
Aldi merasa gelisah sejak sore harinya, Namun karna kesibukanya mengurus Rita, Aldi kesulitan untuk keluar dari ruang perawatan Rita, karna saat Rita masih sadar, ia terus meminta agar Aldi tak meninggalkanya.
Aldi yang tertidur di samping Rita, mendadak terbangun.
"Aira," ucapnya, ia tersadar dengan jantung yang berdetak kencang.
Aldi merasa sangat khawatir, jantungnya terus saja berdegup kencang, perasaanya menjadi tak menentu.
"Ada apa dengan Aira, apa yang terjadi padanya?"tanya Aldi dengan tubuh yang gemetar, keringat dingin mengalir dengan derasnya membasahi sekujur tubuhnya, ia pun mencoba mengatur nafasnya dengan baik.
Setelah tenang, menuju toilet.
Aldi berada di toilet untuk menghubungi Doni.
"Halo Don, Bagai mana kabar Aira Don?" tanya Aldi dengan suara yang lirih.
"Udah beres Di, besok gue akan jemput Aira pada pagi hari, dia akan tinggal di tempat yang aman."
"Lo kapan pulang Di?"
"Ngak tahu Don, yang pasti besok Heru akan pulang, biar dia yang akan mengurus Aira selama gue disini," ucap Aldi lirih.
Aldi memutus sambungan telponnya, ia menangis untuk beberapa saat, ia begitu rindu dan khawatir pada Aira, selama mereka menikah, tak pernah semalam pun ia habiskan tanpa memeluk Aira.
Malam yang dingin' semakin dingin membuat Aldi meringkuk dalam kesendirian, bayangan wajah Aira selalu menari di pikiranya.
Ia begitu rindu pada sang istri, meski hanya beberapa hari mereka tak bertemu.
Ia rindu akan kebiasaanya bersama sang istri dalam melewati malam panjang mereka, setiap harinya Aldi mengunggkapkan perasaan cinta yang baru tumbuh itu, dengan penyatuan tubuh mereka, bukan hanya sekedar melepaskan hasrat, tapi juga sebagai pengukuhan jika mereka saling memiliki dan tanpa ada batasan apapun , kebiasaan yang mereka lakukan, ternyata mampu mengikat hubungan mereka semakin erat, seperti bersatunya tubuh mereka, begitu pula dengan hati mereka, saat Aira merasa sakit, Aldi juga merasakan hal sama.
Aldi terpuruk dan meringkuk menahan pedih hatinya, entah apa yang terjadi pada belahan jiwanya disana, hingga membuat Aldi merasa begitu gelisah dan resah memikirkan Aira.
***
"Aira," ucap Romeo ketika melihat keadaan Aira yang sangat kacau.
Aira gemetaran, wajahnya pucat dengan keringat dingin yang mengucur di sekujur tubuhnya, tangan yang gemetaran menyentuh tangan Romeo.
"Ada apa Aira?" tanya Romeo yang nenangkupkan telapak tangganya ke wajah Aira.
"Aira, Aira sudah membunuh pak Retno bang, " ucapnya terbata-bata, bibir nya terlihat pucat memutih.
Romeo menelan salivanya, ia pun melihat tangan dan baju Aira yang terdapat noda dari percikan darah.
"Aira...Aira ...seorang pembunuh bang," ucapnya nya dengan tatapan mata kosong, tubuhnya nya pun semakin gemetar.
"Tidak Aira, kau pasti punya alasan untuk itu, ayo kita pergi dari sini, " ucap Romeo sambil berlari kecil, menarik tangan Aira menuju mobilnya.
Romeo membuka pintu mobil, dan meyuruh Aira masuk, meski ragu' Aira pun akhirnya masuk ke dalam mobil tersebut.
Romeo berlari kecil menuju pintu bagian kemudi, secepat kilat ia memutar kunci kontak, mengunjak kopling dan gas secara bergantian untuk membawa laju mobilnya.
Jantung Romeo berdetak kencang, ia sendiri tak tahu harus membawa Aira kemana, sementara Aira, ia menangis ketakutan melihat pakaian dan tanganya yang masih berlumuran darah.
Aira menangis dengan kencang, ia pun menjambak jambak rambutnya.
Romeo semakin khawatir melihat Aira yang terlihat depresi.
"Tenang, Aira. tolong tenang, jika Aira bersikap seperti itu, abang tak bisa berpikir jernih." ucap Romeo dengan panik, ia sendiri pun sebenarnya dalam keadaan panik.
Aira menangis meringkuk, Romeo menarik tubuh Aira agar jatuh di pelukanya.
"Tenang Aira, kita menjauh dari kota ini, setelah itu kita pikirkan langkah selanjutnya." ucap Romeo sambil mengusap lengan Aira.
Em, em, hiks, isak tangis Aira.
"Bagaimana bisa tenang bang, jika Aira telah membunuh sesorang, Aira seorang pembunuh bang," ucapnya gemetar sambil menangis terisak.
Romeo menarik nafasnya, ia tetap merangkul Aira sambil mengatur laju kendaraanya.
__ADS_1
"Jangan takut, abang ngak akan pernah membiarkan kamu sendiri, abang akan selalu melindungi kamu, kita pergi sejauh mungkin dari sini, dan memulai hidup baru di tempat lain, tak akan ada yang menyakiti kamu lagi Aira," tutur Romeo, sambil mencium pucuk kepala Aira.
Aira masih gemeteran, ia menggigit ujung kukunya dalam rangkulan Romeo.
Romeo menambah kecepatan mobilnya, lampu sorot dari mobil tersebut menembus pekatnya jalan sepi menuju luar kota, hanya dalam waktu setengah jam ia dan Aira kini berada di jalan trans menuju kota berikutnya.
Setelah hampir dua jam dalam perjalananya Romeo pun memasuki sebuah pom bensin untuk mengisi penuh bahan bakar, ia sendiri tidak tahu akan membawa Aira kemana, namun yang pasti mereka harus lari ke desa terpencil agar jejak mereka sulit terendus.
Pikiran Romeo kacau. ia tak bisa lagi berpikir jernih, yang ia pikirkan saat itu adalah membawa Aira bersamanya kesebuah tempat yang baru dan sangat terpencil, agar mereka bisa hidup bersama sebagai pasangan resmi.
Cinta telah membutakan matanya, dan menodai pikiranya, hasrat untuk memiliki Aira kembali ia rasakan, saat Aira merasakan tak bahagia dengan apa yang di jalaninya saat ini.
Setelah mengisi bahan bakar, Romeo memambangun kan Aira yang tidur dengan kaki si senjorkan di atas kursi kemudi.
Romeo mengangkat pelan kaki Aira untuk di pangku kembali di pahanya.
Sudah empat jam perjalanan mereka lalui, melihat Aira yang terlelap, Romeo berinisiatif untuk memesan kamar di sebuah penginapan, karna waktu juga sudah berada tepat tenggah malam.
Romeo berhenti di sebuah penginapan, ia pun turun dan membangunkan Aira, untuk menginap di penginapan sederhana tersebut.
Romeo menyentuh tubuh Aira untuk membangunkanya.
Suhu tubuh Aira terasa hangat oleh Romeo, Aira pun menggigil dengan mata yang masih terpejam.
Romeo pun kembali merasa panik, melihat Aira yang terlihat tak sadarkan diri.
"Aira, Aira, bangun Aira," ucap Romeo dengan panik.
Tapi setelah beberapa kali menepuk pelan pipi Aira, ia masih tetap tak sadarkan diei.
Romeo semakin panik, ia pun kembali masuk ke dalam mobil untuk membeli makanan dan obat penurun panas untuk Aira.
Setelah mendapatkan apa yang di butuhkan nya, ia kembali menuju penginapan.
Romeo memesan satu kamar untuk mereka berdua, melihat kondisi Aira saat itu, ia khawatir jika meninggalkan Aira sendiri di kamar.
Setelah beberapa kali membangunkan Aira, Aira pun membuka matanya.
"Aira bangun," ucap Romeo yang kini ada di samping nya.
Aira hanya menggangguk ia pun keluar dari mobil dibantu Romeo.
Aira merasa kakinya terasa lemas, ia pun tak sanggup lagi untuk berjalan, dengan terpaksa Romeo pun menggendongnya dari belakang.
Setelah sampai di meja resepsionis, Romeo menurunkan Aira pada sebuah bangku.
Romeo pun menyerahkan kpt nya untuk di data.
"Maaf pak, bapak sendiri?" tanya petugas resepsionis kepada Romeo.
"Saya bersama istri saya," ucap Romeo gugup.
"Bisa minta ktp atau surat keterangan jika anda sudah menikah?" tanya Resepsionis tersebut.
Ternyata penginapan tersebut, tak seperti di hotel yang bisa dengan bebas menginap dengan siapa pun tanpa ada pemeriksaan
Romeo gelagapan menjawab peryanyaan dari petugas tersebut.
"Maaf pak, saya hanya membawa ktp dan bermaksud untuk mengunjungi orang tua saya, tapi mendadak istri saya sakit dalam perjalanan, jadi saya memutuskan untuk istirahat, sampai istri saya pulih kembali," ucap Romeo dengan tenang.
Petugas tersebut pun melirik Aira.
Setelah melihat Aira yang memang terlihat sakit, sang resepsionis pun menyerahkan kunci kamar untuk mereka.
Romeo membopong Aira untuk menuju kamar mereka, dengan tenaga yang tersisa Aira berjalan tertatih menapaki anak tangga di bantu oleh Romeo.
Sesampainya di kamar , Romeo langsung merebahkan tubuh Aira.
Ia menyuruh Aira membuka kaos yang masih terdapat bercak darah.
__ADS_1
Romeo membuka sweeternya untuk di pakai kan pada Aira, karna mereka sama sekali tak membawa baju ganti.
Aira masih merasa kedinginan meski ia memakai sweater hangat Romeo, matanya selalu ingin terpejam.
Romeo membuka bungkusan nasi yang di belinya, dan menyuapi Aira makan, sebelum minum obat penurun panas.
"Aira ayo makan," ucap Romeo sambil menyendokan nasi ke dalam mulut Aira.
Aira menggelengkan kepalanya, dengan mata yang terpejam.
"Ayo Aira kamu harus sembuh," ucap Romeo dengan tangan gemetar menyuapi Aira, sebenarnya ia sendiri belum makan.
Aira mencoba membuka matanya yang terasa berat, untuk menghargai Romeo ia pun membuka mulut nya.
Beberapa suapan dan Aira merasa sudah cukup, ia tak sanggup lagi menelan makanan yang terasa pahit di mulutnya tersebut.
"Udah bang, abang makan saja, abang jangan sampai sakit, kalau abang sakit siapa yang akan jaga Aira," bujuknya kepada Romeo, agar Romeo tetap menaga kesehatanya.
"Ia Aira abang makan," sahut Romeo dengan tersenyum.
Romeo merasa bahagia bisa bersama Aira, sekaligus khawatir melihat kondisi Aira.
Setelah menghabiskan makananya, Romeo meraih sirup penurun panas yang di belinya di minimarket.
Ia menyuapkan sirup tersebut kepada Aira, setelah itu Romeo menarik selimut untuk menutupi tubuh Aira yang sudah tertidur lelap.
Romeo tidur di atas lantai, sedangkan Aira tidur di busa empuk.
Romeo mencoba untuk memejakan matanya, tubuhnya begitu lelah, tapi tak mau terpejam, ia sibuk memikirkan mau di bawa kemana Aira, lalu apa yang akan di lakukanya selanjutnya, apa mereka akan tinggal bersama tanpa ada ikatan, karna tak mungkin ia menikahi Aira yang masih resmi menjadi istri Aldi.
Romeo memang berencana untuk membawa Aira pergi menjauh, agar tak ada lagi yang menjadi penghalang hubungan mereka, tapi ada sedikit keraguan melanda pikiranya, bagaimana jika ia tak bisa membahagiakan Aira, atau Aira sendiri tak merasa bahagia bersamanya, lagi pula ia tak ingin Aira di penjara karna perbuatan yang di lakukan olehnya.
Romeo mendekati Aira dan melihatnya dari dekat, sebegitu besarkah keinginanya untuk memiliki Aira, hingga ia harus menyakiti banyak hati untuk mendapatkan cintanya.
Romeo mendekati wajah Aira dan mencium bibirnya dengan lembut.
Tubuh Aira semakin terasa panas, setelah mengecup lembut bibir Aira, ia pun memeluk Aira, karna di lihatnya Aira seperti merasa kedinginan.
Reaksi tak teduga datang dari Aira, Aira menarik tubuh Romeo agar jatuh di atas tubuhnya, tanganya menyusup di bawah baju Romeo untuk mencari kehangatan.
Jantung Romeo bedegup kencang, ia tak percaya Aira melakukan ini terhadapnya.
Romeo tak bisa mengendalikan pikiranya, saat itu ia begitu berhasrat pafa wanita yang memeluk tubuhnya kini, meski ada hati nurani yang melarangnya untuk melakukan itu semua.
Aira memeluk erat tubuh Romeo, karna dengan begitu ia merasa hangat, telapak tanganya menyentuh halus permukaan kulit punggung Romeo, kini Romeo benar-benar berada di atas tubuh Aira, dan mereka bisa melakukan apa saja, karna sudah tahan menahan hasratnya, Romeo membenamkan kepalanya di ceruk leher Aira sambil mencium aroma tubuhnya, Aira memeluknya semakin erat, dan itu yang membuat Romeo semakin berani.
"Mas Aldi, Aira kagen," ucapnya lirih, Aira pun memeluk Romeo yang di sangkanya Aldi.
Romeo tergaman ia pun menghentikan aksinya.
"Mas Aldi jangan tinggalkan Aira, Aira kangen, "ucap Aira lirih, dengan mata terpejam.
Saat itu Romeo tersadar jika Aira menginginkan kehangatan dari Aldi suami nya bukan dirinya.
Romeo sadar jika ia tak berhak atas Aira, ia pun melepaskan pelukanya dan bangkit di atas tubuh Aira.
Romeo duduk terpaku di samping Aira, sejak saat itu ia tak berani lagi menyentuh Aira lagi."Coba tanya pada diri mu Romeo, apa benar jika kau lakukan ini hanya karna demi cinta, atau hanya sebuah obsesi untuk memiliki.
Romeo kembali mendengar ucapan lirih Aira, yang selalu memanggil nama Aldi dalam tidurnya, ia pun kembali menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Aira.
sampai disini dulu, jangan lupa, dukung author selalu, like, komen, vote dan hadiahnya.
Seperti biasa author mau kasi rekimendasi novel bagus untuk mu, sambil menunggu author up.
Fajira hanindya seorang yatim piatu yang harus berjuang hidup di kota metropolitan. Namun semuanya berubah ketika malam yang menyakitkan baginya terjadi di atas ranjang seorang CEO. Malam panas itu nenghasilkan seorang anak yang sangat genius. Irfan dan Fajri tidak mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya, padahal ayah dan anak itu sedang melakukan kerja sama yang sangat besar.
Namun suatu kesalahan terjadi ketika Fajri mengetahui bagaimana ia ada di dunia ini, membuat pria kecil nan genius itu memilih pergi bersama fajira dan meninggalkan Ayahnya sendiri dan membangun perusahaan yang bisa mengalahkan Perusahaan Ayahnya
__ADS_1