
"Tinggal sentuhan akhir say, ganti pakaian kamu dulu dengan gaun penantinnya, "ucap MUA tersebut.
" Okeh, kamu minta bantuan suami kamu untuk mengenakan gaunnya ya say, eke keluar dulu," ucap MUA tersebut.
Hah, Alia kebingunggan, ketika ia di tinggal hanya bersama Ghael.
Ghael tersenyum, ia pun berdiri, "Sini aku bantu kamu Alia," tawa Ghael.
Ghael mendekati manaken dan melepas gaun pengantin pada manaken tersebut.
Alia binggung bagaimana caranya ia mengenakan gaun tanpa harus membuka pakaiannya, karna ia sendiri malu jika harus membuka piyamanya di depan suaminya.
"Ehm Bang, bisa ngak abang balik menghadap belakang karna aku mau ganti baju dulu," ucap Alia dengan gugup ia takut jika Ghael akan tersinggung.
Ghael menatap Alia, "Kamu masih ragu Alia? aku ini suami kamu Alia, cepat atau lambat kamu juga akan jadi milik aku seutuhnya " ucap Ghael.
Alia tetunduk,'Emang benar apa yang dikatakan abang, cepat atau lambat semuanya juga akan terjadi, dan dia harus merela tubuhnya untuk di miliki oleh suaminya,' batinnya.
Alia mengangguk, secara perlahan ia membuka kancing piyamanya, sementara detak jantung Ghael berdetak tak karuan ketika melihat dua gundukan bukit yang putih mulus tertutupi oleh kaca mata hitam berenda yang begitu indah, belum lagi perut ramping sang istri yang membuatnya berkali-kali menelan ludah.
Ghael mencoba menepis bayangan indah yang akan terjadi selama beberapa jam kedepan.
Setelah Alia setengah bugil, ia pun membatu Alia untuk mengenakan gaun pengantin tersebut, seraya menahan hasratnya.
Alia tampak semakin cantik dengan gaun pengantin tersebut, membuat Ghael semakin berbinar.
"Kamu cantik sekali Alia," pujinya sambil tersenyum menatap wajah cantik Alia.
Ghael kembali ingin menikmati manisnya bibir Alia, tapi di tahan oleh Alia.
"Nanti malam saja Bang, tolak Alia," sejujurnya ia masih mengulur waktu.
"Eh ok, kamu bikin Abang semakin penasaran saja Alia, Abang tunggu ya,"ucap Ghael seraya tersenyum.
Deg
Jantung Alia pun berdetak kencang.
'Ya Tuhan, apa aku siap jika harus melakukannya bersama Abang,' batin Alia.
Setelah memakai gaun pengantin tersebut Ghael kembali membuka pintu kamar mereka.
Penata rias pun kembali untuk menyempurnakan sentuhan akhir pada riasan Alia.
"Selesai Cin, aduh kamu makin cantik saja, eke jadi gemez," ucapnya dengan greget.
Ghael tak kalah gemes melihat Alia saat itu.
Alia sudah di rias sedemikian rupa, hingga kecantikannya semakin memancar bak putri kerajaan, sebuah markota bersusun tiga dengan taburan permata yang berkilauan memancar dengan indah menghiasi rambutnya yang tersanggul rapi.
Ghael tersenyum puas melihat istrinya seperti bidadari yang turun dari kayangan, ia semakin tak sabar untuk menikmati madu indah malam pernikahan mereka.
Pengatin Wanitanya sudah terlihat sempurna, begitupun dengan mempelai pria.
Ghael terlihat semakin tampan dengan setelan jas putihnya putih.
Aira masuk ke kamar putrinya melihat persiapan kedua pengantin, karna tamu undangan pun sudah mulai berdatangan.
Aira terpana melihat sepasang pengantin bak dewa dan dewi dari khayangan tersebut.
"Wah, sungguh pasangan yang serasi," ucap Aira.
"Ayo sekarang kalian turun kebawah, " ucap Alia.
Dua orang masuk untuk membatu mengankat ujung gaun pengantin yang panjangnya mencapai enam meter tersebut.
__ADS_1
Keduanya pun keluar dari kamar mereka dengan bergandengan.
Dengan hati-hati Ghael menuntun pengantinnya tersebut menurungi anak tangga.
Semua mata memandang takjub, bak penampakakan dewa-dewi dari kayangan saking serasinya mereka pada saat itu dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa.
Keduanya jadi pusat perhatian tamu yang datang, mereka begitu takjub melihat gaun pengantin indah yang ternyata sudah di jahit lebih dua puluh tahun yang lalu tersebut, bahkan gaun itu sudah ada sebelum sang pengantin lahir.
Raja dan Ratu tersebut pun melangkah menuju pelaminan begitu pun kedua orang tua mereka.
Aira dan Romeo berjalan beriringan.
"Aira akhirnya kita berada di satu pelaminan juga, " ucap Romeo, seraya menyenggol bahu Aira.
"Ihs bukan kita Bang, tapi anak- anak kita Bang," sahut Aira sambil tersenyum simpul.
Ehm, Aldi berdehem mendengar ucapan Romeo.
"Eh, Besan jangan tersinggung Besan,itu sudah jadi kisah masa lalu, he he " ucap Romeo membujuk Aldi yang cemberut.
"Masalalu makanya jangan di ungkit lagi," dengus Aldi yang tetap cemburu.
"Iya, iya sudahlah jangan rusak kebahagiaan anak-anak kita, udah Ah yuk masing duduk pada tempatnya." timpal Romeo lagi.
Aldi dan Aira berada di sisi kanan pengantin, sementara Romeo dan Tari berada di sisi kiri.
Kedua pasangan tersebut tersenyum bahagia menyambut tamu yang menghampiri mereka.
***
Alita dan Bagas masuk dan menuju meja prasmanan untuk menikmati hidangan.
Di sana dari kejauhan Bagas terkesima melihat Alia yang tampak begitu cantik di atas pelaminan.
'Harusnya aku yang ada di sana,' batin Bagas, sebisa mungkin ia menahan air matanya.
Alita melirik menu menu dari meja prasmanan, ia pun berinisiatip untuk meminta Bagas yang memilih.
"Pak mau menu apa?"tanya Alita.
"Terserah," sahut Bagas datar, sesekali ia masih melirik ke arah Alia.
"Empek-empek atau siomai?"tanya Alita lagi.
" Terserah, " masih jawaban yang yang sama.
"Kuburan atau rumah sakit?"tanya Alita bercanda.
Hm, Bagas menoleh kearah Alita, seketika lamunan Bagas pun buyar.
"He he bercanda pak biar ngak tegang, sebelum berhadapan langsung dengan pengantin." Alita.
"Hm." Bagas menyahut dengan deheman.
Keduanya pun memutuskan memilih empek-empek sebagai menu santapan mereka.
Bagas kurang antusias dengan menu tersebut, ia lebih banyak diam dan tertunduk.
"Pak," panggil Alita sambil menyenggol bahu Bagas.
Ehm, Bagas menoleh lagi kearah Alita, tatapannya seakan hampa.
"Makanannya di makan, mubazir," ucap Alita sambil menguyah makanannya.
Ehm, Bagas tertunduk kembali, Alita pun meraih garpu yang ada di mangkok Bagas kemudian menusukan pada potongan empek-empeknya dan menyodorkan ke mulut Bagas.
__ADS_1
"Nih Pak coba rasain, enak loh,"ucap Alita sambil menyuapi ke arah mulut Bagas.
Tanpa penolakan dan seperti di hipnotis Bagas menurut saja ketika Alita menyuapinya.
"Ehm, enak kan Pak?"tanya Alita.
"Ehm." Bagas menggangguk.
"Mau saya suapin lagi?" tanya Alita dengan nada bercanda.
Ehm ngak usah," jawab Bagas datar tanpa ekspresi sedikit pun.
Sepertinya jiwa dan raganya tak menyatuh di tubuhnya.
Selesai menikmati santapan mereka.
Kini tibalah memberi ucapan selamat untuk kedua mempelai.
Bagas dan Alita melangkah beriringan, meski terlihat sedih tapi Bagas mencoba bersikap tenang dan tegar.
Keduanya berjalan bergandengan menuju pelaminan.
Bagas mulai gelisah dan serba salah, tangan dan kakinya seperti gemetar seketika dan Alita merasakan perubahan pada Bagas.
Begitu pun Alia yang merasa sesak seketika ketika melihat Bagas bergandeng mesra dengan sahabatnya sendiri.
Ia sungguh cemburu, padahal tak sepantasnya ia cemburu.
Ghael melihat perubahan sikap Alia, ia pun mencoba mengerti dan menenangkan Alia.
Ghael merangkul pinggang Alia dan menggenggam erat tangannya.
Sekuat mungkin Alia menahan air matanya agar tak tumpah
Begitupun dengan Bagas.
"Pak tenanglah, tersenyum saja pak," bisik Alita seraya tersenyum.
Ehm.
Alita menuntun Bagas untuk menghampiri Aira dan Aldi.
Aldi dan Aira tersenyum melihat kedatangan Bagas dan Alita yang terlihat begitu serasi tersebut.
"Selamat yah Ayah- Bunda,"ucap Alita seraya memeluk dan mencium Aira.
"Terima kasih ya Sayang," balas Aira seraya mengurai pelukan mereka.
Bagas tersenyum simpul tanpa mampu berkata-kata, ia hanya menyodorkan tangannya kearah Aldi dan Aira tanpa mampu berujar sepatah kata pun.
Setelah bersalaman dengan kedua orang tua Alia, kini tibalah saatnya mereka mengucapkan selamat pada pengantin baru tersebut.
Bagas melangkah dengan longkai, wajahnya pun tertunduk , sesekali ia melirik kearah bidari yang ada di hadapannya, bidadari yang ia puja namun tak mampu untuk ia miliki, bak bumi dan khayangan sejauh itulah harapan mereka untuk bersama, apalagi kini Alia sudah resmi menjadi milik orang lain.
Bagas mencoba berlindung di balik tubuh mungil Alia, ingin rasanya ia lari dari kenyataan tersebut.
Selangkah lagi dan kini keempat orang itu saling berhadap-hadapan.
Alia dan Bagas sama-sama tertunduk, keduanya nencoba menahan air mata mereka agar tak tumpah, beberapa detik diam karna coba menahan perasaannya.
Sret ...
Deg.
Deg.
__ADS_1
titik titik bening tak terasa mengaliri menetes di pipi keduanya ketika tampa sengaja ke dua netra tersebut bertentangan.
Apa yang terjadi selanjutnya bersambung ya guys, mau up tapi hari otor udah kriting he he