
"Kamu kerja atau masih kuliah Gas?"Aldi mengulangi pertanyaannya.
Edo melirik ke arah Bagas yang terlihat binggung dan ragu untuk menjawab pertanyaan Aldi dari Aldi.
"Hm saya_" kata-kata Bagas terhenti dan langsung di sambar oleh Edo.
"Ehm Bagas akan menjadi pemimpin di salah perusahaan konstruksi milik saya Pak Aldi, bagaimana pun dia adalah putra sulung saya, jadi siapa lagi yang akan meneruskan usaha saya,"papar Edo.
Edo sengaja mengatakan hal itu, agar Bagas lebih percaya diri.
Sebelumnya Bagas sudah menceritakan secara jujur tentang perasaannya terhadap Alia.
Dari itu Edo sengaja membawa Bagas di acara tersebut dan tak membawa istrinya Aura.
"Oh begitu, syukurlah kalau begitu, aku yakin suatu saat Bagas juga bisa meneruskan kepemimpinan anda pak Edo."
"Harus itu pak Aldi," sambar Edo.
"Wah Bagas semangat ya, kamu harus bisa melebihi Ayah kamu," ucap Aldi.
"Iya Om," ucap Bagas senang, ternyata Aldi tak seperti pikirannya selama ini.
"Kalau begitu, silahkan duduk pak Gubernur" Aldi.
"Terima kasih Pak Aldi." Edo.
Alia melirik ke arah Bagas yang tersenyum ke arahnya.
"Ah Hari ini aku selamat untung ada ayah,"guman Bagas.
Edo menghampiri Alia yang tersenyum ke arahnya.
"Hai nona cantik, makin besar kamu makin cantik saja Alia, coba kalau om masih muda pasti om yang melamar kamu duluan," goda Edo.
"Ayah!"bisik Bagas sambil menyungging sikunya.
Alia pun tersenyum karna digoda Edo.
Bagas menghampiri Alia dan menjabat tangannya, dengan segera ia menyambut uluran tangan Bagas seraya tersenyum.
Raka merasa iri, kenapa Alia mau bersalaman dengan Bagas sedangkan dengan dirinya tidak.
Begitu pun Ghael yang menatap mereka dengan tatapan sinis.
Edo menghampiri Aira, "Selamat malam Nyonya Aldi." Ucapnya dengan senyum menggoda sebenarnya ia masih penasaran dengan Aira, Edo berharap agar Bagas bisa bersanding dengan Alia untuk mengobati rasa penasarannya.
"Selamat malam juga pak Gubernur,kenapa ibunya ngak di bawa?"tanya Alia.
__ADS_1
"Biasalah Bu malam minggu,kalau bawa bu gub nanti ngak ada cewek yang mau deketin,"goda Edo.
Aldi melirik ke arah Aira,karna cemburu.
Edo pun berlalu setelah berbasa-basi, mereka duduk bersama dengan tamu undangan yang lain.
Tatapan Bagas tak lepas dari Alia, begitu pun sebaliknya.
Keduanya saling melirik mesra tanpa peduli puluhan pasang mata yang mencuri pandang ke arah Alia.
Acara pun di mulai, dengan pemotongan tumpeng, ketika Aldi dan Aira lengah
Diam-diam Bagas dan Alia mojok di di luar aula, keduanya asik ngobrol dan bercanda.
Sementara orang tuanya sibuk melayani tamu.
Bagas bersandar pada pagar setinggi satu meter sambil membelai rambut Aira yang tergerai.
"Sayang kamu cantik sekali malam ini,"ucap Bagas sambil menarik pelan rambut gelombang Alia yang terjuntai.
Tatapan matanya tak beranjak dari wajah cantik dari gadis yang ada di hadapannya.
"Ehm kamu bisa saja," ucap Alia datar.
"Kamu kenapa sayang, seperti nya ada masalah?"tanya Bagas yang melihat wajah Alia yang terlihat murung.
"Gas,ayah ku berencana menjodohkan aku dengan seorang pengusaha, aku juga binggung harus bagaimana menolaknya, mereka menanyakan kepada ku apa aku memiliki calon sendiri,"papar Alia.
"Terus? Aku harus bagaimana menurutmu?tanya Bagas ia pun mencium punggung tanggan Alia.
Bagas memang mencintai Alia hingga ia menjaga sikapnya untuk tak menyentuh Alia di luar batas.Bagas hanya berani mencium punggung tangan Alia untuk mengungkapkan perasaan cintanya.
Alia menatap Bagas dengan tatapan berembun.
"Gas jika ayahmu seorang gubernur,kenapa kau tak minta dia untuk melamar ku segera Gas?"tanya Alia.
Bagas tertunduk lesu,"Karna dia hanya ayah sambungku dan ibuku juga bukan istri sah dari ayahku, ayah ku memiliki tiga istri Alia," papar Bagas.
Ehm Alia menyeritkan dahinya, Lalu siapa ayah kandung mu?"tanya Alia.
Bagas menatap Alia dengan tatapan sedih hampir saja ia menangis.
"Aku tak tahu siapa ayah kandung ku Alia, sampai saat ini aku hanya tahu jika aku terlahir dari hasil perkosaan seorang lelaki bejat terhadap ibu ku, aku anak haram dari ayah yang tak jelas siapa, bahkan ibuku tak sanggup untuk menceritakan kebenarannya pada ku. "
Hiks hiks hiks, air mata itu akhirnya tak mampu di tahan oleh Bagas, malu sedih dan kecewa, tapi apa boleh di buat, ia ingin Alia tahu semua kebenaran tentangnya,agar Alia tak merasa tertipu lagi.
Alia syok ia pun ikut sedih.
__ADS_1
Bagas membelakangi Alia untuk menyembunyikan perasaan malunya.
Alia menarik bahu Bagas dan menatapnya,"Tapi itu bukan salah kamu Gas,tak ada yang bisa memilih takdirnya sendiri karna semua sudah di garis kan sebelum kamu di lahirkan,"papar Alia.
"Iya andai saja semua orang berfikiran seperti kamu Alia, tapi sayangnya tak demikian, sejak kecil aku sudah merasakannya sendiri bagaimana orang-orang memandang ku dengan sebelah mata, merendahkan dan mencemooh ku."Bagas.
"Alia apa orang tua kamu bisa menerima aku, jika aku berkata jujur terhadap mereka?"Bagas.
"Coba saja Gas,kita harus berani mengambil resiko,jika kamu memang serius, secepatnya kamu harus menemui orang tua ku,"ucap Alia.
"Iya Alia, aku akan minta ayahku untuk mendampingi ku dalam melamar kamu," ucap Bagas seraya mengusap pipi mulus Alia.
Keduanya pun saling melempar senyum bahagia.
***
Aldi dan Aira sedang sibuk berbincang dan menyambut tamu mereka, tanpa mereka sadari Alia menghilang entah kemana.
Ghael juga baru menyadari ketidak hadiran Alia di tempat itu, karna saat itu ia harus keluar dari ruangan untuk menerima telpon dari orang tuanya.
"Uncle dimana Alia?"tanya Ghael sedikit berbisik di telinga Aldi.
Aldi mengedar pandangannya mencari keberadaan Alia.
"Ghael kamu cari Alia, kemana ia pergi, sekiranya ia tak berada di gedung, lapor uncle segera," bisik Aldi.
Ghael menggangguk, ia sudah curiga jika Alia sedang bersama Bagas.
Ghael mencari kesetiap sudut Aula, benar saja ia pun menemukan Alia dan Bagas di sana.
Dengan setengah emosi Ghael menghampiri mereka.
"Alia!"seru Ghael ia pun menghampiri mereka.
Alia dan Bagas kaget mereka pun menoleh kearah asal suara.
"Apa begini kelakuan kamu Alia?! bagaimana jika orang lain yang memergoki kalian berdua, kamu bisa merusak citra baik kedua orang tuamu dan dirimu sendiri!"
Ghael menarik tangan Alia dan membawanya pergi, namun ia kembali menghampiri Bagas.
"Kalau kamu memang menginginkan Alia mari kita bersaing secara sehat Bagas! lelaki jantan tak akan menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi!"
Ghael pun kembali menarik tangan Alia.
Bagas terdiam seraya menatap kepergian Ghael yang membawa Alia, ingin rasanya ia menghajar Ghael, namun ia juga tak ingin memperburuk keadaan.
"Alia kamu itu apa-apaan sih, sejak pacaran dengan Bagas kamu sudah berani berbohong, berani mencuri waktu dan berduaan dengan Bagas," Omel Ghael
__ADS_1
Alia cemberut, yang di katakan Ghael memang benar, setiap harinya ia harus berbohong agar bisa bertemu Bagas sepulang dari kerja.
Bersambung