
Keluarga Aldi sedang Menikmati makan malam keluarga sambil makan malam mereka mengobrol.
"Bang bagaimana dengan pabrik kita yang di luar kota? kapan akan memasang mesin produksi termuthahir kita Bang? dalam tahun ini sudah dua kali kita menggantikan mesin produksi, Ayah harap semua akan selesai sebelum akhir tahun . Jadi pada saat Alia dan Bunda melahirkan Abang ngak harus ke luar kota untuk mengawasi pemasangan mesin termuthahir kita lagi." Aldi.
"Iya Yah, tapi memang prosesnya bertahap, jika pemasanan di lakukan sekaligus, otomatis produksi kita harus terhenti, terkecuali Ayah buka lahan baru dan mendirikan pabrik baru. " Ghael.
"Emannya Abang berapa lama di luar kota?" tanya Alia.
"Paling cepat dua minggu dan selambat-lambatnya satu bulan. " Ghael.
"Ehm, kalau gitu aku ikut Abang saja, aku mau ambil cuti panjang sampai aku melahiran saja sekalian ," cetus Alia.
Aira tersenyum, mendengar penuturan putrinya tersebut, "Iya Kak Sebaiknya begitu. Kalau Bunda ngak bisa ambil cuti panjang. Jadi Ayah juga ngak bisa kemana-mana jagain Bunda. "
"Lalu bagaimana dengan perusahaan tambang minyak yang di Singapura Yah?" tanya Ghael.
"Sudah Ayah serahkan pada pak Danu yang mengurusnya, sampai kapan pun Ayah akan pertahankan perusahaan tersebut, jika anaknya Hendro itu masih ngotot jika perusahaan itu milik Ayahnya.Maka ,Ayah akan akan bawa kasus ini ke pengadilan." Aldi.
"Sebenarnya Ayah ingin kalian tinggal dan menetap di sana, untuk mengurusi perusahaan peninggalan Oma mu, beliau menghabiskan hampir seluruh hartanya untuk membuat perusahaan itu bangkit kembali.Awalnya memang perusahaan itu milik Hendro, Tapi Oma lah yang memiliki saham terbesar di perusahaan tersebut. "
"Bunda ngak setuju Yah! Bunda ngak mau jauh dari anak-anak dan cucu Bunda, Kitakan sudah jadi pemegang saham terbesar, ya jalani saja seperti yang kita jalani saat ini, toh kita masih menikmati pembagian royalti kok dari saham tersebut, biar saja pak Danu yang mengurusinya, Kakak dan Abang ngak boleh jauh-jauh tinggalnya dari kita, "sahut Aira.
"Iya Bunda, Abang sudah berencana beli rumah untuk kami tinggal, yah walaupun masih mencicil." Ghael.
"Ehm, Kamu tunjuk aja Bang, rumah yang mana, biar Ayah yang bayar, Lagi pula rumah ini juga untuk kalian. " Aldi.
"Ngaklah Yah, aku pingin beli rumah hasil kerja aku sendiri, Yah mungkin ngak sebesar rumah ini.Lagi pula kan masih ada Arsyad dan dede yang ada di kandungan Bunda, untuk menempati rumah ini," Ghael.
Arsyad mengunyah rotinya," Arsyad masih lama nikahnya Bang! mungkin dua puluh tahun lagi," cetus Arsyad.
"Ehm, kalau dua puluh tahun lagi, keburu Ayah meninggal Dek, ngak bisa lihat istri Adek dong, " sahut Aldi.
Ghael tersenyum, "Kalau belum pernah tahu rasanya jatuh cinta kan Dek, Ntar kalau tahu bawaanya pengen cepat kawin aja, kayak Abang dek! " Ghael.
Aira tersenyum.
"Dek kamu belum punya pacar? " tanya, Aldi.
"Belum Yah, malas ah punya pacar ribet, kayak teman aku. Sejak dia punya pacar kehidupan selalu di atur sama pacarnya. " Arsyad.
__ADS_1
" Ehm, ngak juga. Buktinya Ayah punya banyak pacar dulu, "dengus Aldi.
Aira tersenyum melirik ke arah Aldi.
"Tapi ya gitu, punya bini cuma bisa satu. he he, " kelakar Aldi.
"Hem, untung Adek ngak punya sifat seperti Ayah dek. Iya !Adek belajar dulu soal jodoh nanti Tuhan yang akan mengatur. " Aira.
"Jadi Abang ambil rumah di mana? " tanya Aira kembali ke Ghael.
"Rencananya di Residents City Bunda, Itu baru rencana, tergantung Alia mau atau ngak." Ghael.
"Ehm, Ya maulah Bang, Dimana saja aku akan tinggal asal bersama Abang,, apalagi itu dari hasil jerih payah Abang sendiri."Alia
"Ehm, sebenarnya Papa menyuruh kami tinggal di rumah kami yang lama, tapi Abang pikir itu untuk Arsel saja.Abang ingin membangun rumah tangga kita dari nol, " ucap Ghael.
"Wah Ayah makin bangga sama Abang. Jarang sekali ada anak yang ngak mau mewarisi harta orang tuanya he he he ." Aldi.
"Bukan ngak mau Yah, tapi kalau membangun rumah tangga, membeli rumah dengan hasil keringat sendiri itu beda. Ada kebanggan tersendiri. Papa aja bilang seperti itu. Dulu ia beli rumah itu dari type rumah yang sederhana, sedikit demi sedikit ia membangunnya, untuk membangun rumah itu, kami harus berhemat, hemat air, hemat listrik dan yang paling berkesan itu makan enaknya itu dalam sebulan cuma empat kali, satu kali dalam seminggu. Sisanya lauk tempe, tahu , teri dan telur. Tapi rasanya bahagia banget, bisa saling berbagi tugas, karna kami tak punya asisten rumah tangga.Dan Abang ingin kehidupan seperti itu lagi," cetus Ghael.
"Iya Bang, aku juga ingin kehidupan seperti itu, kita akan mulai semuanya dari nol, kemudian kita sama-sama membangunnya dengan bekerja keras, demi masa depan anak-anak kita nanti,"ujar Alia dengan tersenyum menggenggam tangan Ghael.
"Terima kasih Sayang, "ucap Ghael sambil menarik tangan Alia kemudian menciumnya.
"Ehm, syukurin saja Yah, kita juga bahagia kok menjalani semua ini, jika bukan karna warisan dari Opa, mungkin Papa juga ngak mampu membiayai kuliah Abang Yah," sahut Ghael.
Aldi tersenyum , "Kamu memang bijak Bang,Ayah tak menyangka keponakan Ayah yang dulu suka berantem dan godain cewek kini bisa berfikir dewasa."
"Ehm kalau suka berantem dan godain cewek-cewek kayaknya sifat pembawaan kali Yah, dari papa dulu.Dengan banyak pengalaman aku jadi tahu bagaimana caranya membawa diri apalagi hidup jauh dari orang tua. Diri situ juga aku temuin hidayah, "ucap Ghael.
"Bener Bang, kebayakan hidayah itu datang saat kita berada dalam kesulitan dan sendiri, jauh dari orang-orang yang kita sayangi.Dari sana kita baru sadar hanya Tuhan yang tak pernah meninggalkan kita sendiri," cetus Aira.
"Iya, seperti masalah yang pernah menimpa rumah tangga kita ya Bun, saat Bunda pergi Ayah baru merasa kehilangan dan tak bisa menggantikannya dengan wanita mana pun, terkadang kita menyadari betapa seseorang tersebut sangat bearti dalam hidup kita, setelah kepergiannya. Untung saja Tuhan masih memberi kesempatan untuk kita bersama kembali, sampai saat ini,"
"I love you Bunda, terima kasih atas kesempatan keduanya " ucap Aldi sambil menarik tangan Aira dan menciumnya.
Aira tersenyum." I love you too Ayah. " Aira.
Aldi pun menarik tubuh Aira dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ah so sweetnya! Aku juga maulah peluk Abang, "Alia pun mendaratkan tubuhnya pada Ghael.
Dengan senang hati Ghael menyambutnya dan menciumi pucuk kepala istrinya.
"Terima kasih ya Bang. Karna sudah memberi kesempatan kedua untuk Alia. Emang bener kata Ayah, kita ngak pernah tahu betapa beartinya seseorang untuk kita sebelum kita kehilangan mereka. Untung saja Tuhan memberi aku kesempatan kedua," ucap Alita.
"Ehm, Semoga kita dapat menggambil hikamah dari kejadian yang terjadi, dan rumah tangga kita akan utuh selamanya," ucap Ghael sambil membelai rambut Alia.
"Aamiin." seru Aldi.
Arsyad tersenyum simpul melihat dua pasangan tersebut.
"Ehm, jadi gitu ya rasanya punya pasangan, " cetus Arsyad.
"Jadi pingin coba!" sahut Arsyad.
"Eh jangan coba-coba, kamu masih kecil, ngak usah macem-macem."
Arsyad menggaruk kepalanya.
"Tadi katanya suruh cari pasangan, "cetus Arsyad.
"Cari Pasangan bukan untuk saat ini Dek, nanti saja, kamu sekolah dulu. Kuliah baru pikirin pacar." Aira.
"Bener Dek, kakak saja setelah tamat sekolah baru berani pacaran, "cetusnya.
"Mana ngak di restuin lagi ya?" tanya Ghael menyindir melirik ke arah Alia.
Alia melirik ke arah Ghael.
"Ih Abang masa lalu ngak usah di ungkit-ungkit lagi kenapa sih," dengus Alia.
"Habisnya kamu yang mancing-mancing. Seperti membuka luka lama, " sahut Ghael.
"Ah itu kan dulu, sekarang kan aku cuma cinta sama Abang."Alia.
Aldi dan Aira tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, sementara Arsyad asik sendiri mengunyah makanannya.
" Iya Sayang, Abang percaya.Jadi Bagaimana kalaubesok kita lihat rumahnya , kalau kamu setuju besok langsung Abang urus ke deplopernya." Ghael.
__ADS_1
"Ok, setuju dong. " Alia.
Bersambung readef, terima kasih atas dukungannya