
🌷Perhatian part ini mengandung adegan dewasa, untuk di bawah umur di skip saja ya, jangan lupa like, komentar,dan votenya, beri author hadiah yang banyak ya, biar author semangat.🌷
Aldi mencoba menelan salivanya melihat Aira yang kini polos tanpa sehelai benang pun.
Ia kembali menjejalkan mulutnya salah satu bukit kembar, menghisapnya dan memainkan lidahnya sementara tangan satu nya merayap menuju lembah yang kini terasa semakin lembab dan perlahan mulai basah.
Aldi menegakkan tubuh nya agar iya bisa membuka resliting celana nya dan melepas kan nya.
Tubuh Aira sudah meliuk-meliuk, dan membuat si buyung yang awalnya ngambek kembali berselera.
Aldi sudah tak sanggup menahan, kini ia bersiap mengambil posisi yang nyaman.
"Akhh, Akhh," suara ******* Aira.
Aldi berhenti dari gerakanya, dan beralih memperhatikan Aira.
"Belum Aira, belum juga di tancepin, udah desah aja, anjir jadi pingin tertawa gue." kata Aldi sambil tersenyum geli melihat Aira menggelepar, seperti ikan yang baru di tarik dari pancingan.
"Oh,belum kah mas?" ucapnya sambil tersenyum malu-malu kucing.
"Ya, di kasi makan apa bini gue sama simbok? simbok-simbok, tapi ngak gini juga keles," guman Aldi sambil menggelengkan kepalanya.
"Mas kok berhenti, jadi ngak nih?" tanya Aira yang seolah tak sabar.
"Ha.."Aldi tersadar dari begong nya.
"Jadi dong, i am coming baby,"
Aldi pun kembali ke posisi awal, yaitu berada diatas tubuh Aira, Dengan nafas yang memburu, Aldi langsung menyambar bibir sensual milik istrinya dan mengecupnya berkali-kali, setelah membuat Aira hampir tak bernafas karna serangan brutal,yang menghalangi oksigen masuk dengan lancar, wajah Aldi pun berpindah ke bukit kembar yang kini juga ikut menegang, Aldi melahapnya tanpa ampun, lidahnya menari-nari di puncak yang berwarna coklat muda tersebut.
Aira mengeliak-liak, jemarinya meremas rambut Aldi dan yang satu nya memeluk tubuh Aldi kuat.
Aldi pun meraba dengan pelan, lembah basah yang membuatnya penasaran dan semakin meremang kan bulu romanya itu.
Sibuyung sudah sangat siap untuk bertempur, Aldi pun mendorong pelan memasukkan sibuyung ke celah yang sempit itu.
"Ihs, lembutnya," desah Aldi, saat kulitnya menyentuh lembah dangkal yang akan membawanya ke telaga surgawi.
Sibuyung dengan perlahan masuk, Aldi menghentikan gerakanya sebentar untuk menikmati sensasi berdenyut-denyut
"Akw, esh," Aldi kembali dengan gerakannya.
"Akh, mas sakit mas," ucap Aira lirih ketika serangan sibuyung mulai menyentuh dan mendorong dinding suci miliknya.
"Akh," sedikit lagi sayang," ucapnya lirih sambil menghentak dengan lebih kuat lagi.
"Akh, akh,",
Suara itu tak berhenti terucap dari bibir Aira, ia pun menggit lembut bibirnya, menimati gerakan yang membuat tubuhnya berguncang hebat.
Meski suara itu seperti rintihan rasa sakit, tapi si buyung tetap tak perduli, ia terus saja menghantam dengan serangan bertubi-tubi ke arah dinding suci tersebut.
Aira menggigit bibirnya, menahan rasa sakit dan nikmat.
"Aira, are you oke, jangan pingsan lagi ya Aira," bisik Aldi di telinga Aira.
"Ngak akan mas, kalau nikmat kayak gini ngapain pingsan," racau Aira.
"Akh, ah, "
Sibunyung tetap memaksa masuk dan berhasil menerobos dinding suci tersebut.
Seketika Aira meregang karna merasakan Sakit dan perih.
"Akh," tangisnya.
Air mata pun perlahan menetes membasahi pipinya.
"Apa kau menyesal Aira? tanya Aldi yang melihat air mata membanjiri pipi mulus sang istri, sejenak gerakan nya terhenti.
"Ngak kok mas, Mas Aldi kan suami Aira" ucapnya sambil menyapu tetesan keringat di wajah Aldi.
__ADS_1
Aldi mencium kening Aira dan membisikan sesuatu ke telinganya, "Terima kasih sayang," ucap Aldi.
Aldi pun melanjutkan perburuanya untuk mencapai klimax.
Aldi terus menyambar bibir seksi yang membuatnya mabuk kepayang, sementara tubuh nya tetap berayun.
"Ehm nikmat sekali sayang," guman nya kembali menyambar bibir sensual itu, kini Aira membalas nya dengan lebih ganas dan itu membuat hasrat mereka memuncak.
"Akh ehm,"
Aldi mempercepat gerakanya sehingga tubuh Aira berguncang hebat.
Aira memeluk erat tubuh Aldi, baru kali ini ia merasakan sensasi nikmat yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
"Aira!" Desah Aldi.
" Masih mau sayang?" tanya nya ketika klimas sudah hampir mencapai puncaknya.
"Iya mas," sahut Aira lirih sambil menggit bibirnya, Ia masih ingin menikmati serangan si buyung.
"Kita akhri ronde ini dulu ya, nanti kita lanjut kan lagi," ucap Aldi sambil menambah laju gerakanya.
Akh, akh.. akh... sura lirih keduanya saling sahut menyahut.
Aldi mendorong sibuyung lebih dalam hingga membenam di dasar samudra kenikmatan.
"Akh lega," ucap Aldi ketika sibuyung memuntahkan lahar hanggat.
"Ehkm," Aira menikmati sesuatu yang mengalir hangat di dalam sensitifnya.
Tubuh Aldi ambuk di atas tubuh mungil istrinya, keringat membanjiri keduanya, keduanya merasa panas meski ruangan tersebut dingin karna AC.
Aldi mengangkat wajahnya dan melihat wajah sang istri yang terlihat lelah.
Seketika keduanya melempar senyum pertanda bahagia, kecupan mendarat di bibir dan kening Aira sebelum tubuhnya kembali roboh di samping istrinya.
Aldi memeluk Aira dan berkali-kali mendarakam ciuman di wajah nya.
"Sama-sama Mas, tapi Aira belum puas pingin nambah part nya," ucap nya sambil membelai wajah Aldi.
"Ampun Dj," ucap Aldi sambil tertawa kecil.
"Nafas gue aja masih ngos-ngosan eh dia malah minta lagi, ntar mas Aldi tanya si buyung dulu ya," ucapnya sambil bercanda.
"Iya tapi ngak usah lama-lama ya," pinta Aira manja.
Karna merasa tertantang, belum lima menit, si buyung pun bangkit kembali.
Aldi bangkit dan kembali mencumbui istrinya.
"Aira kali ini mau gaya apa?" tanya Aldi, kali giliran Aldi yang ingin memuaskan hasrat sang istri.
"Terserah mas, yang penting bukan gaya batu, " sahut Aira sambil bercanda.
"Kalau gaya batu, tenggelam dong sayang," ucap Aldi sambil tertawa kecil mendengar jawaban spontan istrinya.
"Kalau gitu gaya kupu-kupu saja Mas," jawab Aira asal.
"Asiap biar sama-sama terbang kita," ucap Aldi.
Aldi mengambil posisi duduk, kini giliran Aira berada di atas tubunya dan membenam kan sibuyung.
Mereka pun sama sama terbang melewati langit tujuh bidarari.
Di dapur.
"Mbok tadi suplemennya sudah di kasi sama mas Aldi kah?" tanya mang ujang.
"Hah, suplemen itu bukan untuk mas Aldi tapi untuk non Aira," sahut simbok.
"Hah, untuk non Aira, kenapa ngak bilang sih mbok." ucap mang ujang khawatir.
__ADS_1
"Emang kenapa Pak?" tanya simbok santai.
"Itu suplemen untuk lelaki dewasa yang kelilangan gairah mbok, kalau non Aira yang minum bisa kalah fulset mas Aldi, mbok," ucap mang ujang.
"Ngak full set juga. paling cuma macth point, mas Aldi kan masih muda," ucap simbok sambil tertawa terkekeh.
"Emangnya pertandingan bulu tangkis mbok." ucap mang ujang sambil tersenyum simpul.
Satria melewati kamar Aldi, ia mendengar suara yang sedikit berisik.
Karna sifatnya emang usil, Satri mencuri dengar dengan menempelkan telinganya di pintu kamar Aldi, tapi ke pergok Heru.
"Pa, lagi ngapain sih?" tanya Heru curiga.
Satria hanya bisa nyengir dan menjadi salah tingkah, karna ke pergok Heru,
"Ngak papa lihat kok, pintu kamar Aldi kok cat nya mengelupas-ngelupas," sahutnya mencari alasan.
"Lagian si Aldi baru pulang kerja saja udah mekap dalam kamar aja, lagi ngapai sih dia, masih sore juga."
"Biarin aja Pa, namanya juga penganten baru," sahut Heru. yang berlalu meninggal kan Satria.
"Si Aldi bikin ngiri aja," ucap Satria sambil berlalu.
Hingga menjelang makan malam Aira dan Aldi belum juga keluar dari kamar.
Aldi memeluk tubuh Aira dari belakang.
"Aira mas Aldi ingin agar kamu bisa hamil secepatnya," ucap Aldi sambil membelai rambut Aira.
Aira yang sempat terlelap tersebut, langsung tersadar.
"Aira belum siap Mas, Aira masih ingin sekolah, kan ngak lucu kalau Aira daftar sekolah pas lagi hamil," sahut nya sambil berbalik menatap wajah Aldi.
"Aira kamu ngak perlu juga sekolah formal, Mas kan mampu untuk menafkahi kamu, jadi kamu cuma ngurusin Mas Aldi dan anak kita saja."
"Iya sekarang mas, mas Aldi bisa bicara seperti itu, jika nanti suatu saat kita berpisah, Aira mau kerja apa kalau ngak sekolah, lagi pula Aira masih ingin menikmati masa remaja Aira, Aira ingin punya teman, Aira ingin belajar di sekolah, ke kantin, bermain sambil belajar dengan teman-teman sebaya Aira mas," ucapnya sedih.
"Mas Aldi ngerti Aira, tapi kan kalau mama sampai tahu jika Aira ngak hamil, Mama pasti nyuruh kita berpisah Aira," ucap Aldi lirih.
"Itu semua tergantung mas Aldi, Aira kan menikah dengan Mas Aldi, bukan dengan mamanya mas Aldi, "sahut Aira kesal.
"Kamu ngak tahu Aira, seperti apa mama, kalau kamu hamil kan mas Aldi punya alasan untuk berkeras demi mempertahan kan pernikahan kita," ucap Aldi sambil menatap sayu pada wajah Aira.
"Jadi mas, apa yang sudah kita lakukan saat ini, tak bisa jadi alasan bagi mas Aldi untuk mempertahankan pernikahan kita mas," ucap Aira sedih,matanya pun berkaca-kaca.
"Bukan begitu sayang, sekarang saja mama maksa mas Aldi agar mau menikah dengan putri dari sahabatnya sendiri," ucap Aldi sambil memeluk Aira.
"Apa Mas, baru saja kita melewati malam pertama dan mas Aldi sudah punya rencana untuk menikah lagi?" tanya Aira sedih, air mata pun mengalir deras.
Aldi terdiam.
"Kalau memang mama menyuruh mas Aldi untuk menikahi wanita lain, kenapa mas harus menikahi Aira, kenapa tak menikah denganya saja?" tanya Aira semakin sedih.
Aldi tak mampu berkata-kata lagi.
"Kenapa mas Aldi harus menghancurkan masa depan Aira, mas?"
"Apa karna Aira sudah berhutang terlalu banyak pada Mas Aldi?"
"Tapi ini bukan pilihan Aira Mas, kenapa mas Aldi menikahi Aira, jika hanya untuk menyakiti perasaan Aira," ucapnya dengan emosi.
"Aira tahu mas, hidup Aira sudah di beli sama Mas Aldi, tapi Aira kini sudah menjadi istri mas Aldi, setidak nya hargai apa yang sudah terjadi di antara kita saat ini, Aira mempertahan kesucian Aira hingga Aira hampir meregang nyawa, setelah mas Aldi sudah mendapatkan semua, Mas Aldi baru bilang pada Aira jika mas Aldi di paksa menikah lagi, kenapa tak mas Aldi tak bilang sebelumnya, kenapa Aira harus menikah dengan mas Aldi," tanggis nya pecah.
Aldi meneteskan air matanya, ia tak bermaksud membuat Aira terluka, ia hanya ingin mencoba berkata jujur, tapi Aira justru salah menanggapi.
Aldi mencoba memeluk Aira, tapi tanganya di tepis oleh Aira, dan Aira menangis sambil membenamkan wajahnya ke bantal, ia menangis sejadi-jadinya.
"Kini Aira Aira seperti bunga yang layu sebelum berkembang Mas," sesalnya sambil menangis sejadi-jadinya.
Aldi terdiam memaku melihat Aira yang terlihat hancur akibat perbuatanya.
__ADS_1
Like dan komen nya jangan lupa biar author semangat up nya ta reader.