Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Jawaban Yang Sulit


__ADS_3

Bagas kembali ke rumahnya, melihat anaknya yang terluka, Nina buru-buru menghampirinya.


"Bagas kenapa kamu Nak?"tanya Nina khawatir.


"Tidak apa-apa Bu."Bagas melempar kunci motornya kemudian masuk kedalam kamarnya.


Nina membuntutinya hingga ke kamar.


"Bagas, kau menemui ayah mu lagi?"tanya Nina, seraya membantu melepaskan jaket kulit pada tubuh putra sulungnya.


Bagas kini tumbuh menjadi pria tampan berusia 24 tahun, namun memiliki perangai yang temprament sehinga mudah tersulut emosi.


Bagas menghela nafas beratnya.


"Bagas, ayah mu benar kau masih bisa memiliki masa depan, belum terlambat untuk memperbaiki semuanya, ia ingin kau kuliah dan menjauhi teman-teman gengk motormu itu," nasehat Nina sembari menggantung jaket putranya tersebut.


"Apa ayah sepeduli itu pada ku Bu, bukannya dia itu bukan ayah kandungku ?" tanyanya dengan mendengus.


"Lalu, siapa sebenarnya ayah kandung ku Bu?! dimana dia sekarang, jika ayah itu bukan ayah kandungku, kenapa wajah ku begitu mirip ayah Bu, anak siapa sebenarnya aku ini Bu?!" Bagas melayangkan pertanyaan ke Nina secara bertubi-tubi.


Deg, deg, deg air mata Nina perlahan menetes, lagi-lagi Bagas menanyakan pertanyaan yang tak mungkin di jawab olehnya.


Bagas menatap Nina matanya pun mulai berkaca-kaca.


Kenapa setiap kali aku menanyakan hal itu, ibu selalu menangis?


Nina keluar dari kamar Bagas, seraya menghapus bulir air matanya.


Bagaimana aku bisa menjelaskannya pada mu Bagas, itu sama saja menyayat luka di hati ku yang baru saja mengering, kau pasti tak akan mampu menerima kenyataan yang sebenarnya jika kau dan ayahmu itu sebenarnya bersaudara.


Tubuh Nina terguncang mengingat kejadian pahit yang menimpanya ketika usianya baru menginjak remaja, dan sekarang ia dan Bagas harus menerima takdir yang tak pernah mereka inginkan.


Nina mendaratkan bokongnya secara perlahan.


Netranya menatap dengan hampa, sampai kapan rahasia ini harus di sembunyikannya dari Bagas.


Bagas menghempaskan tubuhnya yang terasa sakit ke atas tempat tidur, ia berusaha memejamkan matanya namun bayangan gadis yang menolongnya tadi, kembali hadir merayunya membuat bibirnya tersenyum.


"Siapa gadis itu? wajahnya seperti tak asing?"tanyanya sambil kembali mengingat senyum manis yang terlukis di wajah cantiknya.


***


Pukul empat sore, waktu bagi Aira untuk keluar dari kantornya.


Setelah berada di lobi ia melihat mobil Aldi yang perlahan memasuki halaman kantornya.


Aira menghampiri Aldi, dan masuk ke dalam mobil.


"Tumben Yah, tepat waktu?"tanya Aira seraya menutup pintu mobil.


"Ayah kangen saja Bun, pingin main tembak-tembakan, udah lama ngak olahraga sore-sore," ucap Aldi dengan senyum mesumnya.


Aira mencubit perut Aldi, "Hm kalau ada maunya, jemputnya tepat waktu," dengus Aira

__ADS_1


Karna kantor Aira tidak begitu jauh dari rumah, sekitar lima belas menis saja mereka sudah sampai.


Keduanya turun dari mobil dan melihat keadaan mereka yang terlihat sepi.


"Anak-anak ke mana Yah?" tanya Aira ketika membuka pintu.


"Kakak ikut seminar Bun, kalau adek latihan basket," jawab Aldi.


Mereka pun berjalan menuju kamar menaiki anak tangga dengan menggandeng mesra.


"Bun kalau seperti ini, jadi ingat waktu muda dulu ya Bun, kita seperti penganten baru saja, selalu di tinggal berdua," ucap Aldi.


"Iya Yah, anak-anak juga punya kesibukan, biar sajalah mupung mereka masih muda, asal ngak ikut pergaulan yang ngak bener, mengkomsumsi narkoba dan minum-minuman keras."


"Hm, Ayah selalu menyuruh bodyguard untuk mengawasi mereka dari jarak jauh, jadi mereka selalu di awasi, "ucap Aldi.


Mereka masuk ke dalam kamar, Aira meletakan tasnya di atas meja rias kemudian melepas jam tangan dan meletakannya.


Aira merasa sedikit kaget saat tangan Aldi melingkar sempurna di perut rampingnya.


Aldi mencium tengkuk Aira dan membuat bulunya kuduknya merinding," Ayah, Bunda mandi dulu Yah," ucap Aira seraya menepis tangan Aldi.


Tapi Aldi malah menariknya menuju ke atas ranjang," Ayah ih nakal banget sih," ucap Aira menepis tangan Aldi.


Tapi Aldi tak peduli, setelah membuat istrinya terpojok di atas ranjang, Aldi langsung menyerangnya tanpa ampun.


Keringat mengucur deras di tubuh keduanya ketika Aldi memompa dengan cepat, erangan dan des*sahan silih berganti sahut menyahut di dalam kamar tersebut.


"Akh!" mas udah ngak kuat lagi, ucap.Aira menahan tubuh suaminya yang hampir satu jam menjajalnya, ia merasa stamina Aldi tak berubah, malah semakin tua Aldi semakin kuat.


"Belum Bun, Ayah belum puas," ucapnya seraya menambah kecepatan pacunya


Aira mengerang sembari meremas rambut Aldi yang terus menyesap dua bukit kembarnya secara bergantian.


Ehm, Akh, Aira hanya pasrah, ketika Aldi menyerangnya secara membabi buta dengan memompa dan menyentak-nyentaknya semakin kuat.


"Yah, ehm," des*ah Aira dengan mata yang merem melek.


Aldi begitu menikmati permainannya, beberapa tanda pada leher dan bagian dada Aira berikan sebagai pelampisan rasanya yang tertahan.


Setelah berayun satu jam dengan keringat yang sudah membanjir, Aldi tak mampu lagi menahannya.


"Bun, Ayah tembak sekarang!"teriak Aldi seraya memompa lebih cepat.


Aira sudah pasrah tubuhnya semakin terguncang hebat, serangan suaminya di sore itu benar-benar mebuatnya kehabisan tenaga, ia pun tak mampu melawan.


"Akh!" Satu hentakan akhir membuat sibuyung berhasil menembakan peluru berupa larva hangatnya.


Ha ha ha, keduanya mencoba mengatur nafas dengan detak jantung yang memburu, seperti kehabisan tenaga, Aldi tumbang di samping tubuh istrinya.


Tak lupa sebuah kecupan mendarat di kening Aira di sertai ucapan terima kasih.


Terima kasih Bun, ucap Aldi, ia pun menggenggam erat tangan Aira.

__ADS_1


Enam belas tahun sudah mereka menjalani rumah tangga setelah terpisah, sejak saat itu keluarga mereka semakin harmonis.


Meski beberapa kali pelakor coba menggoda Aldi, namun tak sedikit pun ia terpengaruh.


Aldi sudah merasa nyaman hidup bersama dengan istri dan anaknya, tak pernah terlintas di benaknya untuk kembali mencoba hal baru, meski beberapa wanita muda selalu datang menggodanya.


Aira selalu percaya pada suaminya meski terkadang di hand phone Aldi kadang kala terdapat pesan dari wanita yang mencoba menggoda suaminya.


Aira tersenyum seraya menyapu keringat yang menetes pada kening sang suami, meski mereka di bilang tak muda lagi, tapi menurut Aira, Aldi tetaplah pria tertampan di dunia ini.


Aira melihat suaminya dengan tatapan yang berbinar.


"Kenapa Bunda kalau menatap ayah selalu berbinar, apa karna wajah ayah yang tampan ini?"candanya.


"Iya Yah, sampai kapan pun Ayah adalah pria paling tampan di dunia ini," ucapnya seraya meraih tangan Aldi kemudian menciumnya dan meletakannya di pipi.


Aldi tersenyum "Terima kasih Bun, karna selama enam belas tahun ini kamu selalu setia mendampingi Ayah, mengerti ayah, semoga kita tetap selalu bersama hingga maut yang memisahkan," ucap Aldi.


"Semoga saja Yah kelak di akhirat kita bisa kembali di persatukan sebagai suami istri, karna kita saling mencintai dan menyayangi dan tak pernah saling berkhianat," ucap Aira.


"Nah Ayah ada pantun nih."


"Diantara beribu burung merpati, hanya satu burung cendrawasih.


Diantara sekian bidadari, hanya bunda yang ayah pilih,"ucap Aldi berpantun.


"Masa' cih," ucap Aira ia tersenyum seraya memeluk suaminya kembali.


"Terima kasih Yah," ucap Aira


Aldi pun membalas dengan memeluk sang istri.


Saat-saat indah mereka kembali terganggu ketika terdengar suara ketukan pintu dari Arsyad.


tok tok tok


"Ayah... Bunda...", teriak Arsyad dari luar kamarnya.


Seketika pasangan suami istri tersebut mengurai pelukan mereka, kemudian kelabakan mencari penutup tubuh mereka yang sudah berserakan di lantai.


Aldi meraih handuk dan memakainya sepinggang, sementara Aira memunguti pakaian kotor mereka kemudian berlari kecil menuju kamar mandi.


Dengan handuk yang di lilit setengah pinggang, Aldi membuka pintu.


Netra Arsyad langsung menangkap tanda kemerahan aneh pada leher dan dada Aldi.


"Ayah tanda apa itu?"tanya Arsyad.


Aldi kelabakan untuk menjawab pertanyaan Arsyad, ingin berbohong tapi putranya bukan bocah ingusan lagi.


Arsyad menyeritkan kening, menanti jawaban dari sang ayah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2