
."Siapa wanita yang ingin merebut Mas dari kami?"Sarkas Nina.
Wajah Edo menjadi sedikit tegang mendengar pertanyaan sinis dari istri pertamamanya.
Edo diam sejenak, ia binggung memikirkan cara yang baik untuk memberitahu kepada mereka, jika Aira adalah wanita yang sudah lama ia incar bahkan sebelum mengenal kedua istrinya tersebut.
"Siapa Mas?"Dewi menimpali.
Kedua wanita tersebut sudah menunjukan kesedihan mereka, mata mereka pun mulai berkaca-kaca.
Edo merasa serba salah, tapi jika ia tak memberi tahu kedua istrinya, takutnya akan terjadi kesalah pahaman, sehingga mereka bisa membenci Aira.
"Ayo Mas? siapa wanita yang tega menyakiti dua wanita sekaligus tersebut?" desak Nina dengan air mata yang mulai menggenang.
Edo semakin gelisah, kedua istrinya pun saling memeluk, keduanya terluka karna sebentar lagi mereka kembali di madu.
Tatapan keduanya lekat menatap Edo, seolah mereka ingin segera mengetahui calon pelakor di rumah tangga mereka.
Edo menarik napas dan menghempaskannya dengan kasar.
"Aku ingin melamar Aira sebagai istri syah ku," ucap Edo lugas.
Duar.. greeek, seperti suara gemuruh guntur yang membelah angkasa begitulah. suara gemuruh yang sedang sedang melanda hati kedua wanita muda tersebut.
"Aira," ucap mereka lirih seolah tak percaya.
Keduanya istri tersebut saling memandang, mereka memang tahu jika sejak mereka mengenal sosok Edo, Edo memang punya hati untuk Aira, karna perlakuan Edo sangat berbeda terhadap Aira.
"Tapi bagaimana bisa Mas?bukannya suaminya sangat mencintainya, bagaimana mungkin Mas Edo bisa merebut Aira dari suaminya?" tanya Nina sambil menghapus titik air matanya.
"Aku tak merebut Aira dari suaminya, kini Aira sudah menjadi janda dan aku berniat segera mempersuntingnya dan menjadikannya satu-satunya istri sah ku," ucap Edo.
Suara Edo tersebut lembut terdengar namun begitu menyakitkan hati.
"Hiks hiks hikas, lalu bagaimana dengan nasib kami Mas hijs hiks?"tanya Nina sambil menangis terisak.
"Kalian tetap jadi istri ku, aku tetap berlaku adil terhadap kalian, sebulan sekali aku akan datang untuk kalian berdua." Edo.
"Apa Mas? Adil? lalu jika Aira menjadi istri sah Mas, dia yang akan mendampingi mas Edo setiap saat, sementara kami hanya sebulan sekali, itu pun harus di bagi dua, Adil dari mananya Mas?" cecar Nina, ia dan Dewi pun menangis terisak.
Edo merasa iba terhadap kedua istrinya tersebut, tapi mau bagaimana lagi, ia memang mencintai Aira dari dulu hingga sekarang.
"Saya harap kalian mengerti, bukan mau saya juga ingin berpoligami seperti ini, tapi saya memang mencintai Aira sejak dahulu dan kalian pun tahu akan itu, " ucap Edo dengan tegas.
__ADS_1
Hiks hiks hiks, Nina dan Dewi hanya bisa menangis mengenang nasib mereka yang malang.
Kedua istri sirih tersebut hanya bisa menerima keputusan sang suami.
Melihat keduanya yang terlihat sedih Edo bermaksud untuk menghibur mereka dengan memberi nafkah batin keduanya secara bergiliran, mengingat ia tak punya waktu lagi, karna esok pagi ia harus berangkat pagi.
Giliran pertama adalah Nina, meski merasa sakit karna keputusan Edo, tapi ia tak pernah menolak ketika Edo datang padanya.
Edo menuntaskan hasratnya dan hasrat istrinya dalam waktu setengah jam.
Setelah setengah jam Edo berayun di atas tubuh Nina, ia pun menumbangkan tubuhnya di samping sang istrinya.
Edo mengatur napasnya dan mendinginkan suhu tubuhnya, lama tak merasakan lubang buaya, membuatnya merasa kurang jika hanya melakukan satu ronde pertempuran.
Edo turun dari ranjang, saat Nina masih menginginkan dekapan hangat suaminya.
Nina hanya bisa menamgis pilu ketika melihat Edo kembali mengenakan celana boxernya dan hendak menuju kamar Dewi.
"His hiks hiks, padahal aku masih kangen sama kamu mas,"ucap Nina lirih sambil menahan tangisnya.
Di kamar Dewi, Edo kembali menumpahkan hasratnya sekaligus memberi nafkah batin kedua istrinya.
Pertempuran kedua sedikit lebih lama, saat Edo berada diatas tubuh Dewi hampir satu jam, Dewi lebih terpuasakan dengan durasi yang lumayan panjang.
Karna merasa lelah Edo langsung terlelap di kamar Dewi, tinggalah Nina yang menangis dalam kesepiannya.
Di mana keadilan yang sesungguhnya? dan jangan tanyakan keadilan kepada manusia, sesungguhnya tak ada manusia yang benar-benar mampu bersikaf adil, karna Adil tak berati sama rata, keadilan yang hakiki hanya milik Tuhan yang maha esa, ketika seorang suami berbagi hati, maka ada salah satu atau bahkan kedua istrinya yang merasa terzalimi benarkah itu?
Pagi-pagi sekali Edo sudah bersiap untuk berangkat menuju kantornya, sebelum itu ia membuka laci di dalam brangkasnya untuk mengbil sebuah cicin yang susah lama ia siapkan untuk melamar Aira, ( baca part 94 tak mungkin bisa lupa)
Senyum bahagia terbit dari bibirnya, ia sudah merasa lega karna telah mengutarakan keinginannya yang ingin mempersunting Aira.
Setelah pamit pada kedua istrinya, Edo pun kembali ke kantornya yang berjarak hampir dua jam tersebut.
***
Pagi yang cerah bagi Aira, setelah memandikan Alia, ia pun pergi keluar untuk menjemur Alia untuk mendapat kan manfaat dari sinar matahari pagi.
Ibu muda tersebut, berdiri sambil bernyanyi menidurkan si kecil Alia.
Hal yang tak biasa terjadi di gang rumah si mbok tersebut, karna biasanya saat pagi kampung itu terasa sepi, namun pagi ini jalan tersebut mendadak ramai, beberapa orang pemuda hilir mudik di dalam gang tersebut, mereka mondar mandir hanya untuk melihat janda kembang yang menjadi primadona perkampung itu dan perkampungan sekitarnya.
Aira hanya tersenyum ketika melihat beberapa orang pria hampir menabrak, karna kehilangan konsentrasi akibat melirik kearahnya.
__ADS_1
Tak ingin jadi pusat perhatian, Aira segera masuk dan menidurkan Alia.
Tiba-tiba saja Aira mendengar si mbok mengomel.
"Huh dasar sudah di bilang berapa kali juga masih ngeyel," cicit si mbok.
"Ada apa sih mbah pagi-pagi ngomel saja?"tanya Aira seraya merapikan bedongan Alia.
"Itu Non, mbok kesel setempuk propasal udah penuh di atas meja si mbok, sekarang malah nambah lagi," dengusnya.
"Proposal apa sih mbok?"tanya Aira penasaran.
"Proposal calon kandidat Non," sahut simbok.
"Kandidat apa Mbok, kandidat Rt atau kandidat pak kades?"tanya Aira seraya men*eteki Alia.
"Kandidat calon bapak baru nya dedek Alia,"sahut si mbok.
"Hah? kok bisa mbok?" Aira kaget.
"Iya Non mereka menyerahkan CV nya, biodatan dan Riwayat hidup, untuk mendaftar jadi calon suami Non, lengkap dengan foto narsis mereka Non, "keluh si mbok.
"Masa' Mbok, ada ada saja, Aira kira berkas itu surat lamaran kerja untuk pabrik kita mbok, " papar aira sambil tertawa.
"Bukan Non, ngak tahu dari mana mereka belajar ,kalau ngelamar janda pakai proposal, segala ukuran tanah dan harta benda yang mereka miliki di cantum kan Non sebagai lampiran Non, papar simbok seraya tertawa geli.
"Ha ha ada-ada saja ya mbok?" sahut Aira sambil tertawa.
"Iya Non, jadi janda itu ngak gampang, jika banyak yang suka sama kita, pasti akan ada yang tidak menyukai kita Non." Simbok
"Iya Mbok Aira tahu, "sahut Aira.
Sore harinya kampung mereka mendadak ramai karna kedatangan pak pemimpin mereka.
Edo sengaja mengjampiri Aira, segera setelah jam dinasnya selesai.
Edo membawa beberapa barang sebagai hadiah untuk lamarannya kepada Aira.
Kedatangan Edo dan rombongan membuat heboh sekampung mereka.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya, bersambung ya guys, jangan lupa dukungan untuk author ya.
Like komen dan vote.
__ADS_1