
Tari sudah siap menunggu jemputan Romeo, untuk mengambil hati kedua orang tua Romeo, Tari kali ini memakai pakaian syar'i dengan menggunakan kerudung.
Melihat kedatangan mobil Romeo, Tari pun buru-buru menyambut ke datangan nya.
Dengan senyum yang di buat semanis mungkin, Tari menyambut kehadiran sang Romeo.
Tapi respon tak terduga justru di dapat oleh Tari, Romeo justru tersenyum-senyum kearahnya.
"Assalamualaikum ukthi," ucap Romeo sambil tertawa kecil.
"Waalaikum sallam."
"Ihs, kenapa sih lo Rom,? " tanya Tari kesal karna melihat Romeo yang seperti mentertawakan penampilanya.
"Lo mau kemana Tar?" tanya Romeo masih dengan tawa kecilnya.
"Ya mau ketemu calon mertua lah, kok lo tertawa sih, ngak bagus ya gue pakai-pakaian seperti ini?" tanya nya dengan bibir mengkerucut.
"Bagus kok, malah lo makin cantik, tapi gue ngak mau lo melakukan semua ini hanya untuk menarik perhatian orang tua gue."
"Tapi kenapa, gue lakukan semua ini demi lo Rom, bahkan gue sanggup lakuin apa saja demi mendapatkan restu orang tua lo," ucap Tari sambil menatap mata Romeo.
"Tapi bukan begini caranya Tar, kalau loh mau hijrah gue ngak keberatan sama sekali, tapi jika lo lakuin semua ini karna terpaksa, hingga membuat lo sendiri ngak nyaman,untuk apa, biar saja semua berjalan seperti apa adanya,"
"Dan lo ngak perlu berubah jadi apa pun atau siapa pun, untuk gue Tar, dan menurut gue, lo tetap menarik jika jadi diri loh sendiri," ucap Romeo sambil tersenyum menatap Tari.
Tari pun membalas senyuman Romeo.
"Terima kasih Rom, gue bisa jadi diri gue sendiri, meski gue sadar gue banyak kekuranganya," ucap Tari.
"Syukurlah lo sadar jika lo banyak kekuranganya, tapi loh ngak usah khawatir kan ada gue yang akan menyempurnakanya," ucap Romeo sambil mencolek hidung Tari.
"Ah Romeo, so sweet banget," ucapnya sambil melonjak memeluk Romeo.
"Tuh kan apa gue bilang, lo pakai- pakaian seperti itu, tapi tingkah lo katak begini, kalem dikit kenapa sih," ucapnya sambil melepaskan pelukan Tari.
"Abis nya gue seneng, gue ganti baju dulu ya," ucap Tari sambil berlalu menuju Kamarnya.
***
Aldi berada disisi tempat tidur sang ibunda, sesekali ia melirik ke wajah Rita yang telah terlelap.
Aldi perlahan melepaskan genggaman tangan Rita, dan meraih ponsel nya untuk menelpon Aira.
"Mas Heru, jika mama sadar dan mencari gue, bilang saja gue ke kamar mandi ya," bisik Aldi di telinga Heru.
"Lo mau kemana Di?" tanya Heru.
"Mau menelpon Aira Mas," ucap Heru.
"Iya Di, tadi mas telpon Mbok Jum, katanya Aira pergi dari rumah," ucap Heru lirih,
" Dan mas coba telpon Aira, nomornya ngak aktif," ucap Heru.
Mendengar ucapan Heru, Aldi semakin panik, ia langsung menghubungi nomor Aira dan ternyata memang tak aktif.
Hampir sepuluh kali Aldi melakukan panggilan kepada Aira, tapi masih juga tak mendapat hasil.
Aldi kesal hampir saja ia membanting handphonenya tersebut.
"Tenang Di, jika kamu seperti itu,kamu bisa membanggunkan bunda," ucap Heru sambil menepuk pundak adiknya.
"Tapi mas, Aira pergi dari rumah, dan sampai saat ini aku ngak tahu, bagaimana kabarnya," ucap Aldi, ia pun menangis memeluk Heru.
"Bagaimana jika sesuatu terjadipada istriku mas, sedang aku di sini tak bisa berbuat apa." ucapnya sambil terbata-bata, Aldi melepaskan pelukanya.
Aldi meringkuk menangis terpuruk di sisi sebuah sudut ruangan tersebut.
Melihat Aldi yang begitu bersedih ia pun ikut menitikan air matanya, ia kembali memeluk adiknya, mereka memang tak pernah sedekat seperti ini sebelumnya.
***
Romeo kembali mengantar Tari pulang, perasaan bahagia menyelimuti hati Tari saat Romeo memperkenalkannya sebagai calon istri pilihanya, di depan orang tua Romeo.
Meski kedua orang tua Romeo menyambutnya dengan datar, tapi tetap saja ia merasa bahagia, karna kini ia dan Romeo resmi menjadi sepasang kekasih.
"Tar, karna sudah malam gua antar lo di sini saja ya udah malam," ucap Romeo ketika mobil nya berhenti di depan halaman rumah Tari.
"Ngak apa kok Rom, gue langsung turun saja, tapi sebelum gue turun, beri gue tiga kata yang buat gue bisa bermimpi indah malam ini," ucapnya tersenyum sambil menatap mata Romeo.
Romeo berpikir, tiga kata.
"I love you," ucap Romeo sambil tersenyum ke arah Tari.
"I love you too," ucap Tari sambil mengecup bibir Romeo.
"Gue pingin dengar kata itu setiap hari, hingga ribuan kali sehari Rom," ucap Tari.
__ADS_1
Romeo kaget dengan permintaan Tari.
"Kalau lo mau dengar gue mengucapkan nya ribuan kali sehari, lo rekam aja, trus lo dengerin deh sampai ribuan kali bahkan jutaan kali juga boleh, sampai telinga lo budek sendiri juga boleh, kebayang ngak lo kalau gue ngucapinnya sampai ribuan kali sehari, bisa jontor, doer bibir gue," ucapnya sedikit emosi.
"Ya Rom, baru gue minta segitu aja lo protes, ngak romantis baget sih lo,ucap Tari sambil mengkerucutkan bibirnya.
"Habisnya lo minta ngak masuk akal sih."
"Ya dari pada gue minta bintang di langit sama lo, lebih ngak masuk akal lagikan?" ucapnya dengan tertawa terkekeh.
"Ya, mending sekarang turun, lo tidur sebelum tidur jangan lupa minum obat ya, kali aja bisa syarap lo yang sudah terputus bisa tersambung kembali," ucap Romeo sambil membuka pintu mobilnya untuk Tari.
"Dada Rom, miss u," ucap Tari sambil melaikan tanganya.
"Iya keles, udah buruan masuk sana." ucap Romeo yang langsung masuk kedalam mobilnya.
***
Waktu sudah lewat tengah malam, sampai sekarang Aldi belum mendapat kabar dari Aira.
"Aira andai aku punya sayap, maka saat ini aku juga akan terbang mencari mu," ucap Aldi sambil melihat foto Aira yang menggunakan gaun cinderllelanya.
Aldi semakin gelisah, ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa mendapatkan kabar terbaru dari Aira.
Aldi mencari deretan nomor kontak di handphonenya, dan mendapatkan nomor Doni.
"Iya Doni, gue minta bantuin dia saja, untuk mencari Aira."
Aldi melakukukan sambungan telponnya kepada Doni.
***
Tangan Doni merayap mencari keberadaan handphonenya di atas nakas.
"Siapa sih yang nelpon malam-malam begini" gerutu Doni.
Doni sedikit memicingkan matanya untuk melihat siapa yang melakukan panggilan telpon terhadapnya.
"Aldi, ngapain Aldi nelpon gue tengah malam begini?"
"Hallo Di, ada apa?" tanya Doni dengan mata yang merapat kembali.
"Don, lo bisa tolong gue cari Aira Don?" ucap Aldi dengan vibra sedih.
Doni bangkit, matanya pun menjadi segar kembali.
Aldi pun menceritakan kejadian dari awal sampai akhir.
-
-
-
"Iya Di, insya Allah besok gue cari dia pulang dari kuliah, karna besok gue ada ujian."
"Iya Don, lo cari dia di rumah bapaknya saja, kalau sudah bertemu, bawa dia tempat yang aman Don, gue khawatir jika dia berada di rumah itu," ucap Aldi lirih, terdengar di telinga Doni, jika Aldi menangis saat itu.
"Iya, Al, lo tenang saja, lo jagain saja nyokap lo, biar gue bujuk dia agar dia kembali ke rumah lo,"ucap Doni.
Keesokan harinya,
"Rom gue duluanya," ucap Doni yang berjalan mendahului Romeo dan Tari.
"Eh Don loh mau kemana?" tanya Romeo.
"Ada deh, lo langsung ke bengkel aja Rom, jika urusan gue sudah selesai, gue langsung ke bengkel," sahut Doni dari kejauhan.
"Aneh banget Doni, ngak biasanya dia tertutup sama gua," guman Romeo.
"Lo gimana Tar? mau gue antar langsung pulang, atau langsung ikut gue ke bengkel?" tanya Romeo pada Tari.
"Langsung ke bengkel aja Rom," sahut Tari sambil menggandeng mesra tangan Romeo.
***
Setelah membereskan rumahnya nya, Aira merebahkan tubuhnya, kini ia kembali menjalani rutinitas nya dan harus terbiasa dengan pekerjaan itu lagi.
"Akhirnya aku sadar, aku memang bukanlah cinderllela, aku hanyalah upik abu yang bermimpi untuk menjadi seorang putri," ucapnya sambil membalikkan tubuhnya.
Karna bosan berada di kamar, ia pun bangkit dan mencari angin di luar.
Aira menelan salivanya ketika membuka pintu, ia melihat buah mangga mengkal di depan rumahnya.
Aira memikirkan cara untuk meraih buah tersebut, Aira pun meraih sebuah tongkat untuk memukul buah mannga tersebut, dan berhasil, ia pun memungutinya.
"Hai Aira," sapa seseorang yang mengagetkanya.
__ADS_1
Aira pun menoleh kearah lelaki itu, dan seketika melepas kan kembali buah mangga.
"Kenapa Anda datang kemari ?" tanya Aira.
"Oh aku mencari bapak mu, karna ia baru mencicil separuh dari hutangnya," ucap lelaki tersebut.
"Cari saja bapak di pasar, dia pasti ada di sana," ucap Aira sambil berlari menutup pintu dan menguncinya.
Jantungnya berdetak cepat, Aira begitu ketakutan, ia pun kembali mengintip di balik jendela, dan pria itu masih ada di depan rumahnya.
"Pergi dari sini, atau aku akan berteriak sekencang-kencangnya!!!" teriak Aira dari dalam rumah.
Aira mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah, ia coba untuk melawan rasa ketakutanya.
Setelah beberapa saat, Aira kembali mengintip dan ternyata lelaki itu sudah pergi.
"Tidak aku tak bisa tinggal di sini, tapi aku harus kemana? " tanyanya putus asa.
Aira pun memikirkan kenama ia akan pergi, saat pikiranya menerawang, tiba-tiba ia di kejutkan dengan suara ketukan pintu.
Aira kaget dan panik, ia mengira jika lelaki itu kembali menemuinya.
"Aira, Aira." suara pintu di ketuk.
"Bang Doni?"
Aira pun mengintup di luar jendela dan melihat ternyata memang benar Doni yang datang menemuinya.
Aira membuka pintu.
"Aira," ucap Doni senang.
"Abang, kenapa abang ada di sini?" tanya Aira lirih.
"Ngak suruh abang masuk dulu?"
Aira mengganguk, "Mari masuk bang."
Doni masuk dan duduk di kursi ruang tamu, Aira pun ikut duduk di samping Doni.
"Aira, mas Aldi sekarang berada di Singapura dan ia meminta bang Doni untuk menjemput Aira," ucap Doni tenang.
"Aira ngak mau bang, tempat Aira memang disini," ucapnya sambil menitikan air matanya.
"Aira jangan begitu, Aldi sangat mengkhawatirkan kamu, kenapa kamu tak bisa di hubungi?"
"Aira ganti nomor bang, jika kedatangan abang kemari untuk memaksa Aira, maka lupakan saja, Aira juga akan pergi dari rumah ini," sahut Aira lagi.
"Aira, abang ngak maksa Aira, abang tahu Aira butuh waktu, tapi abang ngak bisa membiarkan Aira tinggal di sini sendiri, Aira mau ngak tinggal bersama Dasty, pacar abang, Dasty tinggal di kos-an, di sana tak sembarang orang bisa masuk, jadi Aira lebih aman, biar abang yang bicara sama pacar abang ya," bujuk Doni.
Aira diam Sejenak, ia memang tak aman jika tinggal di rumah itu, tapi ia juga tak ingin merepotkan Doni, apalagi kabarnya, pacar Doni seorang yang cemburuan, ia tak ingin Doni bermasalah dengan kekasihnya, lagi pula ia tak ingin berhubungan dengan Aldi ataupun teman-temanya.
"Ngak usah, Aira bisa jaga diri Aira sendiri," sahut Aira.
Melihat Aira yang tetap kukuh, Doni menjadi bingung, ia juga tak mungkin sepanjang hari bersama Aira untuk menjaganya..
*Apa gue bawa Aira ke bengkel saja lah, ngak enak rasanya jika harus berduan bersama dia disini, *batin Doni
"Aira ikut abang yuk," Ajak Doni.
Aira melihat kearah Doni," Kemana bang?" tanya Aira.
"Ikut saja, kamu percayakan sama abang?"
Aira menggangguk," Aira ganti baju dulu ya bang," ucap Aira sambil berjalan menuju kamar.
Doni duduk sendiri sambil merenungi.
"Kalau gue bawa Aira ke bengkel, di sana dia pasti bertemu Romeo, tapi jika gue tetap di sini gue takut terjadi fitnah, serba salah," gumanya.
"Apa yang terjadi ya, jika Romeo tahu Aira dan Aldi sedang bermasalah, gue takut saja Romeo mengambil kesempatan untuk mendapatkan Aira kembali, gue juga tahu jika Romeo belum bisa move-on, meski ia dan Tari sudah jadian, serba salah gue" guman Doni.
Tak lama Aira pun keluar, "Ayo bang Aira sudah siap," ucapnya bersemangat.
Doni menjadi ragu untuk membawa Aira, Ia malas untuk beranjak.
"Ayo bang," ucap Aira semakin tegas.
"Iya iya, Aira, " ucap Doni gugup ia pun beranjak dari duduknya dan langsung menuju mobil.
Di dalam mobil,
Aira terlihat bahagia, meski ia tak tahu kemana Doni akan membawanya.
Sementara Doni merasa gelisah.
sampai di sini dulu ya, tetap dukung author, dengan like, komen, vote dan hadiah-hadiahnya, episode berikutnya di jamin lebih seru deh.
__ADS_1