Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Siapa Yang Mulai Duluan


__ADS_3

Romeo berlalu begitu saja,bahkan ia menepis tangan Tari yang menggandeng nya.


Tari tersenyum puas, melihat Romeo yang terlihat kesal karna cemburu.


Bisa juga loh marah Rom, gue pikir loh ngak akan peduli dengan gue, guman Tari.


Ia pun langsung menyusul Romeo.


Sesampai di dalam mobil, mereka kembali hening, Tari tersenyum saat melihat wajah Romeo yang cemberut, ingin rasanya ia menghambur dan memeluk pria yang ada di sampingnya tersebut, karna Romeo akan terlihat semakin ganteng saat jutek.


Wajahnya yang putih mulus, dengan hidung mancung dan beralis tebal, dengan bibir yang berwarna cerah sedikit bervolume semakin menggoda iman Tari.


Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika ia tak kan membujuk Romeo terlebih dahulu.


Ia ingin membuat Romeo mengerti, jika wanita tomboi sepertinya juga ingin bermanja dan di manjakan oleh suaminya sendiri.


Semua telah Tari berikan, kesucian,kesetian dan pengorbanan, ia tak pernah meminta balasan dari semua perbuatanya, tapi wanita kuat juga punya kelemahan, ia juga ingin di hargai dan di perhatikan, layaknya pasangan pengantin baru.


Setibanya di kamar mereka tetap diam dan bungkam, kali ini dengan mode yang lebih parah, Romeo bahkan tak menegur dan menyapanya.


Mereka tidur saling menjauh dan dengan posisi yang saling membelakangi.


Ada kekhawatiran di hatinya, tentang rumah tangga yang baru di bina dalam beberapa hari tersebut.


Tapi sebagai istri, ia juga butuh suatu ungkapan dan pengakuan dari sang suami, dan sepertinya Tari masih harus berjuang untuk itu.


Malam sunyi dan mencekam.


Harus kah aku minta maaf dulu kepada Romeo? Tapi untuk apa, bukannya dia tak peduli? Tari bermonolog dalam hatinya.


Tari pun menarik selimut tebalnya, malam semakin dinggin, sedingin hati Romeo terhadapnya.


"Ya Tuhan sampai kapan aku bertahan? "Guman Tari.


Sinar sang surya begitu cerah menyapa dunia, Tari dan Romeo sudah siap, untuk berangkat ke tempat tujuan mereka masing-masing.


Suasana tetap sama, mereka sama-sama mengaktifkan mode diam.


Romeo mengantar Tari di rumah sakit,Sesampainya di parkiran ia hanya memberhentikan mobilnya dan menunggu Tari untuk turun.


Tari pun turun tanpa ijin atau menyapa Romeo terlebih dahulu, ia langsung keluar dari mobil, kemudian menutup pintu mobil dengan kuat.


Setelah mengunci pintu mobilnya, Romeo yang akan keluar dari tempat parkir tersebut malah melihat Tari yang sedang ngobrol bersama Sandy di lobby.


Romeo kembali memakirkan mobilnya, ia menunggu Tari dan Sandy selesai mengobrol.


"Udah dulu ya San, sampai jumpa lagi" ucap Tari bermaksud mempersingkat waktunya, jujur saja ia tak ingin meladeni dokter muda tersebut.


Kejadian kemaren terjadi hanya semata-mata karna ia ingin melihat Romeo yang cemburu terhadap Sandy.


Bukanya hubungan mereka semakin romantis, malah semakin merenggang, Tari juga tak ingin bermain api, apalagi sampai berniat selingkuh.


Namun berbeda dengan Sandy, penyambutan hangat Tari kemaren malah membuatnya semakin percaya diri, dan semakin ingin mendekati Tari.


Bahkan ia rela untuk datang lebih pagi hanya untuk menunggu Tari di lobby.


Sandy melambaikan tanganya kearah Tari, meski Tari tak lagi menoleh kearahnya, senyum terukir di wajah dokter santun tersebut, namun saat ia berbalik, ia menjadi syok karna melihat pria yang ada dihadapanya.


"Kau, ada perlu dengan ku?"tanya Sandy gugup saat melihat mata Romeo yang tajam seperti ingin membunuhnya.

__ADS_1


"Aku datang hanya ingin memperingatkan mu, jika kau mengganggu istri ku lagi, maka aku akan membuat dua pilihan untuk mu, kau atau aku yang mati," ucap Romeo dengan mata yang tajam setajam silet.


"Istri? Maksud mu?"tanya Sandy binggung.


"Tari itu istriku, dan harusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan, " ucap Romeo singkat tapi tegas.


Romeo menatap semakin tajam kearah Sandy, dan membuat pria tersebut, beberapa kali membetulkan letak kacamatanya.


Setelah tatapan mata yang mengintimidasi lawan bicaranya, Romeo pun berlalu dari tempat tersebut dan membawa mobilnya keluar dari halaman parkir, kemudian ia melajukan mobilnya membelah jalan raya, sebagai pelampiasan kekesalanya.


***


Aira sudah siap membereskan barang-barang mereka, karna sebentar lagi ia akan membawa Aldi pulang.


Seorang suster muda melepaskan selang infus yang terpasang di lengan Aldi, sesekali ia melirik pria yang tetap tampan meski terlihat pucat tersebut.


Dalam hatinya ia menggagumi pria tampan yang tak sedikit menoleh kearah nya tersebut.


"Sudah selesai mas,"ucap suster tersebut.


"Terima kasih Sus," ucap Aldi seraya mengulas senyum simpulnya.


Hati suster tersebut berbunga-bunga saat melihat senyum manis dari pria tampan yang ada dihadapanya.


"Semoga lekas sembuh," ucap Suster tersebut sebelum keluar dari ruangan tersebut.


Tari kembali datang dengan wajah cemberutnya, ia langsung mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur Aldi.


"Kenapa sih loh?"tanya Aldi.


"Gue lagi kesel aja, "sahut Tari sambil menyilang kedua lenganya di dada.


"Tau aja loh?"dengus Tari.


"Ya tahulah, gue kan udah pengalaman," sahutnya lagi.


Aira tertarik mendengar keduanya bergosip ia pun menghampiri mereka.


"Ada apa sih mbak?" setiap hari kenapa wajah mbak cemberut terus?"tanya Aira.


"Gara-gara loh tuh yang nyuruh gue manas-manasin Romeo, hubungan kami jadi panas beneran, "dengus Tari.


Tari menghela napasnya dengan kasar.


"Sabar mbak, mbak ikut saja alurnya, biarkan saja bang Romeo ngambek, biar dia yang menyatakan sendiri bahwa dia cemburu terhadap Sandy," saran Aira.


"Bang Romeo di diemin aja dulu mbak, sampai dia nyerah, ngak di kasih jatah ranjang," imbuh Aira lagi.


"Tapi sampai kapan? Kalau kelamaan ntar gue yang ngak tahan didiemin sama dia,"dengus Tari


"Sampai bang Romeo yang minta sendiri mbak, laki-laki mana tahan di diemin, paling lama juga tiga hari, apalagi kalau setiap malamnya mbak Tari pakai baju seksi, ditambah lagi jika mbak menggunakan parfum sensasional yang menggoda, ih mana tahan tuh," ucap Aira.


"Iya ngak Mas?" meminta pembenaran dari Aldi, sekalian menyindir suaminya.


"Masak sih, ini sudah dua hari, bearti nanti malam ya?" Tari merasa resah.


"Iya mbak, tapi mbak harus tahan ya,biarkan dia yang minta dan merayu mbak duluan."Aira menegaskan lagi.


"Ehm, oke deh." guman Tari.

__ADS_1


Sementara Aldi cuma geleng-geleng kepala mendengar mereka ngobrol.


Setelah siap, mereka pun pulang menuju rumah mereka, Aldi merasa senang setelah berhari-hari di rumah sakit sekarang ia bisa kembali kerumahnya.


Kedatangan Aldi pun di sambut bahagia oleh anggota keluarga yang lain.


Satria langsung menghabur memeluk putranya.


"Papa senang kau sudah kembali, untuk sementara kau istirahat saja, biar papa yang akan menggantikan mu di kantor," ucap Satria.


"Iya Pa terima kasih," jawab Aldi.


Aldi pun langsung menuju kamarnya, mengingat ia harus banyak istirahat.


***


Malam harinya drama pengantin baru di mulai lagi.


Tari mengenakan lingerie merah dengan bahan berenda yang sedikit transparan.


Rambutnya di biarkanya tergerai dengan indah, setelah memoles wajahnya dengan make up tipis, ia pun menyemprotkan parfum sensasional yang bisa menggugah selera kaum adam.


Setelah persiapannya di rasa sempurna, Tari pun menuju tempat tidur dengan berjalan berlenggak-lenggok menuju tempat tidur.


Indra penciuman Romeo menangkap wangi semerbak yang membakar adrenaline nya, pandanganya pun beralih pada Tari yang terlihat cantik bak bidadari yang turun dari kayangan.


Tari masih terlihat acu' begitupun Romeo, mereka bahkan saling membuang muka saat tatapan mata mereka bertentangan.


Tari mendarat kan lututnya di atas tempat tidur, agar lingerie yang kurang bahan tersebut tersingkap dan menampakan telaga kenikmatan yang akan menggoda iman sang suami.


Tak hanya Romeo, Tari pun merasa tergoda melihat lirikan sinis sang suami yang semakin membuatnya terlihat tampan dan cool.


Apalagi ia mencium aroma tubuh sang suami yang langsung menggelitik syahwatnya.


Keduanya sama-sama menelan ludah, tergoda oleh masing-masing pasanganya.


Tari merebahkan tubuhnya membelakangi Romeo, ia menggigit pelan bibir bagian bawahnya seraya berguman, Tahan Tari, tahan..,gumanya menggigit bibir lebih kuat bibir bagian bawahnya.


Tari sengaja berbaring membelakangi Romeo agar lekuk tubuhnya terekspose dengan sempurna.


Linggeri tersebut jatuh dan melukiskan secara sempurna lekuk indah tubuh Tari.


Romeo membelalakan mata, pemandangan tersebut begitu menantangnya, hingga meriam sakti kini bangkit dengan sendirinya tanpa aba-aba.


Romeo terus mempergatikan lekuk indah pemandangan yang ada di hadapanya, hidangan yang lezat dan menggugah selera.


Seketika matanya membelalak sempurna, saat Tari mengubah posisinya menjadi terlentang, hingga dua bukit kembar nan kenyal tersebut tersembul dari tempat semestinya.


Berkali kali Romeo menelan ludanya untuk membasahi kerongkonganya yang terasa kering, suhu tubuhnya pun terasa panas karna tengah mendambakan pergulatan hangat diatas tubuh indah tersebut.


Meriam sakti Romeo benar-benar siap, benda tersebut mengembang dengan ukuran berkali kali lipat.


Lama sudah sudah ia menunggu reaksi dari sang suami, membuat ia sudah tak sabar, Tari pun melirik kearah Romeo.


Romeo segera memalingkan tubuhnya secara spontan, ketika Tari melirik kearahnya.


Melihat suaminya membelakanginya, Tari merasa kesal, ia pun membalas membelakangi Romeo.


Keduanya dalam posisi saling membelakangi, saling menahan hasrat, hinga keduanya saling menelan saliva.

__ADS_1


Ayo tebak siapa kira-kira yang meminta duluan ya 😆😆😆di tunggu like, dan komentarnya ya.


__ADS_2