Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Cinta dalam luka


__ADS_3

Aira megemudikan motornya menuju sebuah restoran ayam goreng cepat saji.


Setelah menstandar motornya, ia pun turun kemudian menurunkan Alia.


Dengan senyum ia membuka helm untuk putri kecilnya.


"Ayo sayang, Alia harus makan yang banyak ya." Aira.


"Iya Bunda, Alia mau tiga potong ayam, dua kentang goreng, nasinya dua saja," Alia.


"Ehm sebanyak itu sayang, Ok Siap, putriku yang cantik." Aira.


Mereka pun masuk, Alia duduk di sebuah kursi, sementara Aira memesan di kasir.


Beberapa lama Aira berada di depan kasir menunggu pesanannya tersaji.


Setelah membayar, tak lama kemudian makan yang ia pesan tersaji di atas nampan.


Aira membawa nampan menuju meja tempat Alia duduk, dan betapa kagetnya ketika ia melihat Alia sedang bercanda bersama Aldi.


Dengan wajah yang masam ia pun mendekati mereka.


Menyajikan makanan di atas meja.


"Ayah ini untuk ayah, "Alia menyodorkan satu paket untuk Aldi.


"Tarima kasih sayang," ucap Aldi dengan santai.


"Ehm ternyata sudah di rencanakan," guman Aira seraya melirik sinis ke arah Aldi.


Sementara Aldi melempar senyum ke arah Aira yang cemberut.


"Bunda setelah makan Alia pingin ke mall katanya di mall banyak mainan, banyak makanan dan banyak orang-orang, boleh ya Bunda?"tanya Alia.


"Iya sayang, tapi kita pulang kerumah dulu, Bunda harus ganti pakaian," usul Aira.


"Yes!! asik,"sambut Alia dengan bahagia.


"Ayah juga ikut ya," ajak Alia.


"Pasti dong, ayah akan jaga Alia dan Bunda di sana," sahut Aldi seraya melirik kearah Aira yang mendengus.


Hm, Aira jadi tak berselera, ia pun tak jadi memakan makanannya


"Bunda, kenapa makanan nya di anggurin saja?"tanya Aldi sok mesra.


Aira hanya diam, seraya menatap Aldi dengan sinis.

__ADS_1


"Oh, mungin minta Ayah suapin ya," cetus Aldi seraya mencubit danging ayam kemudian menyodorkan nya ke mulut Aira.


"Is, apaan sih," tepis Aira.


"Ayo makan Bunda mubazir," Aldi mencoba kembali menyuapkan ke mulut Aira.


Namun ia malah membuang mukanya.


"Iya Bunda, bukannya Bunda yang bilang ngak boleh nolak rezeki, makan saja," sahut Alia sambil mengunyah ayam gorengnya.


Karna terus di desak, Akhirnya Aira terpaksa membuka mulutnya, dan dengan senang hati Aldi menyuapi Aira.


Melihat kedua orang tuanya seperti itu, Aira bertepuk tanggan, "Yey!"ia merasa bahagia karna melihat keduanya seperti itu.


Alia menghabiskan semua makanan diatas piringnya, sementara Alia, ia merasa tak enak hati, apalagi sikaf Aldi yang sok romantis terhadapnya.


Setelah selesai makan, Aira menggenggam tangan sang putri menuju pintu keluar, sebelum mendudukan Alia di atas motornya, Aira kembali mengenakan helm untuk putrinya.


"Sayang biar saja Alia bersama ku, biar mas Aldi yang mengantarnya dan mengikuti kamu dari belakang, " usul Aldi.


Setelah menimbang Aira pun setuju, Alia akan lebih aman jika berada dalam mobil, mengingat hari yang semakin sore dengan jalanan yang semakin padat.


"Iya, antar Alia di asrama polisi no 3A yang ada di jalan mawar,"sebutnya ia pun mengenakan helm.


Aldi tersenyum,Akhirnya aku tahu dimana kamu tinggal.


"Ayo sayang, Ayah antar, tapi sebelum itu kita toss dulu dong karna rencana kita berhasil, "ucap Aldi seraya menggendong Alia.


"Iya ayah, "mereka pun toss di iringi tawa bahagia Alia.


"Karna anak ayah pinter, ayah mau kasih hadiah, Alia mau hadiah apa?"tanya Aldi.


"Ehm, sebenarnya Alia ngak ingin hadiah apa pun, Alia hanya ingin ayah dan bunda bisa bersama lagi, seperti teman-teman Alia, kedua orang tua mereka tinggal satu rumah, Alia juga ingin seperti itu, "ucapnya dengan bibir dibuat manyun, seraya memainkan dasi Aldi.


"Ayah juga menginginkan hal yang sama sayang, tapi kamu harus sabar ya, bujuk Bunda harus pelan-pelan." Aldi


"Iya Ayah,"


"Sekarang kita laksanakan rencana kedua," ucap Aldi seraya menggendong Alia dan memesukannya kedalam mobil


Aira sudah tiba di rumah kecilnya, setelah membuka pintu, ia langsung melepas seragamnya kemudian menuju kamar mandi.


Aira sengaja menyegerakan mandi, karna sebentar lagi Aldi tiba.


Setelah puas mengguyur tubuhnya dengan air ,Aira merasa lebih segar, meski lukanya terasa sangat perih karna perbannya yang ikut basah.


Setelah menuntaskan ritual mandi, ia pun melepas perban yang membalut lukanya dengan sedikit meringis karna menahan sakit. akibat darah kering yang melekatkan perban dan kulitnya.

__ADS_1


"Akhh.". teriak Aira tertahan.


Akhirnya perban tersebut terlepas.


Setelah mandi dan berpakaian, baru lah Aira membesihkan luka tersebut dengan obat seadanya.


Suara klakson terdengar di depan rumahnya, dengan segera Aira membuka kan pintu


Alia dan Aldi pun masuk kedalam rumah seraya memberi salam.


"Duduk saja Pak Aldi, maaf rumah saya ngak ada kursinya," ucap Aira ketus.


"Ngak ada kursi ngak apa kok, yang penting selalu ada kamu di hati ku, "ucap Aldi seraya tersenyum menggoda.


Melihat Aira dengan rambut basahnya, ia pun jadi ingat ketika mereka selesai melakukan percintaan.


Setiap hari Aira harus membasahi rambutnya karna hampir setiap hari mereka melakukannya, tanpa pernah merasa jemuh atau pun bosan.


Kenangan itu kembali mengusik ingatan Aldi mengingat indahnya kebersamaan mereka.


Aldi melihat luka mengganga pada lengan Aira, ia pun kembali ke mobil untuk mengambil kotak P3K.


Sesaat kemudian Aldi kembali dan langsung menghampiri Aira.


"Sayang, sini aku obati luka mu," ucap Aldi berjongkok karna Aira juga berjongkok memungut pakaian Alia.


"Ngak usah, saya bisa sendiri, "tepisnya.


Tapi Aldi terus memaksa, ia menarik tangan Aira kemudian memperbannya.


Dengan hati-hati Aldi meneteskan providen iodine pada luka tersebut hingga membuat Aira meringis.


Aldi menggenggam jemari Aira dengan jemarinya, saat itu kedua mata mereka pun beradu, ada sebuah perasaan yang tak mungkin di ingkari keduanya, meski bibir bisa saja berdusta tapi mata keduanya menyiratkan kerinduan yang mendalam.


Aira memalingkan wajahnya tak ingin larut hingga hanyut terbawa rasa, ia pun melepaskan cengraman jemari Aldi yang mencengram erat jemarinya.


Aldi menarik kembali tangan Aira dan meletakan di atas pahanya, ia pun menutupi luka tersebut dengan menutupnya dengan kain kasa.


"Lihat lah sayang, seperti apa pun luka, asal berusaha untuk mengobati dan menutupnya, luka tersebut akan sembuh, seperti luka hati mu yang telah ku toreh, maka biarkan lah aku yang mengobatinya." ucap Aldi.


"Anda tak mengerti pak Aldi, mengobati luka hati tak semudah membalutnya dengan kain kasa, cetus Aira seraya menarik kembali tangannya.


"Kamu benar, tapi jika rasa itu masih ada kenapa kita harus membuang-buang waktu untuk berpisah, kenapa tak kita coba menata hati kembali, ingat lah sayang ini bukan perkara antara kau dan aku, tapi ini tentang kita dan putri kita." Aldi.


Aira memalingkan wajahnya, kemudian menunduk, dengan lembut Aldi mengangkat wajah Aira dengan satu jari telunjuk.


"Please Aira berikan mas Aldi kesempatan, buka sedikit hatimu untuk mas Aldi, mas Aldi janji ini untuk terakhir kalinya mas Aldi melakukan kesalan,"ucap Aldi seraya menatap wajah Aira.

__ADS_1


Bersambung berika dukungan kalian ya like komen saran kesan dan pesan jika berkeman hadiah dan votenya 😆


__ADS_2