Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Mendebarkan


__ADS_3

Para tamu satu per satu meninggalkan tempat resepsi, sebuah resepsi yang sederhana, yang hanya di hadiri para kerabat dan sanak keluarga, karna rencananya bulan depan resepsi akan di laksana di Malaysia.


"Aira, dimana Aldi?" tanya Maya.


"Mas Aldi ada urusan bunda, boleh ngak Aira ikut bunda dan papa pulang?" tanya Aira.


"Boleh dong, ayo kita pulang sekarang."


Aira mengikuti Maya dan Satria pulang terlebih dahulu, sementara Heru dan Tari akan pulang kerumah, setelah mereka sungkeman dan pamitan pada keluarga Tari.


Setelah berpamitan pada Nova dan keluarga yang lainya, Heru dan Tari bersiap menuju rumah kediaman Heru, disana lah mereka akan melewati malam pertama mereka.


Setibanya mereka di rumah, Heru dan Tari di sambut dengan taburan bunga oleh mertuanya, di ikuti dengan ritual lainnya sebagai simbol penerimaan mereka terhadap Tari sebagai menantu.


Heru dan Tari memasuki rumah dengan bergandengan, masih terlihat keteganggan diantara mereka.


Keduanya sama-sama memasang wajah datarnya.


Mang ujang langsung membawa koper Tari menuju kamar pengantin.


"Selamat datang di rumah kami mbak Tari," ucap Aira ramah.


Tari menggangguk pelan sambil mengulas senyum simpulnya.


"Ayo mbak, Aira antar ke kamarnya," ajak Aira sambil menggandeng tangan Tari menuju kamar pengantin mereka.


Tari dan Aira melangkah secara bersamaan menuju lantai atas.


Setelah sampai di kamar Heru, Aira membuka pintu kamar dan menuntun Tari untuk masuk.


Kamar pengantin tersebut bernuansa putih yang begitu indah, karna di hiasi dengan aneka bunga segar berwarna serba putih dan dengan daun yang berwarna hijau, ada buqet bunga di meja yang menggunakan bunga mawar dan daisy putih, begitu pun dengan buqet gantung yang menggunakan bunga Lilly Casablanca dengan berbagai warna dengan tambahan baby breath, sebagai pemanis, menambah indah dan harum di ruangan tersebut.


Belum lagi tirai yang terbuat dari bunga melati yang semakin menambah semerbak ruangan tersebut.


Tari mengedar pandanganya kearah sekeliingnya, matanya tertuju pada sepasang angsa putih yang terbuat dari sprei berwarna putih.


Apa yang di lihatnya kini merupakan suatu keindahan dan kemewahan yang memanjakan matanya.


Tari mengikuti Aira yang menuntunya menuju meja rias.


Jantungnya semakin deg-degkan saat ia memasuki kamar tersebut.


"Ayo mbak duduk, biar Aira bantu melepas aksesorisnya pada sanggul mbak Tari" ucap Aira sambil menarik kursi di depan meja riasnya.


"Kenapa mbak Tari diam saja sih? Mbak Tari nervous ya?" Tanya Aira ketika ia duduk di samping Tari.


"Iiya Aira, sejujurnya aku belum siap untuk_" Tari menjeda kata-katanya dengan wajah yang tertunduk.


Aira mengulas senyum tipis sambil menyentuh pundak Tari.


"Ngak apa kok mbak, mbak bisa cerita sama Aira, bukan kah sekarang kita bersaudara?"

__ADS_1


Tari melirik kearah Aira, matanya mulai berembun dan perlahan netra teduh tersebut mulai tergenang cairan bening, Tari menutup kelopak matanya, dan mengalirlah bulir bening itu di pipi mulusnya.


"Aku belum siap untuk jadi istri mas Heru, aku tak mencintainya," tutur Tari haru dengan suara yang parau.


Aira menarik nafas panjang dan menghempaskanya.


"Aira juga pernah merasaka apa yang mbak Tari rasakan saat ini,.tapi memang begitulah, ketika kita menikah dengan seorang pria, maka kita adalah miliknya, siap atau tak siap kita harus bisa melayaninya dan memberikan sesuatu yang sangat berharga yang selalu kita jaga Mbak," Aira menjeda kata-katanya untuk menarik nafas panjang kemudian menghempaskanya.


"Mbak Tari harus siap melayani mas Heru dengan baik, terdengar gampang, tapi sangat sulit di lakukan jika tak ada rasa cinta terhadap pasangan kita sebelumnya mbak."


" Tapi cobalah untuk belajar mencintai mas Heru sejak malam ini, karna jika mbak Tari melakukanya dengan iklas, maka mbak Tari akan merasakan kebahagian tersendiri ," tutur Aira sambil menggenggam erat tangan Tari.


Tari menundukan wajahnya, ia pun menggangguk lemah membenarkan penuturan Aira.


Melihat Tari yang masih merasa tegang, Aira pun memeluknya beberapa saat.


Pelukan seseorang saat kita merasa binggung dan sendirian, ternyata memang ampuh untuk mengembalikan rasa kepercayaan diri kita.


Mereka saling melepas pelukanya beberapa saat kemudian


"Ayo mbak, Aira bantu melepas sanggulnya,karna mas Heru sebentar lagi akan menemui mbak Tari disini, dan mbak Tari harus terlihat cantik dan bahagia saat menyambut suaminya" ucap Aira berdiri, sambil memulai aktifitasnya untuk melepas satu persatu pernik yang menempel pada sanggul buatan tersebut.


Beberapa saat berlalu, kini tinggal satu perhiasan yang menempel, konde yang terbuat dari emas itu, di tarik oleh Aira hingga terlepaslah sanggul yang menempel di kepala Tari.


Rambut Tari tergerai indah namun, masih menyisakan krim semprot yang membuat rambutnya menjadi kaku.


"Sudah selesai mbak, sekarang Mbak Tari mandi,.biar Aira yang menyiapkan gaun tidurnya.


Tari memangguk mengikuti petunjuk dari sesepuhnya tersebut, meski Aira jauh lebih muda darinya, tapi Aira jauh lebih pengalaman.


Tari menuju kamar mandi setelah melucuti semua pakainya, kini ia menggunakan kimono dari bahan handuk.


Selagi menunggu Tari mandi, Aira menyempatkan diri untuk berselfi ria di kamar indah nan harum tersebut.


Setelah berselfi dengan beberapa fose, ia pun kembali ke niat awalnya yaitu untuk membuat Tari menjadi lebih rileks.


Beberapa saat kemudian Tari keluar dengan rambut yang di bungkus dengan handuk kecil.


Wajah Tari lebih segar meski masih.ada tersisa bekas lipstik dan eyeliner serta mascaranya.


Tari berjalan menghampiri Aira yang duduk di atas tempat tidurnya.


Aira mencoba menghubungi Aldi untuk mengetahui keberadaanya, setelah beberapa kali melakukan panggilan, ternyata telpon Aldi tak dapat tersambung.


Melihat Tari yang datang menghampirinya, Aira kembali menyimpan handphone di tas selempangnya.


Tari duduk diatas tempat tidur tak begitu jauh dari Aira, meski masih merasa tegang, tapi ia merasa sedikit segar setelah mandi.


Aira menjangkau kotak hadiah yang sudah dititipkanya pada Heru dan menyerahkanya pada Tari.


"Ini mbak kado khusus untuk mbak Tari dari Aira," ucap Aira sambil menyerahkan kotak kado yang bersampul pink dan bergambar dua hati yang menyatu tersebut.

__ADS_1


Tari meraih kado tersebut dari Aira, ia pun membukanya dengan hati-hati.


Setelah melihat isinya Tari kaget, ternyata isinya beberapa pasang lingerie berbahan sutra dengan warna warna yang cerah.


Tari merentangkan Lingerie tersebut keudara, badanya bergelidik ketika melihat gaun kurang bahan tersebut, meski tak transparan namun bentuknya sangat minim apalagi warnanya yang mencolok.


Aira tertawa melihat reaksi Tari.


"Mbak Tari pakai yang ini saja," ucapnya menunjuk sehelai lingerie berwarna hitam.


"Hitam itu seksi mbak," ucapnya lirih.


"Ih ngak lah, aku ngak pede berpakaian seperti itu, apalagi di depan mas Heru," ucapnya sambil menggelengkan kepala dengan pelan.


"Aduh mbak,memang seperti ini pakaian wanita saat malam pertama, masak mbak Tari mau pakai piyama atau daster sih." Aira berusaha meyakinkan Tari.


"Ayolah mbak, lakukan ini demi suami mbak, suami mana yang ngak akan senang melihat istrinya terlihat seksi?" ucap Aira sambil menaik turunkan alisnya.


Tari masih ragu, tapi lagi-lagi Aira mencoba meyakinkan nya kembali,.ia mencoba mencuci otak Tari sama seperti yang di lakukan oleh mbok jum terhadapnya saat malam pertamanya, hehe rupanya Aira ingin mempraktekannya, guman author


"Melayani suami itu ibadah mbak, awalnya sakit tapi setelah itu nikmat uh, imbuhnya lagi dengan menaik turunkan alis kembali.


Tari merasa apa yang di ucapkan Aira ada benarnya, dari pada terus menghindarinya mending ia mencoba rileks untuk menghadapi malam pertamanya, karna cepat atau lambat ia dan Heru juga akan melakukanya.


Tari menarik nafas panjang dan menghempaskanya "huh" dengusnya sambil meraih gaun tidur tersebut dari tangan Aira.


Aira tersenyum karna merasa berhasil mempengaruhi Tari.


Tari mengenakan lingerie itu dan terlihat sangat pas, ia memutar tubuhnya di depan cermin, ia sendiri tersenyum karna melihat dirinya yang terlihat sangat cantik di depan cermin.


"Wah cantik dan seksi," ucap Aira mendekati Tari.


"Waduh mbak kalau mbak seperti ini siap-siap digoyang sampai pagi, " ucap Aira sambil tertawa kecil, ia pun menutup mulutnya.


"Tapi_" kata-kata Tari terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu.


Mereka memalingkan wajahnya kearah pintu.


"Ops, Aira keluar dulu mbak, sepertinya mempelai pria sudah tak sabar,selamat menikmati malam pertama nya mbak,"ucap Aira sambil menepuk pundak Tari dengan tersenyum.


Aira berlalu dari hadapan Tari, sementara netra Tari mengikuti kearah Aira berjalan.


Aira membuka pintu, ia langsung keluar dari kamar tersebut, tak lama kemudian terdengar suara pintu di tutup kembali.


Jantung Tari berdetak kencang saat telinganya mendengar derap langkah sepatu pria yang perlahan mendekat kearahnya, semakin dekat suara itu terdengar di telinganya, semakin cepat jantungnya berdetak, kini pria itu berada tepat di hadapanya.


Tari memberanikan diri untuk menatap pria yang kini di hadapanya tersebut, hanya sekilas , kemudian ia menundukan wajah kembali.


Tari menggigit bibir bagian bawahnya saat tangan dari pria tersebut, menarik pelan tanganya menuntunnya menuju ranjang.


Bersambung guys.

__ADS_1


like, komen, vote dan hadiahnya selalu di tunggu guys 😆


__ADS_2