
"Bunda, telpon Ayah Bunda, kakek sudah tak marah lagi pada Ayah" teriak Alia dengan suka cita.
Alia berlari menuju dapur dan memeluk Aira.
"Bunda! ayo telpon Ayah sekarang! katakan pada ayah, kakek tak lagi marah padanya Bunda, ayo Bunda Alia ingin ayah tinggal di sini bersama kita sekarang," ucap Alia dengan polos.
Aira menyapu air matanya yang perlahan membasahi pipi, terbayang sudah, bagaimana bahagianya ia bisa kembali bersama membina rumah tangga bersama pria yang sangat ia cintai.
kemudian ia tertawa kecil mendengar celotehan sang putri.
"iya sayang, tapi tak semudah itu untuk ayah tinggal bersama kita di sini." Aira.
"Tapi kenapa Bunda? bukan kah kakek tak lagi marah pada ayah? Alia ingin seperti teman-teman Alia, ayah dan bundanya tinggal dalam satu rumah, " tuturnya dengan bibir yang sedikit cemberut.
Aira tersenyum kecil, "Sayang, ayah dan bunda memang pernah menikah dan kami juga sudah berpisah selama beberapa tahun, jadi jika ayah dan bunda ingin hidup bersama kembali, kami harus menikah," papar Aira seraya tersenyum simpul.
"Jadi ayah belum bisa tinggal bersama kita sekarang Bunda?"Alia.
"Belum, tapi jika suatu saat nanti ayah dan bunda menikah, maka kita bisa tinggal bersama-sama lagi sayang," terang Alia.
"Asik! kalau begitu, Alia ingin ayah dan bunda segera menikah, jadi Alia bisa tinggal di rumah ayah bersama bunda."
"Oh ya?" tanya Aira dengan tawa kecilnya.
"Iya Bunda, Ayah sudah janji pada Alia, jika ayah dan bunda menikah, ayah mau bikin kamar yang besar untuk Alia, dan semua barang-barang Alia bergambar karakter frozen, Bunda." ucapnya dengan penuh semangat.
Aira tersenyum simpul.
"Emang Alia berani tidur sendiri?"tanya Aira.
"Berani, Alia sudah janji pada ayah, kalau Alia akan tidur di kamar Alia sendiri,karna kata ayah, Alia ngak boleh tidur sekamar dengan ayah dan bunda lagi, kata Ayah, Ayah mau bikin dedek yang banyak untuk Alia," paparnya dengan polos.
Aira segera menutup mulut Alia, "Shut ngak boleh bicara seperti itu ya sayang, " ucap Aira jengah.
Ia malu sendiri mendengar kata-kata polos dari mulut putrinya.
Dasar mas Aldi, bisa-bisanya di bicara seperti itu kepada Alia.
"Ayo sayang, karna Kalek sudah memberi ijin ,bilang terima kasih pada kakek."
Pak Tarman ikut terharu mendengar penuturan cucunya yang begitu menginginkan keluarganya bersatu.
Aira dan Alia menghampiri Pak Tarman, "Terima kasih Pak karna telah merestui hubungan Aira dan mas Aldi," ucap Aira yang sedang berlutut di hadapan pak Tarman.
"Iya Nak, maaf kan bapak karna terlalu egois, sejujurnya bapak tak ingin kehilangan kalian berdua lagi," papar pak Tarman.
"Ngak Pak, meski Aira menikah dengan mas Aldi, Aira dan Alia tetaplah anak dan cucu bapak, bahkan kami berencana untuk membawa Bapak tinggal bersama kami," papar Aira.
"Terima kasih Nak, tapi Bapak lebih memilih hidup sendiri, Bapak ingin memperbanyak ibadah, bapak sadar, bapak telah melakukan banyak sekali dosa-dosa besar, baik itu terhadap kamu, mau pun terhadap ibu kamu, "papar Pak Tarman dengan tubuh yang terguncang menahan air matanya.
"Bapak menyesal Aira, masa muda Bapak habiskan dengan berbuat banyak dosa, bahkan Bapak telah berbuat zalim pada kamu dan ibumu, jadi biar saja Bapak tinggal sendiri, ini adalah hukuman bagi bapak yang telah menyia-nyiakan kalian berdua hiks hiks hiks, " kali ini Pak Tarman tak mampu lagi membendung air matanya.
Tujuh tahun berasa di sel tahanan dan terpisah dari anak dan istri membuat mata hatinya sedikit demi sedikit terbuka.
"Jangan bicara seperti itu Pak, sudahlah Pak, mumpung masih ada kesempatan, Tuhan pasti menerima hambanya yang bersungguh-sungguh dalam tobatnya," ucap Aira seraya memeluk Pak Tarman.
Lagi-lagi Pak Tarman menangis sejadi-jadinya, meski menyesal, namun waktu tak lagi dapat di putar kembali.
__ADS_1
Masa mudanya tak akan kembali lagi, begitupun keluarga kecilnya, yang tak mungkin bersatu kembali.
Kini Pak Tarman hanya bisa menyesali dan mengambil pelajaran dari apa yang yang telah terjadi di dalam hidupnya, sepanjang masa mudanya ia telah menabur angin, kini angin itu sendiri yang menjadi badai yang menghancurkan masa tuanya.
"Pak Aira mohon doa bapak, agar pernikahan Aira lebih di berkati, karna kini pernikahan kami, benar-benar karna kami saling mencintai, tak seperti sebelumnya, mungkin karna itulah, selalu ada masalah dalam rumah tangga Aira Pak, "pinta Aira.
" Tentu Nak, semoga pernikahan kamu kali ini langgeng kalian di berkahi dan di karuniai anak-anak yang sholeh," ucap Pak Tarman.
"Amin, semoga selamanya kami tak akan terpisahkan lagi, "ucap Aira.
"Iya Nak, sesungguhnya Bapak hanya ingin kamu bahagia, karna selama ini Bapak tak pernah membahagiakan kamu," ucap Pak Tarman yang kembali menangis haru.
"Aira bahagia pak, setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa di petik sebagai pelajaran." Aira.
Alia mendekati Pak Tarman, "Kek jangan menangis lagi, kalau Kakek menangis, Alia juga ikut sedih, " ucap Alia seraya memeluk pak Tarman.
Bukannya berhenti menangis, Pak Tarman justu semakin jadi menangisnya, ia memeluk Alia semakin erat.
"Jadi apa cucuk Kakek ini sayang sama Kakek?" tanya Pak Tarman dengannair mata yang mengucur deras.
"Iya Alia sayyyang sama kakek," ucapnya seraya mencium pipi Pak Tarman.
Pak Pak Tarman tersenyum, kemudian kembali memeluk Alia.
"Kakek juga sayyyyang Alia."
Melihat ayah dan anaknya yang saling menyayangi Aira kembali menitikan Air mata.
"Lihatlah Pak, Bapak tak akan pernah sendiri lagi, Alia dan Aira akan selalu ada untuk bapak," ucap Alia.
Pak Tarman mengganguk, "Ya Tuhan terima kasih, meski aku telah berbuat dosa yang banyak, tapi kau tak pernah sedikit pun mengurangi karunia yang telah kau berikan pada ku."
Mereka makan malam bersama, Aira merasa bahagia, kini dengan penghasilannya, ia dapat mencukupi kebutuhan anak dan bapaknya.
Makanan yang ia santap ini, adalah karunia dan rezeki yang di titipkan oldh Tuhan kepadanya, melalui kerja keras serta pengorbanan yang ia dan Alia lakukan.
Setelah makan malam, Aira menelpon Aldi untuk memberi tahu kabar baik tersebut, tentu setelah Alia terlelap.
Ia tak mau di ganggu ocehan gadis kecilnya, karna setiap kali ia bicara pada Aldi, maka Alia yang menguasai telponnya.
Aira meraih handphone yang terletak di atas nakas.
Setelah menemukan kontak Aldi, ia langsung memulai sambungan telponnya.
"Hallo Mas," sapa Aira ketika Aldi mengangkat sambungan telponya.
"Hallo sayang, tumben nelpon malam-malam, kangen ya sama mas Aldi."
"Ehm, ge-er banget, baru tadi seharian bersama, masa' udah kangen lagi sih, Aira ada kabar baik untuk mas Aldi, "ucap Aira.
"Kabar apa sayang?"tanya Aldi penasaran.
"Kabarnya baiknya adalah...." Aira sengaja memutus kata-katanya.
"Apa sayang, jangan bikin jantung mas Aldi berdetak kencang, nanti mas Aldi culik dan perkosa kamu, baru tahu rasa kamu he he, papar Aldi dengan tawa terkekeh.
"Ish, dasar mesum, ngak perlu culik dan perkosa Aira lagi mas, karna sebentar lagi juga Aira resmi jadi istri mas Aldi, ucapnya dengan tawa kecil."
__ADS_1
" Maksud kamu sayang_?" Aldi.
"Iya Mas, bapak telah merestui kita," sahut Aira.
"Apa sayang? jadi bapak sudah merestui hubungan kita?"tanya Aldi.
Seketika ia beranjak dari baringnyanya dan berdiri.
"Iyes, akhirnya..., "Aldi melonjak kegirangan.
"Tapi kamu ngak bohongkan sayang?tanya Aldi meragu.
"Iya Mas, Bapak sendiri yang bilang jika ia merestui kita dan bersedia menjadi wali nikah kita," papar Aira, ia pun merasa bahagia.
"Alhamdullilah sayang," Aldi menadahkan tangan keatas kemudian menutup wajahnya sebagai wujud rasa syukurnya.
"Hm, mas Aldi, "guman Aira, ia bisa membayangkan betapa bahagianya Aldi saat itu.
"Hm, kalau begitu besok setelah mengantar Alia, mas Aldi langsung mengurus pernikahan kita di KUA," ucap Aldi.
"Hm, secepat itu mas?" tanya Aira dengan tawa kecilnya.
"Kalau sudah tidak ada yang menghalangi, tak ada salahnya bukan mengsegerakannya, kan mas Aldi juga sudah lama puasanya." ucapnya seraya tertawa cengengesan.
"Ha ha ha, bisa saja deh, ngak di genap-kan tujuh tahun aja tuh si buyung puasanya?" canda Aira.
"Jangan sayang, nanti si buyung ngambek, ngak mau hidup lagi dia, merana dong kamu," celoteh Aldi.
"Ish, ngak lah, Aira cari lagi ha haha," canda Aira.
"Ih kok tega sih."Aldi.
" Bercanda Mas," sahut Aira.
"Iya, Mas semoga saja tak ada yang menghalangi, dan kali ini mas Aldi tak melakukan kesalahan yang sama lagi," ungkap Aira.
"Sayang, percayalah kali ini mas Aldi bersungguh-sungguh, hal yang paling mas Aldi takutkan di dunia ini adalah kehilangan kamu dan Alia sayang, bagiku keluarga kita adalah segalanya, " ungkap Aldi dengan nada serius.
"Hm,kalau sekali lagi mas Aldi bikin ulah, selamanya Aira akan pergi dan ngak akan pernah kembali."
"Iya sayang, ini yang terakhir, swaer berani di samber gledek, "ucapnya bersungguh-sungguh.
"Semoga saja, ya sudah sampai jumpa esok hari lagi, Aira mau tidur."Aira.
" Sampai jumpa esok pagi, i miss you sayang, "ucap Aldi.
"Hm, Baru saja bertemu udah kangen saja," cetus Aira.
"Kangen pengen gitu-gituan lagi sayang," sahut Aldi.
"Ehm mulai lagi mesumnya, nanti ya mas kalau sudah resmi, "cetus Aira.
"Iya sayang, si buyungkan kalau ngak official ngak mau juga dia." canda Aldi.
"Ih mulai lagi, sudah mas, kalau begitu sampai jumpa besok ya." Aira.
"Iya sayang, semoga kita bertemu di alam mimpi, cup cup "Aldi.
__ADS_1
Aldi menutup telponnya, kemudian berjingkrak, "Yey akhirnya, tak lama lagi, aku akan membawa ratuku tidur di kamar ini lagi," ucapnya seraya menghempaskan tubuh di atas tempat tidur.
Bersambung,mohon dukungan like dan komennya ya.