
Aldi tersadar dari tidurnya karna meraba sesuatu yang terasa panas dan ternyata tubuh Aira, Aldi pun panik.
"Aira, bagun Aira," Aldi mencoba mengguncang tubuh Aira, namun Aira tak kunjung membuka mata.
Aldi melirik petunjuk waktu yang ada hand phone miliknya, Sudah pukul tujuh, ia pun gusar karna melihat wajah Aira yang memerah, mungkin karna suhu tubuhnya terlalu panas.
Aira sesekali menggigil dan menangis di dalam tidurnya, karna panik Aldi pun memanggil Heru.
Aldi berlari keluar dari kamar Aira dan menuju kamar Heru.
"Heru,"!!!
Panggilnya beberapa kali.
Heru membuka pintu,
"Ada apa ?"
"Aira tubuhnya semakin panas, gue ngak tahu harus bagaimana lagi "
Heru langsung menuju kamar Aira dan memeriksanya dengan termometer," Astaga empat puluh derajat, panas nya tinggi."
"Aldi siapkan mobil, bawa Aira kerumah sakit sekarang"
"Ya gue belum mandi" Aldi.
"Ihs nanti saja mandinya, jika terjadi sesuatu pada Aira kamu mau tanggung jawab?"
Aldi masuk kekamarnya, mencuci muka dan mengganti pakainanya.
Mbok Jum naik kelantai atas dan langsung masuk ke kamar Aira, ia sedikit kaget karna melihat keadaan Aira yang semakin parah.
"Ada apa dengan non Aira Mas Heru?"
"Oh, mbok kebetulan, tolong bereskan beberapa pakaian Aira untuk di bawa kerumah sakit,"
"Iya baik Mas, si mbok pun memasukan beberapa potong pakaian Aira kedalam tas."
Aldi sudah siap dengan mobilnya, ia pun membuka pintu belakang untuk Heru.
Heru mengangkat tubuh Aira dari kamar dan langsung menuju mobil.
"Di, biar gue yang bawa mobil, lo jagain dia di belakang,"
Aldi pun memanggku kepala Aira di dalam mobil, sementara Heru yang menyetir.
Di dalam mobil Aira terus menggigil.
"Di, lo apain si Aira, sampai di demam kayak gitu?" tanya Heru kesal.
Aldi hanya diam.
"Di, Aira itu kondisi fisikis nya ngak labil, sebelum ini dia sering mendapat kekerasan, pasti ada trauma yang membekas pada dirinya, kita juga ngak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya sebelum ini, lagian kamu kenal Aira itu di mana sih, kamu bawa dia ke rumah ini sebagai calon istri kamu, tapi aku ngak pernah lihat sekalipun kamu mesra-mesraan sama dia, layaknya sepasang kekasih yang akan menikah."
"Ye, emang gue mesra-mesraan di depan lo?"
"Bukan gitu Di, tapi memang kalian seperti ngak saling mengenal, dan kamu lebih sibuk dengan teman-teman kamu dari pada menemani Aira."
"Kalau kamu hanya menjadikan Aira sebagai istri untuk mencapai tujuan kamu, mending ngak usah Di, jika memang kamu ngak cinta sama Aira, kamu lepaskan saja dia, biarkan dia bebas memilih jalan hidupnya sendiri."
"Tahu dari mana lo gue ngak cinta sama Aira, emang harus gue ungkapkan ke lo, lagian gue ngak mau terlalu dekat sama dia takut kebablasan," jawabnya santai.
"Terserah lo Di, lo yang berbuat lo,nanti lo sendir yang bakal nanggung karma nya"
***
Romeo memainkan gitarnya bernyanyi membawakan lagu galau milik Algazali.
*Cinta itu buta dan tuli.
Tak mendengar tak melihat.
Tapi datangnya dari hati,
Tidak bisa di pungkiri,
itu benar, memang benar.
cinta butuh ruang dan waktu,
Tak sekejap harus mau,
cinta butuh ruang yang sepi
untuk mengunggkapkan rasa hati,
__ADS_1
aku kamu, bincang-bincang.
Mau bilang cinta tapi takut salah,
bilang tidak ya, bilang enggak ya,
Mau bilang sayang tapi bukan pacar,
tembak tidak ya, tembak enggakya.* lirik lagu.
"Eh, Rom muke lo kenapa tuh?" tanya Doni yang nyelonong masuk ke kamar Romeo.
"Mau tahu aja loh,"
"Eis, mulai main rahasia-rahasian ya lo sama gue, lagian tadi lo nyanyiin lagu galau buat siapa tuh, buat Aira ya?"
Romeo hanya diam tanpa menyahut Doni.
Iya kembali memaikan lagunya,
*Mau bilang cinta tapi takut salah,
bilang enggak ya, bilang enggak ya,
"Udah bilang aja," sahut Doni.
Romeo tak menggubris ia masih memainkan gitarnya.
*Mau bilang sayang tapi bukan pacar, tembak tidak ya, tembak tidak ya.
"Ngak usah, punya Aldi tuh," sahut Doni sambil menyuluh api ke rokok.
"Apaan sih lo Don, nyahut aja, gue cuma nyanyi kok."
"Eh lo ngak usah bohong sama gue Rom, lo itu suka sama Aira, lo saja ngak mengakuinya, kalau lo ngak suka ngapain lo bela Aira mati-matian sampai lo duel sama Aldi."
Romeo berhenti main gitar.
"Lo tahu dari mana ?"
"Tahu dari Aldi lah, lo juga keterlaluan Men, biar bagaimana si Aldi itu sahabat kita Rom, lo ngak usah menghianati persahabatan kita hanya demi perempuan, lagian perempuan juga banyak, ngak harus Airalah, dia kan calon istrinya Aldi."
"Calon istri, tapi Aldi ngak cinta sama dia, Aldi cintanya sama Tari, jadi gue kasihan aja sama Aira."
"Rom, elo itu udah masuk jebakan yang lo buat sendiri, jika suatu saat elo sama Aldi ngerebutin si Aira, gue ngak kaget kok, karna itu karma dari kalian sendiri, lo bayangin kalau sampai Aira cinta sama lo, dan lo hanya memberi harapan palsu kepadanya, apa ngak kasihan sama si Airanya, ya kalau lo juga cinta sama dia, lo harus perjuangkan Aira, bagaimana caranya agar Aira tak menikah dengan Aldi."
"Oh ya, tapi kalau gue bilang Aira opname di rumah sakit? lo masih ngak peduli juga?"
"Hah, Aira di rumah sakit? kenapa?" tanya Romeo kaget.
"Ya mana gue tahu, gue aja belum lihat keadaanya, tadi gue telpon Aldi mau ngajak dia keluar, eh dia ngak bisa karna harus jagain Aira di rumah sakit"
"Serius loh bro?"
"Serius lah, dah gue mau cabut, mau menemani Aldi, dan gue kesini cuma mau ngantar Rasti, katanya dia rindu sama loh, udah seminggu lo ngak ke kampus."
"Rasti, bukanya gue udah putus sama dia, ngapain juga dia kangen sama gue,"
"Mana gue tahu, udah lo temuin dia di bawah lagi ngobrol sama kakak loh."
Doni pun keluar dari kamar Romeo, dan Romeo kembali memainkan gitarnyanya.
Baru beberapa detik Doni keluar dari kamar dan sekarang Rasti yang masuk ke kamarnya.
Romeo melihat Rasti dengan tatapan datar.
"Hai Rom," sapa Rasti.
"Hai juga," jawabnya datar.
Rasti duduk di samping Romeo.
"Apa kabar Rom, selama seminggu kamu ngak ke kampus, gue jadi kangen sama kamu," ucap Rasti sambil memeluk Romeo.
Romeo hanya diam, ia tak membalas pelukan Rasti.
"Rom, kamu kok berubah jadi dingin gitu sama aku, padahal aku cinta mati sama kamu Rom," ucapnya sambil memeluk Romeo.
Romeo hanya diam, ia juga tak mengerti kenapa perasaanya hilang begitu saja pada Rasti, padahal sebelum mendapatkan hatinya Rasti, Romeo sampai rela memutuskan pacarnya yang lain dan hanya memilih Rasti.
Tapi rasa itu dengan mudahnya berubah, apa dia mulai bosan.
Karna selama ini, Romeo selalu mengikuti ke inginan Rasti.
"Rom, apa sudah ada wanita lain di hati kamu Rom?" tanya Rasti.
__ADS_1
Iya menatap mata Romeo dan langsung mendaratkan ciuman pada bibir Romeo.
Rasti mencium bibir Romeo yang sudah lama dirindukanyanya, namun tak mendapat respon dari Romeo, Romeo hanya diam dan tertunduk.
Doni yang tertinggal sesuatu di kamar Romeo berencana masuk kekamar, tapi di urungkan karna dia melihat Rasti yang sedang mencumbu bibir Romeo.
"Wah tumben kucing nolak di kasi ikan, tumben-tumbenya Romeo ngak membalas ciuman Rasti, ngak salah gue?"
Merasa ciumanya tak di balas Romeo, Rasti kesal, ia pun menarik diri dan menjauhi Romeo.
"Aku kecewa sama kamu Rom," ucapnya sambil menampar pipi Romeo, setelah itu Rasti pergi sambil menangis.
Doni hanya melihat Rasti yang keluar dari kamar Romeo tanpa mengejarnya, ia pun kembali masuk ke kamar Romeo.
"Wah ada buaya jadi kadal nih," sindir Doni, karna melihat Romeo yang biasanya buas dengan mangsanya, kini seolah tak berselera.
"Diam loh Don, lagi ngak mood aja," sahutnya kesal.
"Romeo lo masih ngak ngaku juga kalau lo tuh udah cinta sama Aira, cuma lo masih belum bisa menerima kenyataanya saja, sehingga lo hanya memungkiri semuanya, lo tinggal jujur sama diri loh Rom, ngak baik menyembunyikannya, nanti lo sakit sendiri."
"Gue ngak mengerti apa itu cinta Don," sahutnya datar.
"Ha, ngak salah dengar gue, seorang playboy seperti Romeo Vernando yang punya mantan hampir setengah K( 1K \=1000) ngak tahu arti cinta, mampus aja loh Rom, atau otak loh udah keriset data pabrik." Doni.
"Serius gue, gue masih belum bisa mencerna perasaan gue aja," jawabnya datar.
"Rom, lo rindu ngak sama Aira ?" tanya Doni.
Romeo menatap mata Doni, dan ia pun menggangguk.
"Nah itu tandanya lo cinta, bloon," umpat Doni sambil menepuk pundak Romeo.
"Trus gue harus gimana?"
"Ya di perjuangkan dong, pea', bahlol, goblok, sontoloyo," semprot Doni semakin kesal.
"Caranya ?" tanya Romeo datar.
Mendengar pertanyaan Romeo, Doni menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal
"Caranya ya, lo ambil palu, getokin kepala lo, kali aja amnesia lo bisa sembuh kan," sahutnya kesal.
"Gue serius, nanya kok lo yang emosi, sih," ucap Romeo sambil beranjak dari tempat tidurnya.
Romeo mengambil jaketnya.
"Lo mau kemana Rom?" tanya Doni heran.
"Mau ambil pistol, mau nembak kepala lo, dah kita kerumah sakit sekarang, "sahutnya dan mereka pun pergi.
Di dalam mobil.
"Rom lo yakin sama perasaan lo ke aira?" tanya Doni.
"Ngak tahu ya Don, tapi gue ngak yakin setelah ini lo bisa selamat."
"Gue ? emang salah apa gue?" Doni
"Salah lo ngak banyak, yang banyak itu bacot loh, bikin gue emosi, tadi gue ngak yakin lo suruh gue yakin, eh giliran gue yakin lo malah bikin gue ragu, mampus aja lo,"
"Cie..cie...,baru kali ini gue lihat lo galau Rom, kayaknya makin seru aja nih cerita novel, harus ganti judul nih,"
"Emang judul novel kita apaan Don? "
"Kenapa harus menikah dengan mu" Doni.
"Harusnya ?" Romeo.
"Kenapa lo ngak ada otaknya Rom," sahut Doni.
"Anjirit..., gue lagi yang kena," sahut Romeo.
Authornya aja yg resek tuh,
Apa yang terjadi jika Romeo kembali bertemu Aldi di rumah sakit, next episode ya,
hey,hey reader tersayang, maaf ya dialog yg diakhir-akhir itu author bikin lucu dikit, ya paling tidak kalian tersenyum lah, atau paling tidak ngak cemberut lagi ya.
Tolong author, dukung novel ini dengan like sebanyak banyak nya, komen yg banyak dan vote ya.
nih author punya dua novel yg lain cerita nya seru mampir ya, jgn lupa beri dukunganya, di jamin ngak nyesal ya.
Mampir yuk di novel author yg lain nih
__ADS_1
Buat kalian yang mau lihat video singkat novel asli dari author kece noveltoon, tongkrongin ig author@ lucyv146.dibikin baper sama video dengan visual mulai dari dari drakor korea, india dan dari negri sendiri banyak guy, jg lupa di follow biar ngak ketinggaln video terbaru, dan untuk teman 2 author, jika mau di bikin video singkat novelnya, chat author ya, kita bisa saling dukung.