri tunggalnya itu, sejak perpisahanya dengan istrinya, ia menjadi kan Aira tumbal dari rasa kecewanya, Pak Tarman pun mengganggap Aira sebagai beban, hingga memaksa Aira bekerja membantunya sejak ia menginjak usia remaja, ia juga tak memberi kasih sayang pada Aira, bahkan dengan teganya, ia menjadikan Aira sebagai alat pembayaran dari hutang judi nya, mengingat semua itu, Pak Tarman menangis sejadi-jadinya di dalam sujudnya.


Selama puluhan tahun, Pak Tarman tak pernah menyentuh sajadah, ternyata di tembok jeruji besi inilah ia mendapakan hidayahnya.


Ya Allah, ya tuhan ku, aku tahu kau maha besar, aku adalah seorang pendosa dan seperti janjimu, kau adalah maha pemaaf maha pengampun, maka ampunilah aku karna telah berbuat dosa padamu, dan juga pada putri ku, lindungilah dia, dimana pun dia berada.


Pak Tarman meringkuk menangis di sudut sempit dan dinginya tembok penjara.


"Aira dimana kamu Nak, semoga kamu dalam keadaan selamat, biarlah bapak menanggung hukuman ini Nak, semoga kamu bahagia dalam menjalani hidup ini," gumannya sambil menangis terseduh.


Air mata terus menetes membasahi mata tua Pak Tarman, rasa sesal dan perasaan khawatir menghampirinya kini, padahal sebelumnya ia tak pernah mengkhawatirkan Aira.


Bersambung dulu ya guy, berikan like, komentar dan votenya ya, di karya receh author ini, tanpa kalian apalah aku.


Author mau rekomendasi novel favorite author nih, bisa nyesel kalau ngak mampir guys.

__ADS_1



__ADS_2