
"Abang?" Guman Alia, seraya menatap hampa ke sekelilingnya karna syok.
Aira menarik Alia, "Sini sayang,duduk!" ucap Aira pada Alia.
Alia dan Ghael pun duduk bersebelahan.
"Jadi menurut ayah, pernikahan kalian di segerakan saja," ucap Aldi penuh semangat.
"Abang sudah beri tahu orang tua Abang?"tanya Aldi.
"Sudah uncle," ucap Ghael.
"Kenapa masih panggil uncle sih,sudah mau jadi menantu juga," protes Aldi.
"Mama sama Papa juga sudah setuju katanya jika Ayah setuju, segera mungkin mereka akan datang untuk melamar secara resmi,"papar Ghael.
"Ya sudah, karna kamu bagian dari keluarga ini, Ayah ngak keberatan jika kalian menikah dalam waktu yang dekat,"
papar Aldi.
"Iya kan Kak?"tanya Aldi pada Alia yang termenung menatap hampa.
" Ehm iya Ayah, Alia masuk dulu ya, Alia capek," ucap Alia ia juga tak tahu apa yang di tanyakan Aldi padanya,saat itu Alia hanya mengkhawatirkan Bagas.
Aldi tersenyum melihat Alia yang langsung naik ke kamarnya.
"Jangan-jangan Kakak malu Bun,"ucap Aldi.
Tapi Aira menangkap sesuatu yang berbeda dari putrinya.
Ketiga orang tersebut melanjutkan perbincang mereka.
Sementara Alia, ia masuk ke kamar dan langsung menangis.
Alia bersandar pada pintu tubuhnya melorot ke bawah hingga membuatnya bersimpuh.
"Bagas,"ucap Alia lirih.
"Apa yang harus ku katakan pada Bagas?"Alia menangis sejadi-jadinya.
"Hiks hiks hiks,Kenapa harus menikah dengan abang Ghael bukannya aku sudah mengganggapnya seperti saudara sama seperti aku menganggap Arsyad."
Alia pun menangis karna memimikirkan Bagas.
"Kasihan Bagas, dia pasti kecewa, hiks hiks hiks." Alia.
***
Bagas tiba di rumanya, keadaannya cukup memprihatinkan tubuhnya terasa panas sementara lengannya masih terasa sakit.
Nina menyambut kedatangan Bagas di depan pintu.
"Bagas, kamu kenapa Nak?"tanya Nina khawatir karna melihat lengan Bagas yang terlihat bengkak.
"Bagas menghapus tatoo Bu," ucapnya seraya meringis menahan sakit.
"Tapi kenapa benggak seperti itu Nak?"tanya Nina yang semakin khawatir.
Ia pun menilik lengan Bagas.
"Ngak apa Bu, dalam dua atau tiga hari lagi sudah sembuh kok," ucap Bagas sambil meringis menahan sakit.
Akh! ringis Bagas sesekali.
Nina menitikan air matanya melihat lengan Bagas yang membengkak.
__ADS_1
"Sudah sayang kamu istirahat dulu," ucap Nina seraya menuntun putranya, menuju kamar.
Di dalam kamarnya Bagas merebahkan diri dan langsung meraih hand phone untuk menghubungi Alia.
***
Setelah puas menangis Alia menghempaskan tubuh di atas kasur, kemudian ia bangkit karna mendengar suara handphonenya yang berbunyi.
Alia menatap layar smartphones-nya dan melihat nama Bagas yang muncul.
"Bagas,"ucapnya lirih seraya menghapus titik air matanya.
Alia mengangkat sambungan telpon tersebut.
"Hallo Gas, ada apa?"tanya Alia dengan suara parau karna habis menangis.
"Ngak apa-apa, aku hanya kangen sama kamu sayang," ucap Bagas seraya tersenyum menatap ke layar ponsel.
"Kamu kenapa terlihat habis menangis sih? kamu mikirin aku ya?"tanya Bagas.
Alia tersenyum, melihat Bagas seperti itu ia semakin tak tega untuk mengatakan sejujurnya.
Akhirnya Alia pun tersenyum palsu.
"Iya Gas, aku khawatir sama kamu, bagaimana keadaan kamu sekarang?"tanya Alia lagi.
"Mungkin dalam beberapa hari aku sudah baikkan kok, kamu jangan khawatir lagi ya."Bagas.
Alia menahan air matanya agar tak jatuh menetes di pipinya saat itu.
Bagaimana tidak khawatir Gas, bagaimana jika kamu tahu bahwa orang tua ku telah menjodohkan ku.
"Hiks hiks hiks, Besok pulang kerja aku jenguk kamu Gas, kamu mau aku bawain apa?"tanya Alia yang coba untuk menhibur dirinya.
"Ehm, melihat kamu saja aku sudah senang kok," sahut Bagas.
"Iya Sanyang! i love you," ucap Bagas.
Bibir Alia berat untuk membalas pernyataan cinta dari Bagas.
" I love you too?" Alia pun menutup telponnya dan kembali menangis.
Hiks hiks hiks, ya Tuhan apa yang harus aku lakukan ? hiks hiks Alia kembali menangis.
***
Setelah berbincang dengan Ghael, Aira naik ke lantai atas untuk menemui Alia, karna Aira curiga jika putrinya tersebiut keberatan atas perjodohan mereka.
Tok--tok...tok..
Terdengar suara pintu di ketuk.
Alia bangkit dengan perasaan malasnya membuka pintu.
Krek pintu di buka dan Aira berada di hadapannya saat ini.
"Bunda?" Alia tertunduk.
"Kak, kamu kenapa?"tanya Aira pada putrinya.
Alia masuk dan mendaratkan bokongnya di atas tenpat tidur.
"Kamu ngak suka ya di jodohin sama Abang?"tanya Aira.
Alia masih tertunduk dan diam.
__ADS_1
"Kamu punya calon sendiri Kak?"tanya Aira lagi.
Alia menatap Aira dengan mata yang sendu.
"Katakan saja pada Bunda Kak, Kakak punya calon sendiri?" Aira mengulangi seraya mendekat ke arah putrinya.
"Iya Bun," jawab Alia lirih dan menggangguk.
"Siapa?"tanya Aira sambil menatap lekat wajah putrinya.
Alia ragu, tapi inilah kesempatannya untuk berkata jujur sebelum terlambat.
"Alia susah punya pacar Bunda,"jawab Alia lirih.
Deg jantungnya berdebar ketika mengatakan hal itu.
"Siapa Kak, kenapa Kakak tak bilang sebelumnya?"tanya Aira lagi.
"Alia sudah pacaran sama Bagas Bunda," ucap Alia lirih.
Aira syok bukan main.
"Bagas? Bagas yang kemarin datang ke pesta?"tanya Aira meyakinkan dirinya.
"Iya Bunda," jawab Alia lirih.
Bukan main kagetnya Aira mendengar hal itu, dadanya seketika terasa sesak.
Alia kaget dengan reaksi Bundanya.
"Kak, Bunda ngak setuju kalau Kakak sama Bagas, "ucap Alia tegas.
"Hah, tapi kenapa Bun?"tanya Alia juga kaget dengan pernyataan
"Sulit bagi Bunda untuk menjelas kan ke kamu Kak, karna Bunda tahu siapa ayah biologis Bagas yang sebenarnya."
Alia tergaman melihat Aira yang perlahan menitikan air matanya.
"Bunda ngak pernah Kak, benci kepada seseorang seperti Bunda membenci ayah Bagas, karna dialah hidup Bunda hampir hancur! " papar Aira dengan nada tinggi.
"Tapi Bunda, Bagas tidak bersalah, kenapa Bagas selalu yang jadi korban dari perbuatan orang tuanya." Alia coba membela.
"Kak Bunda juga berempati terhadap Bagas dan ibunya, tapi bukan bearti Bunda setuju jika dia menikah dengan kamu, sampai kapan pun Bunda ngak akan setuju karna di dalam darah Bagas mengalir darah Retno."Aira
"Bunda ngak mau jika kamu menikah dengan Bagas dan punya anak, maka darah anak kamu juga akan mengalirikan darah bajingan itu Kak!"cecar Aira ia pun menangis.
Alia syok bola matanya berpendar menatap Aira, selama ini ia tak pernah mendengar Aira berkata kasar, apalagi sampai mencela orang lain.
Aldi masuk ke dalam kamar Alia karna mendengar suara Aira yang meninggi.
"Ada apa Bun, kenapa Bunda marah-marah sama Kakak?"tanya Aldi.
Ia pun mengusap punggung istrinya.
Aira menangis jika ia mengingat Retno, karna itu sama saja menyat luka lama di hatinya.
Yah, Kakak ternyata menjalin hubungan dengan Bagas Yah," ucap Aira menangis seraya memeluk Aldi.
"Apa?!" Aldi syok dan menatap tajam kearah Alia.
Alia begitu ketakutan sebenarnya apa yang sudah terjadi antara ayah biologis Bagas dan Bundanya.
Apakah Bunda juga mendapat perlakuan buruk dari ayah biologis Bagas, sama seperti ibunya Bagas?
Pertanyaan tersebut muncul seketika di benak Alia.
__ADS_1
Bersambung