
Nirmala meraih Alia dari tangan Aldi, kemudian ia memeluk dan menciumnya lekat.
Sementara Alia ia hanya diam, melihat wanita yang mirip dengan ibundanya tersebut menangis memeluknya.
Nirmala merasa sedih ketika teringat bagaimana ia meninggalkan Aira saat itu, ketika usia Aira belum genap tujuh tahun.
Setelah puas bercengrama dengan cucunya, Nirmala membawa mereka menuju sebuah ruangan pribadi miliknya.
"Ayo Aira, ikut ibu kita ngobrol di ruangan pribadi ku saja."Nirmala.
Nirmala masih menggendong Aira, sesekali ia kembali mencium cucunya karna merasa bersalah telah meninggalkan Aira di saat ia masih membutuhkan kasih sayang darinya.
Mereka sampai di sebuah ruangan, Nirmala mempersilahkan keduanya untuk duduk.
"Silahkan Nak, "ucapnya seraya menunjuk kearah sofa.
Air mata haru tak berhenti mengalir pada keduanya, Nirmala kembali mendekati Aira kemudian memeluk dan menciumnya beberapa kali.
Rasanya ia tak percaya jika Aira yang tinggalkannya ketika masih anak anak, kini menjadi wanita cantik dan telah menikah dengan pria tampan yang kaya raya.
"Maafkan ibu Aira," ucap Nirmala berkali-kali ketika ia kembali memeluk putrinya tercinta.
"Sudahlah Bu, Aira senang jika ternyata keadaan ibu baik-baik saja," papar Aira.
Keduanya kembali mengurai pelukannya.
"Lalu Bu, kenapa ibu pergi dan tak pernah kembali lagi, Aira begitu mengkhawatirkan ibu, " papar Aira dengan air mata yang tetap mengalir hingga menggantung di dagunya.
Aira pun menyapu air mata yang kembali membasahi pipinya.
Nirmala meraih tangan Aira.
"Aira kehidupan ibu tak seperti yang kamu bayangkan Nak sebelumnya, Ibu pernah di tipu selama bekerja di luar negri, dua tahun ibu bekerja tanpa di bayar, dan dua tahun berikutnya gaji ibu habis untuk membayar hutang pinjaman ibu ke salah satu agensi."
"Barulah tahun kelima dan ke enam, ibu bisa mendapat gaji utuh, namun saat itu ibu kembali memutuskan untuk kembali bekerja sebagai TKW, dan di sana ibu mulai berhasil mengumpulkan uang."
"Enam tahun yang lalu, ibu coba menemui kamu, tapi runah tersebut kosong, setelah bertanya pada para tetangga, mereka bilang jika bapak mu di penjara, mereka juga menceritakan tentang nasibmu yang malang setelah di tinggal oleh ibu, namun mereka juga bercerita jika kau sudah menikahi pengusaha muda yang tampan dan begitu menyayangi mu, " papar Nirmala.
"Ibu pun merasa lega, ibu terus mencari keberadaan mu namun tak menemukan hasil." Nirmala.
"Iya Bu, sejak enam tahun yang lalu Aira juga meninggalkan kota ini, " ungkapnya dengan sedih.
"Lalu, apa ibu sekarang sudah menikah?"tanya Aira.
Nirmala mengangguk lemah," Ibu jadi istri kedua dari seorang pengusaha sekaligus anggota legislatip Aira," paparnya dengan wajah yang tertunduk.
__ADS_1
Aira menelan salivanya, ia tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga sang ibunda.
"Tapi apa kah ibu bahagia Bu? menjalani rumah tangga seperti itu?"tanya Aira.
"Jujur saja ada beban di hati ibu Nak, kami menikah secara siri, dan pak Yanto tak memberi tahu pernikahan kami kepada istri pertamanya."Nirmala
Aira menghempaskan nafas berat, meski ia membenci segala bentuk kecurangan, namun kali ini bibirnya tak bisa berkata apa-apa.
"Bu, sebenarnya salah satu dari alasan kami datang kemari menemui ibu adalah karna Aira dan mas Aldi berencana akan menikah lagi ," papar Aira.
"Menikah?jadi sebelumnya kalian juga telah berpisah?" tanya Nirmala.
Keduanya menggangguk lemah, Nirmala menghela nafas panjang, "Itu terserah pada kalian nak, jika kalian masih merasa saling cinta, kenapa tidak, ibu akan selalu merestui hubungan kalian, " papar Nirmala.
Bagai mendapat angin segar, keduanya pun tersenyum bahagia, apalagi Aira, beban berat yang selama ini yang ia tanggung terasa terlepas dari pundaknya, apa lagi kehidupan sang ibunda yang cukup mapan hingga ia tak perlu menghawatirkannya.
Setelah berbincang-bincang dan bercengrama, Nirmala mengajak mereka untuk makan siang di luar.
Melihat mobil yang di gunakan calon menantunya tersebut, Nirmala yakin jika calon menantunya itu bukan orang sembarangan.
***
Hari yang melelahkan untuk ketiganya, sore harinya Aldi langsung mengantar Aira dan Alia pulang.
Karna tak ingin berlama-lama di rumah itu, Aldi memutuskan untuk segera pulang, dan menyusun rencana pernikahannya.
***
Setelah perjalanan panjangnya seharian Aira memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas kursi.
Pak Tarman menghampiri Aira, "Bagaimana Aira dengan ibu kamu? apa kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Pak Tarman seraya mendaratkan bokongnya pada kursi, duduk di samping Aira.
"Sudah Pak, bahkan kehidupan ibu lebih baik dari yang kita duga, ibu menikah dengan pengusaha sekaligus anggota legislatip di daerahnya," papar Aira.
Mendengar penuturan Aira, pak Tarman merasa sedih, harapanya untuk kembali pada Nirmala sudah tak mungkin, ia kembali ke kamarnya kemudian menangis pilu, ia menyesal telah menyia-nyiakan dua wanita dalam hidupnya.
Titik Air mata Pak Tarman jatuh membasahi pipinya yang mulai keriput.
Ia telah menyia-nyiakan anugrah terindah yang di berikan Tuhan kepadanya yaitu anak dan istri.
Pak Tarman bersimpuh mengenang masa indah di awal ia dan Nirmala menikah dan memiliki Aira.
"Andai ada kesempatan kedua untuk kembali, aku ingin keluarga bersatu kembali, "gumanya seraya menyapu titik air mata yang jatuh menetes.
Tiba-tiba ia teringat akan Aira dan Aldi yang ingin menyatukan keluarga mereka kembali.
__ADS_1
"Rasanya aku terlalu egois jika memisahkan mereka, dan menyalahkan Aldi, jika Tuhan saja mampu mengampuni umatnya yang berdosa, kenapa aku tak bisa memaafkan Aldi yang telah menyia-nyiakan anak ku, bukan kah dulu, aku pun sama, aku pernah membuat hidup putri ku menderita, hiks hiks," tubuh pak Tarman terguncang menahan rasa sedihnya.
Rasa sesal dan pilu itu kembali membuatnya tersadar, jika tak sepatutnya ia menghalangi kebahagian putrinya, sementara ia sendiri tak pernah memberi kebahagian kepada Aira.
Pak Tarman kembali meringkuk, beberapa saat kemudian ia bersujud memohon ampun serta menyesali kesalahannya.
***
Aira memasak makan malam untuk mereka, sementara Alia sedang menggambar di ruang tamu, Pak Tarman keluar dari kamar dan menghampiri cucunya.
"Alia sedang gambar apa?"tanya Pak Tarman.
Alia hanya diam, seraya menatap Pak Tarman sinis.
Menyadari sikaf sinis dari cucunya, Pak Tarman kembali menyadari kesalahannya, bahkan Alia saja bisa ngambek, karna Pak Tarman yang tak menyetujui kedua orang tuanya bersatu.
Pak Tarman melihat lukisan Alia yang menggambar keluarga kecilnya.
Pak Tarman memangku Alia meski gadis tersebut cemberut.
"Alia sayang, kakek tanya kok ngak di jawab sih, Alia gambar apa?"tanya Pak Tarman kembali.
"Alia gambar, ayah, bunda, dan Alia kek," jawanya dengan wajah yang cemberut serta bibir yang mengkerucut.
Alia menyodorkan gambarnya ke Pak Tarman.
Pak Tarman tersenyum melihat gambar yang di lukis Alia.
"Alia mau keluarga Alia bersatu ya?" tanya Pak Tarman dengan bulir bening yang menetes perlahan di pipinya.
"Iya, tapi kenapa sih kakek ngak suka sama ayah, Alia sebel sama kakek," ucapnya masih dengan wajah yang cemberut dan bibir yang mengkerucut.
Pak Tarman tersenyum," Enggak kok, Kakek ngak marah sama ayah, bilang sama ayah jika kakek merestui ayah untuk kembali menikahi bunda Alia kembali," papar Pak Tarman.
"Hah yang bener Kek, ayah dan bunda boleh menikah lagi?" tanya Alia bahagia.
"Iya sayang, Kakek akan lakukan apapun untuk kebahagiaan cucuk kakek," ucap Pak Tarman seraya mencium pipi empuk Alia.
Alia turun dari pangkuan Pak Tarman, "Asik akhirnya Alia bisa tinggal sama ayah dan bunda lagi," ucapnya seraya melunjak ke girangan.
"Bunda! Bunda!" Ayo telpon Ayah, kakek ngak marah lagi sama ayah!" teriak Alia seraya berlari menuju dapur.
Aira tersenyum bahagia, ia sendiri mendengar secara langsung pembicaraan antara ayah dan putrinya.
"Alhamdullilah akhirnya bapak merestui aku dan mas Aldi," gumanya seraya menyapu bulir bening yang menetes karna haru.
__ADS_1
Bersambung guys, tetap dukung author ya, selamat tahun baru 2022, semoga sukses selalu untuk kita semua, Amin.