Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Di Bully Lagi


__ADS_3

Bagas terlihat bahagia menyambut berita kehamilan Alita, dengan suka cita ia segera menghubungi keluarganya setelah mendapat kabar tersebut.


Bagas merogoh smart phone untuk mengabari Edo dan juga Nina.


Sambungan telpon pun tersambung.


"Hallo Asslamualaikum Gas, " sapa Nina.


"Waalaikum sallam Bu." Bagas.


"Bu, Bagas punya berita gembira," ucap Bagas dengan nada yang bersemangat.


"Berita apa Nak? " tanya Nina.


"Alita hamil Bu, dan sekarang kami berada di rumah sakit, karna kondisi Alita yang menurun, ia pun sempat pinggsan, "tutur Bagas dengan bahagia.


"Allamdullilah Nak, ini sungguh berita yang membahagia kan untuk kami."


"Kamu sudah beri tahu ayah kamu Gas, dia pasti senang mendengar berita ini Gas, tutur Nina sambil menitikan air mata haru."


"Belum Bu. Ibu saja yang memberitahu kepada Ayah. Kalau Bagas yang memberi tahu, pasti Bagas di ledekin dan di bully sama ayah," dengus Bagas, wajah pun cemberut.


Hm, Nina tersenyum.


"Itu karna ayah kamu menyayangi kamu Nak, dia tak pernah membedakan antara kamu dan anaknya yang lain. Kamu saja yang suka sinis sama dia.Makanya dia sering ngajak kamu bercanda, biar kamu semakin dekat dengannya," papar Nina.


"Iya, Bu. Tapi ayah emang suka bikin Bagas kesal." Bagas.


"Yah sudah, Nanti ibu bilang sama Ayah dan Ibu Dewi juga. Mereka pasti ikut bahagia begitu pun dengan saudara-saudara kamu yang lain," ucap Nina.


"Iya Bu, terima kasih. Bagas tutup telponnya dulu." Bagas.


"Assalamualikum."


"Waalaikum sallam."


Dasti dan Doni berada di sisi Alita membelai rambut panjang putrinya tersebut dengan penuh kasih sayang.


Doni merasa bahagia karna sebentar lagi ia juga punya cucu,seperti kedua sahabatnya.


Alita merasa mual kembali ia pun bangkit untuk menuju kamar mandi.


Bagas yang berada di samping Alita melihat gerakan Alita yang tiba-tiba, "Mau kemana kamu Lita? tanya Bagas.


"Aku mau ke kamar mandi Mas, rasanya perut ku ngak enak banget, "sahut Alita lirih.


Bagas bangkit," Sini biar aku bantu."


Ia pun menopang tubuh Alita dan Membawanya ke kemara mandi sambil memegang standar infus.


Doni dan Dasti tersenyum bahagia melihat keduanya yang semakin kompak.


Sehari-hari Alita dan Bagas menang selalu bersama, baik hal kerjaan maupun ketika di kampus.


Terkadang Bagas sering bertanya tentang materi mata kuliah yang tak ia pahami pada Alita ,mengingat Alita merupakan seniornya.


Mereka lebih terlihat seperti teman di banding suami istri.


Kedua juga tak pernah pamer kemestraan layaknya pasangan suami istri yang baru menikah.


Karna memang mereka tak pernah bermesraan kecuali saat melakukan hubungan suami istri.


Mungkin karna sikap Bagas yang terlihat acu dan dingin tersebut, hingga hubungan mereka terlihat kaku, tapi tak ada masalah di antara keduanya.


***


Setelah muntah Alita kembali di tuntun menuju tempat tidurnya.


Dengan Hati-hati Bagas merebahkan tubuh istrinya.


Doni dan Dasti memutuskan untuk pulang setelah memastikan keadaan putri mereka baik-bail saja, karna hari juga sudah sore.


Keduanya pun menghampiri Bagas dan Alita.


"Gas, Alita. Mama sama Papa pulang dulu ya," ucap Dasti kemudian ia mencium pipi Alita.


"Iya Ma", jawab Alita lirih.

__ADS_1


"Gas, Mama titip Alita ya," ucap Dasti pada Bagas.


"Iya Ma," sahut Bagas.


"Kalau ada apa-apa hubungi Mama Gas, mama kasihan sama Dinda di tinggal sendiri di rumah." Dasti.


"Iya Ma, ngak apa-apa, biar aku yang jaga Alita aku kan suaminya," cetus Bagas.


Iya Mama sama Papa percaya sama kamu kok, ucap Dasti menepuk pundak Baga.


Mereka pun keluar dari ruangan tersebut.


Bagas duduk di samping Alita sambil mengusap kepala istrinya.


Alita tersenyum baru kali ini Bagas bersikaf mesra terhadapnya.


"Lit, karna kamu sedang hamil, kamu istirahat saja di rumah, ngak usah kerja lagi," ucapnya dengan nada yang membujuk.


"Ehm, ngak mau. Kalau aku ngak kerja siapa yang akan jadi sekertaris kamu, " sahut Alita dengan nada keberatan.


"Ya aku cari sekertaris baru, kamu ngak perlu khawatir lah aku akan penuhi kebutuhan kamu, meski kamu ngak kerja. Yang penting kamu jaga diri kamu dan calon anak kita," ucap Bagas masih dengan membelai rambut panjang Alita.


"Aku ngak mau Mas, kamu punya sekertaris baru. Aku ngak mau kamu dekat dengan perempuan mana pun,"ucap Alita dengan wajah yang cemberut.


"Kamu kenapa bisa berfikir seperti itu Lit? " tanya Bagas seraya melirik ke arah Alita.


"Ya aku ngak mau kehilangan kamu Mas,"dengus Alita.


Ia mencoba untuk jujur dengan perasaan nya.


Bagas tersenyum, "Jadi itu alasannya, kamu ngak mau aku cari sekertaris baru? "


Hm, sahut Alita dengan berdehem.


"Ehm, kalau begitu aku cari sekertaris cowok saja.Bagaimana?" tanya Bagas.


"Ehm, ngak mau!" cetusnya lagi.


"Loh kenapa?"tanya Bagas lagi.


"Pokoknya aku ngak mau Mas! "


Bagas tersenyum, ia pun melorotkan tubuhnya berbaring di samping Alita.


Kedua wajah mereka pun saling berhadapan.


"Kalau begitu makanya kamu cepat sehat Lit, Sebenarnya aku juga ngak mau cari orang lain, karna kamu teman dan partner yang paling nyaman," ucap Bagas seraya tersenyum kearah Alita.


Alita begitu bahagia setiap kali melihat suaminya tersenyum, karna Bagas memang jarang tersenyum.Namun, senyumnya tersebut bisa menakluk hati wanita mana pun termasuk dirinya dan Alia.


Ehm, Alita menatap Bagas dengan tatapan berbinar, telapak tangannya menyentuh wajah tampan suaminya yang terlihat dingin seraya tersenyum.


"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Bagas sambil menatap lekat Alita.


"Aku suka senyum kamu Mas, aku bahagia karna memiliki Kamu," ucap Alita.


Setelah sebulan menikah baru kali ini Alita berani mengungkap kan perasaannya terhadap Bagas.


Bagas meraih telapak tangan Alita yang menempel di pipinya kemudian menciumnya.


Keduanya saling melempar senyum.


Dengan perlahan Bagas mendekatkan wajahnya pada wajah Alita.


Kemudian ia menyatukan bibir mereka hingga saling bertaut, ciuman tersebut semakin lama semakin dalam, hingga mereka larut dan lupa sedang berada di mana.


Ketika sedang asik bercumbu tiba-tiba saja pintu di dobrak dari luar.


Sontak hal tersebut mengagetkan mereka, keduanya pun saling melepas pangutan mereka.


Bagas segera bangkit dan melihat siapa yang mendobrak pintu.


"Wah, rumah sakit ini loh Gas, main nyosor saja," cetus Edo yang langsung masuk keruangan Bagas tanpa permisi.


"Ayah! ngangetin saja," dengus Bagas.


"Habisnya mau mesum tapi pintu tak di kunci," goda Edo lagi, membuat Bagas tersipu begitu pun Alita.

__ADS_1


"Ehm siapa yang mau mesum, kita berduakan pasangan halal, "sahut


Bagas dengan wajah jutek nya.


"Iya, sudah halal, tapi tempatnya yang ngak halah masih makruh, ini kan tempat umum," cetus Edo.


Bagas dan Alita hanya bisa saling pandang.


Edo menghampiri Alita


"Alita sayang, bagaimana keadaan kamu? " tanya Edo.


"Baik Yah, hanya saja sedikit pusing Yah." Alita.


"Edo mengusap rambut Alita, Kasihan kamu Nak, karna kenakalan Bagas kamu jadi seperti ini, " cetusnya menggoda Bagas lagi.


Alita tersenyum, Ngak kok Yah! Bagas ngak nakal, aku bahagia bisa mengandung anaknya, tutur Alita.


"Tuh kan Yah," sahut Bagas.


"Iya deh, kalian sudah kompakan Ya? ayah ikut senang kok," ucap Edo.


Nina dan Dewi pun datang hampir bersamaan dengan Edo.


Melihat kedatangan ibu mertuanya nya Alita semakin bahagia.


Tak hanya orang tua tapi juga saudara-saudra Bagas yang ikut berbahagia diatas kebahagian mereka.


Nina menghampiri Alita.


"Lita ibu bawa bubur ayam untuk kamu, di makan ya Nak." Nina.


"Iya Bu, Terima kasih.Aku mau makan tapi di suapin suamiku," pinta Alita.


"So sweet yah Mbak Alita, aku adeknya ngak pernah disuapin ama mas Bagas, "cetus Tiara adik bungsu Bagas.


Alita tersenyum," Ehm makanya Mbak pengen merasakan suapan Mas Bagas, mumpung lagi ngidam," cetus Alita sambil melirik ke arah Bagas.


"Ha ha benar tuh Lita, selama ini kamu pasti kesal lihat wajah jutek Bagas setiap hari, kita juga pingin lihat gimana Bagas ngebucinin kamu," sahut Edo dengan penuh semangat.


Bagas tersenyum, ia pun meraih mangkok bubur ayam dari tangan Nina, kemudian menghampiri Alita.


Bagas menyendok bubur tersebut dan menyendokannya ke mulut Alita.


Dengan antusias Alita membuka mulutnya untuk menerima suapan pertama dari suaminya.


Hab, bubur tersebut langsung berpindah ke mulut Alita.


Plok plok plok


Yey y ! seru mereka pun bertepuk tangan menyoraki Bagas.


"Apaan sih kalian kayak ngak pernah lihat suami nyuapi istrinya aja," dengus Bagas


"Justru itu karna kita ngak pernah melihat Mas Bagas ngebucin makanya ini tuh momen langkah banget," cetus Tiara lagi.


"Ehm biasa aja kali,"sahut Bagas.


"Iya Gas, Sekali-kali muka kamu ngak jutek kenapa sih," dengus Edo.


"Ayah! muka ku emang sudah cetakannya begini. Mau gimana lagi, "sahut Bagas, ia pun kembali menyuapi Alita.


Sambil senyum dong Mas, biar aku semangat makannya, tambah Alita yang juga ikut menggoda Bagas.


"Kamu juga yah mau ikut-ikutan."


"Hm kapan lagi," sahut Alita.


"Hajar terus Alita jangan kasih kendor, jangan mau di suapin sama dia kalau dia ngak tersenyum."Edo.


Hm, Alita.


Akhirnya setiap kali menyuapi Alita Bagas terpaksa tersenyum, mereka semua mengerjai Bagas sampai puas.


Kali ini Bagas kembali pasrah karna di bully keluarganya.


Bersambung.Maaf yang nungguin cerita ini, aku kemaren dua hari ngak up karna lagi sibuk, tapi setelah ini aku usahakan setiap hari up kok.

__ADS_1


Sambil nunggu up mampir di novel ku yang lain yuk dengan judul: Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat. Novel ini udah masuk headbanner ya noveltoon loh, udah pasti lebih keren kan? terima kasih


__ADS_2