Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Cemburu yang tak terlihat


__ADS_3

Tari menyajikan tongseng tersebut di atas mangkok, satu bungkus ia berikan untuk Aira, sedangkan yang lainya ia bagi bersama Romeo.


"Nih, Rom kita bagi berdua," ucap Tari menyodorkan sendok untuk Romeo.


"Loh makan saja," sahut Romeo ketus tanpa menoleh kearah Tari, sementara ia terus menatap layar handphonenya.


"Ya udah, "sahut Tari tak kalah ketus,ia sudah biasa dengan sikap Romeo yang seperti itu.


Pasangan tersebut pun saling berdiam diri dengan kesibukannya masing-masing.


Setelah Heru tiba di ruangan perawatan Aldi, Tari memutuskan untuk pulang.


"Rom, sebentar lagi magrib, kita pulang yuk, "ajak Tari memecahkan kebisuan di antara mereka.


Selama ini memang Tari yang sering memulai pembicaraannya terlebih dahulu, jadi ia tak heran jika Romeo tak akan bicara jika ia tak memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Ada rasa bosan di hatinya menanti sang suami membuka hati untuknya.


Dengan langkah longkai Tari mendekati Aira dan Aldi yang sedang bercanda tawa.


Ada rasa iri di hatinya, melihat kedua pasangan tersebut saling open minded, sementara ia dan Romeo terkesan tertutup.


"Di, gue harus pulang, besok gue kesini lagi," ucap Tari.


"Iya, hati-hati,"Aldi.


Tari kembali menuju sofa untuk membawa buket pemberian Sandy.


Kemudian ia menghampiri Romeo yang sudah menunggu di depan pintu.


Dengan mesra Tari merangkul tangan Romeo, sementara tangan yang lainya membawa buket bunga.


Suasana sepi dan sunyi mengiringi pasangan pengantin baru tersebut, yang terdengar hanya suara ketukan sol sepatu Tari mengiringi langkahnya.


Saat keluar dari pintu lift mereka kembali berpapasan dengan Sandy yang juga hendak pulang.


Sandy tersenyum saat melihat Tari membawa buket pemberianya, namun yang membuatnya menarik kembali senyumnya ialah, ketika melihat pria tampan yang digandeng mesra oleh Tari.


Siapa pria itu?


Sandy terdiam sesaat dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri Tari, padahal baru saja ia ingin menemuinya.


Sementara Tari, ia berusaha menghindari Sandy, dengan berpura-pura tak melihatnya.


Kesunyian terus mengiringi langkah mereka saat keduanya memasuki mobil.


Tari menutup pintu mobil dengan rapat, kemudian ia meletakan buket tersebut dengan hati-hati di pangkuanya.


Mobil Romeo berjalan lamban keluar dari halaman parkir.


Mata Romeo menatap sinis kearah Tari yang sedang melihat pemandangan dari arah luar jendela.


Ia juga binggung harus bicara dan memulai dari mana percakapan mereka, mereka seperti orang asing yang tak saling mengenal.

__ADS_1


Namun tiba-tiba sebuah pertanyaan lolos begitu saja dari mulut Romeo.


"Siapa Sandy, Tar?"tanya Romeo ketus dan secara langsung memecahkan kesepian di antara mereka.


"Sandy? Maksud mu pengirim bunga ini?"tanya Tari antusias.


Lirikannya melihat kearah buket yang ada di pangkuannya tersebut.


Romeo tak bergeming, ia hanya melirik sesaat kemudian tatapan matanya kembali tertuju pada jalanan yang mulai padat.


"Sampai di mana hubungan mu dengannya?"tanya Romeo dengan nada yang masih datar.


Ehm,.Tari gelalapan.


"Sandy? Kami cuma teman kok, ngak ada hubungan apa-apa," sahut Tari.


"Teman tapi demen?" Cetus Romeo


Mendengar ucapan Romeo membuat sedikit bereaksi, ia pun memutar tubuhnya sedikit agar menghadap kearah Romeo.


"Loh kenapa sih Rom? Cemburu ya?"tanya Tari sedikit merasa senang.


Romeo melirik sekilas kearah Tari kemudian kembali menatap pemandangan yang ada di depanya.


"Ehm, Cemburu? ngak kok,"sahutnya lagi dengan enteng.


Jawaban Romeo semakin membuat Tari sakit hati, entah kenapa ia merasa sakit, saat Romeo menunjukan sikap ketidak perduliannya, bulir bening pun perlahan menetes di pipinya.


"Harusnya gue ngak maksa loh Rom, nyatanya ada kok pria yang dengan tulus mencintai gue, dan menghargai gue tanpa paksaan," ucap Tari dengan pandangan matanya mengacung ke arah jendela.


Ia berusaha mengontrol emosinya.


Melihat sikap Tari yang tak biasa, Romeo justru merasa binggung.


"Maksud loh apa Tar?"tanya Romeo sambil menyeritkan dahinya.


"Ngak ada maksud apa-apa hanya berusaha untuk sadar diri,"sahutnya ketus.


Romeo menyeritkan dahi, tak ada kata apa pun yang terucap darinya hingga mereka tiba di rumah, masing-masing mereka bertahan dengan ekspetasi mereka sendiri.


Sesampainya di rumah Tari langsung keluar dari mobil dengan membawa buket tersebut.


Dengan sengaja ia meninggalkan Romeo dan langsung berjalan menuju kamarnya.


Setibanya disana, Tari langsung meletakan bunga tersebut ke ke dalam vas bunga yang berukuran besar serta meletakannya pada meja bundar kecil yang ada di salah satu sudut kamarnya.


Romeo sendiri merasa heran atas perubahan sikap Tari yang drastis.


Setelah memakirkan mobilnya, ia pun langsung menuju kamar.


Saat membuka pintu, Romeo kembali mendapat sambutan sinis dari Tari.


Tari yang biasanya hangat dan memanjakannya, kini berubah menjadi dingin.

__ADS_1


Romeo melepaskan pakaian kerjanya, dan meletakanya di atas tempat tidur, ia bermaksud mengganti pakaianya.


"Tar, baju ganti buat gue mana?" tanya Romeo sambil melepas penutup bagian bawahnya dan hanya menyisakan segi tiga pengaman.


Melihat senjata sang suami yang tersembunyi di balik segitiga pengamannya, ingin rasanya Tari mengakhiri masa ngambeknya, jujur saja ia ingin mendengar kata-kata manis dari Romeo yang membujuk dan merayunya.


Namun ia juga tak mampu menahan hasratnya, karna sudah tergila-gila dengan benda pusaka milik suaminya tersebut.


Bayangan nakal mulai menghampiri Tari, tapi coba ia tepis, ia tak ingin terlihat lemah di mata lelaki yang telah menikahinya tersebut.


"Ambil saja sendiri," sahut Tari ketus sambil membelai salah satu kuntum bungga mawar yang di atas meja.


Romeo sedikit syok mendengar jawaban ketus Tari, tak mau kalah gengsi' ia pun mengambil sendiri pakaianya dan meletakanya di atas tempat tidur.


Sedang pakaian kerjanya ia campakan di atas keranjang khusus pakaian kotor.


Kemudian ia memakai handuk dan menuju kamar mandi.


Setengah jam, waktu yang di habiskan Romeo untuk membersihkan tubuhnya.


Sementara Tari, ia sedikit pun tak beranjak dari tempat duduknya, ia seolah tengah asik mengagumi keindahan dari kelopak mawar yang merekah yang kini ada di hadapanya , seulus senyum terbit di bibirnya, saat melihat Romeo yang keluar dari kamar mandi dengan wajah yang cemberut serta sorot mata yang sinis ke arahnya.


Waktu berlalu terus berlalu, malam semakin larut, keduanya tetap bungkam meski berada di satu ranjang yang sama.


Keduanya saling melirik sinis tapi tak ada satu pun yang berniat membuka suaranya.


Waktu terus merangkak naik, membuat mata Tari mengantuk, ia mencoba menggoda Romeo dengan pakaian minimnya, sebuah linggeri hitam yang menampakan kemolekan lekuk tubuh serta belahan dadanya.


Tari memiringkan tubuhnya sambil mengerakan pahanya keatas bantal guling, agar linggeri tersebut tersingkap dan membuat Romeo tergoda dan memintanya terlebih dahulu.


Namun sikap Romeo malah semakin acu, karna lelah menunggu akhirnya Tari memutuskan untuk tidur, dengan hati dongkol ia berupaya memejamkan matanya.


Baru beberapa saat memejamkan matanya, Tari kembali melek karna mendengar suara lirih Romeo yang memanggilnya.


!"Tar. Tari,! "panggil Romeo dengan suara lirihnya.


"Ehm, ada apa sih Rom?" Hati Tari berbunga-bunga.


Tari semakin menggeser posisinya mendekati Romeo.


"Tar, geser sedikit dong, sempit Nih," dengus Romeo.


Mendengar ucapan Romeo tersebut Tari merasa kesal.


Ia berharap agar Romeo membujuknya terlebih dahulu, namun ia kembali merasa kecewa saat mengetahui Romeo telah tertidur dengan pulas di sampingnya.


Tari kembali menarik selimutnya dan mencoba menutup matanya meski hatinya merasa dongkol.


💞💞💞


Author up dikit dulu ya, tetap setia dengan kisah ini ya, karna di akhir kisah ada sesuatu yang tak terduga.


Like, komentar, saran dan kesannya yang membangun,agar kisah ini semakin menarik ☺

__ADS_1


__ADS_2