
"Maaf kan semua kelakuan bapak ya Bu," tangis Edo sambil bersimpuh di hadapan Nina dan ibunya.
Sementara Aira masih memeluk erat Aldi, apa yang di ucapkan Nina tak hanya menggagetkan Edo dan ibu Nina sendiri, tapi juga dirinya.
Aira tak menyangka bahkan setelah menikah dengan Rudi pun Retno tak melepaskannya, bahkan lebih gila, mereka sering sekali mengilir Nina, padahal saat itu Nina sedang hamil, membayangkan nya saja membuat Aira sakit, apalagi jika hal itu terjadi padanya.
Sang ibu yang bersimpuh karna tak kuasa menahan kepedihan tersebut pun dengan segera mendongkakan kepala, begitupun Nina.
Tatapan mereka tajam mengarah kearah Edo, penuh kebencian dan penuh dendam, dengan emosi yang semakin memuncaktak dapat lagi di bendung.
"Apa kata mu! minta Maaf! apa maaf mu itu bisa mengembalikan hidup dan masa depan anak ku! hah !!!" serunya penuh emosi.
"Sampai mati pun kami semua akan melaknat Retno dan keturunannya!!!" cecar Ibu Nina.
Sejenak tubuhnya kembali terhempas, ia pun kembali bersimpuh.
Wanita tersebut tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya.
Hanya tangisan pilu dan jeritan bayi tak berdosa terdengar lantang di rumah itu.
Semua yang hadir terbawa suasana, bahkan kedua bodyguart yang berbadan kekar dan berwajah sadis tersebut pun ikut haru.
"Iya saya mengerti Bu, tapi saya akan bertanggung jawab pada Nina," ucap Edo dengan bersimpuh.
"Tapi saya mohon berhentilah melaknat bapak saya Bu, beliau sudah tiada, kasihanilah dia, saya mohon bu," tangis Edo mengiba.
"Apa ? mengasihani bapak mu! apa dia menaruh rasa iba terhadap putri ku!!!!"
"Aku tak kan berhenti melaknatnya atas perbuatan zalimnya, biarkan saja Tuhan mengkaminya dengan adil atas ketidak adilan dan kezaliman yang ia lakukan terhadap kami!!"
"Ampun bu, saya akan bertanggung jawab, saya berjanji akan menyelamat kan masa depan Nina Bu! tapi berhentilah mengecam dan melaknat bapak saya," ucap Edo masih dalam keadaan besimpuh, tubunya berguncang hebat manahan tangis.
Meski Edo merasa ayahnya bersalah, tetapi sebagai anak, sudah tugasnya memohon ampun atas perbuatan orang tuanya, setidaknya dengan meminta maaf dapat mengurangi beban yang akan di pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan.
"Dengan apa kau akan bertanggung jawab?! apa dengan uang?! seberapa banyak uang yang kau punya pun tak mampu membayar penderitaan yang di alami oleh putri ku!"
Edo bangkit dan merangkak mendekati Nina dan ibunya.
Setelah beberapa langkah, tibalah ia berhadapan dengan Nina dan Ibunya.
Edo mengatur nafasnya dan menatap Nina dan ibunya secara bergantian, kemudian pandanganya beralih pada bayi yang tak berdosa tersebut.
__ADS_1
Hati Edo semakin hancur melihat bayi lelaki yang polos sedang menangis mungkin bayi tersebut merasa lapar.
Sejurus kemudia Edo kembali menatap Ibunya Nina dan meraih tangan wanita paruh baya tersebut dan menggenggamnya.
"Ijinkan saya menikahi Nina Bu," ucap Edo sambil mencium telapak tangan wanita itu.
Mereka semua tercengang mendengar penuturan Edo yang sangat mengejutkan tersebut.
Nina dan Ibunya tergaman seolah tak percaya, mereka pun saling memandang.
Melihat mereka semua bungkam Edo pun memaparkan alasanya.
"Ijinkan saya menikahi Nina, sebagai pertanggung jawaban atas perbuatan ayah saja, saya akan menjamin kehidupan Nina, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya, Nina akan menjadi istri saya yang sah, saya juga akan membagi warisan bapak saya kepada Nina, tapi tolong maafkan lah bapak saya bu, jika ibu mau menghukum, hukum saja saya," ucap Edo bersimpuh dan memohon.
"Tidak, saya tak kan mengijinkan putri saya menikah dengan kamu! kamu pasti mau membalas dendam! kamu hanya mau menyakiti putri saya kan?!" ucap perempuan tersebut sambil menepis tangan Edo.
"Saya mengerti, setelah apa yang terjadi pada Nina, mungkin ibu sulit untuk mempercayai saya, tapi saya tulus, saya akan menerima Nina apa adanya, berlaku baik terhadapnya, dan jika ibu takut jika saya akan menyakiti Nina, saya tidak keberatan jika harus tinggal di sini bersama kalian, saya akan perbaiki rumah ini agar kita nyaman tinggal di sini," papar Edo meyakinkan.
Nina dan ibunya saling memandang dan saling memeluk, mereka sendiri binggung harus bagaimana, sementara mereka tak berdaya karna kemiskinan, Bibik juga kasihan melihat Nina yang harus membanting tulang kerja tanpa kenal waktu, untuk menghidupi diri dan cucunya.
Aira mendekati Nina dan Bibik, Aira menyentuh pundak Nina untuk memberinya kekuatan untuk menentukan pilihan.
Nina memandang kearah Aira, tatapan matanya ke arah Aira seolah menanti jawaban.
Nina pun memeluk Aira, dan menangis di pelukan Aira.
Aira tak kalah haru, ia pun memeluk Nina, kedua sahabat tersebut sejenak larut dalam haru.
Keadaan hening sesaat. sang ibupun merangkul memeluk mereka berdua.
Suara isak tangis kembali terdengar memecah kesunyian .
Aldi berjalan menghampiri sang istri, setelah beberapa saat,ia kembali merangkul istrinya.
"Jadi bagaimana Bu?" tanya Edo lagi, yang berhasil memecah suasana haru tersebut.
Nina dan ibunya saling melepas pelukan, ia pun menghapus air matanya.
Bibik menarik nafas panjang yang menghempaskanya dengan perlahan, sejenak ia diam, kemudian ia mengganggukan kepalanya.
"Baiklah, tapi kau buktikan dulu kesungguhan mu, aku tak ingin putri ku kembali menderita," ucap datar Bibik kepada Edo.
__ADS_1
Edo mengulas senyum, ia merasa lega, meski pun ia tak punya perasaan terhafap Nina, ia berharap dengan menikahi Nina, ia bisa membahagiakan Adiknya dan Nina sendiri, meski pun ia sendiri mungkin merasakan yang berbeda.
Bagi Edo bertanggung jawab terhadap Nina dan bayinya adalah wujud baktinya terhadap bapaknya, setidaknya Tuhan akan menggurangi hukuman sang ayah di alam baka.
Aira merasa senang mendengar keputusan Edo, ternyata setelah dua tahun, Edo tak berubah, menjadi anak penjahat dan bajingan tak lantas membuat Edo berperingai seperti ayahnya.
Aira mengulas senyum bahagianya dan kembali memeluk Nina, "Selamat ya Nina, semoga mas Edo bisa membahagiakan kamu, " ucap Aira sambil mengusap pundak Aira.
"Terima kasih Aira, jika saja kau tak menggungkap kebenaran ini, maka aku juga tak berani untuk mengatakanya," sahut Nina yang masih terisak di pelukan Aira.
"Aku sebenarnya juga takut Nina, tapi saat ini aku tak takut pada siapa pun, karna aku merasa Tuhan akan melindungi orang-orang yang berbuat benar dan yang berbuat zalim pasti akan hancur."
"Aku juga punya suami dan sahabat-sahabat yang selalu mendukungku, mereka semua mengajari ku arti keberanian, kekuatan, cinta dan kasih sayang."
"Aku yang sempat menyesal karna terlahir di dunia ini justru kini merasa bersyukur, jika saja aku tak lari dari rumah, jika saja aku tak di jual paman ku, mungkin aku tak kan pernah bertemu meraka." Aira
"Memang benar jika ada yang bilang, 'habis gelap terbitlah terang,' 'atau ada juga yang bilang' badai pasti berlalu' dan' semua akan indah pada waktunya'," ucap Aira sambil melepas pelukanya.
"Kau benar Aira, asal kita tak putus asa dan terus berjuang, semua akan indah padaa waktunya, trima kasih sahabat ku, kau telah mengajarkan ku arti hidup ini," ucapnya haru sambil memeluk Aira kembali.
"Bukan Aku yang mengajari mu Nina, tapi kau yang belajar sendiri, semoga kau bahagia, karna aku yakin mas Edo akan bisa membahagia kan mu," ucap Aira melepaskan pelukanya, ia pun tersenyum.
"Iya kan Mas Edo?" tanya Aira pada Edo.
Edo pun menggangguk meyakinkan semua orang.
"Iya Rianty aku akan berusaha membahagiakan Nina dan anaknya," sahut Edo.
Mereka semua pun kembali melempar senyum bahagia.
"Lalu bagaimana dengan ku?" tanya seseorang yang tiba-tiba masuk.
"Dewi?" Aira.
"Lalu bagaimana dengan ku, apa mas Edo juga akan bertanggung jawab pada ku?" tanya Dewi.
Semua mata pun beralih menatap Dewi yang datang dengan tiba-tiba.
Edo menatap Dewi kemudian menelan salivanya.
Bersambung.
__ADS_1
selalu di nanti, like, komen, vote dan hadiahnya.