
Aldi berada di meja makan bersama Satria dan Maya.
"Di, papa ingin bicara sama kamu," ucap Satria pada Aldi.
"Bicara saja Pa," sahut Aldi sambil memoles rotinya dengan selai.
Sudah enam tahun Aldi menjalani hidup sebagai duda, karna itu Satria jauh-jauh datang hanya untuk melakukan perjodohan Aldi dengan putri salah satu dari sahabatnya.
"Di, sampai kapan kamu mau menduda ?" tanya Satria.
"Papa sudah tua, sering sakit-sakitan lagi, dan sebelum papa pergi dari dunia ini, papa ingin melihat kamu menikah dan punya anak lagi,"papar Satria.
"Apa kamu ngak pingin punya istri dan anak lagi?"tanya Satria dengan penekan di akhir kalimat.
Aldi hanya diam, jujur saja enam tahun bukan lah waktu yang singkat, banyak waktu yang telah di sia-siakan olehnya dengan kesendirian dan kesepian hanya untuk menunggu kembalinya Aira.
Meski tak pasti kapan saat itu tiba, tapi ia selalu menunggu dan berharap suatu saat ia bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.
"Maksud Papa apa Pa?"tanya Aldi seraya menatap Satria.
Satria menghentikan meletakan garpu di atas piring, pandangannya tertuju pada Aldi yang tengah menatapnya.
"Papa bermaksud menjodohkan kamu dengan Tania, anak dari sahabat papa, Tania itu lulusan luar negri , pintar, cantik dan sopan, pantaslah buat mendampingi kamu,"papar Satria.
"Papa yakin kamu pasti suka setelah melihat langsung orangnya, "imbuhya lagi
Aldi hanya diam seraya menikmati makanannya.
"Di, sampai kapan kamu mau menunggu Aira Di, mungkin saja Aira sudah menikah dan memiliki kehidupan yang baru, kamu jangan sia-siakan hidup kamu hanya menunggu hal yang tak pasti," tutur Satria.
Aldi hanya diam dan menyimak pembicaraan Satria.
"Tari saja sekarang sudah memiliki dua anak, nah kamu dan Heru belum menikah, padahal kalian itu putra papa Di, papa tak ingin kamu terlarut dalam kesedihan dan penyesalan kamu hingga menyia-nyiakan waktu kamu, kamu masih muda Nak, masih banyak yang bisa kamu lakukan," papar Satria.
Aldi hanya diam menyimak nasehat Satria sembari memakan roti isinya.
"Nanti malam kita kerumah pak Darman, kamu berkenalan dulu dengan putrinya, setelah merasa cocok, Papa akan segera melamar putrinya untuk kamu," imbuh Satria kembali.
Kesendirian dan kesepian memang sangat menyiksa Aldi, namun ia masih berharap suatu saat akan bertemu dengan Aira dengan status masih sendiri-sendiri.
__ADS_1
"Aldi ngak mau di jodoh kan papa, Aldi tahu apa yang Aldi lakukan," jawabnya dengan nada datar.
"Ngak di jodohkan, Papa tak memaksa kamu, setidaknya kamu lihat dulu bagaimana calon istri pilihan Papa, papa pasti akan beri yang terbaik untuk kamu Nak," Satria.
Aldi sebenarnya kurang setuju dengan usul Satria, namun ia menghargai ayahnya yang sakit-sakitan rela datang hanya untuk memperkenalnya dengan seorang wanita.
"Iya Pak, terserah Papa saja," sahut Aldi dengan wajah yang masih datar.
Setelah sarapan, Aldi langsung berangkat ke kantornya, tak sedikit pun ia memikirkan perjodohannya, selama ini ia masih berusaha mencari keberadaan Aira, dan berharap bisa mememukannya.
***
Pagi pagi sekali Aira berada di dapur untuk membuat sarapan bagi putri tercintanya.
Alia sangat suka makan nasi goreng, sama halnya dengan Aldi, semakin lama wajah Alia semakin mirip dengan Aldi.
Dari hidungnya, matanya dan bibirnya, semua serupa dengan Aldi.
Setelah menyiapkan sarapan bagi Alia, Aira pun membereskan perlengkapan sekolah Alia, Alia bersekolah di salah satu taman kanak-kanak, tak jauh dari desa mereka.
Selama ini Aira tak pernah mengemasi keperluan Alia sekolah, karna ia jarang sekali berada di sisi putrinya.
Satu persatu Aira memasukan buku Aira kedalam tasnya, tak hanya itu ia pun memeriksa buku tersebut guna melihat nilai dan apa saja yang di lakukan oleh Alia.
Aira tersenyum melihat tulisan tangan putri kecilnya, di lihat dari nilai-nilai yang di berikan gurunya Alia termasuk anak yang cerdas, karna setiap setiap tugas yang di berikan oleh gurunya, selalu mendapat nilai A ataupun A+.
Ada rasa bangga di hati Aira, dengan tangannya sendiri ia bisa menapkahi putrinya dan membiayai sekolahnya, meski ia sambil berjuang dalam menempuh pendidikan.
Setelah melihat halaman demi halaman dari buku tulis dan buku berhitungnya, Aira pun berpindah untuk melihat kreatifitas putrinya dalam menggambar.
Aira tersenyum ketika melihat hasil lukisan Alia yang sedikit berantakan, mungkin Alia tak punya bakat melukis gumannya, setelah membolak balik buku gambar Alia hinga bagian halaman paling akhir, sebuah lukisan berhasil menarik perhatian Aira.
Tema lukisan tersebut adalah keluarga ku, Alia menggambar bentuk seorang wanita dan gambar seorang anak kecil yang mungkin itu adalah dirinya dan Alia, Alia menuliskan keterangan dengan tulisan tanganya, 'Alia hanya punya ibu, Alia ngak punya ayah'.
Tulisan tangan tersebut berhasil memancing emosi Aira, ia pun meneteskan air matanya, beberapa saat Aira pun menangis sedih, namun ia bisa kembali mengontrol perasaannya.
Aira memasukan segala sesuatu yang di butuh kan oleh putrinya kedalam tas, dengan menghapus sisa titik air mata.
Setelah selesai, ia kembali meletakan tas tersebut di meja belajar sang putri.
__ADS_1
Aira mendekati Alia yang tertidur pulas di atas tempat tidur, dengan rasa haru ia pun mencium putrinya yang terlelap dengan nyeyak, di lihatnya wajah polos Alia," Kamu mirip sekali dengan ayah kamu Nak, maafkan bunda karna memisahkan kamu dan ayah kamu." guman Aira lirih, namun terdengar oleh Alia, Alia tersadar ketika titik air mata Aira jatuh saat ia menciumnya.
Ehm... Aira mengeliat seraya membuka matanya, "Bunda kenapa bunda menangis?" tanya Alia ia pun bangikt dan duduk di depan Aira.
"Bunda, kenapa setiap Alia tanya tentang ayah, bunda selalu sedih, apa ayah orang jahat Bunda, apa Bunda sering di sakiti sama ayah?"tanya Alia bertubi-tubi dan itu membuat Aira kaget, ia pun buru buru menghapus air matanya.
"Ngak kok sayang, Ayah Alia orang yang baik, bahkan sangat baik," jawab Aira patau karna menahan tangisnya.
"Bunda kalau ayah orang baik kenapa dia tak pernah menemui kita bunda, apa ayah tak kangen sama kita bunda?" tanyanya dengan bibir yang mengkerucut, sepertinya Alia juga sedang menahan tangisannya, karna matanya memerah, dan pertanyaan itu berhasil membuat Air mata Aira kembali meleleh, ia pun memeluk putrinya seraya menumpahkan tangisannya.
Hiks hiks hiks, Aira menangis sambil mendekap Alia.
"Apa kamu rindu sama ayah sayang?"tanya Aira.
Hik hiks hiks, suara tangis Alia, keduanya pun menangis.
"Rindu Bunda, Alia juga ingin seperti teman teman Alia, mereka punya ayah dan ibu," jawabnya jujur, dan membuat Aira semakin jadi menangisnya.
"Tapi kalau ayah membuat Bunda sedih, Alia ngak apa kok ngak punya ayah, yang penting Alia punya bunda, "tuturnya sambil menghapus air mata.
Aira melepas pelukannya dan menakup kedua telapak tangan pada pipinya, "Ngak kok sayang, bunda ngak sedih, Bunda janji nanti setelah kamu masuk Sekolah dasar, bunda akan bawa kamu untuk menemui ayah kamu, kamu setuju kan?"tanya Aira yang coba menahan air matanya.
"Beneran Bunda? yey Alia juga punya ayah," ucapnya sambil melompat-lompat bahagia.
Aira tersenyum dalam tangisnya melihat putrinya yang begitu ingin bertemu sang ayah.
Alia memang sering menanyakan keberadaan ayahnya, saat ia mulai mengerti tentang keluarga, namun setiap ia menanyakan keberadaan ayahnya, Aira selalu bersedih, dan itu yang membuat Alia berhenti menanyakan keberadaan ayahnya, karna tak ingin melihat bundanya menjadi sedih.
Alia pun akhirnya menerima keadaan nya jika ia hanya memiliki ibu dan tak memiliki ayah, saat mendapat tugas dari gurunya untuk melukis kan anggota keluarganya, teman teman sekelasnya melukis anggota keluarga mereka secara lengkap, namun tidak Alia, karna merasa tak memiliki ayah, ia pun hanya mengambar dirinya dan Aira.
Aira memcoba menguatkan hati, cepat atau lambat, ia harus mempertemukan Alia dengan ayah kandungnya, meski itu semua terasa berat baginya.
Bahkan sejak enam tahun kepergiannya, perasaan cinta nya terhadap Aldi tak luntur sedikit pun.
Aira hanya bisa menangis sedih ketika mengingat kenangan indah yang ia lewati bersama Aldi.
Cinta adalah kegagalan dalam hidupnya, disaat kesuksesan prestasi dan semua mimpi-mimpi bisa ia raih dengan gemilang, bahkan sampai saat ini, ia belum bisa membuka hati untuk seorang lelakipun.
Bersambung, mohon dukungannya reader, dengan like komen, saran kesan dan kesan, kopi dan bunga juga boleh, kalau perlu vote setiap minggu, he he, maap author banyak maunya, biar makin semangat aja 😆😆
__ADS_1