
Romeo mendekati Aldi yang sedang berbincang dengan seseorang.
"Di gue mau ngomong sebentar sama loh Di," ucap Romeo.
Aldi memutar bola matanya, sebenarnya ia malas untuk bicara pada Romeo.
Aldi bergerak sedikit menjauh dari kerumunan, Romeo pun mengikutinya.
Mereka duduk pada kursi di salah satu sudut ruangan.
"Ngomong apa?" tanya Aldi sedikit jutek.
Romeo menghela nafasnya, ia tak tahu harus mulai dari mana pembicaraan tersebut.
Romeo menunjukan secarik kertas yang di beri Rita kepadanya.
Aldi meraih kertas tersebut dan membacanya.
"Ini kan alamat nyokap gue,!" Aldi.
"Iya itu alamat nyokap lo, nyokap lo yang ngasi ke gue." Romeo.
"Trus kenapa nyokap gue memberi lo alamat ini?" Aldi.
Romeo menatap wajah Aldi sejenak kemudian ia menundukan pandanganya.
"Nyokap lo ngajak gue bersekongkol untuk memisahkan lo dan Aira," cetus Romeo.
Mata Aldi membulat sempurna, "Apa Rom? lo jangan asal ngomong loh ya!"
"Gue ngak asal_" Romeo
"Gue tahu lo mau fitnah nyokap gue kan? Anjirr lo Rom, bisa-bisanya pikiran lo sepicik itu!" cecar Aldi.
"Tapi gue_" terpotong.
"Ah sudalah, sekali lagi lo jahatin nyokap gue, lo akan tanggung sendiri akibatnya!" ancam Aldi menunjuk muka Romeo dengan jari telunjuknya.
Romeo terdiam menatap Aldi yang berlalu darinya.
"Bisa-bisanya dia memfitnah nyokap gue, kalau saja ini bukan acara pernikahannya Mas Heru, udah gue hajar tuh si brengsek," dengus Aldi.
Aldi mendekati Aira dan menarik tangan istrinya yang sedang berbincang dengan Doni.
"Ayo Aira,!" ucap Aldi menarik tangan Aira sedikit kasar.
Doni melihat wajah Aldi yang terlihat kesal setelah berbicara dengan Romeo, ia pun berjalan mendekati Romeo.
"Ada apa lagi sih Rom?" tanya Doni yang melihat wajah Romeo yang cemberut.
"Loh kenapa sih, suka bikin Aldi marah?" tanya Doni yang terpancing emosi.
"Gue cuma mau memperingatkan Aldi Don, agar dia hati-hati, nyokapnya itu punya rencana untuk memisah kan Aldi dan Aira dan dia ngajak gue bersekongkol,"dengus Romeo.
"Ah yang benar Rom?" tanya Doni ragu.
"Yeelah lo juga ngak percaya Rom sama gue?" tanya Romeo.
"Bukan ngak percaya, tapi kurang yakin aja sih." Doni.
"Udahlah ngak usah ikut campur biarin saja," saran Doni.
Romeo menarik nafas sejenak, "Ngak bisa Don, mamanya Aldi punya video yang bisa memfitnah gue dan Aira, tadinya gue mau jelasin ke Aldi, tapi Aldinya salah paham duluan." Romeo.
"Ah si Aldi emang gitu, biarin saja lah, percuma juga lo jelasin panjang lebar, pasti dia ngak akan percaya, biar saja dia mengetahui sendiri seperti apa nyokapnya, udah Ah kita pulang yuk,"ajak Doni sambil menepuk pundak Romeo.
Mereka berdua pun langsung pulang menuju parkiran tanpa memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.
__ADS_1
Sementara itu.
Rita dan Aura berada di bar hingga malam.
"Aduh sudah dong Tante minumnya, nanti Tante mabuk bagaimana? kan aku juga yang repot,"keluh Aura.
"Haha, untuk sekali ini biarkan aku menikmati kebahagiaan ini," ucap Rita yang sedang mabuk berat.
"Hari ini aku bahagia sekali karna bisa membalas sakit hati ku pada Maya," racau Rita.
"Sekarang aku puas karna telah merusak kebahagian Maya, perempuan yang telah merebut suami ku! apa kau tahu Aura, Heru dan Tari itu bersaudara, dan sekarang mereka sudah menikah, aku ingin anak-anak Maya hancur, hua hua hua."Rita semakin meracau.
"Apa Tante? mereka bersaudara?" tanya Aura lagi.
"Haha, sekarang dendam ku sudah terbalas kan, tinggal satu wanita lagi, Aira, gadis itu tak kan membiarkan merebut Aldi dari ku, " cecarnya lagi.
Rita kembali meneguk minumanya ia semakin mabuk, kepalanya terasa berat.
Apa kau tahu Aura rasanya di khianati? bagaimana sakitnya aku, saat suami ku menikah lagi! aku hancur.. Aura...aku hancur," racau Rita, kali ini ia menangis dengan tiba-tiba.
Aura hanya menyimak keluh kesah dari Rita.
"Jadi karna ini tante Rita begitu dendam terhadap tante Maya,"guman Aura.
"Mereka telah merebut suami ku Aura! padahal aku sangat mencintai Mas Satria hingga saat ini, dan Aira! gadis itu tak akan ku biarkan merebut kasih sayang anak ku! mas Satria dan Aldi adalah milik ku, dan tak ada yang boleh memilikinya selain aku!" racau Rita semakin meracau.
Aura menyeritkan keningnya, ia semakin ngeri mendengar pengakuan Rita.
Rita kemudian berdiri, tapi bruk, seketika tubuhnya ambruk terjerembab di atas lantai.
Aura panik ketika melihat tubuh Rita yang ambruk.
Seketika ia mendekati Rita dan berteriak meminta tolong.
"Tolong Mas!" ucap Aura kepada weiters yang kala itu lewat di depan mereka.
"Kenapa Mbak?" tanya weiters tersebut kepada Aura.
"Oh ya bisa," ucap weiter tersebut sambil mengangkat tubuh Rita dan memapahnya, kemudian menuju pintu keluar.
Rita sudah berada di dalam mobil, Aura menitipkan pembayaran bill nya pada waiters tersebut, kemudian masuk dalam mobil.
Rita masih meracau di dalam mobil mulutnya masih komat-kamit, Aura menjadi binggung, ia takut terjadi sesuatu pada Rita.
"Eh gimana kalau gue telpon Aldi saja, takutnya terjadi sesuatu pada tante Rita ntar gue lagi yang kena,"guman Aura.
Aura meraih handphonenya yan tergeletak diatas dashboar mobil.
Dengan gesit tanganya mencari kontak Aldi, setelah mendapatinya, Aura menekan ikon berwarna hijau untuk memulai panggilanya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya panggilan tersebut tersambung juga.
"Halo,"suara seberang telpon.
"Halo Di, Aldi mendingan lo kesini, tante Rita mabuk berat Di, gue takut terjadi sesuatu pada nyokap loh Di,"papar Aura dalam sambungan telponnya.
***
"Apa mabuk? iya gue kesana sekarang," pungkasnya sambil menutup telponya.
Aldi terlihat panik, ia langsung menghampiri Aira.
"Sayang, kamu pulang sama papa dan bunda ya, mas Aldi ada urusan,"ucapnya yang langsung mencium kening Aira.
"Iya Mas, hati-hati," ucap Aira.
Aldi berlari kecil menuju mobilnya dan dalam sekejab saja, ia sudah melesatlan mobilnya membelah jalan raya.
__ADS_1
Aldi begitu khawatir terhadap Rita ia pun menambah laju kecepatanya, mobil Aldi melaju dengan kecepatan tinggi, hingga beberapa kali hampir menabrak.
Namun Aldi tak mengurangi sedikit pun kecepatanya, hingga kurang dari dua puluh menit mobilnya sudah sampai di parkiran apartemen mewah mamanya.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, Aldi pun keluar dari mobil dan langsung menuju pintu lift yang ada di basemant.
Ting... pintu lift terbuka, kamar 202 berada tak jauh dari pintu lift, dengan berlari kecil Aldi menuju pintu apartment tersebut dan langsung mebukanya dengan menekan beberapa digit nomor sebagai akses membuka pintu.
Pintu terbuka dan saat berada di depan pintu saja, Aldi sudah mendengar suara tawa Rita yang sedang mabuk.
"Haha, Maya, Maya akhirnya kau akan merasakan kehancuran, sebentar lagi kau akan mengetahui kebenaranya, hahaha. hihi." Tawa Rita terdengar di seluruh ruangan tertutup itu.
"Tari dan Heru itu bersaudara, haha ha ha, tapi kenapa mereka menikah, haha haha, itu karna rencana ku yang berhasil menjebak mereka haha hihi" racau Rita, ia tertawa sendiri.
Aldi mendengar sendiri penuturan mamanya, seketika tubuhnya menjadi lemas dengan jantung yang memompa dengan kuat, hampir saja Aldi tumbang kala itu.
"Apa? jadi Tari itu saudaranya Mas Heru," gumanya.
Aldi menghempas nafas beratnya, dadanya terasa sakit, seiring air mata yang menetes secara perlahan.
Aldi berjalan tertatih untuk mendekati Mamanya, ia berharap ia salah mendengar.
Aldi menghampir Rita yang terus tertawa.
Haha.haha Rita tertawa tanpa sebab.
"Ma, ma, mama kenapa sampai mabuk begini sih?" tanya Aldi sambil menelan salivanya.
"Eh Aldi sayang hehehaha hihi,"
"Sini sayang, mama mau beri tahu kamu kenapa mama bahagia, haha"
Aldi kembali menelan salivanya, ia mendekati Rita.
"Sayang, mama merasa senang karna mama telah berhasil menghancurkan keturunan Maya, hiks, kamu tahu ngak sayang? Tari dan Heru itu saudara kandung, dan hari ini mereka menikah, haha haa hah." Rita kembali meracau.
Aldi bergidik merinding, seketika emosinya naik langsung menuju ubun-ubun.
"Apa Ma? mereka bersaudara?" tapi kenapa Ma? kenapa mama berbuat seperti itu Ma?!" Aldi menangis terpuruk, lututnya gemetar ia tak mampu menyeimbangkan tubuhnya kembali.
Aldi mengatur nafasnya, pengakuan Rita tersebut membuatnya seperti kehilangan oksigen setelah beberapa saat mengatur nafasnya, Aldi merangkak mendekati Rita.
Ia kembali bangkit, "Kenapa Mama tega Ma! menyakiti kedua saudara Aldi Ma! bukan kah menyakiti mereka, sama saja menyakiti Aldi Ma! seru Aldi, tubuhnya semakin lemas, ia duduk tersimpuh di samping Rita yang terus meracau.
Aldi menangis mengungui dengan terisak ia menghapus air mata yang membanjiri pipinya tersebut.
Aldi menarik nafas panjangnya, ia mengontrol emosinya agar bisa bangkit dan berdiri.
"Tidak, aku harus segera memberi tahu Mas Heru dan Tari, jangan sampai terlambat, mereka tak boleh melakukan hubungan suami istri,"ucap Aldi.
Aldi berdiri sempoyongan, ia begitu syok hingga tubuhnya gemetar, namun ia paksakan untuk pergi menemui Heru.
Melihat Aldi yang hendak pergi, Rita memanggil Aldi.
"Aldi! Aldi! Aldi jangan tinggalkan mama Aldi! " teriak Rita kembali.
Tapi Aldi tak peduli, yang terpenting baginya adalah menyelamatkan kedua saudaranya tersebut.
-
-
Setelah sampai di mobil, Aldi langsung bergerak mundur dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Bersambung, berhasil kah Aldi?
Aduh Author crazy up hari ini ya, capek sih tapi dari pada kamu penasaran guys ( ah ternyata ngak ada yg penasaran).
__ADS_1
Tetap like, komen dan vote karya receh author ya.
thank you,