
Setelah keadaan Aira membaik, mereka pun berencana membawa baby boy pulang.
"Bunda semua sudah siap! "ucap Aldi seraya memeriksa barang-barang mereka.
Aira menggendong baby boy, kemudian naik ke kursi roda sementara Aldi mendorong kursi tersebut dan pak slamat membawa barang-barang mereka.
"Dek, Hari ini kita pulang ke rumah kita Dek," ucap Aldi yang bicara pada bayinya.
Bayi tersebut tertidur lelap dalam dekapan sang Bunda.
"Kakak, bagaimana Yah? jadi kangen"tanya Aira kepada Aldi.
"Ngak apa Bun, barusan telpon, Adiknya di suruh cepat pulang, katanya Alia ngak sabar buat gendong." Aldi.
Aira tersenyum, "Sekarang kakak sudah besar, meski Alia perempuan semoga saja ia bisa menjaga dan memberi contoh kepada adiknya, " ucap Aira.
"Ya semoga sajalah Bun," sahut Aldi.
"Bun kita beri nama apa ya untuk putra kita Bun?"tanya Aldi masih mendorong kursi roda Aira.
"Di bikin mirip aja Yah namanya, Kakak Reyna Alia, inisialnya Ra, Ayah dan Bunda juga inisialnya RA, jadi dedek juga harus berinisial RA,"usul Aira.
"Ya semoga pada saat aqiqah nanti kita sudah menemukan nama yang tepat ya Bun."Aldi.
Mereka pun masuk kedalam mobil, sepanjang perjalanan Aldi yang menggendong putra kecilnya tersebut.
"Lihat lah Bun, wajahnya semua mirip Ayah, matanya hidungnya, rambutnya," ucap Aldi seraya mencium pipi putranya tersebut.
"Ya jelas, kan yang nabur benih Ayah, kan bahaya kalau anaknya mirip salah satu personil BTS, ntar Bunda dikira selingkuh sama joongkook lagi," canda Aira.
"Ih, punya suami ganteng kayak gini, masih aja mau selingkuh," sahut Aldi.
"Mau lah, itu juga kalau Jungkooknya mau Yah," canda Aira
"Kalau Ayah akan selalu setia saja Bun, bagi Ayah kamu dan anak-anak kita sudah cukup," ucap Aldi serius.
"Ah Ayah, kan cuma bercanda, malah di bawa serius sih," bujuk Aira ketika melihat perubahan pada wajah Aldi.
"Kok Ayah sensi sih Yah, jangan-jangan Ayah terkena Baby blues syndrome ya?" tanya Aira seraya mencolek dagu Aldi.
Aldi bergeming, wajahnya tetap cemberut.
"Ngak usah gitu dong Yah, Bundakan cuma cinta sama Ayah, "ucap Aira seraya memeluk Aldi dan mencium Aldi.
__ADS_1
"Jangan gitu lagi ya Bun, biar cuma bercanda hati Ayah sakit, kalau dengar-dengar yang selingkuh,"ucap Aldi tersinggung.
"Iya Janji deh." Aira jadi tak enak dengan Aldi, ia tak menyangka jika Aldi lebih sensitif dari dirinya yang baru saja melahirkan.
Setengah jam di perjalanan, akhirnya mereka sampai, kehadiran mereka sudah di tunggu oleh Alia.
Dan yang paling mengejutkan adalah kehadiran Mbok Jum dan mang Ujang.
Bukan main senangnya Aira dan Aldi saat itu.
Mbok Jum dan Alia menghampiri Aira yang baru saja turun dari mobil mereka.
"Mbok, apa kabar?"tanya Aira seraya memeluk Mbok Jum.
"Baik Non, Alhamdullilah kini Non Aira dan mas Aldi sudah nambah momongan lagi," ucap mbok Jum haru, ia pun meraih putra mereka kemudian menciumnya.
Aldi menghampiri Mbok Jum dan langsung memeluknya, "Mbok kapan datang sih?"tanya Aldi.
"Baru saja Den, rencananya pas dengar non Aira melahirkan si mbok mau berangkat, eh, mang ujang sakit dan baru sembuh, waktu nikahan kalian juga mbok ngak bisa datang, sedang sakit juga, tapi mbok turut bahagia mendengarnya, saking bahagianya, si mbok bagi-bagi sembako untuk satu Rt," papar si mbok panjang lebar.
Mereka berjalan beriringan, Alia terlihat sekali menempel pada simbok, maklum saja sejak berusia setahun, simboklah yang mengasuhnya.
Tak hanya kedatangan mbok Jum, pak Adi dan keluarga juga juga datang, mereka yang menjemput dan mengantar mbok Jum dan Mang Ujang, dari perkenalan singgkat tujuh tahun yang lalu, kini keluarga Mbok Jum dan Pak Adi menjadi akrab, mereka pun seperti saudara.
Aldi begitu asing dengan keluarga tersebut "Siapa mereka Bunda?"tanya Aldi.
"Oh, kenalin Yah pak Adi."
"Pak Adi ink sudah seperti bapak bagi Bunda sendiri, dia lah yang mengantar dan menjemput Bunda sewaktu tinggal bersama mbok Jum."
" Dan ini istri dan anak-anaknya, " ucap Aira.
Aldi menjabat tangan pak Adi, "Terima kasih Ya Pak, karna telah mebantu istri saya, silahkan bapak duduk," ucap Aldi kembali.
"Sama-sama Nak," ucap pak Aldi.
Aira duduk dengan pelan di atas sofa, rumah yang biasa tenang seketika riuh oleh suara Alia yang bermain bersama anak-anaknya pak Aldi.
***
"Alia rumah Alia besar sekali, ada kolam berenangnya lagi," ucap salah seorang anak pak Adi.
"Kita berenang Yuk Kak," ajak Alia.
__ADS_1
"Emang di bolehin Alia?kalau boleh kakak juga mau berenang?"tanya anak gadis pak Adi yang bernama Nisa.
Sebentar ya Kak, Alia tanya sama ayah bunda dulu," ucap Alia, ia pun berlari kecil menghampiri Aira dan Aldi.
"Bunda-Ayah boleh Aira berenang sama kak Nesa dan Kak Nessa?" tanya Alia.
"Boleh sayang, tapi pakai pelampungnya ya, minta sama bik inem untuk ganti baju dan pakaian Alia pelampung." Aira.
Bukan main senangnya Alia saat itu, ia pun bermain air dengan kakak-kakaknya, anak-anak pak Adi memang akrab dengan Alia, mereka sering berkunjung ke rumah mbok Jum dan menginap di sana hanya untuk bermain bersama Alia.
***
"Bagaimana Pak apa bapak masih jadi sopir taksi?"tanya Aira.
"Masih Neng," jawab Pak Adi.
"Bagaimana kalau Bapak bekerja sama kita saja Pak, Kebetulan kami butuh orang untuk mengantar jemput Alia sekolah, karna setelah kembali bertugas Aira sama mas Aldi pasti akan sibuk, apalagi mas Aldi ngak mau menyewa jasa babysitter," usul Aira.
"Ehm, iya deh nanti bapak pertimbangkan," ucap pak Adi.
"I-iya saya butuh orang-orang yang terpecaya untuk keluarga saya, jadi saya minta bapak untuk pertimbangkan usulan kami," ucap Aldi.
Pak Adi dan istrinya saling memandang, istrinya pun menggangguk setuju.
"Iya saya akan terima pekerjaannya,"ucap pak Aldi.
"Alhamdullilah," ucap mereka semua.
"Aldi meririk kearah mbok Jum, Mbok juga tinggal di sini lagi Ya?"pinta Aldi.
"Ngak bisa Den, siapa yang mau mengolah pabrik keripik punya non.Aira?" tanya simbok.
"Ah serahin orang lain saja Mbok, di sini juga si mbok ngak kerja, cuma di suruh tinggal aja kok," bujuk Aldi.
"Eh Den Aldi, jangan meremehkan ya, meski omset pabrik keripik si mbok ngak bernilai miliaran, tapi karna pabrik kerupuk tersebut nama mbok jadi terkenal dengan sebutan juragan keripik usus ayam mbok Jum," ucap mbok Jum bangga.
"Iya deh, nanti kalau usahanya makin besar, ganti lagi tuh namanya mbok," sahut Aldi.
"Ganti apa den?"tanya mbok Jum.
"Mbok Jum si ceo keripik usus ayam,"ledek Aldi.
" Di kampung mah mana ngerti ceo Den, paling banter ya juragan, itu juga udah bikin mbok Jum songong he he," ucap mbok Jum dengan tawa terkekeh hingga menampakan giginya yang ompong.
__ADS_1
Bersambung