Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Valentin days


__ADS_3

Ranti menghampiri Romeo yang sedang duduk di kantin,"Halo sayang, kita jadi kan liburan di villa di hari valentin nanti?" tanya nya dengan senyum menggoda.


"Ngak jadi," jawab Romeo ketus.


"Ngak jadi? tapi kenapa? padahal aku sudah bilang sama teman-teman ku jika hari valentin nanti kita akan menginap di villa, " ucap Ranti dengan kecewa.


"Karna gue ngak punya duit," jawab nya santai.


"Kalau gitu, kita nginap di villanya bulan depan saja ya," tawar nya lagi.


"Ngak bisa juga, selama setahun gue ngak akan dapat jatah bulanan dari bokap gue, jadi selama setahun juga gue ngak bisa ngajak loh kencan," tutur nya datar.


"Setahun..., lama banget yang, kalau orang hamil udah melahirkan tuh," sahut Ranti kembali.


"Itu terserah kamu, jika kamu bosan menunggu, kamu boleh cari pacar lagi dan kita putus saja," cetus Romeo, ia pun meninggalkan Ranti.


Ranti hanya melongo ketika Romeo mengucapkan kata putus, "Ngak salah, harusnya gue yang bilang putus ke dia duluan," gerutu Ranti.


"Tapi Romeo ngak biasanya seperti itu, biasanya dia paling ceria, dan paling heboh, kenapa tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat dalam satu malam," kata Ranti heran.


***


Romeo menatap langit di balkon kamarnya, saat itu rembulan seolah tersenyum melihatnya yang sedang gundah gulana.


"Uh.., seumur-umur baru kali ini hari valentin gue jomblo, si Aldi sama si Doni pasti lagi senang-seneng nih," katanya pada diri sendiri.


"Sedangkan gue, cuma bisa menatap langit sendiri, aneh rasanya saat gue merasa sendiri, gue mau kemana ya, mau kencan ngak ada pacar, mau keluar ngak punya duit buat beli bensin, masak gue habisin waktu dengan rebahan aja " kemudian Romeo teringat sesuatu.


"Eh kayaknya masih ada coklat yang gue colong dari tasnya Doni tadi pagi."


Romeo pun membuka ransel miliknya, dan benar saja, sebuah coklat dengan merk ratu silver edisi khusus valentin lengkap dengan pita berwarna pink.


Romeo ingin membukanya, tapi kemudian ia urungkan," Kayaknya ngak enak jika makan sendiri, mesti ada temanya nih, tapi siapa ya?" sejenak ia memikirkan pada siapa ia akan berbagi.


Setelah beberapa saat ia pun mendapat ide, Romeo keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah, ia pun melihat ada sepeda milik Bi Tutik, yang biasa di pakainya untuk berbelanja.


"Ah gue pakai sepeda aja, kunci mobil di bawa sama ortu, motor ngak ada bensinya, mau beli bensin, ngak ada duitnya, ah pakai sepeda saja lah, yang penting gue bisa have fun, sehari ngak jahil rasanya seperti kehausan gue, sehari ngak usil, seperti kelaparan gue," cetusnya.


Iya pun mencari bu Tuti untuk ijin meminjam sepedanya.


***


Aldi sudah bersiap, kali ini ia sudah janjian dengan Tari, ia sengaja pergi mengendap-ngendap, agar tidak ketahuan Aira, dan ketika sampai di luar, ia pun pergi ke garasi dan membawa mobil mewahnya.


Aira mengintip di balik jendela kamarnya, ia melihat mobil Aldi keluar dari garasi, Aira duduk di sisi salah satu tempat tidur, ia merasa sedih, karna di tinggal sendiri lagi, sementara sang calon suami mememui kekasihnya.


Bagaimana hati Aira tak hancur, baru beberapa hari yang lalu, Aldi berjanji padanya, tak akan mengulangi kesalahanya, tapi apa daya, beginilah nasib yang kini menimpanya.


Aira meringkuk sendiri di atas kasur, ia coba menahan air mata yang coba menetes perlahan di pipi mulusnya.


Aira menatap keluar jendela, ia ingin keluar dari rumah ini, sambil menikmati malam indah yang bertahta bintang yang cerah di langit malam itu.


Tiba-tiba ia mendengar suara bel berbunyi, ia lari menghambur ke luar kamar, untuk menemui tamu yang datang, Aira mengira Heru sudah pulang, ia pun berlari menuruni anak tangga dan langsung membuka pintu.


Krek, kunci di putar Aira, dan pintu perlahan terbuka, dan betapa kagetnya ia ketika melihat siapa yang datang, senyum Aira seketika mengembang, ketika seorang pria menyodorkan nya bunga kembang sepatu dan mengucapkan,


"Selamat hari valentin Aira," ucap Romeo sambil menyodor kan bunga kembang sepatu yang di petiknya di jalanan yang ia lalui menuju ke rumah ini.


Aira menyambut bunga tersebut dengan bahagia, meski hanya setangkai bunga kembang sepatu yang di dapat Romeo di jalanan.


"Terima kasih Bang," kata Aira menyambutnya dengan bahagia, bukan bunga yang bikin Aira merasa senang, tapi kehadiran Romeo, yang mungkin bisa menemaninya dalam kesepian dan kesendirian.


Romeo pun merentangkan tanganya, dan dengan sok akrab, ia pun memeluk dan mencium pipi kanan dan pipi kiri Aira, kalau di singkat cupika, cupiki kali ya.


Yes, dapat lagi pipinya, ngak ada Ranti, Aira pun jadi, lumayan lah bisa buat dosa secara gratis, sama juga, sama-sama pipi, tapi pipi Aira lebih empuk, batin Romeo.


Romeo pun terkekeh sendiri, akibat suara batin nya tersebut.


Aira merasa malu, ketika Romeo dengan santai mencium kedua pipinya.

__ADS_1


"Ihs, Bang Romeo ambil kesempatan aja," tuturnya dengan malu.


"Ah Aira tapi kamu suka kan?" ucapnya spontan.


Dan Aira pun kembali tersipu malu, meski Romeo kelakuanya seperti itu, tapi Aira senang, dan terhibur dengan kedatangannya.


"Bang, masuk yuk," ajak Aira.


"Ngak ah, kita duduk di taman saja yuk, di dalam ada CCTVnya, ntar bang Romeo ketahuan, lagi ngapelin kamu," ujarnya santai.


"Kita duduk di ayunan yuk, Bang Romeo ada bawa coklat untuk Aira."


"Oh ya, mana ?" tanya Aira senang.


"Nanti dudu dong, duduk dulu,"


Mereka pun duduk berdua di ayunan yang ada di taman, yang berada samping rumah tersebut.


Setelah duduk, Romeo membuka bungkusan colat itu dan menyuapinya ke Aira.


"Enak ngak Aira?" tanyanya pada Aira.


"Enak Bang," jawab Aira dengan mulut yang masih penuh mengunyah coklat.


"Oh jelas dong enak, ini kan hasil nyolong di tas bang Doni," ungkapnya santai.


"Hah, bang Romeo nyolong punya Bang Doni, apa bang Doni ngak marah?" tanyanya khawatir.


"Kalau bang Doni marah, bang Romeo tinggal bilang, kalau coklatnya untuk kamu, pasti dia ngak akan marah," jelasnya.


"Ih bang Romeo yang nyolong, pakai jual nama Aira lagi," sungutnya.


"Kalau jual pakai nama abang, ngak laku Aira," sahutnya santai.


Mereka pun menikmati coklat haram tersebut dengan santai, tanpa merasa berdosa sedikit pun.


Sementara di sisi lainya.


"Ini sayang, setangkai bunga mawar indah ini untuk mu," ucap Doni kepada Dasti, pacarnya.


"Oh Doni, terima kasih ya kamu romantis baget, " ujar Desti dengan senang menerima bunga mawar tersebut.


"Ada satu lagi, hadiah untuk mu, tunggu ya, aku ambil di tas ku dulu, hadiahnya tinggal di ransel di dalam mobil." Doni pun keluar dari kafe dan menuju mobilnya, ia pun membuka resleting dari ranselnya.


Setelah memeriksa beberapa kali, ternyata coklat tersebut tak ada lagi di ranselnya.


"Ini pasti kerjaan Romeo nih, Anjir, Anjir, terpaksa gue harus beli lagi di supermarket, dasar Romeo ada atau ngak ada dia, tetap saja nyusahin, bikin kacau semuanya," gerutunya dengan kesal.


***


"Bang, kita makan bakso di luar yuk, Bang," ajak Aira.


"Aduh Aira, bang Romeo lagi bokek nih, ngak punya uang untuk traktir Aira."


"Aira ada kok Bang, Aira ingin jalan-jalan di luar bang" Aira


"Ok deh, tapi kita pakai sepeda aja ya, atau mau jalan kaki aja, biar romantis," cetusnya.


"Kayaknya pakai sepeda lebih asik bang, "


"Ok Ayo saja, siapa takut," sahut Romeo.


"Tunggu ya bang, Aira ambil duit dulu sama pakai jaket, biar ngak dingin,"


"Ah Aira, kalau dingin kan, ada bang Romeo yang hangatin," ucapnya santai.


Aira hanya tersenyum, menghadapi orang seperti Romeo memang harus santai di bawa enjoy saja, pikir Aira.


Dalam beberapa menit, Aira pun turun, mereka pun pergi menggunakan sepeda.

__ADS_1


Romeo mengayuh sepeda yang terasa berat olehnya, maklum saja, ia tak pernah pakai sepeda sebelum nya.


Aira pun duduk dengan tenang, sambil memeluk Perut Romeo yang berada di depannya yang sedang mengayuh sepeda.


Canda riang dan tawa pun mengiringi sepanjang perjalanan mereka, hingga tibalah mereka di warung bakso, tepat di depan komplek perumahan mewah tersebut.


Romeo memakir sepedanya tepat di depan warung, para pelanggan yang lain heran melihat mereka yang datang menggunakan sepeda buntut.


Mereka sedikit heran, karna dari pakaian yang di kenakan keduanya, dan dari penampilan mereka, sepertinya mereka berasal dari keluarga berada, tapi kenapa mereka memakai sepeda butut, apalagi dengan pedenya, sepeda tersebut terparkir di depan warung.


Setelah memesan, keduanya duduk, dan tersajilah dua mangkok bakso.


Lagi-lagi keduanya menjadi pusat perhatian, ketika, Romeo menyuap kan bakso ke mulut Aira.


"Gimana Aira, bakso abang enak kan?" tanya Romeo.


"Ish pedas banget bang, sekarang cobain bakso Aira." Aira pun menyuapkan bakso, yang ada di mangkok nya.


Para pengunjung yang lain menatap mereka dengan sinis," Eh lihat deh, gaya mereka kaya orang kaya, tapi kok norak gitu ya, main suap-suapan di depan umum," cetus salah seorang pengunjung kepada temanya.


"Ah, jaman sekarang emang kayak gitu, mereka dari generasi Alay, biarin, makin di lihat, makin geer mereka," jawab salah seorang dari pengunjung kepada temanya.


Meski menjadi pusat perhatian di warung tersebut, tapi nyatanya mereka tak perduli, mereka terlalu asik dengan dunianya sendiri.


Setelah menikmati bakso, mereka pun pulang, Aira tak berani jika pulang terlalu lama, takut jika Aldi yang pulang duluan dan memergoki mereka.


"Bang, jangan bilang sama Mas Aldi ya, Aira keluar sama abang," tuturnya.


"Emang kenapa? biarin saja, Aldi juga keluar sama pacarnya, masak Aldi boleh, Aira ngak boleh, "


"Bukan gitu bang...," seketika pembicaraan mereka terhenti ketika, dua orang menghadang jalan mereka.


Romeo panik, ia pun turun dari sepedanya dan berusaha melindungi Aira.


"Mau apa kalian?" tanya Romeo.


"Kami cuma mau gadis itu, dan masalah selesai," tutur salah seorang dari mereka.


mendengar penuturan penjahat itu, Aira pun menangis ketakutan.


"Ngak, Aira ngak mau ikut mereka bang, Aira takut," tangis nya sambil memeluk Romeo dari belang.


"Tenang saja Aira, bang Romeo akan menjaga Aira, bang Romeo tak kan biarkan dia membawa Aira pergi."


"Ah banyak bacot loh," kata salah satu dari mereka, dan mereka pun mengeluarkan pisau menyerang Romeo.


Romeo pun berduel dengan salah satunya, tapi gerakanya agak terganggu, karna Aira memegang jaketnya, ia pun kesulitan untuk bergerak.


Romeo coba melawan, sedangkan Aira menangis, dan menjerit meminta tolong, tapi suasana sepi, semua terasa sia-sia, mau tidak mau, Romeo harus berduel meski dalam keadaan tidak seimbang.


Karna terdesak, dan sedikit kewalahan menghadapi Romeo, mereka pun menuntaskan duel tersebut, dengan menusuk pisau ke arah perut Romeo.


"Ahhh!!!" teriak Romeo, saat pisau menikam di perut kirinya.


Seketika Romeo tumbang, dan tubuh langsung di sambar Aira, Aira pun dengan perlahan merebah, agar bisa menahan tubuh Romeo.


Aira terus mengguncang-guncang kan tubuh Romeo, sambil menangis.


"Bang Romeo," seru Aira sambil menangis, seketika warga pun berdatangan, dan kedua penjahat tersebut melarikan diri, dan tak sempat membawa Aira.


Beberapa warga berlarian menghampiri Aira dan Romeo.


"Bang, sadar bang," tangis Aira memeluk Romeo.


"Bang, Romeo, maaf kan Aira bang, gara-gara Aira, abang jadi seperti ini," ia pun menangis pilu sambil memeluk Romeo yang sudah tak sadar kan diri.


please


🍎like

__ADS_1


🍎komen


🍎votenya dong.


__ADS_2