
Alia menelpon Alita untuk memberi tahu jika mereka sedang berada di perjalanan untuk menjemputnya.
"Beneran Alia kalian jemput aku?" tanya Alita senang.
"Iya, aku lagi sama Abang nih, kamu berdandan yang cantik ya, sebentar lagi calon suami datang menjemputmu."
Ghael melirik dingin ke arah Alia, sampai sekarang ia juga tak mengerti dengan perasaannya atau memang ia tak mau mengakui jika ia punya rasa terhadap sepupunya.
Setelah menelpon Alita, Alia kembali menyimpan smartphonenya ke dalam tas, namun setelah beberapa saat,ia kembali mendengar handphonenya berbunyi.
Alia tersenyum ketika melihat pesan dari Bagas.
Meski di nasehati oleh Ghael, namun entah kenapa berat rasanya untuk ia menjauh dari Bagas.
Meski ia sendiri sadar, apa yang di katakan oleh Ghael tidak lah salah.
Alia membuka pesan chat dari Bagas.
✉Alia kamu dimana?tanya Bagas
✉Aku bersama Abangku, rencanananya kami mau nonton bersama calon istrinya. Alia.
Calon istri? syukurlah kalau Ghael sudah memiliki calon istri, dengan demikian dia tak akan menjadi rival ku* batin Bagas.
✉Aku boleh ikut?tanya Bagas.
✉Sebagainya jangan, aku tak ingin bermasalah dengannya.
✉Baiklah Alia, jika kau punya waktu, aku mau mengajakmu jalan naik motor, apa kau bisa?
✉Bagaimana kalau hari minggu?
✉Ok baiklah.
✉ Nanti malam aku telpon lagi.
✉Ok.
Bagas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya menatap langit-langit kamarnya.
"Ehm aku dan Alia seperti bumi dan langit, aku hitam dan dia putih apa mungkin kah perbedaan mampu menyatu kami."guman Bagas.
Bagas membalikan tubuhnya," Aku akan berusaha, meskipun kemunggkinan-nya kecil sekali untuk mendapat restu dari orang tuanya, tapi tak ada salahnya mencoba," guman Bagas.
Bagas mendapat telpon dari Ponco yang baru beberapa hari yang lalu keluar dari penjara yang kini menjalani rehabilitasi.
Di banding Bagas, Ponco memang lebih parah darinya, selain Ponco tak pernah di awasi, ia juga merupakan putra salah satu pengusaha sukses, jadi ia punya uang untuk memenuhi ketergantunganya, sementara Bagas ia lebih sering nebeng dengan temannya yang lain.
"Gas, Windy dan Eko masuk penjara Gas, mereka terbukti menjadi pengedar, gue takut loh di bawa-bawa sama mereka,"ucap Ponco.
"Kenapa Gue Pon, guekan ngak pernah ngejual apalagi ngedar, kita kan dapat barang dari mereka," Sungut Bagas.
"Yah gue takutnya mereka sakit hati dan mencurigai loh yang telah menjebak mereka, karna saat itu hanya loh yang nga hadir saat kita di bekuk" Ponco.
"Iya, Gue hati-hati kok, makasih ya loh udah ngingatin gue," ucap Bagas.
Bagas kembali menghempaskan tubuhnya, "Sepertinya untuk menjadi orang baik memang sulit," gumannya
Sementara itu Alia dan Ghael sudah sampai di rumah Alita, setelah berbasa-basi dengan Doni dan Dasti keduanya membawa Alita untuk pergi menonton bersama mereka.
__ADS_1
Karna keduanya sebentar lagi bertunangan, Alia meminta Alita untuk duduk di kursi bagian depan.
Sementara ia sendiri duduk di barisan belakang sendiri.
Keduanya memang tampak kikuk, maklum saja mereka memang sudah lama tak bertemu.
Sesampainya di bioskop Ghael memesan tiket, Alia dan Alita membeli makan dan minuman yang akan di bawa masuk le gedung bioskop.
Gedung bioskop tersebut di penuhi dengan antrian, agar mereka tak terpisah Alita menggandeng tangan Ghael, sementara Ghael juga menggenggam erat tangan Alia.
Seseorang dari arah belakang memperhatikan mereka.
"Eh loh lihat tuh, enak banget ya jadi cowok ganteng dan keren bisa gandeng dua cewek cantik sekaligus," ucap mereka.
"Ya gitu deh, cewek sekarang yang penting duit aja, masalah cinta di bagi juga ngak apa-apa," ucap yang lainnya.
Mereka pun masuk kedalam gedung bioskop, Ghael berada antara Alia dan Alita.
Alia begitu menikmati tontonannya begitupun Alita yang asik dengan jalan cerita yang ia tonton, namun tanpa sengaja ia melihat Ghael yang sedang menatap Alia dengan lekat.
Serrrrt, aliran darahnya melesat, ada rasa curiga di hatinya.
Apa Ghael punya perasaan khusus ya terhadap Alia?
Alita menggigit bibir bagian bawahnya awalnya ia begitu menikmati tontonan itu, kini ia menjadi tak berselera.
Alita hanya diam menahan rasa sakit hatinya.
Jika memang Ghael menyukai Alia,.kenapa ia setuju dengan rencana pertunangan kami?guman Alita.
Alia teringat akan coklat yang di beri oleh Bagas, ia pun merogoh tasnya untuk mengambil coklat tersebut.
Sementara Alita hanya diam, pikirannya melayang entah kemana.
Alita merasa tak berselera.
"Ayo Lit, coklat ini dari Bagas loh," ucap Alia.
Karna terus di sodor kan oleh Alia, Alita pun memotong sedikit coklat tersebut dan memakannya.
Ghael terlihat masam, "Abang mau?"tanya Alia.
"Ngak," sahut Ghael ketus.
"Ya udah sudah ngak mau, Alia makan sendiri saja," ucap Alia santai, ia pun menikmati coklat tersebut hingga habis.
Diantara ketiganya hanya Alia yang begitu menikmati tontonannya, sementara yang lain masing-masing masih memendam perasaannya.
Setelah selesai menonton, Ghael dan Alia kembali mengantar Alita.
Ketiganya hanya bungkam, sementara Alia sibuk berbalas chat bersama Bagas.
Alia tersenyum-senyum sendiri, Ghael mengintip dari kaca mobilnya.
Mereka pun sampai di depan rumah Alita.
Alita turun dari mobil dengan tak bersemangat.
Ghael ikut turun untuk mengantar Alita seraya pamit kepada Doni dan istrinya.
__ADS_1
"Dah Lita, " ucap Alia, ia pun pindah duduk di sebelah Ghael.
Setelah mengantar Alita, Ghael pulang mengantar Alia, keheningan terjadi di antara mereka, karna Alia lebih sibuk berbalas chat.
***
Mentari bersinar cerah, pagi-pagi Bagas bersiap untuk mengantar lamarannya ke sebuah perusahaan.
"Bu, Bagas berangkat dulu," ucapnya seraya memohon ijin.
"Kamu mau kemana Gas?"tanya Nina.
" Mau mengantar CV Bu, di sebuah perusahaan pengolahan kayu,"ucap Bagas.
"Oh, iya Nak, semoga kamu di terima kerja ya?" Nina.
"Bagas pamit Bu," ucap Bagas, ia pun membawa tas ranselnya untuk menyimpan berkas-berkasnya.
Bagas sampai di sebuah gedung perkantoran, kebetulan perusahaan tersebut sedang membuka beberapa lowongan pekerjaan.
Ia pun menitipkan berkasnya pada Satpam penjaga, karna memang kantor tersebut tak bisa di masuki sembarangan.
Setelah mengantar berkasnya, Bagas kembali menemui ayahnya.
Kali ini ia bersikaf lebih sopan terhadap Edo.
Edo melirik ke arah Bagas yang menghampirinya, sambil menaikan satu alisnya.
Bagas duduk di depan Edo, "Ada apa?" tanya Edo ketus.
"Aku mau kuliah Yah, aku juga sudah daftar kerja," jawab Bagas spontan.
Edo tersenyum," Kau serius Gas?" tanya Edo kurang yakin atas pernyataan Gagas yang tiba-tiba.
"Serius Yah." Bagas menatap Edo dengan yakin.
Edo berdiri mendekatinya.
"Bagus Bagas, baiklah Ayah akan pilih universitas terbaik di kota ini, atau kau mau kuliah di luar negri?"tanya Edo.
Bagas ternyum simpul, "Di sini saja Yah," ucap Bagas.
"Oh ya, apa ada seorang yang istimewa yang membuat mu berubah pikiran?"tanya Edo seraya tersenyum menatapnya.
Bagas tersenyum simpul, sepertinya Edo mengerti tentangnya.
Edo menepuk punggung Bagas, "Siapa wanita yang telah mencuri hati mu itu?"tanya Edo tersenyum.
Bagas tertawa kecil.
"Pacar ku seorang pengacara Yah, jadi aku ingin kuliah setidaknya, pendidikan ku setara dengannya," ucap Bagas seraya tersipu.
"Baiklah, jika kau serius, Ayah akan melamarnya untuk mu," ucap Edo.
Bagas merasa senang.
"Benar Yah,"ucapnya.
"Iya Nak," sahut Edo .
__ADS_1
"Terima kasih Yah," ucap Bagas memeluk Edo.
Bersambung guys.