
Saat pulang kerumahnya Romeo sudah di tunggu oleh kedua oran tuanya.
Mereka terlihat khawatir ketika melihat wajah Romeo yang terdapat luka memar.
"Dari mana saja kamu Rom?" tanya Suci yang khawatir.
Romeo tertunduk ia pun duduk di kursi ruang tamu.
"Malam ini juga kita akan melamar putri Satria itu, dan kamu tak boleh mengelak lagi ya Romeo!" Hadi.
"Yah mau gimana lagi? Kalau memang sudah begitu," ucap Romeo sambil beranjak dan berlalu dari mereka berdua.
Romeo naik menuju lantai atas kamarnya, sesampai di dalam kamar ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Romeo menatap langit-langit pada kamarnya," Apa secepat ini ia akan mengakhiri masa lajangnya, apalagi jika pernikahan tersebut bukan berlandasan atas cinta, guman Romeo bermonolog.
Romeo merentangkan tanganya menghirup udara sebebas-bebasnya, sebenarnya ia ingin sekali terlepas dari kutukan cinta yang mengikatnya tersebut, dengan rasa cinta yang begitu berat pada seseorang yang tak mungkin lagi di milikinya.
Romeo berdiri dan berjalan menuju balkon kamarya, matanya mengedar kesekeliling, melihat hamparan sempurna ciptaan yang kuasa,. "Apa benar semua telah di tentukan sebelum dunia ini tercipta, cinta, jodoh, hidup dan mati,.jika memang seperti itu,.wahai penguasa hati bantu lah aku untuk terlepas dari kutukan ini, kutukan yang membuat aku merasa resah memikir kan tentang dia, lepaskan lah belenggu yang menggikatku ku, dan biarkan lah aku bebas berjalan mencari jalan yang telah kau tentukan, karna aku juga ingin bahagia meski tanpa bersama dia,"* batin Romeo.
Ia kembali menatap sekelilingnya, dengan sepuntung Rokok yang sudah di bakar sebelumnya.
Romeo kembali menatap sekitar dengan nanar, ingin marah tapi pada siapa, ingin benci tapi atas dasar apa, semua ini ia sadari adalah kesalahanya, ia yang telah bermain api kini ia sendiri yang terbakar.
Romeo kembali menarik Rokoknya dan seketika membuang kepulan asapnya keangkasa.
Seolah ingin bertanya pada langit yang terbentang sejauh mata memandang, ia pun menyadari betapa kecilnya dirinya, ia tak kan mampu melawan apa yang sudah di tentukan oleh Tuhan terhadapnya.
Sekali tarikan dan sekali pula ia menghembuskan kepulan asap tersebut di udara, Romeo membuang putung rokok nya ke sembarangan tempat, kemudian ia kembali masuk kekamar dan mengunci pintu.
***
Setelah mengikuti Aldi seharian, mulai dari pabrik hingga kembali ke kantor, Aira merasa begitu lelah, ia pun tertidur di dalam mobil.
Aldi tersenyum melihat sang istri tidur begitu lelap, ia mengencangkan seatbelt Aira agar tubuhnya tidak tak terguncang saat melewati jalanan yang tak rata.
Wajah Aira masih terlihat polos saat tidur, itu pula yang membuat Aldi tak tega jika harus menyeret Aira ke dalam masalahnya,.Aldi strees dengan masalah di pabriknya, belum lagi kasus hukum Aira, di tambah lagi sampai saat ini ia juga mengkhawatirkan keadaan Rita yang tak ada kabar sama sekali.
Sesampainya di rumah Aldi tetap membiarkan istrinya tertidur, setelah memakirkan mobilnya di halaman rumahnya, Aldi melepas sabuk pengaman yang terpasang pada istrinya.
Ia juga berusaha tidak berisik saat membuka dan menutup pintu agar sang istri tak terbangun.
Dengan hati-hati Aldi mengangkat tubuh Aira dan menggendongnya ala bridal style.
Melihat Aira yang di gendong seperti itu timbul keherenan pada Satria dan Maya, mereka pun menanti Aldi di depan pintu karna mengira telah terjadi sesuatu pada Aira.
"Aldi apa yang terjadi pada Aira?"tanya Maya khawatir.
Aldi menggelengkan kepala sambil menjawab dengan isyarat jika Aira hanya tertidur.
Aldi terus membawa istrinya menuju kamar dan berpapasan dengan Tari ketika di depan pintu.
Tari merasa salut karna Melihat perubahan pada Aldi, sejak mereka menikah dan selama ia berada disini, ia tak pernah melihat mereka bertengkar, bahkan Aldi selalu pulang kerja tepat waktu dan tak pernah lagi keluyuran.
Mereka terlihat mesra meski pernikahan mereka tak di dasari oleh cinta.
Tari melihat Aldi yang berlalu,.
Semoga suatu saat Romeo bisa berubah seperti Aldi, ia bisa mencintai ku dengan tulus, sehingga kami pun bisa hidup dengan bahagia, guman Tari.
__ADS_1
Aldi meletakan tubuh Aira di atas tempat tidur dengan hati-hati, ia membiarkan istrinya tersebut terlelap, setelah membelai rambut sang istri dan mengecup keningnya ia pun bergegas pergi kembali untuk menemui pengacaranya.
Dengan tergesa-gesah Aldi pergi sebelum istrinya tersebut bangun, ia tak ingin mendapat berbagai pertanyaan dari Aira.
Saat menuruni anak tangga ia bertemu dengan Heru yang juga baru pulang.
"Aldi mau kemana?"tanya Heru yang melihat Aldi yang tergesah-gesah.
"Mau menemui pengacara Aira mas," sahut Aldi yang berhenti sejenak kemudian bergegas kembali.
"Tunggu Di, bagaimana kabar terakhirnya Di?" tanya Heru sedikit berbibisik.
"Tiga hari lagi sidang Aira kembali di mulai mas, hasil autopsi pun sudah keluar dan masih di rahasiakan, karna nantinya hasil tersebut akan akan menjadi salah satu bukti untuk memberatkan atau justru meringan tuntutan Aira," papar Aldi.
Heru mengkerutkan keningnya," Lalu kenapa kau terlihat gelisah?"tanya Heru.
"Bagaimana tidak gelisah mas, dalam 2 x 24 jam, aku harus menyerah kan Aira sebagai tahanan selama masa persidangan..." huh dengus Aldi ia mengusap wajah kasarnya.
"Aku dan pak Hilman sedang bernegosiasi bagaimana caranya selama persidangan Aira tak di tahan, " dengus Aldi.
Heru menyimak dengan seksama,.ia juga merasa iba pada Aldi.
" Ayo! kalau gitu, kita pergi sama-sama, " ajak Heru.
"Tapi Mas Heru baru pulang dari luar kota, apa tidak capek? tanya Aldi.
"Ngak kok, siapa tahu kehadiran mas di sana bisa membantu kamu Di,"ucap Heru, mereka pun menuju mobil.
Aldi berada di sisi kemudi, ia membawa mobil tersebut menuju tempat yang sudah di tentukan oleh Hilman.
Setibanya nya di Polsek, Aldi langsung menuju ruangan yang telah di tentu kan oleh Hilman, mereka menemui kepala kepolisian daerah setempat untuk kembali meminta penangguhan hukuman.
"Tidak bisa pak pengacara, jangan mentang-mentang kalian punya uang, kalian kebal hukum, perempuan itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal, bahkan saat statusnya tersangka saja dia bisa berkeliaran dengan bebas!" cecar wanita tersebut kepada Hilman.
"Tenang Bu, kami bertugas sesuai prosedur, karna saudari Aira masih di bawah umur dan juga mendapat jaminan atas nama beberapa orang maka ia hanya menjadi tahanan kota dan saudara Aldi sebagai wali sudah melapor setiap minggu, jadi saya pikir tidak ada masalah jika saudari Aira tidak di tahan selama persidangan," papar Hilman.
"Oh ya, kalau hukum bisa di lemahkan seperti itu, maka banyak anak di bawah umur seenaknya berbuat sesuatu yang mencelakakan orang lain! Atau kalian sudah berbuat curang! Sehingga seorang pembunuh bisa bebas berkeliaran!" Cecar Ratna semakin emosi.
Mendengar ucapan dari wanita tersebut, Aldi langsung naik pitam ia pun menghampiri Ratna dengan emosi.
"Haii Nyonya jaga mulut anda! Anda tidak tahu bagaimana bejatnya suami anda! Saya punya bukti dari semua itu." Aldi mengeluar kan sesuatu dari saku celananya.
Aldi menunjukan sebuah flash disk, "Ini adalah pengakuan para korban dari suami anda, di sini juga ada terdapat suara Edo anak kandung korban,rekaman ini saya ambil ketika kami menemui para korban tersebut, juga surat ancaman yang di buat oleh Retno terhadap korbanya yang bernama Rina alias Nina dan Dewi, itu hanya sebagian korban dari Retno saja,.dan tim kami sudah menginvestigasi para korban Retno selanjutnya", papar Aldi dengan mata yang melotot kearah wanita tersebut.
"Dan kami juga sudah meminta ijin keluarga korban atas nama Sarah, untuk meng-otopsi alm Sarah, yang meninggal karna melakukan tindakan aborsi illegal dan jika hasil otopsi tersebut membenarkan pernyataan istri saya, maka siap-siap saja anda menerima akibatnya, bisa jadi serangan anda justu jadi bomerang untuk anda sendiri." ucap Aldi dengan penekanan di akhir kalimat.
"Kami juga akan mengumpulkan bukti kejahatan yang di lakukan oleh suami anda, dan anda harus bersiap jika anda bisa jatuh miskin, karna apa yang di dapat kan oleh suami anda sebagianya adalah hasil korupsi dan penjualan gadis di bawah umur, dan istri saya adalah salah satu korbannya," ucap Aldi.
Mendengar hal itu Edo yang awalnya bersikaf tenang, menjadi sedikit emosi, ia pun menghampiri Aldi.
"Apa katamu?"tanya Edo sambil mendorong tubuh Aldi.
Aldi tersenyum menyeringai," Kau tidak tahu kan Edo, selain fedofil ternyata bapak mu yang terhormat itu merupakan bagian dari organisasi human trafiking internasional? Kalau tidak dari mana kalian mendapat kekayaan seperti itu hah? Membuka usah toko bangunan itu hanya kedok, dan semua itu akan di ungkap di persidangan nanti, jadi bersiaplah menyerah kan kekayaan kalian kepada negara!" Bentak Aldi dengan berapi-api.
Karna sudah terlalu emosi Heru menarik tangan Aldi menjauh dari merek yang telah menatap nya tajam.
Heru, Hilman dan Aldi keluar dari ruangan tersebut.
"Aldi kenapa kau buka kartu mereka di sini Di?" tanya Heru.
__ADS_1
Aldi masih mendengus, nafasnya masih memburu.
"Aku sudah tak tahan mendengar mereka memojokan istri ku!" Cecar Aldi.
"Tapi pak Aldi, jika kita membongkar kartu mereka sekarang, mereka bisa saja mematahkan alat bukti dari kita dengan mudah, saya minta anda untuk tetap tenang pak, biarkan saja semua kita beberkan di pengadilan nanti, " ucap Hilman.
"Benar Di, tahan emosi kamu, kita sedang berhadapan dengan anggota mafia internasional, mereka lebih licik, kalau mereka tahu jika selama ini kita menyelidikinya organisasi tersebut, mereka dengan mudah akan kabur atau menghilangkan jejak, bahkan akan sangat berbahaya bagi anggota keluarga kita yang lainya, " ucap Heru sambil mengusap punggung Aldi yang terlihat masih emosi.
"Sekarang kita pulang saja, biar pak Hilman yang mengurus semua ini," ucap Heru sambil menarik tangan Aldi.
Aldi masih enggan beranjak dari tempat tersebut namun Heru terus memaksa nya untuk meninggalkan tempat tersebut.
Heru takut jika Aldi kembali terpancing emosi dan tanpa sengaja menggungkap bukti yang mereka tutupi selama ini.
Karan terus di paksa oleh Heru untuk keluar dari ruangan tersebut, akhirnya Aldi pun menuruti Heru.
"Pak Hilman tolong di usahakan, agar Aira tak di tahan sebelum dan sesudah persidangan," ucap Heru kepad pak Hilman.
"Baiklah Pak, saya akan usahakan semaksinal mungkin, " ucap Hilman.
Aldi dan Heru pun meninggalkan tempat itu, mereka berniat untuk pulang, belakangan ini Aldi memang tak bisa mengontrol emosinya, karna beban pikiran yang semakin banyak hingga menguras kerja otaknya.
Di dalam mobil,
"Dari mana kamu dapat rekaman suara korban dari Retno Di?"tanya Heru.
"Oh, Aira yang meminta ku untuk memasang alat sadap pada Branya, dan ternyata berhasil, kami dapat banyak bukti dari hasil rekaman tersebut," papar Aldi sambil menyetir.
"Aira? Bagaimana ia bisa terpikir dengan hal itu Di?"tanya Heru dengan tawa renyahnya.
"Entalah mas, terkadang aku merasa istriku itu sangat cerdas, tapi terkadang juga sifatnya masih kekanak kanakan, dan sangat manja," papar Aldi.
Heru tersenyum simpul, "Kalau dia bersifat kekanakan kamu yang yang harus bersikaf lebih dewasa Di, gadis seumuran dia memang seperti itu, masih labil, ia bertindak berdasarkan emosi sesaatnya saja, jadi jika ia melakukan kesalahan, sebaiknya kamu lebih dewasa dalam menyikapinya, jangan kamu larut dalam emosi, hingga bisa berakibat fatal pada hubungan kalian Di." Heru menasehati Aldi.
"Iya Mas, aku sekarang sedang mencoba untuk lebih mengerti tentang keadaan dia saat ini, aku ngak ingin dia terbebani dan tersakiti, aku lebih rela aku yang tersakiti olehnya, dari pada aku yang menyakitinya, aku hanya ingin membahagiakan nya saja, karna aku sendiri sadar sudah banyak perbuatan ku selama ini yang menyakitinya," ucap Aldi lirih.
Heru tersenyum sambil melirik kearah Aldi.
"Bagus Di, mas senang karna kamu sudah banyak berubah, mas jadi bangga terhadap kamu Di," ucap Heru sambil menepuk pundak Aldi.
"Iya mas saat ini aku sedang bahagia menikmati indahnya pernikahan kami, dan aku juga ingin melihat mu menikah dan bahagia mas," ucap Aldi.
"Kapan kah kau membuka hati mu untuk seorang wanita Mas?"tanya Aldi tulus.
Heru tersenyum simpul dengan melirik kearah Aldi, Saat ini aku sedang membuka hati untuk seseorang Di, meski mas ngak tahu siapa dia, seorang wanita yang bermata teduh, dan bersuara lembut seperti nyanyian semilir angin, meski aku tak tahu siapa dia, tapi rasanya aku menyukainya," jawab Heru dengan malu-malu.
Meski mereka bersaudara, tapi baru kali ini mereka bisa saling sharing tentang masalah pribadi.
Haha haha, "Ternyata kau bisa bucin juga Mas, ehm jadi ngak sabar, wanita seperti apa yang bisa menarik hati mas ku yang terkenal dingin terhadap wanita, siapa dia Mas?"tanya Aldi yang merasa bahagia, obrolan tersebut membuat emosinya mereda, ia sangat bahagia jika kakaknya itu telah menemukan tambatan hati.
"Ehm, aku hanya hanya tahu namanya Di, wanita tersebut bernana **Gintan, awalnya aku melihat dia seperti ada masalah, duduk sendiri di atas bukit, jadi aku mendekatinya, karna takut terjadi sesuatu terhadapnya, ia begitu sedih, kami pun ngobrol dan akhirnya berkenalan.
"Ehm pantes saja kau betah di sana mas, ternyata ada yang telah mencuri hatimu ya?"guman Aldi.
Heru hanya tersenyum simpul sambil menggangguk, keduanya nya pun saling melempar senyum, sebagai tanda mereka telah saling mensupport.
**Gintan karakter dalam novel Takdir Gintani by author Restivani, ayo penasaran seperti apa gadis bernama Gintani tersebut, bisa reader intip di novelnya langsung ya reader, karna nanti akan ada kolaborasi author dengan author Takdir Gintani
mohon maaf jika banyak typo ya guys
__ADS_1
Bersambung guys, terima kasih atas dukunganya, like komen, vote dan hadiahnya sungguh author merasa tersanjung atas dukungan kalian