Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Sebenarnya Kita Bersaudara


__ADS_3

"Abang! "


Seru Alia ketika melihat Ghael memukul Bagas.


Duel pun terjadi,Bagas coba menangikis serangan Ghael namun kecepan tangan Ghael sungguh luar biasa,hingga berkali kali Bagas tersudut.


Alia sempat terdiam melihat kejadian tersebut, orang-orang pun berkumpul tak jauh dari tempat kejadian untuk melihat tontonan gratis tersebut.


Buk, satu lagi pukulan mendarat di perut Bagas, membuatnya terhunyung, Bagas sempat membalas namun bisa di tangkis oleh Ghael.


Apa yang di lakukan Ghael hanya untuk memberi pelajaran pada Bagas, jika saja ia menuruti emosinya, ia bisa mencelakai Bagas lebih dari itu mengingat Ghael menguasai 5 ilmu bela diri yang berbeda, ia pun membunyai kemampuan untuk mengunci lawannya hingga bisa membuat lawanya lumpuh beberapa saat.


"Sudah Bang berhenti! hiks hiks hiks," Alia berteriak histeris melihat Bagas yang tersudut tak ada satu pun yang di antara mereka yang menonton berniat untuk melerai keduanya.


Alia menarik tangan Ghael untuk menyuruhnya berhenti.


Namun tetap saja ia tak mampu menarik tangan Ghael.


Buk buk


"Abang sudah Bang! Ini bukan salah Bagas Bang !aku yang salah, hiks hiks hiks."


Alia berada di antara keduanya, untuk melindungi Bagas yang sudah tersungkur, hingga Ghael berhenti memukulnya.


"Pukul saja aku Bang, aku yang salah!" teriak Alia sambil menangis.


"Aku sudah bilang pada mu jangan ganggu Alia lagi! " seru Ghael seraya menunjuk kearah Bagas.


Bagas bangkit, dan menyapu darah yang mengalir di sudut bibirnya, perutnya pun terasa sakit saat itu.


Rekan-rekan Alia yang menyaksikan peristiwa tersebut baru menyadari jika kedua pria tampan tersebut berkelahi untuk memperebutkan Alia.


Mereka pun berbisik dan membicarakan kedua pria yang sangat tampan tersebut.


"Ah kalian rebutin Alia, mending sama aku aja deh, he he," ucap salah satu dari mereka bernama Rina.


"Iya, Alia kalau ngak mau kasih ke kita aja Ya Rin? yang mana saja gue siap kok menerimanya, secara dua-duanya ganteng dan keren banget he he?"


Bukannya simpati mereka malah mentertawakan Alia.


"Ya gitu deh, gimana ngak berebut selain Alia itu cantik ,bokapnya juga tajir, nah kita jadi pengacara saja SK nya belum keluar, mana sebanding dengan Alia he he," Rina.


"Kamu nih teman lagi sedih malah di gibahin, yuk masuk aja, kasihan Alia, dia pasti malu tuh," ucap yang lainnya.


Mereka pun masuk.


Ada juga beberapa orang yang iseng merekam adegan tersebut dan mem viralkannya.

__ADS_1


***


Ghael mendekat kembali ke arah Bagas.


"Aku peringatkan pada kamu Gas, Alia itu calon istri ku! Jika kau mengganggunya lagi akan ku hajar kau lagi!"teriak Ghael dengan emosi.


Hiks hiks hiks Alia menangis sedih melihat Bagas yang hampir babak belur di hajar oleh Ghael.


"Bagas," ucap Alia lirih ia ingin menghampiri Bagas namun tangannya di tarik oleh Ghael.


"Lepaskan Bang, aku mau lihat keadaan Bagas!" Alia meronta.


"Kita bicarakan di mobil," ucap Ghael seraya menarik tangan Alia agar masuk ke mobil.


Setelah membuka pintu mobil untuk Alia, Ghael kembali masuk kedalam mobil.


"Abang! kenapa Abang memukul Bagas?!" tanya Alia emosi.


"Trus aku harus diam gitu ? melihat kalian menjalin hubungan di belakang ku, sementara kedua keluarga kita sudah sepakat Alia, dan aku punya harga diri Alia, aku ngak akan biarkan calon istriku di sentuh orang lain," papar Ghael.


"Tapi aku hanya ingin menjelaskan ke Bagas Bang! karna dia masih berharap padaku!" Alia.


"Alia aku sudah beri kamu waktu untuk menemui Bagas, aku biarkan kalian berpelukan kemarin, aku pikir mungkin itu yang terakhir kalinya bagi kalian, aku coba mengerti!"


Bagas mendengus seraya menghempas napas kasarnya.


"Aku sudah berjanji pada Ayah dan Bunda untuk selalu menjagamu, tapi nyatanya kau malah bertemu secara diam-diam bersamanya, kau membohongi ku Alia!" ucap Ghael dengan nada tinggi.


Sementara Alia menghapus tangisnya sembari melirik ke arah Ghael dengan sinis.


"Lakukan saja Bang yang ingin kau lakukan, meski aku jadi istrimu sekali pun, aku tak akan menyerahkan hati ku pada mu," ucap Alia sambil menghapus air matanya.


Ghael melirik ke arah Alia, ia kecewa dengan apa yang di ungkapkan Alia kepadanya.


***


Setelah kejadian tersebut Bagas pulang ke rumahnya, saat itu ia di tunggu oleh kedua orang tuanya.


Melihat wajah Bagas yang terlihat memar Nina menghampirinya dengan khawatir.


"Bagas, kamu kenapa Nak, hiks hiks hiks?"tanya Nina yang langsung menangis memeluk Bagas.


Bagas tetap diam, Nina menuntunnya menuju kursi ruang tamu mereka dan menyuruhnya untuk duduk.


Melihat Bagas yang terluka Edo pun segera menghampirinya.


"Kenapa lagi Gas? kamu berkelahi dengan Ghael memperebutkan Aliakan?" tanya Edo langsung, karna telah mendapat informasi dari orang suruhannya terlebih dahulu.

__ADS_1


Karna Bagas di beri amanah yang besar untuk memimpin perusahaan-nya, Edo menyuruh orang untuk mengawasi Bagas kemana saja ia pergi, karna ia tak ingin Bagas terjerumus kembali dengan pergaulannya.


Nina menarik napas panjang mendengar penuturan Edo.


"Bagas masih ingin berusaha mendapatkan Alia Bu, Bagas tak ingin menyerah, tuturnya dengan sedih."


Bulir bening menetes di pipi Nina mendengar penuturan putranya tersebut.


"Tapi Gas, sepertinya itu ngak mungkin Nak,hiks hiks," ucap Nina sedih.


Bagas langsung menoleh dan menatap ke arah Nina yang menangis tergugu.


"Tapi kenapa Bu, Bagas akan buktikan jika Bagas mampu, apa karna Bagas anak haram Bu? tapi itu semua bukan ke inginan Bagas! hiks hiks hiks." cecarnya.


Bagas kembali menangis, begitupun Nina dan Edo.


Edo beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekati kearah Bagas.


Sepertinya sudah saatnya Bagas untuk tahu.


"Gas, ada sebuah rahasia harus kamu ketahui Gas, Ayah harap kamu bisa lebih bijak lagi menanggapinya," tutur Edo.


Bagas menoleh kearah Edo dengan rasa penasaran yang amat sangat.


"Rahasia apa Yah?"tanya Bagas, ia pun menelan salivanya karna merasa tegang.


Nina menangis seraya menunduduk kan wajahnya, sungguh sesuatu yang berat jika harus mengatakan kejujuran yang sesungguhnya, tapi sebaik-baiknya kebohongan untuk menutupi luka, tetap saja kejujuran lebih baik meski terasa akan menyakitkan.


Edo menarik napas panjang menjedah kata-katanya, lidahnya terasa kelu saat itu, ia pun tak tahu harus memulainya dari mana.


"Katakan Yah, rahasia apa yang Ayah dan Ibu tutupi tentang asal usul ku Yah?"tanya Bagas dengan penekanan.


Tatapan Bagas tak beranjak dari pria yang memiliki kemiripan wajah dengannya tersebut.


Edo menarik napas panjang kembali sembari menata kata-katanya.


"Gas, sebenarnya kita ini bersaudara?"ucap Edo lirih namun terdengar tegas.


"Apa? Apa maksudnya Yah?" tanya Bagas syok, bola matanya berpendar menatap Edo.


Beberapa detik hening, Edo merasa tak.sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya,apalagi Nina yang langsung menangis terisak.


Bagas menelan salivanya berkali-kali, kalimat yang menggantung dari mulut Edo justru membuatnyanya penasaran, beragam espektasi pun bermunculan di benaknya.


"Katakan Yah ada apa dengan semua ini?!"


Bersambung dulu ya guys, cus semoga tetap setia ya, agar tahu akhir kisah ini seperti apa, cus berikan komentar biar author up lagi.

__ADS_1


__ADS_2