Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Jodoh


__ADS_3

Waktu terus berlalu.


Kini dua kembar cantik Chayra dan Chafiya untuk pertama kalinya memakai seragam taman kanak-kanak.


Bagas membantu Alita menyisir rambut panjang salah satu putri mereka.


Sementara Alita menyiapkan bekal sekolah putri-putri mereka.


Karna hari ini hari pertama mereka sekolah.


Chayra dan Chafiya terlihat cantik, gadis kecil tersebut rambutnya di kepang dua.


Keduanya pun menemui Alita di meja makan.


"Hai sayang Bunda, cantik sekali," ucap Alita kerita melihat kedua anaknya tampak cantik.


"Iya Bunda. Ini semua ayah yang dandanin."


"Ehm, makasih Ayah sudah bantu Bunda." Alita.


"Sama-sama sayang." Bagas mencium pipi Alita.


Selesai sarapan mereka mengantar putri-putri mereka ke sekolah.


Sesampainya di sekolah, Alita dan Bagas bertemu Alia dan Ghael yang juga membawa dua anak laki-laki.


Yakni Gaishan dan Rayyan.


"Hai ponakan tante yang cantik-cantik sekolah di sini juga?" ucap Alia sambil mencubit pipi si kembar.


"Iya Tante, Gaishan sekolah di sini juga ya ." Chafiya.


"Iya Gaishan dan Rayyan ngak cuma jadi tetangga6 tapi juga teman satu kelas kalian. Nanti main sama-sama ya."Alia.


"Ehm Rayyan beberapa hari ini. Kayknya nginap di rumah kalian ya Al?"tanya Alita.


"Iya, Ayah sama Bunda jemput Arsyad di Belanda. Kan Arsyad sudah selesai kuliahnya , mungkin hari ini mereka akan pulang."


"Hm. Waw Arsyad aja udah selesai kuliahnya. Nah Bagas sampai sekarang skripsi aja belum ngajuin."


"Ehm biasalah jurusan tehnik-kan emang lama. Apalagi sibuk bagi waktu antara kerja, kuliah dan waktu bersama keluarga. Aku juga gitu sih. Masih sibuk, padahal Abang sudah pingin punya anak lagi katanya."Alia


Alita tersenyum, "kalau gue udah isi dua bulan Al." Ucapnya seraya meraba perutnya yang terlihat buncit.


"Oh Ya. Massa' Allah. Pantesan si Bagas ngak selesai-selesai kuliahnya. Sibuk bikin anak ternyata." Alia.


Ha ha mereka pun tertawa kecil.


Sementara Bagas dan Ghael melirik ke arah para istri mereka.


"Duh mereka kalau ketemu gosib aja kerjaan-nya. " Ghael.


"Ya realit emak-emak gitu kayaknya."


Keduanya pun tersenyum. Bagas dan Ghael kembali melanjutkan obrolan mereka tentang bisnis.


Rencananya Ghael akan membangun usaha baru dan meminta peusahaan Bagas untuk menangani pembangunan pabriknya.


***


Aira, Arsyad dan Aldi berada di dalam sebuah pewasat menuju tanah air.


Sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan landing di sebuah bandara internasional.


Kedatangan mereka sudah di tunggu oleh Alia dan Ghael.


Melihat kedatangan adiknya Alia merasa haru hingga menitikan air mata , Pasalnya sudah setahun setengah ini Arsyad tak pernah pulang karna selalu


sibuk dengan perkuliahannya.


Arsyad memfokuskan diri untuk mengejar gelar MBAnya secepat mungkin.


Kini setelah hampir lima tahun Arsyad pun kembali.


"Dek!" Alia langsung memeluk Arsyad yang kini ada di hadapannya.


"Aku kangen sama Kakak," ucap Arsyad.


"Kaka juga kangen."


Setelah melepas rindu beberapa saat mereka pun mengurai pelukannya.


Arsyad melihat dua bocah laki-laki.


"Hai Gaishan. Hai Rayyan." Arsyad.

__ADS_1


"Hai Om."Gaishan dan Rayyan memanggilnya dengan sebutan Om.


"Ih Rayyan. Kok kamu panggil Abang Om sih," dengus Arsyad.


Rayyan hanya nyengir.


"Habisnya kamu emang pantas di panggil Om dek,"cetus Alia.


"Ehm. Kayaknya aku ngak tua-tua banget deh sampai adik ku sendiri panggil aku Om." Arsyad.


"Ya sudah. Nanti kangen-kangenannya di rumah saja yuk. " Aira.


Arsyad tersenyum. Ada seseorang lagi yang begitu ia rindukan.


Sepanjang jalan Arsyad melamun membayangkan pertemuannya yang indah dengan seseorang yang begitu ia rindukan.


Terbayang sudah senyum manis Nisa di pelupuk matanya. Rindu sudah menggebu.Namun Arsyad harus menahan kerinduan tersebut selama sehari lagi.


Karna pada esok hari ia dan Nisa akan melangsungkan akad nikah.Di pondok pesantren dan setelah ini mereka tak akan lagi terpisah.


Sesampainya di rumah Arsyad menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Menatap langit-langit rumahnya.


Tubuhnya begitu letih setelah perjalanan jauhnya. Namun, ia tak bisa menutup matanya karna jantungnya selalu berdebar menanti waktu.


Esok hari ia dan keluarganya akan menjemput Nisa.


"Nisa aku rindu, semoga kau tak menggingkari janji-janji kita. Karna sampai saat ini aku masih menjaga hati dan diri ini," ucap Arsyad seraya mencium cincin tunangan mereka.


Arsyad bangkit. Ia membuka kopernya. Yang berisi barang-barang hantaran untuk Nisa.


Ia tak pernah melihat Nisa selama lima tahun ini. Hanya mendengar suaranya.


Tapi ia begitu yakin jika Nisa masih menjaga janji mereka, seperti dirinya.


Arsyad mengeluarkan cincin yang di ukirnya di kota Amsterdam.


Ia pun tersenyum. "Tunggulah aku besok hari Nisa. Aku benar-benar rindu sama kamu,"ucap Arsyad.


***


Keesokan harinya keluarga mereka pun bersiap untuk menuju sebuah pondok pesantren tempat Nisa mengabdikan dirinya membantu-bantu anak panti sekalian ia ikut menimba ilmu untuk kehidupan dunia dan akhirat.


Di pesantren juga Nisa di ajari ilmu berumah tangga, cara menjadi istri yang soleha yang di ajari langsung oleh para Ummi-ummi istri dari habib dan ustadz pengurus PONPES tersebut.


***


Pernikahan mereka telah di persiapkan oleh pengurus pondok pesantren.


Keluarga hanya datang membawa hantaran dan sebagainya sebagai kelengkapan pernikahan.


***


Nisa sudah di dandan dengan sangat cantik layaknya pengantin wanita.


Detak jantungnya berirama indah menanti sang pujaan hati yang telah lama di nantikannya.


Bulir bening menetes di pipi Anissa antara sedih dan bahagia. Sayang di hari yang begitu bahagia ini. Tak ada satu pun keluarga terdekatnya yang hadir.


Nisa berdoa dengan hati yang lirih.


'Mama Papa restui pernikahan Nisa. Semoga Arsyad satu-satunya jodoh Nisa di dunia dan di akhirat nanti. Aamii ya rabbal alamin.' batin Nisa.


Nisa menghapus air matanya sebelum memasang cadar untuk menutupi wajahnya. Kecantikannya saat itu, hanya di persembahkan untuk suaminya.


Setelah melakukan perjalanan sekitar dua setengah , jam rombongan Aldi pun sampai di kawasan Pondok Pesantren.


Rasa bahagia menyelimuti perasaan keluarga tersebut. Karna mereka telah sampai dengan selamat di tempat tujuan.


Arsyad keluar dari mobil dengan perasaan yang bercampur baur. Ingin rasanya ia berlari untuk menemui sang pujaan hati.


Lagi-lagi ia harus menahan perasaan rindu yang begitu menggebu.


Selangkah lagi ia dan Nisa bisa saling memiliki.


Paman Nisa yang menjadi wali nikah mereka.Arsyad pun kini duduk di hadapan pamannya dengan dua orang sebagai saksi.


"Bagaimana Nak Arsyad. Sekali lagi paman ingin bertanya pada mu sebelum akad nikah ini berlangsung."


"Apa itu paman?"


"Kamu yakin telah memilih Nisa. Nisa adalah anak yatim dan sebagai suami apa kamu ridho menerima segala kekurangannya. Tak menyakitinya dengan.kata-kata dan dalam perbuatan mu. Jika suatu saat kamu sudah tak menyukainya kembalikan ia ke mari dengan cara yang baik-baik, seperti kau memintanya dengan cara yang baik-baik pula."


"In Shaa Allah paman. Saya akan berusha menjaga Nisa."


Nisa berada di sebuah ruangan kecil, yang ada di samping meja kecil tempat Arsyad dan paman nya melakukan akad nikah, ia pun menitikan air matanya. Rindunya begitu menggebu. Baru mendengar suara jernih Arsyad saja jiwanya sudah ikut bergetar.

__ADS_1


"Baiklah akad nikah pun segera di mulai." Paman Nisa menjabat tangan Arsyad.


"Saudara Raihand Arsyad bin Reynaldi Alfian saya nikah dan kawinkan kamu dengan keponakan saya yang bernama Annisa Azhara binti Herman dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai!"


Arsyad langsung menghentak tangannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya saudari Annisa Azhara binti Herman dengan mahar seperangkat alat sholat di bayar tunai!"


Sejenak keadaan sunyi.


"Sah !"


Sahut kedua saksi tersebut.


Arsyada dan Nisa menitikan air mata haru secara bersama di tempat yang terpisah.


"Alhamdullilah."


"Sekarang kamu boleh jemput istri mu, setelah itu kita akan berdoa bersama. "


Arsyad langsung berdiri dengan perasaan bahagianya. Kini rindu yang begitu menggebu itu bisa ia labuhkan bertemu dengan wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya. Bahagia dan haru mengiringi langkahnya. Seseorang menuntunnya untuk menuju kamar Nisa.


Jantung Nisa berdetak kencang menunggu sang suami menghampirinya.


Lima tahun ini mereka tak pernah bertemu betapa rindu sudah begitu menggebu.


Arsyad melangkah menghampiri wanita bercadar dengan pakaian serba putih dan suci yang duduk anggung di atas tempat tidur.


"Nisa!" Panggil Arsyad mesra.


Nisa pun menoleh dan beranjak menghampiri suaminya.


Keduanya mempercerpat langkah bertemu di suatu titik.


"Nisa!" Arsyad menangis memeluk Nisa.


Begitupun Nisa yang menangis memeluk Arsyad.


"Arsyad, Aku rindu."


"Aku pun."


Keduanya begitu haru saling melepas rindu dengan saling mendekap.


Beberapa saat kemudian mereka mengurai pelukkannya. Masih dalam keadaan haru Arsyad mencium lekat kening Nisa dengan bulir air mata yang menetas.


"Aku ingin lihat wajah mu istriku, "ucap Arsyad.


"Kau bisa membuka cadar ku tanpa seijin ku suami ku. Bahkan semuanya kini telah menjadi milik mu," ucap Nisa haru dan bangga.


Arsyad tersenyum bangga, ia pun membuka simpul cadar Nisa.


Tampaklah wajah cantik nan ayu yang selalu ia rindukan. Nisa bahkan lebih cantik dari sebelumnya. Tanpa menunggu ia pun mengecup bibir Nisa selama berapa saat, keduanya larut saling bercumbu dengan mesra.


"Tes...tes ini pengantinnya lama sekali, sudah di tungguin loh." Suara nyaring tersebut menggunakan microfone hingga terdengar oleh pasangan tersebut.


Arsyad dan Nisa melepaskan pangutan bibirnya. Keduanya saling melempar senyum, meski sulit melepaskan pangutan hangat tersebut.


"Iya sampai lupa, kita sudah di tunggu," ucap Arsyad sambil tersenyum.


Begitupun Nisa merasa jenggah, rasa rindu perlahan terobati.


Arsyad kembali menyimpul cadar milik sang istri. Menutupi semua keindahan yang hanya akan menjadi miliknya.


"Ayo istri ku. Nanti malam saja kita obati rindu ini, yang terpenting kita akan selalu bersama." Arsyad.


"Ia suami ku."


Keduanya pun melangkah dengan perasaan yang begitu bahagia.


Ehm masih mau lanjut ngak ceritanya.


Author kasihekstra part deh.


Tapi baca part selanjutnya setelah buka puasa ya. Karna part berikutnya mengandung adegan romantis. Terima kasih karna masih setia. Iya udah mau tamat aja jodohnya Dinda dan Arsel belum.


Ehm kira-kira mereka jodoh ngak ya? Atau ada jodoh masing-masing. Tunggu eksta partnya ya.Selamat menjalan kan ibadah puasa. 🙏


Ada recomendasi novel author lainya yang lebih keren loh.Mampir yuk. Klik profil author dan pilih deh 😍😘




__ADS_1



__ADS_2