
Alia menangis sepanjang perjalanan ia tak menyangka jika Bagas yang begitu ia puja sanggup melakukan hal tak tak terpuji padahal ia berharap setelah berpisah dengan Ghael,ia bisa kembali ke Bagas.
Hiks hiks,
Pak Adi hanya melirik ke arah belakang ia heran kenapa Alia menangis setelah menemui sahabatnya.
"Neng Alia, Neng tidak apa-apa?"tanya pak Adi khawatir.
"Hiks hiks, ngak apa Kek." Alia berusaha menguasai dirinya agar kedua orang tuanya tak curiga.
Sesampainya di rumah Alia langsung naik ke kamarnya tanpa menyapa ayah- bundanya yang berada di ruang tengah.
"Alia! " seru Aira yang memanggil Alia.
Bukannya berhenti, ia malah melangkah semakin cepat.
"Alia kenapa Yah? sepertinya dia ngambek karna Ayah menyuruh suaminya mengurus perusahaan ke Singapura." Aira.
"Mungkin Bun, tapi ini tuh penting Bun siapa lagi yang bisa Ayah andalkan, malahan rencananya Ayah ingin mereka berdua menetap di sana untuk mengurusi perusahaan Ayah."
"Ih Ngak bisa, Bunda ngak setuju, Bunda ngak bisa jauh dari Kakak," tolak Aira mentah-mentah.
***
Ghael sampai di rumah Suci ia berniat untuk pamit kepada Oma dan Opa.
"Assalammualaikum," ucap Ghael.
Waalaikumsallam," ucap Suci dan Hadi yang berada di ruang tamu.
"Eh Abang, dari mana?"tanya Suci.
Ghael langsung mencium punggung tangan keduanya.
"Dari luar kota Oma, Abang ke sini mau pamit, besok sore sudah harus terbang ke Singapura."
"Ehm, berapa lama di sana Bang?" Hadi.
"Ngak tahu Oma, mungkin setelah dari Singapura Abang langsung pulang ke Malaysia," papar Ghael.
"Oh kok begitu? Alia juga ikut?"tanya Suci heran.
"Ngak, Alia akan tetap di sini bersama orang tuanya."Ghael.
"Loh, kenapa begitu Bang, rumah tangga kalian sedang bermasalah?"tanya Suci.
__ADS_1
Ghael diam sejenak, ia pun tertunduk.
Suci menatap lekat ke arah Ghael,menunggu jawaban dari cucunya tersebut, beberapa lama Ghael diam, Suci pun mendekat kearahnya.
"Bang jika bisa di selesaikan secara baik-baik lebih baik selesaikan dengan cara yang baik, jika kalian berdua tak mampu menyelesaikannya sebaiknya meminta bantuan pada orang tua kalian Bang, mungkin kalian masih butuh waktu untuk saling mengerti dan memahami," nasehat suci.
Di mediasi kan Bang dengan pihak keluarga, Ngak usah di pendam sendiri, Allah itu memang menghalalkan perceraian tapi hal itu paling di benci olehnya, Itulah sebabnya kenapa ketika suami - istri mengajukan gugatan cerai di pengadilan, akan di beri waktu mediasi, lagi pula dalam islam di berikan waktu talaq hingga tiga kali talaq, dan di perbolehkan dua kali rujuk, jika kamu merasa istri kamu salah, kamu peringatkan dia dengan baik-baik, kamu ajari dia dan kamu jabarkan hukum-hukumnya, tapi jika masih ngak mau juga, tinggalkan dia kalian bisa pisah ranjang untuk sementara waktu," papar Suci sambil mengusap pundak Ghael.
Ghael masih tertunduk dengan tubuh yang sedikit condong kearah depan, bulir bening pun menetes mengalir di pipi halus nan mulus itu.
Ghael berusaha untuk tenang seraya menyapu air matanya.
"Hiks, tapi semua itu sudah Abang lakukan Oma hiks hiks, tetap saja Alia kukuh minta cerai hiks hiks hiks, Astafirullahal azim hiks hiks." Ghael mengucap sambil mengusap wajahnya, tubuhnya terasa lemas seketika.
Suci sampai meneteskan air matanya.
"Hiks emangnya masalah kalian apa sih Bang? baru satu bulan kalian menikah, tapi sudah ingin bercerai saja, konflik dalam rumah tangga itu biasa, apalagi kalian ngak pernah pacaran sebelumnya, mungkin Alia butuh waktu Bang!"Suci.
"Hiks, Satu bulan rasanya cukup Oma, jika ia ingin berubah setidaknya ia buka hatinya bukan malah mengunci hatinya semakin rapat hiks hiks,"papar Ghael sedih.
Hadi mendekat kearah Ghael, mereka masih binggung dengan masalah rumah tangga Ghael.
"Bang ini bukan masalah orang ketiga kan?"tanya Hadi buka suara.
"Hiks, ngak tahu Opa, yang jelas sejak pertama menikah Alia ngak mau di sentuh sama sekali, hiks hiks,"ucap Ghael dengan bibir yang gemetar menahan sedih dan malunya.
"Hiks hiks, Abang rasanya ngak punya harga diri Oma beberapakali abang coba membujuk dan merayu tapi ia tetap menolak, rasanya malu sekali di tolak sama istri sendiri, jadi Abang biarkan saja," tutur Ghael.
Suci ikut sedih ia pun merangkul cucunya tersebut.
"Hiks hiks, iya Bang jika seperti itu menurut Oma tindakan Abang sudah tepat." Suci.
"Tinggalkan saja istri yang durka seperti itu, Abang layak dapat yang terbaik, hiks hiks." Suci begitu sedih mendengar penururan Ghael.
"Tapi Oma, Abang masih cinta, lagi pula Abang takut perpisahan kami akan berdampak pada hubungan kedua keluarga." Ghael.
Dengan lembut Suci mengusap punggung Ghael.
"Bang Mama kamu dan Ayah Alia itu saudara kandung, jadi ngak mungkin hanya karna anak-anaknya memutuskan untuk berpisah, trus kalian bisa memutuskan hubungan silahturahmi antara mereka, Oma juga yakin jika Ayah Alia mengetahui apa yang terjadi ia juga tak akan menyalahkan kamu," papar Suci.
Suci dan Hadi sampai menangis, mereka tak menyangka jika cucu mereka yang terlihat sempurna, di tolak mentah-mentah oleh istrinya sendiri.
Setelah puas mencurahkan keluh kesahnya, Ghael pun pulang hingga selepas isya.
Meski sakit tapi ia sudah mantap untuk pergi.
__ADS_1
Ghael pulang kerumahnya dan langsung menuju kamarnya.
Alia sedang memiringkan tubuhnya berbaring si salah satu sisi tempat tidur, ia begitu kecewa terhadap Bagas hingga terus terpikirkan olehnya.
Sementara Ghael mencoba bersikaf tenang, ia yakin Tuhan pasti memberinya yang terbaik.
Ghael berbaring di samping Alia yang sedang melamun.
"Alia boleh kan malam ini Abang memeluk untuk yang terakhir kali?"tanya Ghael sambil menahan air matanya.
Ehm, Alia menjawab dengan berguman.
Ghael pun memeluk Alia, kemudian mencium belakang kepalanya, mungkin inilah hari terakhir keduanya tidur bersama.
Hanya sebatas memeluk dan mencium kepala Alia. ia tak ingin berlebihan karna hanya akan menimbulkan syahwatanya.
Ghael mengusap lembut kepala Alia hingga ia terlelap dan pelukan tersebut terlepas dengan sendirinya.
Sementara Alia hatinya masih membatu, meski ia tahu jika ia dan Bagas merupakan suatu hal yang mustahil lagi, namun ia juga tak bisa menerima Ghael,karna perasaan itu tetap saja sama, ia menganggap jika Ghael adalah saudaranya, tak ada kata-kata yang terucap dari keduanya hingga keduanya terlelap.
***
Pagi hari mentari bersinah cerah.
Alia sedang bersiap untuk ke kantor, sementara Ghael membereskan pakaiannya.
Semua yang penting sudah di masuk kanya kedalam koper, hanya tinggal pakaian sehari-harinya yang tak begitu penting.
Ghael memasukan pakaiannya yang tertinggal kedalam kotak kemudian menyimpannya di gudang.
Semua sudah bersih, barang-barang Ghael sudah tak bersisa.
Setelah selesai Ghael menghampiri Alia mencoba mengajaknya bicara.
"Alia, nanti sore Abang jemput kamu untuk yang terakhir kali, setelah itu Abang akan langsung ke bandara." Ghael.
Alia melirik ke arah Ghael, ada rasa sedih di hatinya, tapi apa boleh buat ' cinta memang tak bisa di paksakan'
"Setelah kepergian Abang, bukan bearti kamu bebas, jaga dan tahan diri kamu, sebelum talaq benar-benar jatuh ke kamu, Talaq pertama jatuhnya tiga bulan, yang kedua tiga bulan dan yang ketiga tiga bulan, setelah itu kamu boleh menentukan hidup kamu sendiri, setelah semua berakhir Abang harap kita masih bisa menjalin ke kerabatan dengan baik," ucap Ghael dengan tenang meski hatinya begitu hancur.
Alia masih bergeming.
"Ayo Abang masih ada urusan di kantor," ucap Ghael.
Alia pun beranjak.
__ADS_1
Bersambung, Oh akan kah ada keajaiban yang datang, di tunggu partisipasinya reader tersayang 😊