Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Menuju Ijab qabul


__ADS_3

Langit masih saja gelap, tetes embun perlahan jatuh membasahi bumi, Tari menerjab-nerjabkan matanya, ia terbangun saat dering alarms membangunkannya.


Tari mengawali harinya dengan seulas senyum bahagia, bagaimana tidak meski baru saja ia terlelap, tapi ia tak mengantuk sedikitpun bahkan ia merasa sangat segar meski hanya beberapa jam saja tertidur.


Tari mengedar pandanganya, ia melihat sekeliling dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.


Matanya terpaku saat melihat kedua insan yang saling mendekap, meneluk dengan erat, siapa lagi kalau bukan Aldi dan Aira yang tidur dalam posisi saling memeluk.


"Eh, kalian bikin ngiri aja, semoga saja gue sama seperti kalian, setiap hari bisa tidur dengan saling memeluk, " guman Tari.


Aira dan Aldi menemani Tari melewati malam panjangnya, karna setelah esok hari Tari mereka tak bisa lagi menghabiskan malam bersama.


Tari beranjak dari tempat tidur, setelah melakukan peregangan otot-otot tubuhnya, ia pun langsung menuju kamar mandi.


Tak ada ritual khusus yang di lakukan pada pagi hari ini, ia mandi seperti mandi pagi biasa.


Setelah berendam dengan air hangat dengan busa sabuh aroma theraphy, sekitar setengah jam waktu yang di butuhkan nya untuk merilekskan pikiran dan tubuhnya.


Tari keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobenya dengan handuk kecil yang menutupi area kepalanyanya.


Petunjuk waktu berada pukul setengah lima pagi, tapi sudah terdengar kesibukan orang-orang yang mengurus persiapan acara akad nikahnya.


Tari mendaratkan bokongnya pada kursi empuk di depan meja riasnya, ia sedikit syok saat melihat lingkaran hitam pada area matanya.


"Ck, ini pasti karna gue begadang, " Ia pun membuka laci mencari masker yang dapat menghilangkan lingkaran mata pandanya.


Tok ..tok...tok...


Suara pintu di ketuk oleh seseorang, Tari segera bangkit dan membuka pintu kamarnya.


Krek.... pintu terbuka dan saat itu Maya dan dua orang dari MUA menyapa Tari dengan senyum ramah.


"Sudah mandi sayang?"tanya Maya yang langsung masuk ke kamar mereka.


"Sudah Ma," ucap Tari membuntuti Maya yang langsung masuk menuju kamarnya.


Maya kaget ketika melihat Aira dan Aldi yang masih tidur dalam keadaan saling memeluk.


"Kamu tidur sama mereka?"tanya Maya.


"Iya, Ma kenapa?"tanya Tari.


"Aduh Tari, menurut adat calon pengantin wanita ngak boleh tidur dengan orang lain, apa lagi sampai berdua, "Omel Maya.


"Hah, kenapa Ma?"Tari.


"Ah udalah, sudah terlanjur juga," dengus Mata yang kemudian mendekati Aldi.


"Di, Aldi, bangun Di, " ucap Maya sambil menggoyan pelan tubuh Aldi.


Aldi melepas pelukannya, dan itu membuat Aira ikut tersadar.


Aldi mulai menerjab-nerjabkan matanya dan kaget ketika melihat Maya yang menggunakan daster, pakaian kebesaranya berada di sisinya.


"Ah, Bunda kok, Bunda ada di sini?"tanya Aldi sambil mengucek pelan matanya.

__ADS_1


"Ish, harusnya bunda yang tanya, kenapa kalian tidur di sini?"


Aira terbangun dan langsung duduk bersandar pada bahu Aldi, sesekali ia menguap.


"Udah kalian juga bangun, sebentar lagi Mbak mu, mau di rias, dan kamar ini harus di rapikan dan di dekorasi lagi," dengus Maya.


"Iya Bunda, "ucap Aldi sambil bangkit dan berdiri begitu pun Aira yang mengikutinya.


"Yang, yuk kita pindah kamar, lanjutin ML kita yang tertunda tadi malam," ucap Aldi sambil merangkul Aira ketika mereka lewat di depan Tari.


"Esh, dasar Aldi, otak nya mesum aja," sungut Tari.


Kedua orang MUA tersebut hanya mengulum senyum, melihat pasangan muda tersebut berlalu dari mereka.


"Ayo Tari, kita mulai," ucap seorang wanita yang menenteng sebuah koper kecil.


"Iya,"ucap Tari, ia pun duduk di meja riasnya.


Setelah memnyemprot vitamin pada wajah Tari, mereka pun mengenakan pelembab khusu untuk wajahnya, kemudian memoles concealer untuk menutupi lingkaran hitam pada matanya.


"Mbak kok, matanya hitam seperti ini?"tanya perias tersebut.


Ehm, he he.


"Pasti Mbak begadang ya?"tanya perias itu lagi.


"Iya Mbak,"jawab singkat.


"Ehm emang seperti itu Mbak, kalau kita lagi bahagia, ngak bisa tidur, jantung berdetak, dan senyum tak lepas dari bibir anda, iya kan?" goda peris tersebut kepada Tari.


"Ehm, iya Mbak tahu aja," cetus Tari.


Tari tersenyum membenarkan ucapan wsnita tersebut.


Sementara Maya juga tersenyum bahagia melihat Tari yang begitu bahagia di hari pernikahanya.


***


Di rumah Romeo, keramaian dan hiruk pikuk juga terjadi di rumah yang biasanya sepi.


Waktu sudah menunjukan pukul enam pagi, sementara sang calon pengantin pria, masih tidur mendengkur di atas tempat tidur.


Suci sudah siap dengan pakaian kebayanya, begitu pun dengan Hadi.


Matanya membulat sempurna karna melihat Romeo yang masih tidur dengan pulas, dengan langkah kaki yang menghentak ia pun mendekati Romeo.


"Ya, ampun Romeo, belum bangun juga!"teriak Suci, suaranya sampai terdengar hingga keluar kamar.


"Romeo!, bangun!" teriak Suci sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak melihat kelakuan sang calon pengantin yang belum juga siap, padahal acara ijab qabulnya akan di laksanakan pada pukul delapan tepat.


"Romeo!" Suara Suci lantang menggema memenuhi seisi kamar bahkan terdengar sampai ke luar, Hadi yang mendengar suara gledek istrinya pun menghampirinya, karna mengira telah terjadi sesuatu.


Setelah di guncang oleh Suci,Romeo baru bergerak, dan menerjabkan matanya.


"Ada apa sih Ma?" pagi-pagi udah teriak-terik, kayak orasi di gedung parlement aja," dengus Romeo.

__ADS_1


"Eh Rom, dari tadi mama bangunin kamu, ternyata kamu belum bangun juga, emosi mama, sampai naik darah rendah mama!" segah Suci.


"Darah tinggi kali ma?"sahutnya dengan santai seraya bangkit dan menguao.


"Hari ini kamu tuh menikah, masa jam segini belum siap lagi," dengus Suci.


Hadi menghampiri mereka kekamar, dan ia pun merasa kesal melihat penampilan Romeo yang masih berantakan.


"Ya ampun Rom, belum siap lagi?"kali ini Hadi yang menggerutu.


"Ihs, Romeo gampang Ma, tinggal mandi, pakai baju dah selesai," dengusnya sambil beranjak menuju kamar mandi.


Hadi dan Suci menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Romeo.


Lima belas menit waktu yang di butuh kan bagi Romeo untuk mandi, sementara ibunda tercinta menyiapkan pakaian yang akan di kenakan oleh sang putra.


"Rom, pakai baju ini ya," ucap Suci menyodorkan kemeja putih yang di gantung di hangger .


Romeo meraih baju dan mengenakan semua atribut yang sudah di sediakan di atas tempat tidur.


Suci tersenyum penuh haru menatap putranya yang tampan bak pangeran dari negri dongeng.


Titik demi titik air mata, meniti di wajah yang tertutupi make up tersebut.


Setelah selesai menggunakan semua atributnya termasuk penutup kepala yang menyerupai balangkon, Romeo pun kembali mendekati Suci.


"Aduh kamu ganteng sekali Rom," ucap Suci yang haru, ia merasa terlalu bahagia saat melepas putranya membuka lembaran hidup barunya.


Romeo tersenyum sambil menyapu air mata Suci, "Udah dong Ma, dari kemaren nangis terus sih, nanti make-upnya luntur lagi," Ucap Romeo.


"Mama terlalu bahagia Nak, Mama bersukur Tuhan masih memperpanjang Mama untuk melihat kamu bersanding di pelaminan," ucap Suci terbata-bata.


Romeo mencium pipi Suci, "Udah dong Ma, jangan nangis lagi, ayo kita berangkat, " ucap Romeo sambil menggandeng mesra tangan Suci.


Mereka pun keluar menuju pintu.


Saat mereka keluar dari kamar, Nadira dan igun pun menyambut mereka dan mengalungkan kalung yang terbuat dari bunga melati.


"Adek kakak sayang, yang ganteng ini akhirnya menikah juga," ucap Nadira sambil memeluk Romeo dan mencium kedua pipinya.


"Eh. Bu mil kok baru nongol?"tanya Romeo sambil mencium perut buncit Nadira.


"Susah dapat tiket pesawat Rom, " jawab Nadira yang langsung mengait lengan Romeo sembari menuntunnya menuju pintu keluar, saat iringan Romeo keluar mereka di sambut dengan taburan kembang kearah pengantin.


Sebelum acara pelepasan untuk menuju rumah mempelai wanita mereka berdoa bersama di pimpin oleh seorang sesepuh.


Mobil sedan hitam berhias dengan bunga bersiap menunggu Romeo dan rombonganya.


Romeo tersenyum simpul karna merasa dirinya di perlakukan bak Raja.


Dengan sepatu slopnya ia pun melangkah perlahan memasuki mobil tersebut.


Romeo duduk di antara dua wanita yang menyayanginya, Kakak dan juga ibundanya, Rona bahagia begitu terpancar dari wanita cantik yang berada di sisinya.


Ternyata melihat mereka tersenyum bahagia, lebih membahagiakan dari pada menuruti ego perasaan diri sendiri, kamu ngak punya apa-apa Rom, untuk membalas mereka, jadi sebaiknya kamu berikan kebahagian yang mereka dambakan, karna kebahagian mereka berada di atas kebahagian mu, begitupun kesedihan mereka juga berada di atas kesedihan mu.

__ADS_1


Romeo pun menitikan air matanya, ia merangkul kedua wanita tersebut dan menciuminya, mereka pun terlalut dalam haru dan kebahagian, karna melihat perubahan drastis yang terjadi pada Romeo.


Bersambung ya guys, InsyaAllah author up lagi, sampai jumpa di akad nikah mereka ya, jangan lupa like komen dan votenya, biar author remahan ini semangat up nya 😆


__ADS_2