Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Dua Kebahagiaan


__ADS_3

"Hamil?"


Aldi merasa senang dengan ucapan bidan tersebut, ia pun memeluk Aira yang berada di sampingnya.


"Alhamdullilah Bun, kita dapat rezeki lagi," ucap Aldi seraya merangkul dan memeluk istrinya.


"Iya Yah, kebahagian kita semakin bertambah saja," keduanya haru hingga menetes kan air matanya.


Bidan tersebut ikut haru dan bahagua melihat keluarga kecil yang terlihat harmonis tersebut.


"Terima kasih ya Bu," ucap Aldi.


Sama-sama Pak, ucap Bidan tersebut seraya menyerahkan resep kepada Aldi.


Mereka pun keluar dari tempat tersebut.


Aldi menggendong Alia dan merangkul istrinya.


Mereka berjalan menuju mobil.


"Bunda, mulai sekarang Bunda ngak boleh mengerjakan sesuatu yang berat, ngak boleh lagi naik motor. kemana-mana biar Ayah yang antar-jeput,"ucap Aldi.


Aira tersenyun Iya Ayah,"sahut Aira.


"Pokoknya kehamilan kali ini jangan lagi ada drama ya Bun."


"Jangan pergi kemana-mana tanpa sepengetahuan Ayah."Aldi


"Iya Ayah Aldi yang bawel," sahutnya, Aira pun tertawa.


"Ok, sebagai wujud syukur nanti malam kita undang Romeo dan Doni, kita kumpul-kumpul deh tuh keluarga mereka suruh mereka bawa anak bini mereka untuk makan malam bersama."


"Besoknya kita ke panti asuhan dan memberi sumbangan berupa sembako dan alat-alat sekolah untuk anak-anak panti Bun,"papar Aldi.


"Ehm, baiknya suami ku ini, udah ganteng, rajin menabung, tidak sombong, lagi "ucap Aira menggoda Aldi.


Iya pun merebahkan kepalanya ke pundak Aldi.


"Iya dong Bun, ketika kita di beri kebahagian, jangan lupa untuk bersyukur dengan membahagiakan orang lain, apalah


gi dengan anak yatim piatu, doa mereka mustajab loh," papar Aldi.


"Ehm, makin cinta dengan suami ku tersayang,"ucap Aira kemudian mencium pipi Aldi.


Aldi tersenyum ke arah Aira, "Ayah juga makin cinta sama kamu Bun," ucap Aldi kemudian mencium pucuk kepala istrinya, tangannya pun menggenggam erat tangan Aira, seolah tak ingin di pisahkan.


Alia tersenyum tersipu dengan wajah yang tertunduk karna menyaksikan kebucinan kedua orang tuanya.


Aldi merangkul dan memeluk keluarga kecilnya tersebut.


Begitu semangatnya dan bahagianya ia, maklum saja, di rumah yang sebesar itu mereka masih merasa kesepian, di tambah keduanya sama-sama sibuk.

__ADS_1


Aldi menjangkau tangan sang istri kemudian mencium punggung tangannya, "Ya Allah semoga tak ada lagi sesuatu apa pun yang akan memisahkan keluarga kami."Aldi


"Aamiin," sahut Aira.


Sebenarnya Aldi merasa trauma karna sudah dua kali kehamilan, ia dan Aira berpisah, kali ini ia berjanji tak ada apapun yang akan memisahkan keluarga mereka.


***


Matahari belum pun menampakan diri di upuk timur, namun Tania sudah terjaga dari tidurnya, ia merasakan sesuatu yang bergejolak dalam perutnya.


Tania memyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya setelah pergulatan hangat bersama Heru.


Dua bulan resmi menjadi istri Heru, Tania merasa semakin bahagia, ia begitu beruntung memiliki suami yang sabar dan selalu bersikaf lembut terhadapnya.


Tania tersenyum melihat wajah Tampan yang tertidur dengan pulas tersebut.


Ia pun mengecup kening sang suami sebagai ungkapan sayangnya kepada Heru.


Cup, kecupan itu mendarat di kening Heru dan seketima menyadarkannya.


Heru tersadar kemudian tersenyum, Terima kasih istri ku, ucap Heru, kemudian ia menarik tubuh Tania kembali ke dalam selimut.


Dengan senang hati, Tania melayani suaminya tersebut.


Ranjang mereka kembali berguncang hebat seiring suara lengkuhan dan des*ahan yang saling sahut menyahut dari keduanya.


Setengah jam Heru memacu kuda jantannya hingga ratusan kali keluar masuk di dalam goa licin yang sempit tersebut.


Keduanya saling memeluk penuh cinta meski mereka tak pernah berpacaran sebelum menikah.


Senyum kepuasan terbit di wajah Heru.


"Aku menyesal menikahi mu," ucap Heru seraya mengusap rambut basah Tania yang menempel di keningnya.


Tania syok matanya membesar dengan sempurna.


"Mas kau bicara apa?"tanya Tania gelalapan.


Heru tersenyum, "Aku menyesal menikahi mu sekarang, harusnya dari dulu, jika saja aku tahu rasa bercocok tanam senikmat ini maka aku tak mau menyia-nyiakan masa mudaku, lebih baik aku menikah di usiauda saja," canda Heru kemudian ia bangkit dari tubuh sang istri dan tumbang di sisinya.


"Tapi jika kau menikah dari dulu, maka kita tak akan menjadi suami istri. Mas," ucap Tania seraya memeluk sang suami.


"Maksud ku kenapa ngak dari dulu saja kita ngak ketemu,mungkin sekarang kita sudah punya anak yang banyak, seperti saudara-saudara ku," ucap Heru.


Tania tersenyum, namun ia kembali menarik senyumnya karna merasa perutnya kembali bergejolak.


Tania bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi.


Ia berlari dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya, sesampainya di kamar mandi, ia pun memuntahkan semua isi perutnya.


Uek, Uek, Suara Tania muntah terdrngar oleh Heru, setelah mengenakan celana boxer-nya Heru menghampiri Tania dengan membawa bathrobe untuk menutupi tubuh sang istri.

__ADS_1


Uek, uek, tubuh Tania terasa lemas namun ia merasa lega karna tak ada lagi yang bergejolak di dalam perutnya.


"Sayang kamu kenapa?"tanya Heru sambil mengenakan bathrobe untuk menutupi tubuh sang istri.


"Ehm, ngak Mas, tiba-tiba saja aku merasa mual" ucap Tania.


Heru tersenyum bahagia, ia curiga jika istrinya tersebut sedang hamil.


"Kalau begitu, kamu istirahat di kamar saja dulu," ucap Heru seraya menuntun Tania menuju tempat tidur.


"Biar Mas yang siapkan aur hangatnya untuk kamu, "ucap Heru seraya merebah kan tubuh sang istri kemudian menutupinya dengan selimut.


Heru menyediakan air hangat untuk mereka berdua, setelah mandi ia pun menyiapka sarapan untuk sang istri.


Keduanya berada di meja makan, rumah tersebut memang sepi, karna mereka tinggal bertiga saja dengan seorang pembantu.


"Sayang, hari ini mas Heru antar kamu ke dokter ya," ucap Heru.


"Ke dokter, aku ngak sakit kok Mas paling masuk angin," cetus Tania sambil mengunyah makanannya.


Heru tersenyum, "Kamu ikut saja, mulai sekarang ke mana pun Mas Heru pergi, kamu harus setiap mendampingi mas Heru, kamu mau kan?"


Tania tersenyum, "Tentu mau mas, siapa sih yang ngak bangga bergandeng mesra kemana saja dengan suami se ganteng mas Heru," sanjung Tania.


Heru mencubit hidung Tania mesra, "Bisa saja ada maunya ya?" tanya Heru seraya merangkul Tania.


Setelah sarapan Heru membawa Tania untuk periksa ke dokter kandungan.


Setelah beberapa saat mengantri, tibalah saat nya bagi pemeriksaan mereka.


Setelah melakukan USG, dapat di pastikan jika Tania saat itu mengandung.


"Selamat Pak, istri mengandung, dengan usia kandungan tujuh minggu," papar dokter tersebut.


Bukan main senangnya keduanya mendengar kabar tersebut, Akhirnya calon pewaris dari putra sulung Satria tak lama lagi akan larir.


Heru dan Tania keluar dari ruang tersebit dengan perasaan yang begitu bahagia.


Setelah mebus resep yang di berikan dokter, mereka kembali menuju mobi.


Heru membawa mobilnya ke luar dari parkiran klinik tersebut.


Senyum selalu mengembang pada keduanya, mereka begitu bahagia dengan kabar ini.


"Sayang, aku beri tahu orangbtua ku ya, tentang kehamilan ku?"ijin Tania.


"Tentu saja, aku juga akan memberi tahu kabar baik ini kepada kedua orang tua ku dan saudara-saudara ku, mereka pasti senang mendengar kabar bahagia ini," ujar Heru semangat.


"Terima kasih Tuhan, kau telah sempurnakan kebahagian rumah tabgga kami dengan hadirnya seorang anak, buah dari cinta kasih kami, semoga kelak keturunan kami akan menjadi keturunan yang sholeh dan sholeha, dan keluarga kami akan menjadi keluarga yang sakina wardah warohma, "ucap Heru seraya menadahkan sebelah tanganya sambil menyetir.


"Aamiin." Tania

__ADS_1


Bersambung guys


Enam bulan kemudian, kini perut Aira sudah membesar,


__ADS_2