Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Curahan Hati


__ADS_3

Heru dan Aira sampai di rumah sakit dan langsung menghampiri Heru.


Tak hanya Heru, kedua orang tua Clarisa juga ada di sana dan menangisi dan menyesali kejadian tersebut.


Wajah tampan Heru terlihat sembab dengan derai air mata yang mengalir dengan deras membasahi pipinya.


Sesekali Heru menarik dan membuang lelehan dari cairan yang keluar dari hidungnya.


"Mas," sapa Aira dan Aldi saat berada di hadapan Heru.


Heru bangkit kemudian memeluk adiknya, segala perasaan sedih ia larutkan dalam tangisan pilunya.


"Clarisa telah pergi untuk selama-lamanya Di, " ucap Heru tersendat-sendat.


"Iya Mas Sabar, ya, "ucap Aldi sambil menepuk- nepuk pundak Heru.


"Ngak ada lagi yang selalu di tunggu dan selalu mas Heru nantikan kehadirannya," ucapnya lirih dengan suara yang hampir habis.


Heru menarik napas panjang kemudian melepaskan pelukanya.


Mereka pun duduk dengan posisi Heru berada diantara Aldi dan Aira.


Kedua tangan mereka merangkul Tubuh tegap Heru namun hatinya kini sedang rapuh.


"Mas kenapa Mbak Clarisa bisa seperti ini sih?"tanya Aldi.


"Mas Ngak tahu secara pasti, saat bertemu dengannya, Clarisa sudah hamil, ia mengeluhkan kdrt yang sering dialaminya."papar Heru seraya membersihkan cairan yang meleleh di hidungnya.


Heru terlalu sedih, hingga membuatnya tak berhenti menangis dan menyesali peristiwa yang terjadi.


Mereka terdiam menyimak penuturan yang di ucapkan oleh Heru.


"Mas Heru berusaha membantunya terlepas dari cengraman suaminya, agar ia terbebas, mas juga berniat membayarkan hutang orang tua Clarisa kepada suaminya, agar suaminya bisa membebaskan Clarisa dan menceraikanya, tapi sebelum itu semua terjadi, Clarisa sudah pergi untuk selamanya," ucapnya seraya kembali menangis terisak.

__ADS_1


Mereka berdua ikut sedih, apalagi Aldi tahu seperti apa kehilangan orang yang kita cintai.


"Mas ngak habis pikir Di, kenapa ini semua bisa terjadi, padahal Clarisa itu gadis yang sangat baik, dan tak banyak menuntut, hanya dia yang menggerti dan memahami kesibukan mas Heru, tak pernah sekali pun ia marah jika mas Heru tak punya waktu untuk menemuinya, bahkan ia yang selalu datang menghampiri mas, saat mas Heru tak bisa menjemputnya, kami jarang sekali bertemu dan jalan bersama, tapi kami sama-sama percaya dengan hubungnya yang telah kami bina, makanya saat LDRan mas Heru tetap menjaga hati, karna mas Heru tahu disana Clarisa memperjuangkan cita-citanya agar pernikahan kami mendapat restu dari kedua orang tuanya."


"Orang tua Clarisa ingin agar Clarisa menyelesaikan S2nya sebelum kami menikah, saat itu kami sudah berjanji untuk saling setia dan menjaga cinta kami, dan ketika ia kembali, mas Heru akan segera melamarnya, karna syarat mendapatkan restu dari orang tuanya sudah terpenuhi." Heru kembali menarik ingusnya.


"Tapi ternyata, ia malah di paksa menikah sebagai alat pembayaran hutang orang tuanya, andai saja, andai saja orang tuanya meminta uang 2 miliar kepada Mas Heru sebagai syarat tambahan untuk mempersyunting Clarisa, niscaya mas Heru akan berusaha untuk mendapatkanya, sekarang, Mas Heru benar-benar kehilangan Clarisa untuk selamanya," ucap Heru seraya menangis menyesali semua yang terjadi.


Keduanya pun memeluk Heru bersamaan, mereka ikut haru mendengar kisah singkat cerita cinta Heru, yang tak banyak mereka ketahui.


Kesokan harinya, Clarisa dimakamkan, sebagai belasungkawa, kedua saudara dan adik ipar Heru turut ikut dalam pemakaman Clarisa, dengan memakai pakaian serba hitam sebagai ungkapan bela sungkawa yang terdalam.


Heru nampak terlihat sedih, namun kedua saudaranya yakni Tari dan Aldi selalu merangkulnya dan tak membiarka saudara tertua mereka terpuruk dalam kesendirian dan kesepian.


Keadaan pemakaman sudah sepi, hanya tinggal Heru dan saudara-saudaranya.


Setelah mempersembahkan doa terakhir, Heru meletakan mawar hitam diatas pusara Clarisa.


"Selamat Jalan Clarisa, kau benar jika tak ada yang abadi di dunia ini, suatu saat aku juga akan menyusulmu, semoga kau tenang disana, disini aku hanya bisa mengirimi doa untukmu, seperti permintaanmu yang menunggu ku di kehidupan yang abadi," ucap Heru lirih seraya menyiram air dan kembang yang bercampur potongan daun pandan.


***


Waktu berlalu dengan cepat, sudah seminggu kejadian tersebut, namun rasa pilu itu masih terasa menyesakkan dadanya.


Heru menatap malam kelam tanpa bintang di balkon kamarnya, bayangan Clarisa yang meregang nyawa di hadapanya terus terkenang dan terngiang-ngiang.


Membuatnya merasa bersalah.


Heru turun untuk menemui Aldi di meja makan.


Heru menarik kursi meja makan ketika melihat pasangan suami istri tersebut sudah berada di meja makan.


"Aldi, ada yang ingin mas sampaikan," ucap Heru seraya duduk dengan tenang

__ADS_1


"Oh kalau gitu, ada yang juga, ingin Aldi sampaikan pada mas Heru ," ucap Aldi.


Heru menyeritkan dahinya," Kalau gitu kamu yang duluan," saran Heru.


"Mas, Aldi mau ijin sama mas Heru untuk membawa mama kerumah ini," ucap Aldi spontan.


Heru menegakkan tubuhnya.


"Aldi ini tuh rumah milik kamu, kamu berhak membawa siapa pun untuk tinggal di rumah ini, apa lagi itu mama kamu," ucap Heru.


"Iya Mas, tapi mas Heru kepala rumah tangga di sini, tentunya aku harus ijin," ucap Aldi.


"Aldi, mas Heru tinggal disini hanya untuk menemani kamu dan menjaga kamu sampai pikiran kamu benar-benar dewasa, sehingga kamu tak mengambil tindakan yang akan merugikan diri kamu sendiri, dan mas rasa, tugas Mas Heru juga sudah selesai, karna kamu sudah memiliki keluarga, sekarang mas akan menyerahkan kepemimpinan rumah dan perusahan, semuanya mas Heru kembalikan kepada kamu,Mas Heru ingin membangun usaha mas Heru sendiri," paparnya.


"Maksud Mas Apa?"tanya Aldi seraya mengerutkan dahi.


"Mas Heru mau pindah ke Ci jantung, sebentar lagi pabrik mas Heru mulai beroperasi, dan mas harus mempersiapkanya segala sesuatunya secapat mungkin, " papar Heru.


"Iya mas kami mengerti, semoga saja di sana mas Heru bisa melupakan Clarisa dan segera mendapat jodoh di sana,"ucap Aldi.


"Kalau melupakan ngak mungkin Di, karna apa yang terjadi pada kami tak mungkin bisa di lupakan, hanya saja mas Heru akan coba menata dan membuka hati kembali, mas Heru percaya, jika memang sudah takdir, maka kami akan di persatukan kembali di kehidupan berikutnya," papar Heru.


"Betul Mas, tak baik jika terus larut dalam kesedihan yang panjang, kebahagian dan masa depan cerah menanti mas Heru di depan mata, Aira yakin, Clarisa pasti bahagia jika melihat mas Heru bahagia," tutur Aira.


"Iya kamu benar, hidup masih terlalu panjang untuk di perjuangkan, kehilangan seseorang memang akan meninggalkan kesedihan yang mendalam, tapi bukan bearti kita terus-terusan menyesali dan membiarkan waktu begitu saja berlalu, yang terpenting sekarang bagaimana kita memperjuangkan hidup yang tak panjang ini sembari menyiapkan bekal untuk perjalanan menuju kehidupan yang abadi," papar Heru seraya tersenyum.


Mereka senang, akhirnya Heru kembali bangkit, setelah seminggu terpuruk.


Hidup memang terlalu singkat untuk menangisi semua yang terjadi, untuk apa terus terlarut dalam kesedihan, jika kebahagian masih bisa kau perjuangkan,


Sekian episode hari ini, bersambung ya guys, jangan lupa like dan dukunganya.


mampir juga ke novel terbaru author ya dengan judul: Istri pengganti tuan muda yang cacat, yang ngak kalah menguras emosi, klik profil author untuk menemukannya.

__ADS_1



__ADS_2