
Perawat datang mendekati Tari yang sudah bersiap untuk melahirkan.
"Akh Sakit, " ucapnya dengan lirih.
"Ayo bu kita mulai, tarik nafasnya panjang dan hembuskan dengan perlahan, sambil mengejan bu," instruksi bidan tersebut kepada Tari.
Tari mengikuti instruksi bidan tersebut.
Ia menarik napas kemudian menghempaskannya secara perlahan seraya mengejan dengan sekuat tenaga.
"Ekk huhu huh, " ia kembali mengambil napas panjang kembali dan mendorong lebih kuat.
"Ayo bu sedikit lagi, "ucap bidan tersebut.
"Akhh Ekk,!"wajah Tari memereh dengan napas ysng memburu,
"Ayo Tari, sedikit lagi, " ucap Romeo memberi semangat, sambil menggenggam erat tangan Tari.
Dengan lembut ia mencium tangan istrinya, seakan ingin menyalurkan kekuatan kepada Tari.
Detik detik semakin menegangkan, sudah beberapa kali ia mengejan, tubuhnya pun terasa lemas.
Tangan Tari gemetaran dengan tangisan kesakitan, membuat Romeo merasa haru, betapa seorang wanita rela menderita dengan kesakitan luar biasa untuk melahirikan putra mereka.
"Ayo Bu sekali lagi!"teriak bidan tersebut.
Tari menarik napas lebih panjang dengan perlahan, kemudian menghempaskanya, sambil mendorong lebih kuat lagi.
"Ekkkkk!" tangan Tari semakin erat menggenggam tangan Romeo, dan satu dorongan terakhir akhirnya..
"Ekkkk, ahk " Tari mendorong lebih kuat.
Owek, Owek Owek, bayi mereka pun menangis saat melihat dunia untuk pertama sekali.
"Huh!" Tari merasa lega, rasa sakit pun hilang seketika ketika mendengar suara tangisan putra mereka.
Tari bersandar pada tubuh Romeo, tenaganya sudah terkuras habis.
Romeo memberi kecupan pada kening Tari, seraya mencium keningnya.
"Selamat bu anaknya laki-laki, " ucap bidan tersebut.
Setelah membersihkan bayi tersebut, perawat memberikan bayi mereka kepada Romeo.
Bayi munggil dan tampan tersebut langsung di sambut Romeo dengan haru.
Romeo mencium putra mereka kemudian mengAzankan.
Bayi tersebut terlihat tenang, setelah mengazankannya, Romeo langsung menyodorkan bayi tersebut kepada Tari.
Tari menyambutnya dengan perasan yang bahagia, titik air mata haru pun menetes tak kala mencium bayi munggilnya.
"Sayang, akhirnya mama bisa memeluk dan mencium kamu," ucapnya kemudian ia berkali-kali mencium bayi tersebut.
Setelah persalinan selesai, Tari di pindahkan di ruang perawatan, seluruh anggota keluarganya berkumpul saat itu, kedua orang tua, kedua mertua dan dua saudaranya, Heru dan Aldi, juga kedua orang tua angkatnya, Nova dan Adrian.
__ADS_1
Kehadiran Tari yang membawa Romeo junior di sambut bak sang idola.
Mereka rebutan untuk menggendong bayi mungil yang menggemaskan tersebut.
Giliran pertama Satria yang menggendongnya, betapa senangnya ia karna ini adalah cucu pertamanya.
"Sayang, cucu kakek, gantengnya kamu seperti kakekmu ini," ucap Satria.
"Enak saja, seperti aku itu wajahnya," sahut Hadi ketus.
"Sudah jangan lama-lama menggendongnya, aku juga mau menghendong cucu ku,"ucap Hadi yang langsung menyambar cucu mereka dari Satria.
"Eh Hadi aku belum puas menimang cucu ku,"protes Satria.
"Sudah kau nanti saja," ucap Hadi seraya menjauhkan cucu mereka dari Satria.
Hadi begitu bahagia, ini cucu kandungnya pertama, sedangkan Nadira bukanlah anak kandungnya.
Mereka semua bahagia dengan kelahiran cucuk dan keponakan mereka.
"Sudah aku lagi!" Seru Satria, mereka pun rebutan.
Tari dan Romeo tersenyum melihat kelakuan kedua orang lelaki tersebut.
"Sudah pa, ngak usah rebutan, nanti kita bikin lagi kok, " seloroh Tari lagi, ia pun tersenyum kearah Romeo.
Romeo tersenyum mendengarnya," Baru tadi kesakitan, sekarang udah mau bikin anak lagi," dengus Romeo.
"Ngak apa lah, sakitnya kan sekali, enaknya berkali-kali," selorohnya.
Setelah satu persatu anggota keluarga kebagian menggendong bayi tersebut.
Aldi meraih bayi tersebut dari gendongan Heru.
Dengan penuh peraasan ia mencium bayi Tari.
Hatinya begitu terluka, karna kini calon anaknya, tak tahu di mana keberadaannya, padahal Aldi sudah memimpikan untuk menyambut dan menemani Aira selama ia hamil dan melahirkan.
Dimana kamu sayang, padahal aku sudah memimpikan untuk mendampingi dan menjaga kamu selama kamu mengandung sampai melahirkan, batin Aldi.
Setelah memeluk dan mencium bayi tersebut Aldi kembali menyerahkan bayi itu ke Romeo.
Raut wajah sedih tergambar pada wajahnya.
"Sabar ya Di, semoga kamu bisa segera menemukan Aira," ucap Tari.
Aldi menggangguk, ia pun keluar dari ruang perawatan tersebut dengan mata yang memerah menahan tangisnya.
Maya dan Satria merasa iba melihat Aldi yang begitu menderita karna di tinggal dua wanita yang begitu ia cintai.
Aldi keluar dari ruangan tersebut kemudian ia berjalan mendekati pagar pengaman yang ada di koridor, saat itu juga ia kembali menumpahkan tangisannya.
Tubuh Aldi berguncang menahan jeritan hatinya.
Beberapa waktu ia habiskan untuk menangis dan mengutuk dirinya.
__ADS_1
Aldi merogoh saku celananya, kemudian ia melakukan panggilan kepada seseorang.
"Hallo, sapa seseorang di sebrang telpon.
"Hallo, bagaimana dengan pencarian istriku?"tanyanya dengan isak tangis yang tersisa.
"Belum ada hasil Bos,"suara seberang telpon.
"Cari lagi sampai ketemu! Susuri setiap tempat dari perkotaan sampai gang-gang sempit, kalau perlu gunakan sebanyak-banyaknya orang untuk mencarinya, kalian harus mencarinya meski sampai ke ujung dunia"
"Aku harus menemukan istri ku secepatnya, jika tidak kalian semua akan ku pecat!" Aldi menutup telponya.
Sudah dua bulan Aira tinggal bersama mbok di perkampungan yang terpencil.
Tak ingin terus terpuruk,Aira dan mbok jum membuka usaha keripik usus ayam.
Ia harus berusaha menghidupi dirinya sendiri, dengan uang tabungan yang ia punya.
Tinggal di dusun yang terpencil dan jauh dari kata modern tak membuatnya menyerah untuk mencari nafkah demi ia dan anaknya.
Tabungan yang ia miliki memang banyak, bahkan ia tetap bisa hidup enak bertahun tahun tanpa kerja.
Namun pengalaman yang mengajarkan nya untuk tak berpangku tangan dan mengandalkan siapa pun terkecuali dirinya sendiri.
Uang simpanan bisa saja habis jika terus menerus di tarik tanpa ada pemasukan.
Baru satu bulan usahanya, kini Aira sudah bisa memberdayakan sepuluh ibu-ibu rumah tangga sebagai karyawannya.
Enam orang bertugas membuat keripik usus, empat lainya bertugas memasarkan hasil keripuk ususnya.
Mereka memasarkan keripik tersebut di pasar tradisional juga berjaja dari rumah kerumah.
Ia pun mulai menikmati perannya sebagai pengusaha kecil-kecilan dengan tetap melanjutkan sekolah daringnya.
Usaha Aira berkembang secara perlahan, ia sengaja mencari kesibukan, agar tak terlalu memikirkan Aldi.
Berita tak sedap mulai berembus dari mulut ke mulut tentang status Aira, karna perutnya yang mulai terlihat membesar.
Mereka mengira jika Aira hamil di luar nikah, seorang janda muda mengambil kesempatan tersebut, ia iri kepada Aira yang sukses dengan usaha keripik usus nya, selain itu banyak pria yang mengagumi kecantikan dan kebaikan hatinya.
Mery datang menghampiri gengnya, "Eh lihat tuh sekarang rumah mbok Jum di jadikan tempat penampungan perempuan yang bunting di luar nikah," ucapnya mengompori.
"Masak sih, katanya gadis itu di ceraikan suaminya, bener ngak sih?"ucap Pia si perawan tua.
"Alah itu mah bisa-bisanya mbok jum saja, malah sekarang, ia sengaja tuh merekrut ibu-ibu di sini supaya menjadi karyawannya, biar ngak ada yang protes," cibirnya.
"Iya gadis cantik, muda, punya banyak uang apalagi pekerjaannya kalau bukan me*lon*teh, cuih kampung kita bisa kena musih karna kehadiran perempuan kotor itu!" cecar Mery.
"Iya tuh, bikin kotor kampung ini saja," dengus Pia,
"Aib kok di bawa di kampung orang." Mery.
"Kalau gitu kita kumpulin massa, kita minta pak Rt untuk mengusir wanita sialan itu," cecar Pia.
Mereka pun mengumpulkan massa ada yang tetap simpati pada Aira ada juga yang ikut mengusirnya.
__ADS_1
Mereka pun berdemo di rumah Pak Rt, menuntut agar Aira di usir dari kampung itu.
Bersambung tetap dukung author ya