
Sang ratu malam mengitip di balik awan, seolah malu-malu menyaksikan sepasang kekasih tersebut yang sedang memadu kasih, merayu rindu.
Aira merebahkan tubuhnya bersandar pada tubuh Aldi, tubuh yang selalu ia rindukan untuk memeluknya, kemudian ia menyesap aroma yang keluar dari tubuh suaminya yang selalu membuatnya mabuk kepayang, di tambah dengan wajah tampan yang tak pernah jenuh untuk di pandang, membuat Aira semakin tergila-gila padanya.
Aldi merentakan tanganya merangkul pengantinnya sambil menyetir mobil sepasang kekasih tersebut tak henti-henti menitikan air mata haru dan bahagia.
Aldi menciun pucuk kepala Aira lekat," Akhirnya sayang, setelah lama menanti, kini kita bisa kembali menjadi pasangan suami istri , i love you, ilove you now and forever," ucap Aldi seraya meraih tanggan Aira dan mencium punggung tangannya.
Aira tersenyum, dirinya semakin di buat mabuk kepayang, ia menegakkan sedikit kepalanya.
"I love you too mas, "balas Aira seraya mencium pipi suaminya, dengan segenap perasaan.
Aira menghapus titik Air matanya kemudian kembali bersandar pada pundak sang suami.
Setelah perjalan selama satu jam Aldi membawa Aira menuju sebuah Villa.
Lagi-lagi Aira tak pernah tahu dengan kejutan-kejutan yang Aldi rencanakan.
"Ayo sayang, kita turun, " ucap Aldi ketika mobil mereka terparkir rapi di villa tersebut.
Aldi membuka pintu mobil dan membantu sang istri untuk keluar dari mobil mereka.
Dengan hati-hati Aldi menuntun sang istri yang masih menggunakan gaun pengantin tersebut.
Aira tersenyum menyambut uluran tangan suaminya.
Keduanya saling mengandeng mesra menuju lantai dua kamar mereka, tak ada siapa pun di tempat itu, kecuali seorang wanita dan seorang lelaki penjaga villa.
"Mas kenapa kau memilih tempat ini?"tanya Aira ketika mereka melangkah beriringan menaiki tangga.
"Karna Mas ingin malam ini kita habis kan berdua tanpa ada yang mengganggu," paparnya.
Mereka pun sudah sampai di sebuah kamar.
Aldi membuka pintu kamar tersebut, dan terlihatlah kamar pengantin dengan nuansa serba putih, mulai dari sprey, bunga-bunga yang menjadi hiasannya hingga gorden, seolah mereka adalah sepasang perawan dan perjaka.
Aira tersenyum, ruangan tersebut memang tak begitu mewah, Aldi sengaja ia ingin memberi kesan sederhana setelah pesta serba mewah yang mereka gelar.
Aira berjalan menuju balkon di sana tergantung lampion-lampion berbentuk hati dan terlukis nama mereka berdua.
"Mas indah sekali, ucap Aira ketika berada di balkon yang tanpa kanopi tersebut.
Mereka pun bisa melihat langit yang berhias taburan bintang penghias angkasa.
Sang rembulan seolah tersenyum, sementara angin malam seolah mendendangkan nyanyian dari syair lagu cinta.
Aira masih takjub dengan apa yang di lihatnya.
Aldi mendekati istrinya kemudian memeluknya dari belakang.
" Mau berdansa, ratu ku?"ucap nya kemudian mengecup ceruk leher sang istri.
Aira membalikan badan, seraya tersenyum, "Tentu saja yang mulia raja ku."
Keduanya pun tersenyum,
Hembusan angin malam menyapu lembut diantara dentingan ranting pohon yang berjatuhan, hingga menggugurkan dedaunan yang melayang perlahan dan jatuh di atas bumi.
Aira menginjak kaki Aldi sementara tangangya melingkari leher pria tampan tersebut.
Sementara tangan Aldi melingkar sempurna pada pinggang Aira.
Di bawah cahaya rembulan mereka berdansa seraya mengucapkan kata cinta dengan isyarat mata dan bahasa tubuh mereka.
"I love you," ucap Aldi seraya tersenyum menatap lekat manik mata sang istri.
__ADS_1
"I love you, too," sahut Aira seraya tersenyum penuh bahagia.
Aldi dan Aira menyatukan kening mereka, keduanya saling tersenyum seraya mengucapkan ratusan kali kata cinta, "Aku mencintai mu sayang," Aldi.
"Aku juga mencintai mu Mas" balas Aira.
Keduannya tak dapat berkata-kata lagi, hanya kata itu yang terucap dan mampu di ungkap.
Mereka berdansa di atas balkon kamar di manjakan oleh sinar redup sang rembulan, nyanyian binatang malam seolah ikut bernyanyi menemani sepasang sejoli yang tengah memadu kasih tersebut.
Malam semakin meninggi dan sinar rembulan kembali meredup, sementa hembusan angin malam yang dingin seolah membekukan waktu.
Keduanya sejenak terlarut dalam suasana romantis dan bahagia.
Aira memeluk erat tubuh suaminya, membenamkan kepalanya seraya menghirup aroma tubuh Aldi yang selalu menggetarkan jiwanya.
Keduanya menatap langit dengan hamparan bintang, dengan tubuh yang masih menyatu dan masih terbungkus gaun pengantin putih, seputih cinta suci mereka yang telah terpatri oleh ikrar cinta yang abadi.
Beberapa saat keheningan, Aldi mendekatkan bibirnya pada telinga Aira.
"Sayang, apa sepanjang malam kita habiskan dengan berdansa?"tanya Aldi memberi isyarat.
Aira tersenyum, ia pun mengerti.
"Kalau begitu kenapa kau tak membawaku segera menuju peraduan mu?" tanya Aira balik.
Keduanya kemudian saling menatap seraya tersenyum
Puas berdansa, Aldi menggangkat tubuh Aira menuju tempat peraduan cinta mereka yang telah lama di tinggalkan.
Sambil berjalan keduanya masih saling memandang menatap penuh cinta, dengan rona bahagia dan senyuman terindah.
Malam ini mereka di persatukan kembali dalam keadaan benar-benar suci se suci cinta mereka berdua.
Kali ini aku menikahimu karna cinta ku yang besar terhadap mu bukan lagi karna kalah tahun.
Aira
Aku menikahi mu, karna hanya kau yang mampu mengisi relung hati ku secara penuh dan tak kan mungkin tergantikan
Aldi dan Aira
Hari ini malam pengantin kita, bukan lagi yang pertama bagi kita, tapi ini adalah yang terakhir, yang terakhir kalinya aku meminta mu untuk menikahiku, karna selamanya kau tetap akan jadi milik ku.
***
Aldi meletakan tubuh Aira di atas ranjang, dengan tatapan dan senyum kebahagian ia mengucup lekat kening sang istri, perpisan itu semakin membuat ia mendari jika Aira tak akan pernah terganti.
Aira meraba wajah tampan sang suami yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya di malamĀ sunyi dan sendiri.
keduanya kembali saling menatap, seraya menitikan air mata haru kembali.
"Kau sudah siap sayang?"tanya Aldi dengan senyum penuh Arti.
"Iya mas, ketika sudah resmi menjadi istrimu aku akan selalu siap melayani mu."
Keduanya kembali saling memandang dengan tatapan penuh cinta.
Aldi mengecup bibir merekah sang istri dengan segenap rindu, sudah lama sekali bibirnya tak bertaut langsung dengan bibir Aira.
Beberapa lama mereka beradu, dengan gerakan yang saling mencumbu.
Aldi berhenti sebentar,seraya menarik wajahnya beberapa senti, " Apa kau tak merindukan ini sayang?" Tanya Aldi seraya mendaratkan puluhlan kecupan kembali, hingga Aira tak sempat menjawab.
Ia menarik tubuh sang istri yang terbalut gaun pengantin tersebut kemudian melepaskannya dengan perlahan.
__ADS_1
Dengan hati hati Aldi meloroti gaun pengantin tersebut seraya menciumi setiap inci permukan tubuh yang tersapu gaun tersebut.
Akhirnya gaun tersebut terlepas dari tubuh pemiliknya.
Aldi kembali merebahkan tubuh Aira seraya memciumnya.
Sementara Aira berusaha melepas kancing kemeja berwarna putih tersebut.
Tampak lah dada bidang Aldi yang putih bersih, Aira menelan ludahnya ingin sekali ia memberi tanda pada bagian datar yang membuatnya terpesona.
Tanpa ragu Aira mendaratkan kecupan kemudian menyesepnya dengan lembut beberapa kali hingga tubuh Aldi bergetar hebat.
Aldi mengukung tubuh sang istri dan membiarkannya memberi tanda pada area mana saja yang ia suka.
Setelah memberi beberapa stempel kepemilikan Aira menatap mata Aldi dengan berkaca-kaca.
"Kenapa berhenti sayang, lakukan lah sepuasnya karna ini milik mu,"ucap Aldi.
Aira tersenyum seraya menarik wajah Aldi agar kembali.
"Karna aku menginginkan yang lebih dari ini," ucap Aira seraya menatap Aldi penuh Arti.
Aldi tersenyum, dengan semangat ia melepas seluruh penutup tubuhnya.
Aldi mendaratkan beberapa kecupan, sebelum mereka melakukan penyatuan.
Dengan pelan ia memasukan burung yang sudah menegang tersebut kedalam sangkar goa yang sudah lama ia tinggalkan.
"Akh,!"Aira menggigit bibirnya merasakan sakit, sementara Aldi merasa heran seperti ada dinding yang menahan seranggannya.
Bulir bening keluar dari mata teduh tersebut, Aldi menatap heran sang istri,
"Sayang kenapa tak semudah biasanya?"tanya Aldi dengan sedikit ketegangan di wajahnya.
Aira tersenyum," Karna sebelum masuk bintara Aira pernah melakukan operasi selaput darah, sebagai salah satu persyaratannya," papar Aira.
"Jadi kau_?" Aldi.
"Iya Mas, secara tak langsung Aira kembali perawan,"ucapnya.
"Tapi sayang, pasti akan terasa sakit kembali," ucap Aldi tak tega.
"Ngak apa kok, Aira rela merasakan rasa sakit itu untuk seseorang yang Aira sayang," ucapnya.
Aldi semakin haru, di kecupnya lagi kening sang istri beberapa kali seraya menitikan air matanya.
"Terima kasih sayang, kau telah menjaganya kembali untuk ku," ucap Aldi haru,
"Sama-sama mas, Ayo kita mulai, kasihan si buyung jika terlalu lama menunggu," ucap Aira.
Aldi tersenyum, ia pun kembali memasukan si buyung dengan hati-hati.
Kedua tanggan Aldi menggenggam erat tangan Aira.
Aldi pun memulai serangannya dengan gerakan bertubi-tubi, ia kembali merobek dinding pertahanan Aira.
"Akh,! " Aira berteriak tertahan, kali ini rasanya lebih sakit dari pertama kali ia kehilangan kesuciannya.
"Terima kasih sayang, "ucap Aldi ketika dinding tersebut berhasil di tembus olehnya kembali.
Setelah menyelesaikan satu ronde pertempuran.
Aldi tergeletak di samping Aira, keringat pun membanjiri keduanya, rasa rindu itu kini terobati sudah, keduanya pun saling memeluk penuh cinta.
Bersambung guys. masih mau lanjut ??
__ADS_1