
Bagas dan Alia sampai di pantai, pengunjung pantaiĀ cukup ramai saat itu, ada yang sekedar berenang ada juga bermain aneka wahana yang di sediakan pihak pengelola pantai.
Bagas dan Alia turun dari motornya.
Setelah menyimpan helm di penitipan, keduanya bergandeng tangan berjalan menuju pantai.
Kini mereka tak lagi merasa malu-malu, setelah mendeklarasikan perasaannya.
Sepasang sejoli tersebut resmi berpacaran.
"Alia kita mau kemana?tanya Bagas seraya melirik gadis cantik yang ada di sampingnya.
"Kamu mau naik salah satu wahana?"tanya Bagas.
"Ehm aku ingin main air saja, Gas. Karna sudah sering juga naik wahana baik di mall mau pun tempat rekreasi,"papar Alia.
Mereka pun duduk di sebuah kursi yang ada di bawah pohon kelapa.
"Oh Ya kamu pergi sama siapa? Pacar kamu?"tanya Bagas dengan nada cemburu.
"Ngak kok aku belum pernah punya pacar sebelumnya, biasanya keluarga ku tuh sebulan sekali atau dua minggu sekali kami pasti liburan."Alia.
"Kadang kita ke pantai,nginap di villa atau cuma jalan-jalan ke mall dan rekreasi,"papar Alia.
"Ehm, keluarga kamu hangat ya Alia, kadang aku juga mendambakan keluarga yang lengkap, ayah ibu dan adik-adikku menghabiskan waktu bersama-sama, tapi jangan kan menghabiskan waktu sama-sama, ayah ku pulang ke rumah hanya sebulan sekali atau paling sering dua minggu sekali."
"Kadang aku juga kasihan pada ibu dan adik-adikku,mereka kehilangan sosok ayah dan suami yang mengayomi mereka."
Ungkap Bagas dengan wajah yang tertunduk.
Alia melirik ke arah Bagas.
"Aku juga pernah mengalaminya kok Gas, ketika ayah dan bunda ku berpisah, jadi aku tahu seperti apa rasanya tanpa sosok ayah."
"Oh ya? begitukah? Sudalah Alia ngak usah ungkit yang sedih-sedih, aku bawa kamu ke sini agar kita bisa bersenang-senang,"ucap Bagas.
Alia tersenyum,"Justru aku ingin tahu tentang keluarga kamu Gas," sahut Alia.
"Kalau gitu pulang dari sini aku ajak kamu menemui ibuku ya, ia pasti senang melihat calon menantunya?"ucap Bagas malu-malu.
Alia tersenyum," Emang kamu yakin Gas sama aku?"tanya Alia seraya menatap lekat wajah Bagas.
"Aku yakin sama perasaan ku, aku hanya tak yakin jika kamu dan keluarga mu bisa menerima ku, jika kalian tahu siapa aku yang sebenarnya," ucap Bagas seraya menatap mata teduh Alia dengan mata yang berembun.
Alia menyeritkan dahi, tak mengerti maksud Bagas.
"Alia seandainya aku tak seperti yang kamu pikirkan bagaimana? Apa kamu bisa terima aku apa adanya?"tanya Bagas seraya menggenggam erat tangan Alia.
Alia tersenyum tipis,"Aku ngak masalah Gas, selama kamu baik dan tak terlibat suatu kasus kriminal, aku yakin jika kedua orang tuaku juga akan menerima kamu," jawab Alia spontan.
Bagas menengadah kepalanya sebentar mencari pasokan oksigen yang mulai menipis saat Alia mengatakan hal yang demikian.
Karna definisi orang baik akan selalu berbeda-beda.
"Aku bukan orang baik Alia, tapi aku berjanji sungguh-sungguh akan menjadi orang baik menurut kamu dan orang tua kamu,"ucap Bagas.
"Iya Gas aku percaya sama kamu kok."Alia.
__ADS_1
"Gas, kamu mau ngak bertemu dengan orang tua ku?"tanya Alia.
Bagas sedikit syok, ia pun merubah sedikit posisi duduknya agar bisa menatap Alia langsung.
"Bertemu dengan orang tua kamu Alia?"
" iya kenapa?"tanya Alia.
Bagas meragu.
"Aku pasti menemui orang tua kamu Alia, tapi ketika aku sudah punya kerjaan tetap dan rencananya bulan depan aku juga mau daftar kuliah?" Papar Bagas.
Alia diam dan tertunduk, ia sedikit kecewa dengan pernyataan Bagas, namun Bagas mencoba kembali meyakinkan Alia dengan memaparkan alasannya.
"Alia ketika aku bertemu orang tua kamu, pasti mereka menanyakan pekerjaan ku, pendidikan ku dan orang tua ku kan? Dan ketika mereka menanyakan itu semua, aku harus punya jawabannya,"papar Bagas.
"Mungkin saat ini, aku belum punya itu semua, tapi sedang berusaha."
Bagas kembali meraih tangan Alia dan menggenggamnya.
" Alia beri aku waktu, untuk membuktikan kepada mu jika aku benar-benar serius kepada mu."
"Aku juga harus bisa buktikan kepada orang tuamu, jika aku layak bersanding dengan mu," ucap Bagas seraya menyentuh pipi Alia.
Alia meraih telapak tangan Bagas yang menyentuh pipinya, ia melihat kesungguhan di mata Bagas yang membuatnya percaya.
"Iya aku percaya sama kamu," ucap Alia yang kemudian menggenggam tangan Bagas.
Keduanya pun saling melempar senyum dan hening sejenak.
"Kalau gitu kita ke bibir pantai yuk," ajak Bagas.
Keduanya berjalan saling menggandeng mesra.
Tiba di tepi bibir pantai Bagas melipat celananya, begitu pun Alia.
Mereka berduan menyusuri bibir pantai dengan tanggan yang saling menghenggam erat.
Sesekali mereka bermain air dan mengukir nama mereka di pasir putih, Alia menyiram air laut ketubuh bagas hingga pakaianya basah.
"Nih Gas, " ucap Alia seraya menyiram air ke tubuh Bagas, ia pun tertawa karna Bagas terus mengelak.
"Alia aku tak punya baju ganti," keluh Bagas sambil menangkis serangan Alia.
"Kamu kan pakai jaket Gas! " sahut Alia ia pun berlar lari pelan.
"Tapi kalau aku kedinginan, aku peluk kamu ya,"ucap Bagas berlari menghampiri Alia.
"Ngak Gas aku ngak mau!"teriak Alia lagi.
"Kamu juga harus basah Alia, "teriak Bagas sambil tetap mengejar Alia.
Keduanya main kejar-kejaran di pantai, ketika mendekati Alia, Bagas memeluknya dari belakang.
Hingga keduanya terjungkal dan jatuh di atas pasir dan langsung di sambar gelombang.
Akhirnya kedua-duanya basah.
__ADS_1
"Bagas, aku ngak bawa baju ganti."
"Nanti kita singgah ke tokoh dekat sini saja buat beli baju ganti," ucap Bagas.
"Ehm ya sudah deh karna telanjur basah, sekalian saja kita berenang." Alia.
Karna terlanjur basah, mereka pun bermain air dan berenang sampai puas.
"Alia, kita naik speedboat yuk," ajak Bagas ketika melihat ada penyewaan speedboat.
"Ehm boleh," Alia.
Bagas pun bangkit untuk berdiri
"Ayo sayang," ucap Bagas seraya mengulurkan tanganya ke Alia.
Mereka pun menuju tempat penyewaan speedboat.
Setelah membayar ongkos sewanya, keduanya di suruh memakai pelampung.
Bagas dengan siagap mengenakan pelampung tersebut ke pada Alia.
Kemudian keduanya naik diatas speedboat tersebut.
Alia memeluk Bagas dengan kuat, mereka pun melaju melesat-melesat memecah gelombang dan gulungan ombak.
Akhh!!!! teriak keduanya seolah mengekspresikan kebebasan dan kebahagian yang di rasa saat itu.
Satu jam mereka habiskan untuk menyusuri pantai dengan speedboat.
Setelah mengembalikan speedboat berserta perlengkapan keamanannya.
Bagas membawa Alia ke suatu kedai di pinggir pantai untuk menikmati makan siang, karna selain matahari yang sudah meninggi,perut mereka pun terasa kosong dan perlu untuk di isi.
Setelah memesan makanan dan berapa cemilan penganjal perut, satu buah es kelapa muda jadi penghilang dahaga di saat cuaca terik seperti saat itu.
Bagas melirik ke arah Alia yang berada di sampingnya, ia pun tersenyum, seraya menyibak rambut panjang Alia yang sedikit basah.
*Kamu memang cantik Alia di pandang dari sudut mana pun, aku bisa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama kamu, apalagi jika sampai menghabiskan seumur hidup ku bersama mu.
Tuhan aku mau dia yang jadi jodoh ku,bartin Bagas*.
Alia melirik ke arah Bagas yang tersenyum melihat kearahnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum melihat aku seperti itu sih?"tanya Alia.
Bagas tersenyum.
"Ngak kamu begitu cantik, melihat kamu seperti melihat bidadari yang jatuh ke bumi," ucap Bagas seraya membelai pipi mulus Alia.
Alia tersenyum, "Satu titik, dua koma, aku cantik siapa yang punya?"
"Aku dong yang punya,"sahut Bagas segera, ia pun merangkul Alia dalam pelukannya.
Mereka pun tertawa bersama.
Ya Tuhan mimpi apa aku semalam, belum pernah aku sebahagia ini dalam hidupku.Batin Bagas
__ADS_1
Bersambung.