Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Siapa sebenarnya Tari


__ADS_3

Aira menghampiri Aldi yang sedang melakukan donor darah.


"Aira, dari mana saja kamu, jangan jauh- jauh dari mas Aldi dong," ucapnya sambil menarik tangan Aira agar duduk di samping nya.


'"Mas sakit ngak jadi pendonor?" tanya Aira.


"Ngak, cuma rada pusing sedikit, ntar juga hilang,"


"Aira pijitin kepalanya ya," ucap Aira sambil memijat lembut kepala Aldi.


"Kalau ada Aira di samping mas Aldi, mas Aldi ngak akan merasa pusing lagi," ujarnya sambil mencium punggung tangan Aira.


Aira tersenyum


"Maaf ya, tadi mas Aldi panik banget, karna kata Doni keadaan Tari kritis."


Aira manggangguk mengerti.


"Aira pijitin mas Aldi lagi ya."


Aira menggangguk pelan dan melaksanakan perintah Aldi, ia berada di samping Aldi hingga Aldi selesai mendonorkan darah nya.


***


Doni bolak balik di depan ruang operasi, Tari sudah berada di ruang operasi dan sedang dalam observasi.


"Gimana Rom ?" tanya Doni ketika ia melihat kedatangan Romeo.


"Udah gue suruh satpam untuk menghubungi orang tua Tari, tapi


telpon nya berada di luar jangkauan." Romeo.


"Aduh bagaimana lagi nih, ntar kalau terjadi sesuatu pada Tari bagaimana?"


"Lagian orang tuanya pada kemana sih, masak Tari di tinggal sendirian," ucap Doni sambil melayang kan pukulan keudara.


"Jadi Tari bagaimana Don?" Romeo.


"Karna mendesak, Tari terpaksa langsung dioperasi tanpa persetujuan orang tuanya, gue yang tanda tangan."


"Ya Allah semoga Tari ngak apa-apa," ucap Doni sambil menadahkan tangan nya.


"Amin," Sahut Romeo.


"Lo Amin doang Rom, di suruh apa pun ngak ada becus, kalau ngak ada nomer orang tuanya ya, lo pinta nomor keluarganya yang lain," ucapnya kesal.


Doni mendengus kesal, dengan kebodohan Romeo.


"Habis nya lo panik, gue juga panik dong, ya udah gue simpan nomor orang tuanya Tari, nanti kita coba hubungi lagi orang tuanya," sahut Romeo.


"Sekarang Aldi mana?" Romeo.


"Di lab." Doni.


"Sekarang lo hubungi kembali orang tuanya Tari Rom, siapa tahu udah tersambung."


Romeo pun melakukan apa yang di perintahkan oleh Doni.


Setelah beberapa saat pasca mendonorkan darah nya, Aldi dan Aira pun menghampiri Doni dan Romeo.


"Bagaimana Don, apa Tari sudah di operasi?" tanya Aldi.


"Iya baru saja masuk kamar operasi, katanya luka kepalanya harus segera mendapat penanganan, setelah ct scan, ada benturan yang membuat pendarahan di kepalanya," papar Doni.


"Aw, kenapa sampai separah itu sih?" tanya Aldi.


"Mana gue tau Al, maka nya gue panik, waktu gue datang Tari tuh masih sadar, dan ia masih mengeluhkan sakit, tapi setelah beberapa saat kemudian , ia tak sadarkan diri, maka nya gue minta lo buru-buru datang kemari, takut nya Tari butuh tambahan darah pasca operasi." papar Doni panik.


"Udah lo tenang Don, " ucap Aldi sambil menepuk pundak Doni.


"Gimana gue bisa tenang Al, gue lihat sendiri darah segar mengucur di kepala Tari, dan dengan tangan gue sendiri gue mengankat tubuhnya masuk ke dalam ambulan, gue sampai sekarang gemetaran," ucap Doni dengan nada yang hampir menangis.


"Lagian gue binggung mesti mencari beberapa kantong darah untuk Tari, nunggu orang tuanya kelamaan, untung saja golongan darah lo sama dengan golongan darah Tari, padadahal 0 negatif itukan langkah," ucap Doni.


"Lo kalau nunggu orang tuanya juga belum tentu juga cocok, Tari kan anak angkat Don," papar Aldi.


Doni dan Romeo pun kaget, mata mereka pun membelalak,


"Anak angkat ?" Doni.

__ADS_1


"Iya, emang Tari ngak pernah cerita?" Aldi.


Doni menggelengkan kepalanya.


"Pantes aja Tari sering mengeluh kesepian di rumahnya, dia labih banyak menghabiskan waktunya di bengkel bersama kami." Doni.


"Ya sudah Don, masih kurang berapa kantong darahnya, jika masih kurang gue akan minta Heru mendonorkan darahnya juga." ucap Aldi.


"Ngak tahu juga, lihat saja semoga operasi Tari berjalan lancar, dan pendarahanya bisa berhenti, jadi bisa secepat nya operasi kedua, untuk memasang pen pada tanganya."


Aldi dan Aira duduk di samping Doni.


"Gimana Rom, sudah tersambung belum?" tanya Doni pada Romeo yang sedang mencoba menghubungi orang tua Tari.


"Belum, tapi gue sudah kirim pesan."


Aira duduk bersanda pada Aldi, sambil memainkan game di handphonenya.


"Al, lo temani gue tidur di sini ya, Aira juga,"


"Emangnya kenapa Don bukanya ada Romeo?" tanya Aldi.


"Iya maksud gue kita berempat jagain Tari, kalau gue sama Romeo aja, ngak enak Al, kita bukan saudaranya, cuma teman, ntar gue ama Romeo khilaf lagi," cetus nya.


"Anjir lo Don, teman lagi sekarat juga," sungut Aldi.


"Makanya gue ngak enak lah, kalau ada Aira, kan jadinya kita ngak cowok semua yang jaga, siapa tahu Tari butuh sesuatu, kan ngak enak pegang-pegang anak orang, ntar nyentrum lagi," sahut Doni lagi.


"Gue sih mau aja, ngak tahu Aira, lo bilang aja langsung sama Aira, kalau gue yang minta ntar dia salah paham lagi," tukas Aldi.


Aira mendengar namanya di sebut, ia pun mengalihkan pandanganya pada Aldi dan, Doni.


"Aira, mau ya tidur di sini, temani mbak Tari" Doni.


Aira diam sejenak dan melihat ke arah Aldi, Aldi mengangukkan kepala pertanda ia tak keberatan.


"Iya bang," jawab Aira singkat.


"Tapi mas Aldi, Aira kan ngak bisa tidur kalau ngak meluk Teddy," ucapnya ke Aldi.


"Teddy ? siapa Aira?" tanya Doni heran.


Doni memasang wajah mengkerutnya,


"Gue pikir Aira ngak bisa tidur kalau ngak meluk elo Di, ternyata dia lebih sayang dengan boneka beruang nya dari pada elo," ucap Doni memanasi Aldi.


"Ngak apa juga, dia tidur meluk bonekanya, tapi kan gue selalu meluk dia dari belakang," ucap Aldi sambil mengelus rambut Aira.


"Iya kan sayang?" ucapnya sambil menarik Aira dalam rangkulanya kemudian mencium pipinya.


"Iya nanti mas suruh mang ujang mengantar baju ganti, sama boneka Aira ya," Aldi.


Aira pun tersenyu.


"Gitu dong," ujarnya sambil melanjut kan gamenya.


Romeo merasa cemburu melihat kemestraan pasangan tersebut.


Aldi kenapa bersikaf mesra kayak gitu sama Aira, apa dia cuma mau manasin gue, Atau Aldi memang benar-benar sayang sama Aira, apa Aira juga sudah melupakan janjinya ke gue, batin Romeo.


Romeo hanya tertunduk ia merasa tak nyaman melihat kemesraan pasangan muda tersebut.


Saat sedang menunggu Tari di depan pintu operasi Aldi mendapat panggilan telpon dari mamanya.


"Halo Ma" sapa Aldi.


Mendengar panggilan tersebut dari mamanya wajah Aira berubah cemberut. selama ini ibu mertuanya tersebut selalu saja mengganggu waktunya saat bersama Aldi.


"Aldi, kamu datang kemari ya Nak, mama punya kejutan khusus untuk kamu" suara Rita di sebrang telpon.


"Ngak bisa Ma, Aldi sedang berada di rumah sakit, tubuh Aldi masih lemas karna habis melakukan donor darah." Aldi.


"Donor darah? untul apa Di? " tanya Rita.


"Teman Aldi mengalami kecelakaan, dan stok golongan darah o kosong Ma, karna golongan darah Aldi sama dengan dia, jadi ngak ada salah nya dong, Aldi bantu," papar Aldi.


" Teman kamu bearti se umuran dengan kamu dong?" tanya Rita menyelidik.


"Perempuan atau laki-laki Di?" tanya Rita kembali.

__ADS_1


"Perempuan ma," jawab Aldi.


Deg,


Mendengar jawaban dari Aldi jantung Rita berdetak kencang, hampir saja handphone tersebut terlepas di tanganya.


"Oh ya Di rumah sakit mana kamu berada saat ini?" tanya Rita.


"Rumah sakit kenanga Ma, ada apa Ma?" Aldi.


"Kalau begitu Mama boleh menjenguk teman kamu Di?" Rita.


"Tentu dong Ma, tapi sekarang Tari sedang menjalani operasi."


"Iya besok, Mama kesana."Rita menutup telponnya.


Di lihat dari wajahnya ada kekhawatiran pada Rita, entah apa yang membuatnya resah.


Setelah beberapa lama menunggu di depan kamar operasi, Tari pun keluar dari rumah sakit.


"Bagaimana keadaan teman saya dokter?" tanya Doni.


"Masa kritisnya sudah lewat, sekarang bisa di pindahkan keruang perawatan, dan dalam beberapa jam lagi, kemungkinan pasien akan sadar.


"Terima kasih Dokter," ucap Doni.


"Ah lega gue," ucap Doni sambil mengurut dadanya.


"Yuk sekarang kita pindah keruang perawatan." Doni.


Mereka pun bersama-sama menuju ruang perawatan VVIP.


Sesampainya di ruang perawatan, mereka berempat masuk dan melihat keadaan Tari, saat itu kepalanya terbalut oleh perban begitu pun tanganya.


Romeo menyentuh telapak tangan Tari, "Cepat sembuh ya Tar," ucapnya sambil menggenggam erat tangan Tari.


Aldi, Aira, dan Doni duduk di sofa, sementara Romeo ia duduk di samping Tari dengan menggunakan kursi plastik.


Doni melihat keadaan sekelilingnya," Baru kali ini gue berada di rumah sakit, tapi seperti berada di hotel bintang lima, jadi betah gue," cetusnya.


"Lo betah di sini ?"tanya Aldi.


"Besok gue tabrak lo dari belakang ya," sahut Aldi.


"Enak aja lo," gue masih mau hidup," Doni.


Mereka bertiga ngobrol, sementara Romeo ia seperti menghindari Aldi.


"Rom, sini loh, Rom, duduk di sini, jarang banget kita bisa kumpul bertiga lagi," ucap Doni sambil merentangkan Tikar permadani.


Romeo pun menghampiri mereka, karna masih dalam suasana perang dingin, jadi Romeo dan Aldi berada di antara Doni, sementara Aira bersandar pada Aldi.


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, mereka masih asik berbincang, dan sepertinya, Romeo dan Aldi juga ngak canggung lagi.


"Mas Aldi Aira lapar," ucap Air sambil menyentuh perut nya yang mulai kerocongan.


Kata-kata Aira membuat mereka mengalihkan perhatianya pada Aira.


"Aira lapar? kita cari makana dulu yuk sekalian cemilannya." Aldi menarik tangan Aira agar ia berdiri


"Iya gue juga lapar, baru nyadar gue,"ucap Doni.


"lo Lapar ngak Rom?"


"Gue malah ngak ***** untuk makan," sahut Romeo dengam wajah jutegnya.


"Iye gue beli untuk kalian juga, Ayo sayang," ucap Aldi sambil berjalan merangkul Aira, sementara Aira merentangkan tanganya ke pinggang Aldi.


"Cih, penganten baru, bawaan nya nempel aja kayak perangko," cibir Doni.


Melihat kemesra Aldi dan Aira wajag Romeo cemberut.


"Lo kenapa Rom? ceberut aja, Wajah lo kayak semut ketelan jengkol gitu," Doni.


"Baru dengar gue semut bisa ketelan jengol," sahut Romeo.


"Nah binggungkan lo, gue nya aja binggung apa lagi semutnya," ucap Doni sambil tertawa terkekeh.


Bersambung dulu ya guy's

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya.


__ADS_2