
"Romeo!"
Suara semua orang menggema tak kala melihat Romeo membawa Aira lari menuruni bukit, Heru dan Doni mengejarnya hingga masuk ke dalam semak-semak yang berada di bawah perbukitan.
"Romeo!"
"Aira"
Teriak Doni dan Heru, ketika tak menemukan jejak mereka, mereka pun berpencar.
Sementara Suci terus menangis dalam pelukan Nadira.
"Tenang Ma, Romeo pasti ketemu," ucap Nadira sambil mengusap punggung sang mama.
"Romeo, dia menghilang lagi, Mama takut terjadi sesuatu padanya hiks...,"
Melihat ada keributan di rumah kontrakannya, pak Bayu dan Anggi pun menghampiri orang-orang yang terlihat asing tersebut.
"Maaf ada apa ini?" tanya pak Bayu.
Mereka yang tadinya menoleh kearah hutan, mengalihkan pandanganya kearah suara yang berada di belakang mereka.
Pak Hadi pun mendekati pria tersebut.
"Eh Pak, pekenalkan saya Hadi, saya adalah orang tua Romeo," ucap pak Hadi sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Bayu kepala desa kampung ini." Menjabat tangan pak Hadi..
"Ada apa sebenarnya ini?" tanya Bayu lagi.
"Ehm, begini pak, bisakah kita bicara di dalam saja," ajak pak Hadi sambil menunjuk pintu rumah yang terbuka tersebut.
"Iya baik lah," pak Bayu pun berjalan masuk kedalam rumah, Hadi dan yang lainya pun mengikuti mereka.
Setelah berada di dalam rumah, mereka pun duduk di atas permadani dengan formasi membentuk lingkaran, setelah semua duduk dengan tenang, pak Hadi pun memulai pembicaraanya.
"Maaf sebelumnya Pak, jika kehadiran kami mengganggu ketenangan kampung ini." Hadi berhenti sejenak untuk mengatakan hal yang berat dan memalukan tersebut.
"Ada apa Pak? katakan saja tak usah sungkan, jika saya bisa membantu, maka saya akan membantu, " ucap Pak Bayu dengan tenang.
Pak Hadi melihat sekeliling nya, ia meminta saran pada menantunya Igun, Igun pun menggangguk, kemudian ia mengalih pandanganya kembali pada pak Bayu.
"Kedatangan kami kemari untuk menjemput Aira, tapi Romeo malah pergi membawa Aira lari menuju hutan," papar pak Hadi.
Pak Bayu mengganggukkan kepalanya menunggu kelanjutan cerita pak Hadi, sementara Aldi hanya tertunduk lesu, rasanya ia tak sanggup untuk tetap berada di sana.
"Lalu, ada apa sebenarnya pak, apakah hubungan mereka tak direstui?" tanya Pak Bayu.
"Hubungan mereka memang tak pernah direstui, dan tak kan pernah mendapat restu pak,"sahut Hadi.
"Memangnya kenapa? mereka terlihat saling mencintai, lagi pula mereka sudah menikah, apalagi Aira tengah mengandung saat ini."Pak Bayu.
Mereka saling memandang, hanya Aldi yang masih tertunduk.
"Karna Aira itu, bukan istri Romeo, tapi istri dari saudara Aldi," ungkap pak Hadi sambil menepuk pelan paha Aldi yang berada di sampingnya.
Pak Bayu dan Anggi pun menoleh kearah Aldi, Aldi hanya menegakan wajahnya sebentar kemudian tertunduk lagi.
Cih si Aira punya suami ganteng dan keren, masih aja lari dengan Pria lain, Anggi.
__ADS_1
Pak Bayu kaget mendengarnya.
"Jadi mereka bukan pasangan yang syah?" tanya pak Bayu dengan sedikit emosi.
Pak Hadi dan yang lainya tertunduk malu,
"Benar pak, maaf kan anak saya pak, karna dia telah membawa istri dari sahabatnya sendiri," ucapnya dengan jengah, pak Hadi pun menunduk.
"Anak bapak tak bisa dimaafkan Pak, mereka telah membohongi kami dan mencemari kampung kami ini, mereka tinggal serumah, bagaimana kalau mereka berbuat zina di dalam rumah ini," ucap Pak Bayu dengan suara yang lebih tinggi.
Aldi semakin sesak mendengar penuturan pak Bayu, dirinya pun beranggapan jika Aira dan Romeo telah berzinah.
Melihat pak Bayu yang emosi, pak Hadi pun berusaha menenangkan dan meminta maaf pada pak Bayu.
***
Aira dan Romeo berada dalam hutan untuk bersembunyi.
"Udah bang, Aira ngak kuat lari bang, Aira sedang hamil,kita temui mereka bang, agar masalah ini cepat selesai," ucap Aira ngos ngosan.
Romeo yang mendengar ucapan Aira langsung memeluk Aira, "Benar Aira kita hadapi mereka, kita bilang pada mereka jika kita saling mencintai, dengan demikian mereka tak akan memaksa mu untuk kembali pada Aldi."
"Tapi Bang, itu tak mungkin terjadi, Aira harus mengikuti mas Aldi pulang." Aira menolak pelukan Romeo.
"Ayo bang kita keluar sekarang, Aira tak ingin lari lagi," ucapnya sambil menarik tangan Romeo.
"Tunggu Aira jangan pergi, Abang belum siap untuk berpisah dengan kamu, Aira."Romeo kembali menarik tubuh Aira dan memeluknya semakin erat.
"Tapi bang, kita memang sudah seharusnya berpisah bang, jangan memperburuk keadaan, Aira bisa hadapi semuanya sendiri," ujarnya sambil melepaskan pelukan Romeo.
Tapi sedikit pun Romeo tak mau melepaskan pelukanya, malah semakin erat memeluk Aira.
"Tolong lepaskan Aira bang, Aira tak mau mereka salah paham tentang hubungan kita," ucap Aira sambil berusaha melepaskan pelukan erat Romeo.
"Dengar Aira. dengar apa yang abang ucapkan ini." ucap Romeo berbisik di telinga Aira.
"Aku cinta padamu Aira, Aku cinta pada mu Aira, Aku cinta pada mu Aira," ucap Romeo berulang-ulang tanpa jeda.
Aira pun memotong ucapan Romeo. "Sudah bang, Aira mohon jangan ucapkan itu lagi bang," pinta Aira masih meronta berusaha melepaskan pelukan Romeo yang semakin erat memeluknya.
"Aku cinta kamu Aira, hanya mencintaimu, aku tak ingin kau pergi, biar saja seluruh dunia menentang kita Aira, yang penting kita berdua tetap bersama," ucapnya memeluk Aira semakin erat.
Aira hanya bisa menangis sambil memohon agar Romeo melepaskanya, ia binggung bagaimana caranya memberi pengertian pada Romeo.
"Aku cinta kau Aira, hanya mencintaimu," ucap Romeo berulang-ulang kembali.
"Sudah, berhenti bang, jangan mengucapkan cinta pada Aira lagi bang, karna Aira hanya mencintai mas Aldi suami Aira," ucapnya Aira emosi, ia pun menangis.
Romeo merenggangkan pelukannya.
"Kau pasti bohongkan Aira, kau pasti lebih mencintai abang, dari pada Aldi?" tanya Romeo sambil menatap mata Aira.
"Ngak bang, Aira ngak bohong, Aira hanya mencintai mas Aldi, dan begitu pun mas Aldi, kami saling mencintai bang, lihat lah bukti dari semua itu adalah benih cinta kami yang kini tumbuh di rahim Aira bang," papar Aira sambil menanggis terisak.
"Kita memang tak ditakdirkan bersama, tapi ini bukan lah kesalahan, karna cinta tak pernah salah, yang salah adalah kita yang membiarkan cinta itu tumbuh diantara kita bang."
"Tapi Aira tak pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi diantara kita bang, sungguh cinta ini membuat Aira merasa di hargai, tapi biarlah Aira pergi, karna cinta sejati Aira, masih milik mas Aldi, dan sampai kapan pun akan tetap begitu," papar Aira dengan mata yang telah basah karna menangis.
Ia tak menyangka jika Romeo bisa seposesif itu terhadapnya.
__ADS_1
"Tapi Aira, abang juga mencintai kamu Aira, berikan lah abang kesempatan untuk membuktikannya padamu."
Aira menghela nafas panjang mendengar penuturan Romeo," Ini bukan masah pembuktiannya bang, sejauh ini abang sudah membuktikan betapa besarnya rasa cinta abang pada Aira, tapi ini soal ketulusan, jika memang perasaan itu tulus, maka biarkan lah Aira pergi, karna ini lah yang terbaik untuk kita."
" Mengertilah bang, kita memang tak di takdir kan bersama, tapi Aira pernah menyesal telah mengenal abang, Aira bahagia bang, karna abang telah mengukir salah satu kenangan terindah di hidup Aira."
"Mengertilah cinta tak harus memiliki, Aira yakin, abang akan temukan kebahagian meski tanpa Aira," ucapnya menarik diri dari pelukan Romeo, dengan kedua telapak tangan menyentuh pipi Romeo.
Aira perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Romeo, bibirnya perlahan mendekati bibir Romeo, setelah bersentuhan, Romeo menyambar bibir Aira dan memangut lalu menyesapnya, hingga beberapa saat bibir mereka saling bertaut dan beradu.
Aira melepaskan rangkulan Romeo, dan menarik dirinya sedikit mundur kebelakang.
"Aira pergi bang, berilah Aira sebuah senyuman sebagai tanda perpisahan kita," ucapnya dengan ke dua telapak tangan menyentuh pipi Romeo kembali.
Romeo hanya diam, tanganya masih enggan membiarkan Aira untuk pergi.
Romeo menarik tanggan Aira, hingga tubuh Aira kembali dalam pelukanya, ia pun memeluk Aira erat dan menciumi wajah Aira di setiap sudutnya.
Setelah dirasanya hatinya sudah mantap melepas Aira, Romeo pun melepaskan pelukanya.
"Pergilah Aira, semoga Aira bahagia dengan keputusan yang Aira ambil, Abang hanya ingin melihat Aira bahagia, jika Aira bahagia, abang pasti akan bahagia, tapi jika Aira tak bahagia, datanglah pada abang lagi," ucap Romeo dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak bang, kisah ini akan berhenti di sampai, semua sudah berakhir, terima kasih, karna abang selalu ada untuk menghibur Aira, bang."
" Bagi Aira, abang adalah kenangan yang terindah," ucap Aira sambil mengecup bibir Romeo.
Aira pun tersenyum ke arah Romeo, sedetik kemudian ia berlalu meninggalkan Romeo.
Romeo melepaskan genggaman tangannya, ia harus rela melepas Aira, meski sebenarnya ia tak rela, senyuman pun terbit di bibirnya saat Aira melempas senyuman kearah nya.
Aira berjalan menaiki bukit dan saat itu ia bertemu dengan Heru.
"Aira ayo kita pulang," ucap Heru sambil menarik tanggan Aira.
Mereka pun menaiki tanjakan menuju bukit.
Sementara Doni langsung memeluk Romeo.
"Kenapa lo lakuin semua ini bro, kasihan Aira, dia lah yang akan menanggung semua ini Rom, bagaimana ia akan menghadapi pertanyaan dari keluarga Aldi?"tanya Doni yang masih merangkul Romeo.
"Gue lakukan ini karna ada alasanya bro dan loh harus tau."Romeo.
***
Aira kini berhadapan dengan Aldi, perasaannya menjadi haru, melihat Aldi di hadapannya, ingin sekali ia menghambur memeluk Aldi, namun ketika netranya menangkap kebencian pada sorot mata Aldi, Aira pun berusaha menahan kerinduannya hanya dengan diam.
Tatapan Aldi lebih tajam dari pada hulu pedang yang terhunus, sebenarnya ia juga merindukan wanita yang telah mengandung anaknya tersebut, tapi sifat arogan yang ada padanya, tak mau mengalah dan membiarkan rindu itu berlalu begitu saja, membawa sisa-sisa cinta di hatinya.
Kini hati Aldi sedingin es, tak satu kata pun terucap dari bibirnya, dan itu yang membuat Aira semakin yakin, jika kisah cintanya bersama Aldi hanya akan tinggal kenangan, seperti kisah cintanya bersama Romeo, di cintai orang yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, justru tak membuat Aira menjadi wanita yang beruntung di dunia, karna cinta itu jualah ia harus rela melepaskan keduanya.
Aira masuk kedalam mobil bersama Heru, mereka duduk di kursi belakang, sementara Aldi ia duduk di samping sopir.
Tak ada sapaan hangat dari Aldi kepada Aira dan begitupun sebaliknya, bahkan tak satu kata pun keluar dari mulut keduanya, lalu bagai mana nasib rumah tangga Aira dan Aldi
Di tunggu like, komen, vote nya dukung terus author ya.
Eh jangan di skip dulu, karna akan ada info penting nih, salah satu novel yang mesti ada di rak buku anda, mampir yuk membacanya, author juga baca dan di favoritin.
__ADS_1
Fajira hanindya seorang yatim piatu yang harus berjuang hidup di kota metropolitan. Namun semuanya berubah ketika malam yang menyakitkan baginya terjadi di atas ranjang seorang CEO. Malam panas itu nenghasilkan seorang anak yang sangat genius. Irfan dan Fajri tidak mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya, padahal ayah dan anak itu sedang melakukan kerja sama yang sangat besar.
Namun suatu kesalahan terjadi ketika Fajri mengetahui bagaimana ia ada di dunia ini, membuat pria kecil nan genius itu memilih pergi bersama fajira dan meninggalkan Ayahnya sendiri dan membangun perusahaan yang bisa mengalahkan Perusahaan Ayahnya