Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Cicilan


__ADS_3

"Alia!" ucap Ghael lirih ia pun tersenyum meski dadanya terasa sakit.


"Ehm Abang Alhamdullilah abang sudah sadar, maafin Alia ya Bang," ucap dengan tulus sambil meluk Ghael.


Ghael tersenyum simpul menyambut pelukan Alia.


'Alhamdullilah Ya Allah, di balik semua ini ada hikmah yang tersembunyi, terima kasih telah menyelamatkan ku, terima kasih telah menyelamatkan rumah tangga ku,hiks,'batin Ghael.


Bulir bening menetes di pipi Ghael.


Alia masih memeluk Ghael, ia pun menciuminya pipi Ghael berkali-kali," Bang jangan pergi lagi ya Alia janji akan jadi istri yang berbakti pada Abang! kalau Abang pergi bawalah Alia bersama Abang kemana saja, "ucap Alia seraya menatap wajah Ghael dengan tatapan berembun.


Bukan main senangnya hati Ghael, meski sekujur tubuhnya terasa sakit, namun hatinya terasa bahagia.


"Iya Sanyang," ucapnya lirih


Ghael masih sangat lemah, ia hanya bisa tersenyum dan menggangguk dengan lemah.


Alia kembali meraba wajah suaminya yang masih pucat tersebut dengan tatapan berembun kemudian menciumi bibir Ghael dengan lembut.


Ghael sempat kaget, ia pun membalas pangutan bibir Alia tersebut, keduanya terlalut dalam haru untuk beberapa saat saling bercumbu mesra.


Hingga tak menyadari seorang suster masuk dan memergoki keduanya tengah berbalas pangutan


Ehm, deheman seorang suster membuat keduanya kaget, mereka pun melepas pangutannya, dan merasa malu karna kepergok seorang perawat.


'Ya ampun, pasangan muda ini, ruang ICU loh ini, suaminya sadar bukan langsung panggil perawat malah di ajak berciuman, dasar bucin,'batin suster tersebut seraya memutar bola matanya kesegalah arah.


Suster tersebut berjalan menghampiri Ghael.


"Pasien sudah sadar ya? kenapa tak panggil saya tadi?" tanya suster tersebut dengan sinis.


"Maaf mbak saya lupa," sahut Alia jengah.


Suster pun mengganti kantong darah dengan yang baru, begitupun dengan infus, setelah itu ia memeriksa keadaan Ghael.


"Sebaiknya jangan terlalu banyak bergerk dulu ya Bang, harus banyak istirahat," kata suster tersebut sebut seraya memeriksa mengganti botol infusnya yang hampir kosong.


Alia dan Ghael saling memandang dan saling melempar senyum.


"Sebentar saya panggil dokter jaga,"ucap suster tersebut sambil meninggalkan keduanya.


Sepeninggalan suster tersebut keduanya saling memandang dan melempar senyum.


Alia mengusap rambut Ghael," Bang, Abang cepat sembuh Ya? karna Alia punya hadiah khusus untuk abang,"ucapnya dengan manja.


"Ehm apa hadiahnya?" tanya Ghael sambil menyunggingkan senyum simpulnya.


"Ehm abang maunya apa?"tanya Alia jengah, sambil tersenyum dan menggigit bibir bagian bawahnya.


Ghael tersenyum, " Sini abang bisik, ucap Ghael.


Alia pun tersenyum seraya mendekatkan telinganya ke arah Ghael.

__ADS_1


"Unboxing" ucap Ghael sambil tersenyum.


Alia menarik kepalanya kemudian tersenyum ke arah Ghael.


"Setuju!"ucapnya.


Keduanya pun saling melempar senyum malu-malu kucing.


Dokter dan suster datang menghampiri Ghael, kemudian ia kembali memeriksa keadaan Ghael.


"Em sepertinya sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan, " ucap dokter tersebut.


"Alhamdullilah," ucap Alia mendengar ucapan suster tersebut.


"Kapan suami saya bisa di pindahkan ke ruang perawatan suster?"tanya Alia.


"Sekarang juga bisa Mbak, asal sudah memesan kamar."suster.


Dokter keluar dari ruangan tersebut, sementara suster kembali menghampiri Alia setelah keluar dari ruangan tersebut dalam beberapa saat.


"Mbak, sekarang Mbak bisa pesan kamar perawatan di kasir, setelah itu bawa kwitansi pembayarannya kemari," ucap Suster tersebut kepada Alia.


"Baik Suster,"Alia pun beranjak dengan semangat.


"Bang, Alia tinggal sebentar ya,"ucap Alia.


Ghael pun menggangguk lemah sembari melihat Alia yang meninggalkannya sendiri di ruang tersebut.


"Akh! " ringis Ghael sambil menyentuh dada sebelah kiri


"Akh! ringisnya lagi menahan sakit yang luar biasa, ia sengaja tak meringis di depan Alia, karna tak ingin mengganggu momen indah mereka.


Ghael hanya mampu menahan rasa sakit itu sendiri, hingga bulir bening menetes perlahan di pipinya.


***


Tari dan Romeo sedang menuju perjalanan ke rumah sakit setelah mengantar kedua orang tuanya di rumah Aldi, keduanya tampak begitu sedih dan khawatir karna mendengar anak kesayangan mereka dalam keadaan ktitis dan masih belum sadarkan diri.


"Hijs hiks hiks Abang! ya Allah selamatkan lah putra ku ucapnya begitu sedih, ia pun merebahkan kepalanya pada dada bidang milik sang suami.


Hiks hiks, Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ghael Rom? aku ngak sanggup untuk membayangkannya, hiks hiks hiks." Tari begitu sedih.


Dengan lembut Romeo membelai rambut istrinya, sembari menenangkannya, padahal ia pun khawatir akan keadaan putra sulung mereka.


"Aku yakin Abang pasti selamat, dia laki-laki yang kuat," sahut Romeo.


"Semoga saja. aku belum siap dan tak akan pernah siap untuk kehilangan Abang," ucapnya sambil menangis kembali.


"Tenang lah, kita berdoa saja," ucap Romeo, tak berapa lama mereka pun sampai di rumah sakit.


***


Alia sudah selesai dengan administrasinya di kasir saat itu kebetulan ia bertemu dengan kedua mertuanya.

__ADS_1


Kak! panggil Tari, Alia pun menoleh kebelakang kearah suara yang memanggilnya.


"Mama! hiks, "Alia langsung menghampiri Tari.


"Mama maafkan Alia Ma, karna menolong Alia abang sampai tertembak hiks hiks," tangisnya.


"Ngak apa sayang, kita doain semoga Abang cepat sadar, "ucap Tari sambil menghapus air matanya.


Alia bangkit merlepas pelukan mereka, "Alhamdullilah Ma Abang sudah siuman dan sekarang akan di pindahkan keruangan perawatan biasa, "tutur Alia.


Keduanya pun langsung sumringah seketika, seperti terlepas dari beban berat.


"Alhamdullilah," ucap syukur keduanya.


"Kalau gitu,Ayo kita temui Abang, Mama sudah kangen dengannya," ujar Tari sambil menyapu sisa-sia air matanya.


"Iya Ma, Ayo, " ajak Alia bersemangat.


Mereka pun menuju ruang ICU, setelah menyerahkan selembar berkas kepada suster, Ghael langsung dibawa menuju kamar perawatan super VIP.


Disana mereka semua lebih leluasa dengan tempat tidur yang lebih luas dan nyaman.


Ghael tersenyum ketika melihat Tari dan Romeo.


"Mama! Papa" ujarnya dengan lirih seraya menitikan air mata haru.


"Abang hiks hiks hik," Tari menangis memeluk putranya tercinta.


"Alhamdullilah Bang," anak Papa memang hebat, ucap Romeo sambil mengecap kening Ghael dan menciumnya.


"Abang, mama begitu khawatir sama kamu Bang, hiks hiks hiks," tangis Tari seraya memeluk putranya.


"Ma abang baik-baik saja kok, tenang saja," ucap Ghael sambil memeluk Tari, berusaha menenangkan pikirannya.


" Iya Bang Mama bisa gila Bang, jika terjadi sesuatu dengan Abang hiks hiks hiks, "Tari pun mencium seluruh wajah Ghael seperti orang yang takut kehilangan putranya tersebut.


Begitupun Romeo.


Setelah itu mereka pun ngobrol, waktu terus berlalu, setelah mengetahui keadaan putranya baik-baik saja, mereka pun memutuskan untuk pulang dan kembali untuk esok hari, karna ia tak ingin mengganggu kedua pengantin baru yang terlihat mesra tersebut.


Sepeninggalan kedua mertuanya Alia pun menutup pintu dan menguncinya.


Dengan senyum nakalnya ia naik ke atas tempat tidur Ghael, Ghael pun membalas senyuman ke arah Alia.


"Bang!"seru Alia dengan senyum nakalnya.


Ehm, Ghael tersenyum kearah Alia.


"Mau cicil malam pertama kita, " ujar Alia sambil mengecu pipi Ghael mesra.


"Ehm boleh," sahut Ghael seraya tersenyum simpul.


Alia pun tersenyum sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya, terjadilah pergerakan ekstrim di dalam selimut tersebut.

__ADS_1


Ha ha bersambung dulu reader, terus dukung author ya menuju malam pertamanya wkwkwk


__ADS_2