
Keluarga Aldi sedang berkumpul membicarakan akad nikah Heru yang akan berlangsung beberapa hari lagi.
"Bunda sudah menyiapkan semuanya Heru, tinggal kau lihat sendiri, apa ada yang kurang," ucap Maya seraya mendaratkan bokkngnya di atas sofa empuk.
Maya dan Satria baru saja tiba dari Kuala Lumpur, sebelumnya, ia telah mengirim beberapa barang untuk keperluaan hantaran Heru.
"Iya Ma, nanti Heru tanya Tania apa lagi yang kurang," sahut Heru.
"Setelah akad nikah, kamu jangan pulang dulu ke Cijantung Heru, setelah resepsi barulah kamu bawa Tania pulang ke sana," nasehat Maya.
Iya Ma, rencananya kami juga menunda bulan madu, setelah resepsi barulah kami akan berbulan madu keliling eropa, papar Heru.
"Wow, keliling eropa, Aldi juga mau tuh, bulan madu ke langit biru, biar ngak ada yang mengganggu," sahut Aldi dari arah luar.
"Nyahut saja kamu Di, orang lagi bicara serius,"dengus Heru.
"Eh Mas siapa bilang Aldi ngak serius," sahutnya seraya duduk di samping Maya.
Pandangan Aldi tiba-tiba mengarah ke sebuah kotak besar yang terbuat dari kardus.
"Ehm Apa itu Bunda?"tanya Aldi karna melihat beberapa kotak yang tersusun rapi di atas lantai.
"Oh itu barang hantaran mas Mu,"sahut Maya seraya meraih gelas yang berisikan jus.
"Barang hantaran, cuma untuk Mas Heru? untuk Aldi ngak ada?"tanya Aldi dengan nada kecewanya.
"Untuk kamu? Emang kamu mau menikah?"tanya Maya sinis.
"Yah, pakai nanya lagi? kemaren udah di bilangin kok, " dengus Aldi.
Maya tersenyum," Iya Aldi, Bunda ingat kok, harantaran kamu juga Bunda bawakan, kamu dan Herukan sama-sama anak Bunda,"ucap Maya.
Wajah Aldi yang cemberut seketika menjadi sumringah.
"Terima kasih Bunda, "ucapnya seraya memeluk Maya.
Iya sama-sama Nak," sahut maya seraya mengacak-ngacak rambut Aldi.
"Dasar anak bungsu," dengus Satria.
Setelah mengurai pelukannya, Aldi kembali duduk dengan tegak.
"Ehm, Bunda, Papa, malam ini ikut Aldi bawa kerumah Aira untuk melamarnya secara resmi, "pintanya tanpa basa-basi.
Yah, kita baru saja sampai, masih capek, belum juga istirahat, udah di suruh-suruh saja," dengus Heru.
"Istirahatnya besok saja Mas, Aldi sudah janji sama Bapaknya Aira, malam ini mau melamar putrinya secara resmi, kan ngak etis kalau ingkar janji, baru saja dapat restu," sahutnya dengan Santai.
"Makanya, kalau memutuskan sesuatu ngak usah buru-buru," sahut Heru lagi.
__ADS_1
"Habisnya udah ngak sabar mas pingin punya bini lagi," selorohnya.
"Kamu gimana jadi mas Heru Di, di umur mendekati kepala tiga baru nikah,"sahut Maya.
"Beda dong Bunda, kalau mas Heru belum pernah merasakan sorga dunia, makanya dia betah, kalau Aldi kan sudah pernah, makanya ngak mau mengundur-ngundur waktu lagi." Aldi
"Iya kan Pa?"tanya Aldi seraya menaik turunkan alisnya.
"Kalau gitu sekarang kita bubar jalan, kudu siap-siap untuk untuk pergi melamar Aira," ucap Heru yang langsung beranjak, begitu pun yang lainnya.
"Eh Aldi jangan lupa telpon Tari dan Romeo ajak mereka sekalian biar rame, "usul Satria.
"Iya Pa. beres."
Aldi mencari kontak Tari di nomor telponnya.
Setelah beberapa kali melakukan panggilan akhirnya di angkat juga oleh Tari.
"Halo Di, ada apa sih telpon berkali-kali gangguin gue aja,"dengus Tari.
"Gangguin? emangnya loh lagi ngapain Tar?"tanya Aldi.
"Biasalah, lagi olah raga bareng laki gue," sahutnya.
"Ya ampun tanggung banget, udah mau magrib, ntar kesambet setan loh," sahut Aldi.
"Ih bilang aja loh sirik, ada apa sih nelpon gue."
"Hah...mendadak banget loh." Tari syok.
"Ngak ada angin ngak ada ribut,, tahu-tahu hujan aja."Tari.
"Udah jangan banyak bacot ya, kita berkumpul jam tujuh nanti malam," sahut Aldi kemudian menutup telponnya.
***
Sementara itu di rumah Aira, ia sedang sibuk memasak dan membuat kue, untuk menyambut keluarga besar Aldi yang akan datang untuk melamarnya pada malam ini.
Selain merasa senang karna lamaran Aldi, ia juga senang karna hari ini, ia kembali berkumpul bersama keluarga besarnya.
Keluarga yang selalu hangat dan penuh cinta.
Meski merasa lelah karna menyiapkannya senuanya namun Aira bersemangat karna sang putri juga ikut membantu membuat kue.
Meski tingkah Alia yang lebih banyak merepotkan dari pada membantu, ia merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama putrinya.
Pukul lima sore, semua sudah siap, dari makan malamnya sampai dengan hidangan penyambut tamu.
Pak Tarman membantu menepikan barang-barang yang ada di ruang tamu, agar ruangan yang tak seberapa besar tersebut bisa menampung seluruh anggota keluarga besar Aldi.
__ADS_1
Mereka bertiga kompak bahu membahu saling membantu.
***
Tepat pukul tujuh malam Aldi sudah menunggu di depan rumahnya, dengan menggunakan baju koko berwarna putih dengan celana kain hitam, plus peci yang menambah ketampananya sekaligus
Begitu pun yang lainnya, mereka semua berpakaian rapi dan tertutup, Aldi benar-benar menginginkan lamaran yang sakral dan tak main-main seperti sebelumnya.
Semua keluarga sudah berkumpul, meski hanya lamaran, namun keluarga Aldi mbawa beberapa barang seserahan sebagai melengkapi tradisi.
Tak hanya anggota keluarga inti, Heru juga membawa serta Tania, meski perkenalan mereka dalam waktu yang cukup singkat namun mereka terlihat sangat serasi, mungkin karna sifat Heru yang dewasa hingga membuat Tania mudah menerima kehadiran nya sebagai calon suami.
"Semua sudah siap?" tanya Satria.
"Sudah Pa!"sahut mereka semua.
"Kalau gitu kita berangkat," ucap Satria memberi komando.
Bukan main senangnya Aldi saat itu, hari ini akan menjadi salah satu sejarah dalam hidupnya.
Senyum selalu terkembang di wajah tampannya karna tak sabar untuk segera sampai.
Setengah jam, mereka pun sampai di salah satu asrama polisi.
Satria menyerit kan dari melihat mobil mereka memasuki asrama polisi.
"Hm, Aira tinggal di asrama Di?" tanya Satria.
"Iya Pa, Aira kan polwan berpangkat Ajudan Inspektur satu, " papar Aldi bangga.
"Benarkah?"wah ngak nyangka dapat mantu polisi langsung bintara lagi, padahal dulu cita-cita papa ingin jadi polisi," ungkap Satria bangga.
"Masa' sih Pah, bukannya cita-cita papa pingin jadi playboy?" canda Aldi.
"Iya, jadi polisi salah satunya saja. salah lainya ya jadi playboy, "cetus Satria.
"Nyadar diri Pa sudah tua, mana bisa jadi playboy lagi, ngak ada yang mau!" sahut Aldi.
"Ehm siapa bilang,"dengus Satria.
Sementara Maya hanya geleng-gekeng kepala menyimak obrolan orang tua dan anak yang sama-sama tak mau kalah.
Mereka pun tiba di depan rumah Aira.
Tiga buah mobil beriringan datang, kehadiran mereka sudah tinggu oleh Aira dan keluarganya.
Satu persatu satu keluarga Satria keluar dari mobil.
Alangkah bahagianya Aira saat itu, melihat orang-orang yang dulu begitu menyayanginya kini mereka hadir dalam acara lamarannya.
__ADS_1
Aira mata suka cita dan haru menjadi pembuka acara pertemuan dua keluarga yang sudah lama tak bertemu tersebut.
Bersambung dulu guys insya Allah author up dua episode hari ini, tetap srmangat dukung author sampai cerita ini benar-benar tamat ya love u All.