Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Dua sisi


__ADS_3

Mentari mulai menaiki singgahsana nya dengan gagah berani, senyum cerah pun terbit dari sang penguasa siang tersebut, secerah senyum kedua insan yang berada dalam bathtub untuk melakukan ritual mandi pagi.


Dengan limpahan foam dalam air hangat yang merendam sebagian tubuh polos keduanya, mereka asik bercanda ria.


Aira menggosok facial foam di tangganya kemudian menggosokanya secara lembut pada wajah Aldi, Begitu pun sebaliknya Aldi juga memutar facial foam tersebut di wajah istrinya.


Setelah menggosok wajah pasangannya dengan busa pembersih wajah, mulai timbul keisengan pada Aldi, ia menuang sabun cair untuk menghasilkan busa yang banyak, setelah menghasilkan busa yang banyak, busa tersebut di gunakan sebagai penutup kedua puncak bukit kembar Aira yang terlihat jelas, karna tak menggunakan kaca mata pelindung.


Aira tersenyum geli, saat foam tersebut menyentuh puncak bukitnya yang masih mini tersebut.


"Ihs Mas Aldi nakal," ucap Aira sambil menyipratkan air ke wajah Aldi.


"Ini namanya puncak bukit bersalju," cetus Aldi.


Tak mau kalah, Aira pun memencet sabun cair ke telapak tangganya, ia menggosok dengan arah memutar pada kedua telapak tanganya tersebut, setelah menghasilkan busa yang cukup bayak, Aira menempelkanya pada dagu dan rahang Aldi sehingga membentuk jenggot berwarna putih.


"Nih lima puluh tahun lagi mas Aldi akan tua seperti ini, punya janggut yang putih," ucap Aira sambil menata foam tersebut di wajah Aldi.


Aldi membiarkan apa saja yang dilakukan Aira terhadapnya, saat-saat seperti ini sangat jarang terjadi, saat mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


"Lima puluh tahun lagi, Mas Aldi tetap ganteng kok," sahut Aldi.


"Iya dong, sampai kapan pun Mas Aldi akan tetap jadi lelaki paling ganteng di mata Aira," godanya sambil mencolet hidung Aldi.


"Masak sih?" tanya Aldi sambil menjepit hidung Aira hingga merah dengan kedua jarinya.


"Aw sakit mas." keluh Aira, seketika hidungnya pun memerah.


"Mas udahan yuk, Aira udah merasa dingin," ucapnya sambil melangkah turun dari bathtub.


Aldi mengikuti Aira, mereka pun membias sisa foam dengan air dari kucuran shower.


Setelah selesai dengan rutinitas paginya, Aira menyiapkan pakaian Aldi yang akan di gunakanya untuk kekantor.


Aldi harus kekantor menggantikan Heru, karna Hari ini Heru ada janji denga Tari untuk fitting baju pengantin mereka.


"Mas jasnya warna apa?" tanya Aira sambil memilih beberapa jas di lemali gantung.


"Ngak usah pakai Jas sayang, blezer hitam saja," sahut Aldi yang sedang menuang lotion ke tanganya.


"Oh ya sayang, kamu juga harus siap-siap, mulai saat ini aku akan ikut mas kemana saja mas pergi," sambung Aldi sambil memoles lotion tersebut ke seluruh tubuhnya.


"Kok gitu mas?" tanya Aira tanpa melihat Aldi, ia masih sibuk memilih pakaian untuk suaminya dan untuk dirinya sendiri.


"Iya, mas ngak mau terjadi sesuatu kepada kamu lagi, mulai saat ini kamu akan ikut mas Aldi kemana saja." jelasnya.


"Emh, Mas Aldi ngak repot bawa Aira kemana saja?"

__ADS_1


"Ngak lah, dari pada mas Aldi ngak konsentrasi karna selalu memikirkan kamu."


"Iya deh" sahut Aira.


Aira membantu Aldi mengenakan kemejanya, satu persatu ia mengkancingkan kemeja untuk suaminya.


Bukanya Aldi tak bisa melakukanya dengan sendiri, tapi bagi Aira ini merupakan baktinya kepada suaminya, bahkan Aira tak segan memakaikan kaos kaki dan sepatu pada telapak kaki Aldi.


Kini giliran dirinya yang bersiap, meski sudah menikah tapi tak bisa mengubah kebiasaan Aira untuk berpenampilan layaknya wanita yang anggun, apa lagi sang suami adalah presiden direktur di perusahaan tersebut.


Aira tetap berpenampilan seperti gadis seusianya.


Aira memoles wajahnya dengan comped powder dengan lipbalm berwarna natural, hingga dandananya terkesan sangat sederhana dan sesuai untuk umurnya saat itu.


Dengan hanya mengenakan kemeja berbahan yadet import ber leher rendah, dan rok mini dari bahan lace serta sepatu kets berwarna putih sudah cukup membuatnya terlihat modis.


Dengan rambut yang di biarkan tergerai dan di jepit pada kedua sisinya, membuat penampilan Aira semakin cute.


"Sudah siap sayang?" tanya Aldi ketika melihat Aira yang selesai mengenakan sepatunya.


"Udah siap mas," ucap Aira sambil mengenakan slind bagnya.


Setelah selesai berkemas, Mereka pun turun menuju meja makan, dan disana sudah ada Rita yang sedang berbincang bersama Heru di meja makan.


Rita duduk dengan anggun sambil menyilangkan kakinya, ia tak menyentuh makan sedikit pun, dengan kedua telapak tangan menyentuh lututnya, ia duduk di samping Heru.


"Tumben Ma, pagi-pagi udah datang," tanya Aldi sambil menarik kursi jati berkualitas super tersebut.


"Mama sama Heru mau fitting baju pengantin, bersama Tari juga,"sahut Rita dengan ketus.


Mata Rita terlihat melirik Aira dengan sinis, membuat Aira merasa tak nyaman berada di sana.


"Tapi kamu ngak usah khwatir Aldi, mama juga sudah pesan baju couple untuk kamu dan laura,"sarkas Rita matanya kembali melirik kearah Aira.


"Simpan saja kebaikan mama, Aldi akan pergi bersama Aira." sahut Aldi datar.


"Aldi sekarang kamu juga harus memikirkan masa depan kamu, terutama soal istri yang akan mendampingi kamu." Rita memberi jeda.


"Bukan nya Aldi sudah punya istri Ma," bantah Aldi sambil mengunyah roti tawar dengan selai srikaya.


"Iya tapi kalau Aira berada di penjara dalam waktu yang lama, kamu ngak mungkin menahan diri untuk tak menikah lagi kan?"


"Dari pada kamu berzinah, mending sekarang kamu menikah, lagi pula mama mengingikan cucu dari keluarga yang terhormat, bukan gadis kumuh yang ngak jelas asal usulnya." cecar Rita.


Cukup Ma, "bentak Aldi, " menghina Aira berarti Mama menghina Aldi." imbuhnya kembali.


Aldi menatap tajam kearah Mama nya sejurus kemudian ia melirik kearah Aira.

__ADS_1


Aira hanya mampu tertunduk, sekuat mungkin menahan air matanya.


"Sabar ya sayang," ucap Aldi sambil merangkul Aira dengan lenganya.


Rita semakin panas melihat adegan di depan matanya.


Ah paling juga tak lama lagi kamu akan berada dalam penjara Aira, sepertinya aku tak perlu repot untuk mengurusi mu, aku harus selesai kan misi ku terlebih dahulu.


Rita kembali melempar senyum sinisnya kearah Aira kemudian berpaling.


"Oh Ya Heru, kamu sudah beritahu mama sama Papa kamu, tentang pernikahan kamu kan?" tanya Rita yang langsung mengalih kan pandanganya kearah Heru.


"Sudah dong bunda, mereka akan datang pada H-1, katanya, papa lagi kurang sehat karna kecapean, habis melancong ke berbagai negara di eropa." papar Heru.


Rita mencibir ,betapa ia benci mendengar kebahagian Maya dan mantan suaminya itu.


Setelah menghabiskan sarapanya, Heru dan Rita meninggalkan Aldi dan Aira yang masih betah di duduk di meja makan tersebut.


Aldi merasa sedikit lega dengan kepergian Heru dan Rita dari hadapanya, setelah membalikan punggung untuk melihat keadaan memastikan kepergian mereka, Aldi melepas rangkulanya terhadap Aira.


Aira kembali menetaskan air matanya, wajah yang tadinya ceria menjadi bermuram durja karna kata-kata Rita yang selalu menyakiti perasaan Aira.


"Sayang tak bisa kah sehari saja kau tak meneteskan air mata mu?" tanya Aldi sambil menghapus titik yang mulai jatuh ke pipi tersebut.


Aira menggenggam tangan Aldi meraihnya dan mencium punggung tangan suaminya.


"Aira sedih bukan karna ucapan Mama,Aira merasa sedih, karna apa yang mama katakan itu benar, sebentar lagi kita akan berpisah, karna Aira harus mempertanggung jawabkan perbuatan Aira, Aira akan di penjara Mas dan entah sampai kapan." kalimatnya terputus karna Aira menelan salivanya, apa yang dikatanya adalah hal yang terberat yang harus ia ucapkan.


"Mas Aldi harus menikah lagi, seandainya Aira berada dalam penjara, tapi Aira mohon dengan sangat Mas, untuk saat ini biarkan Aira menjadi satu-satunya istri yang melayani mas Aldi," ucapnya dengan deraian Air mata.


Mendengar keinginan istrinya Aldi pun terharu dan langsung memeluk Aira.


"Iya sayang, kamu akan jadi satu-satunya istri mas Aldi, sejak sekarang sampai kapan pun," ucap Aldi yang merangkul erat tubuh Aira.


Tubuh Aldi bergetar menahan tangisanya, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika ia harus jauh dari Aira lagi, padahal baru satu hari yang lalu Aira kembali dalam dekapanya.


"Mas, ada satu cara yang membuat Aira bisa terbebas dari tuntutan ini," ucap Aira lirih.


"Apa itu sayang? "


"Apa pun mas akan lakukan, asal kamu bisa bebas, jujur membayangkanya saja mas tak sanggup, apalagi sampai terjadi sesuatu yanng membuat kita terpisah lagi," sahut Aldi sambil melepaskan pelukannya.


"Satu-satunya cara agar Aira bisa terbebas adalah_"


Bersambung guys.


Mohon dukunganya ya, biar author semangat lagi upnya

__ADS_1


__ADS_2