Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Terpaksa


__ADS_3

"Papi bagaimana sih? katanya kecelakaan tersebut bisa membunuh semua anggota keluarga bang Herman! Tapi Apa coba! Sekarang Nisa ternyata masih hidup! " Mala


"Sebentar lagi ia akan berumur delapan belas tahun dan jika sudah begitu semua warisan kakeknya pasti akan jatuh ke tangan Annisa. " Mala.


"Huh! liut sekali nyawa anak itu,"dengus Nando.


"Lalu sekarang apa yang akan kita lakukann? " tanya Mala pada suaminya.


"Kita jemput Annisa dari rumah sakit. Dan kita bawa dia pulang ke rumah ini! " Nando.


"Apa? Aku tak sudi anak sialan itu berada di rumah ini! " Mala.


"Tapi itu satu-satunya cara agar kita bisa menguasai harta orang tua-nya." Nando.


Mendengar ucapan siaminya bola mata Mala membulat dengan sempurna.


"Ehm, tapi boleh juga. Bukan-nya di rumah ini kekurangan pembantu. Ha ha ha. Lumayanlah punya asisten rumah tangga tanpa perlu menggaji-nya. Cukup makan dan minum ala kadarnya saja.Ha ha ha benar juga katamu Papi, sebaiknya Annisa memang tinggal di rumah ini. Kebetulan kamar pembantu kosong."


Nando tersenyum mendengar kelicikan Mala. Ia begitu bahagia memiliki istri yang sama liciknya dengan dirinya.


"Ayo Mami kita jemput Nissa.Berpura-pura lah baik terhadap-nya.Agar ia mau ikut tinggal bersama kita dari pada tinggal di panti asuhan. "


"Okey Papi."


Mereka pun berniat menjemput Nisa dirumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Nando dan Mala menghubungi petugas rumah sakit.


Dua hari yang lalu mereka baru saja memakamkan keluarga pak Herman yakni ayah, ibu, dan saudara kembar Anissa. "


Saat itu Nisa masih belum sadar sepenuhnya. Karna trauma, selama di rumah sakit Nissa hanya diam. Ia marah karna mengira orang tua-nya tak menjenguknya.


Padahal Ia tak tahu jika keadaan orang tua dan saudaranya lebih mengenaskan.


Annisa baru mengetahui kematian orang tuanya setelah suster memberi tahu kepadanya jika jasad ayah, ibu dan kembarannya telah di ambil oleh pihak keluarganya dan di makamkan.


Saat itu ia begitu syok dan terpukul.Ia pun memutuskan untuk melepas infusnya sendiri dan kabur dari ruang perawatannya.


***


Setelah mendapati ruangan Annisa di rawat Nando dan Mala pun menghampiri kamar tersebut. Tapi Annisa tak di temukan di kamarnya.


Mereka pun mencari jejakAnnisa melalui rekaman cctv.


***


Sementara itu Annisa berada dalam pelukan Aira, sosok Aira kembali mengingatkan tentang ibunda tercinta.Membuat Anissa semakin sedih.


Tak hanya Aira, Tari pun mendekat ke arah Anissa.


"Sudalahlah Nak, Kamu yang sabar ya,jangan menangis lagi, kalau kamu mau, kamu bisa jadi anak angkat tante, kebetulan Tante tak punya anak perempuan ," ucap Tari sambil mengusap kepala Anissa


Tari memang merindukan hadirnya anak perempuan di dalam keluarganya.

__ADS_1


"Kamu jangan sedih lagi ya, kamu bisa pilih tinggal bersama siapa.Kami semua mau menerima kamu," ucap Aira.


"Hiks hiks, terima kasih.Tapi saya tak ingin merepotkan," ucap Annisa sambil mengusap air matanya.


"Kamu sebelum ini tinggal di mana Nak? " tanya Aira lagi.


"Saya tinggal di komlek permata indah," jawab Nisa dengan tatapan menerawang.Ia sendiri binggung dengan hidupnya kini. Ia memang memiliki seorang paman, tapi pamannya tersebut sering cekcok mulut dengan ayahnya. Ia juga tak menyukai tante dan saudara-saudara sepupunya.


"Kamu masih sekolah ?" tanya Aira.


Nisa menggangguk lirih.


"Sekolah dimana? "


"SMA N 1," jawabnya seraya menghapus air matanya.


Aldi mengeluarkan kartu namanya.


"Ini Nisa. Alamat dan nomor telpon Om. Kamu bisa datang kapan saja ke rumah kami. Berikan juga nomor telpon kamu, biar kami bisa menghubungi kamu," ucap Aldi seraya menyodorkan nomor telponnya.


Nisa pun memberi nomor telpon miliknya.


Meski di bujuk, Nyatanya Nisa masih enggan untuk tinggal dengan mereka. Bisa di maklumi memang.Tak semudah itu untuk menumpang hidup di rumah orang yang tak di kenal sama sekali.


"Tante. Om saya permisi. Terima kasih atas semuanya. Saya mau pulang saja. " Nisa.


"Iya Nak. Kamu pikirkan saja yang terbaik untuk dirimu," ucap Aira.


"Iya Bunda. " Arsyad.


Nisa pun berniat untuk kembali ke kama perawatan sebelum pulang.


Mereka pun berjalan melewati koridor.


"Nisa apa rencana kamu setelah ini?" tanya Arsyad.


"Aku mau pulang dan ziarah ke makam orang tua ku, hiks," sahutnya dengan sedih.


"Aku antar kamu Ya. Siapa tahu kamu berubah pikiran." Arsyad.


"Gadis seperti kamu tak baik tinggal sendirian di rumah. Jika terjadi sesuatu pada mu, siapa yang akan menolong. " Arsyad.


Sesungguhnya ia takut jika Nisa kembali melakukan tindakan nekad.


Nisa hanya tersenyum kecut ke arah Arsyad.


"Biar saja. Hidup ku juga sudah ngak ada artinya lagi.Hiks." Nisa.


"Siapa bilang ngak ada artinya. Segala sesuatu yang Tuhan ciptakan itu tak ada yang sia-sia. Mungkin Tuhan membiarkan mu tetap hidup agar kamu bisa jadi ladang amal untuk orang tuamu. Kau bisa berbakti pada orang tua mu dengan mendokanya setiap saat, karna hanya itu yang di butuhkan oleh orang tuamu saat ini, " papar Arsyad.


Nisa berhenti, begitupun Arsyad.Di tatapnya lagi pria tampan yang ada di hadapannya.


Kata-kata Arsyad memang ada benarnya, ia pun bisa menarik kesimpulan jika pria yang ada di hadapannya adalah orang yang baik.

__ADS_1


"Hiks, kau benar, setidaknya hanya itu yang bisa ku lakukan untuk membalas jasa-jasa mereka, hiks hiks." Nisa kembali haru, ia pun kembali menangis.


Arsyad mendekat kearahnya.


"Sudahlah Nisa.Kau terima saja tawaran orang tua ku, " bujuk Arsyad.


Nisa masih diam, wajahnya pun tertunduk.


Gadis belia seperti dirinya memang belum bisa mengambil keputusan dengan bijak, kebanyakan keputusan di ambil hanya berdasarkan emosi sesaat.


"Bagaimana Nisa? " tanya Arsyad ketika melihat keraguan di wajah gadis tersebut.


Ehm,


"Nisa! "


Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.


Keduanya pun menoleh.


Nisa kaget ketika melihat Om dan tantenya berada diujung lorong.


"Om Nando! " guman Nisa lirih, Seketika wajahnya pun tertunduk ketakutan.


Nando dan Mala melangkah lebih cepat menghampiri mereka.


"Oh, begini kelakuan kamu?! belum tiga hari kematian orang tua kamu, kamu sudah bersenang-senang dengan seorang pria. Bukannya bersedih malah senang ya kamu! Karna tak ada lagi yang menghalangi kamu untuk menjalin hubungan dengan pria! Dasar perempuan sun*dal!" Mala


Seketika mata keduanya melotot kearah Mala.


"Sini kamu! Kamu harus tinggal bersama kami! Biar kami yang mendidik kamu dengan baik! Karna orang tua kamu pasti tak pernah mendidik kamu hingga kau jadi seperti ini! " cecar Nando sambil menarik tangan Nisa.


"Hiks hiks.Jangan berkata yang bukan-bukan Om terhadap orang tua saya. Hiks hiks.Mereka orang yang baik," sahut Nisa dengan bibir gemetar karna menahan marah dan sedihnya.


"Alah sudah! Ayo kita pulang! Semua perawatan mu di rumah sakit sudah ku bayar. Sekarang juga kamu ikut aku pulang!" Seru Nando ia pun menarik paksa tangan Nisa.


Melihat hal tersebut Arsyad tak tinggal diam.


"Tunggu Om! jangan kasar-kasar pada Nisa, kasihan dia." Arsyad.


"He! Anak kecil! kamu siapa ? pacarnya?! lebih baik kamu belajar yang rajin.Jangan mikirin orang lain.Pikirkan saja dirimu sendiri! Jangan ikut campur terlalu banyak jika kamu ingin hidup lebih lama? " Ancam Nando.


"Hm anda mengancam saya?! saya bisa laporkan anda atas perbuatan anda tersebut! "sahut Arsyad.


"Alah anak kecil tapi sok mau jadi pahlawan, sudah sana minggir!" Nando.


Mereka pun menarik tangan Nisa untuk mengikuti mereka.


Karna tak punya pilihan, Nisa pun ikut bersama pamannya.


Sementara Arsyad mengikuti dari belakang kemana Nando dan Mala membawa Nisa.


Bersambung. Ada yang penasaran ngak dengan kisah cinta babang Arsyad. Hm ngak yang komentar berati ngak ada yg penasaran 😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2