Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Satu Bulan


__ADS_3

"Tidak Bang! aku belum siap melakukannya," ucap Alia sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


Hiks hiks hiks, Alia pun menangis seraya membalikan tubuhnya.


"Tapi kenapa Alia? Aku ini suami mu,"tanya Ghael dengan nada kecewa.


Ghael hampir menangis, padahal ia sudah begitu menginginkan Alia, matanya memerah, senjata yang berdiri tegak kini kembali terkulai lemah.


Ghael menarik handuknya, ia pun menyandarkan diri pada headboard, hatinya begitu sakit, bukan karna hasratnya tak terlampiasan tapi penolakan Alia seolah-olah merobek harga dirinya.


Alia masih menangis dengan tubuh yang terguncang.


Hiks hiks, Ghael mengurut dadanya agar tak terpancing emosi, berusaha sabar menghadapi situasi ini.


Mungkin saja Alia butuh waktu untuk menerima dirinya.


Iya pun mendekat kearah Alia mengusap lembut rambut panjang istrinya tersebut.


Alia menangis sejadi-jadi.


"Maaf Bang! aku belum siap, hiks hiks hiks," ucapnya dengan air mata yang berlinang karna perasaan berdosanya.


Ghael menghapus titik air matanya.


"Iya Abang mengerti Alia,"jawaban tersebut terdengar sangat lirih, karna saat pengucapannya seperti mengiris hatinya dengan benda tumpul.


Setelah mengusap rambut sang istri, Ghael kembali turun dari ranjang menunaikan mandi wajibnya, meski ia tak menyentuh istrinya.


Sementara Alia dengan terburu-buru ia kembali mengenakan pakaiannya.


Alia pun meringkuk menangis memeluk lulutnya, ia kembali teringat dengan apa yang membuatnya berteriak menahan langkah Ghael untuk mendapatkan haknya.


Saat itu Alia teringat dengan Bagas dan itu yang membuatnya sulit untuk menerima Ghael.


Hiks hiks , Alia menangis menjambak rambutnya dengan frustasi kenapa sampai sejauh ini ia belum juga bisa melupakan Bagas.


Padahal Ghael sudah resmi menjadi suaminya, dari wajah dan penampilan Ghael tak kalah sedikit pun dari Bagas.


Hiks hiks hiks Alia semakin jadi menangis.


Setelah mandi wajibnya, Ghael mengenakan pakaian gamisnya bersiap untuk menunaikan sholat malamnya, untuk meredam hasratnya agar tak melakukan tindakan pemaksaan terhadap istrinya.


Ghael menghampar sajah dan menunaikan sholat wajib plus sholat sunahnya.


Sementara Alia ia masih menangis terisak di salah satu sudut tempat tidur.

__ADS_1


Entah berapa banyak Ghael bersujud pada malam itu, memohon ampunan untuk dirinya dan istrinya yang telah menolaknya melakukan kewajiban yang utama sebagai seorang istri.


Ghael menangis menumpahkan keluh kesah dan rasa kecewanya namun tak sedikit pun ia menyalahkan Alia.


Ia sadar jika dirinya lah yang terlalu memaksa Alia yang tak punya setitik benih cinta pun untuk dirinya.


Ghael mengangkat tangan berdoa dengan suara yang amat lirih.


'Ya Allah ya Tuhan ku, hindarkanlah rumah tangga ku dari segala fitnah, mungkin ini ujian pertama rumah tangga kami, berikan lah aku kesabaran untuk mendidik istriku, agar ia tak durhaka terhadapku, berilah ia hidayah agar ia bisa menerima ku dengan lapang dada dan keluarga kami jadi keluarga yang sakinah, Mawardha dan Warohma, Aamiin."


Air mata mengalir deras di pipi pria tampan tersebut, entah berapa lama ia beribadah yang jelas kini waktu mununjukan pukul sebelas malam.


Ghael melepas pakaian sholatnya dan merapikanya kembali, di liriknya sang istri yang tertidur pulas di satu sisi tempat tidur dengan posisi membelakanginya.


Ghael menghepas napas lega, fikirannya pun kembali tenang, ia pun bisa meridhokan apa yang di lakukan Alia atas penolakan terhadapnya.


Ghael memejamkan matanya dan terbangun ketika suara azan shubuh kembali terdengar di aplikasi, ia melirik kearah Alia yang di sampingnya tapi tak menemukan sang istri.


Beberapa saat kemudian ia mendengar suara air yang keluar dari shower, bertanda istrinya sedang mandi.


Setelah Alia selesai mandi, Ghael mengajaknya untuk sholat subuh berjamaah, meski Alia tak menjalani kewajibanya sebagai istri terhadap suami, setidaknya Ghael bisa mengajaknya untuk untuk menjalankan kewajibanya sebagai hamba terhadap sang Penciptanya.


***


Satu bulan kemudian.


Bukanya belajar mencintai suaminya, Alia justru berharap dalam tiga bulan Ghael bisa menjatuh kan talaq terhadapnya.


***


Keduanya turun untuk sarapan bersana kedua orang tua mereka.


Aira dan Aldi tak mengetahui sedikit pun permasalahan yang menimpa rumah tangga pengatin baru tersebut.


Mereka memang tak terlihat mesra seperti Aldi dan Aira, namun semua terlihat baik-baik saja.


"Bang, kalian ngak merencanakan bulan madu?"tanya Aldi.


"Ehm, nanti saja Yah, bukannya saat ini Abang dan teknisi tengah merancang inovasi terbaru untuk mesin di pabrik kita, agar lebih meningkatkan performa kerja dan kualitas hasil produksi,"papar Ghael.


Selama ini ia sudah beberapa kali mencoba membujuk Alia, tapi nyatanya Alia malah meminta cerai padanya.


Sebisa mungkin Ghael mencoba mempertahankan rumah tangga mereka,entah sampai kapan Ghael harus menunggu.


"Kak, bagaima kamu sudah ada tanda-tanda hamil belum?"tanya Aira dengan senyum.

__ADS_1


Ehm, Ghael melirik kearah Aira yang terlihat antusias.


Ngak di sentuh, mana mungkin bisa hamil Bunda.


Alia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Oh ya Bang, sebenarnya Ayah berat untuk mengatakan ini, hanya saja perusahan tambang miyak peninggalan Oma mengalami masalah, mungkin karna sudah lama tak Ayah awasi, jadi bisahkan Ayah minta agar kamu mengatasi masalahnya di sana sampai keadaanya normal kembali, karna om Hendro kembali menuntut hak pertambangan tersebut.Ayah takut karna orang lain yang mengawasinya maka perusahaan tersebut akan mudah untuk di kuasai kembali oleh Hendro, padahal sahamnya hanya 15% saja, memang pada awalnya saham tebesar milik Hendro tapi sudah di beli oleh Oma dan di atas nama kan oleh Ayah."Aldi.


"Bisa Yah, kapan waktu berangkatnya? jadi Abang segera menyelesaikan proyek pergantian mesin produksi kita." Ghael.


"Kalau bisa secepatnya Bang, minggu depan boleh?"sahut Aldi.


"Iya Yah, biar Abang percepat proses pembongkaran dan pemasanganya, In Shaa Allah, dalam seminggu selesai," papar Ghael.


"Bagus, tak sia-sia Ayah punya menantu seperti kamu," canda Aldi.


"Ngak ada yang sia-sia di dunia ini Yah," sahut Ghael tersenyum.


"Iya, Ayah bangga sama kamu Nak," ucap Aldi.


"Alia! karna Abang akan berada di Singapura dalam waktu yang belum dapat di pasti berapa lama, sebaiknya sekarang kamu resign atau ajukan cuti, kamu harus ikut suami kamu," perintah Aldi.


"Ehm, tapi Yah, Kakak lagi mencoba sidang perdana Kakak dan harus mendampingi Klein sampai selesai persidangan," bantah Alia


Ghael tersenyum simpul,ia pun sudah menduga jawaban Alia akan seperti itu, karna selama ini Alia seperti ingin menghindar darinya.


"Ngak apa Yah, nanti liburan biar Abang saja datang," ucap Ghael seraya tersenyum palsu.


Karna hatinya juga terasa sakit.


Setelah sarapan, Ghael seperti biasanya akan mengantar Alia ke kantornya.


Di dalam mobil.


"Alia, Abang beri kamu untuk berfikir, apa kamu mau mempertahankan rumah tangga kita atau mengakhirinya, kali ini Abang ngak memaksa kamu lagi, silahkan kamu pilih apa yang terbaik bagi kamu dan rumah tangga kita, setelah Abang berada di Singapura kamu boleh tentukan jika kamu mau ikut Abang, Abang akan jemput.Tapi jika memang di hati kamu sudah tak ada tempat untuk Abang, maka Abang ngak akan pulang lagi, dan otomatis talaq akan jatuh kepada kamu."Ghael


"Tak mengapa jika orang tua kamu mengganggap buruk terhadap Abang, yang terpenting selama Abang tak ada kamu jaga diri baik-baik," ucap Ghael dengan mata yang memerah menahan kepedihannya.


Sebenarnya berat bagi Ghael untuk mengatakan semua itu, karna ia tahu Alia memang mengharapkan perpisahan denganya.


Tapi dari pada harus tersiksa serta menanggung dosa yang lebih banyak, lebih baik mereka berpisah


Alia melirik sekilas kearah pria yang sebulan ini telah menjadi suaminya, bulir bening pun menetes di pipinya.


Bersambung, kira-kira pilihan Alia apa ya? dan sudah satu bulan, bagaimana perkembangan hubungan Bagas dan Alita ya?

__ADS_1


Episode selanjutnya akan lebih seru loh !


__ADS_2