Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Ada Bahaya


__ADS_3

Bagas tiba di kantornya dan masuk kedalam ruangannya.


"Selamat pagi Pak,"sapa Alita ramah.


Ehm, Bagas hanya menjawab berdehem dan langsung masuk menuju ruangan kantornya.


Alita mengkerucutkan bibirnya," Ehm, kenapa penampakan Bagas yang asli beda jauh ya dari apa yang Alia ceritakan, ehm heran hampir dua minggu kerja dan bertemu dengannya, aku ngak pernah lihat Bagas tersenyum, padahal aku pingin lihat senyum manis Bagas yang mampu mengalihkan dunia Alia," omel Alita.


Alita memngumpul kan beberapa berkas dan map yang akan di bawa kemeja Bagas.


Alita memang selalu tampak angun dengan stelan blazer dan rok span hitam di bawah lutut dengan rambut bergelombang indah tergerai.


"Selamat pagi Pak! seru Alita memasuki ruanggan Bagas.


Namun Bagas hanya menoleh sebentar kemudian tertunduk lagi.


Ia pun menghapiri Bagas.


"Maaf pak ini proposal yang belum bapak tanda tangai tentang pembangunan sekolah terpadu,"ucap Alia seraya menyerahkan proposal tersebut kepada Bagas.


Bagas membuka dan membaca, keningnya menyerit melihat beberapa bahan bangunan yang terasa asing baginya, begitupun nilai dan jumlah amgka yang tertera di sana.


Bagas menghempas napas berat, "Nanti aku pelajari dulu, ucap Bagas sambil menutup proposal tersebut.


"Baik Pak," cetus Alita.


"Apa jadwal saya hari ini?"tanya Bagas dengan dingin.


Hari ini ada meeting dengan klien dari perusahaan Adidaya group, pukul sepuluh."


"Saya juga mendapat telpon dari pak Edo jika anda di minta untuk mengawasi proyek secara berkala pembangunan gedung kejaksaan."


"Baiklah, tolong panggil pak Yanto, ada yang ingin saya bicarakan."Bagas.


"Baik pak," Alita keluar untuk memanggil pak Yanto.


Tak berapa lama kemudian pak Yanto datang menghampiri Bagas.


"Ada apa Pak?"tanya pak Yanto kepada Bagas.


"Ehm, saya masih merasa nervous jika harus bertemu Klien, bagaimana jika bapak dan Thalita saja yang bertemu Klien kita?"


"Maaf Pak, menurut saya ini salah satu kesempatan anda untuk bertemu dengan klien kita, ada banyak pengalaman yang menanti anda di sana, apalagi anda adalah CEO baru, tentu mereka para klien ingin lebih dekat dengan CEO PT Nusantara kontraktor," papar Pak Yanto.


Bagas menyeritkan dahi.


Pak Yanto melihat kegelisahan di wajah Bagas, Tenang saja pak, untuk presentasinya serahkan saja pada Thalita, dialah yang selalu kami andalkan setiap kali klien meminta presentasi."pak Yanto


"Eh baiklah kalau begitu, kita pergi betiga nanti pukul setengah sepuluh, sekarang bapak jelaskan satu persatu berkas tersebut kepada saya!" titah Bagas.


"Hah, semuanya pak!" Pak Yanto kaget melihat setumpuk berkas.


Bagas mendelik," Iya kenapa? keberatan?"


Pak Yanto menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Berkas setumpuk itu kalau di bedah satu persatu dan menjelaskan ke Bagas seminggu juga ngak kelar, aduh pak Edo ada-ada saja, orang awam seperti Bagas malah suruh memimpi perusahaan sebesar ini.


Bagas melirik kearah Yanto, menunggu jawaban dari nya.


"Baik Pak!" ucap Yanto terpaksa.


"Kalau gitu silahkan di mulai,"ucap Bagas.


Bagas memang tak tahu tentang dunia material, ia hanya tahu semen, kayu, pasir dan sebagainya selain itu ia tak tahu sama sekali.

__ADS_1


Berbada dengan Alita yang saat ini masih menjadi salah satu mahasiswa fakultas teknik sipil.


Sebenarnya Alita itu mahasiswi yang magang di perusahaan tersebut, melihat kecerdasan dari Alita Edo pun memintanya nya untuk menjadi sekretaris di perusahaannya menggantikan sekertaris yang lama.


Selain menjadi CEO Bagas juga sedang mendaftarkan di diri pada fakultas teknik sipil di sebuah universitas terkemuka di kota tersebut.


Tekadnya untuk berkecimpung di dunia kontraktor sudah bulat, kini ia semakin gigih meraih cita-cita agar tak ada lagi ada yang memandangnya sebelah mata.


Jam menunjukan pukul delapan lewat lima belas menit, waktu pak Yanto yang mulai mendefinisikan berbagai alat dan bahan serta ukurannya kepada Bagas.


Teng, tepat pukul setengah sepuluh Alita masuk kembali ke ruangan Bagas.


Melihat kedatangan Alita, Pak Yanto menutup Mapnya seraya mengusap Dada.


"Selamat, " gumannnya.


Pak Yanto lelah menghadapi pertanyaan dari Bagas, ia seperti sedang di interview karna nada Bagas yang terdengar dingin dan kaku.


"Permisi Pak, sudah waktunya untuk menelui klien kita ucap," ucap Alita.


Bagas pun berdiri dan melangkah maju.


"Thalita, pak Yanto kalian ikut saya," perintah Bagas.


"Baik pak," jawab keduanya.


Sesampainya di parkiran, pak Yanto menuju mobilnya sendiri, pak Yanto sengaja membiarkan keduanya berada di mobil yang sama, karna itu perintah Edo agar Alita semakin dekat dengan Bagas demi membuat Bagas bisa move on kembali


Sementara Bagas dan Alita masuk di mobil yang sama.


Alita merasa sungkan, duduk di samping Bagas yang menyetir.


Hampir setengah jam perjalanan, tak ada satu pun di antara mereka yang membuka obrolan.


Akhirnya keduanya diam sampai mereka tiba di tempat tujuan.


"Selamat pagi pak, sapa pak Yanto.


"Selamat pagi juga," ucap pak Adi mereka pun berjabat tangan.


"Perkenalkan pak ini CEO baru perusahaan Nusantara kontraktor, pak Bagas."


Ucap pak Yanto memperkenalkan Bagas.


"Oh, ternyata masih sangat muda, "ujar pak Adi presiden direktur perusahaan Adijaya group.


Bagas tersenyum simpul.


Deg


Jantung Alita berdetak ketika untuk pertama kalinya ia melihat Bagas tersenyum.


Ehm, aduh ternyata Alia benar, Bagas kalau tersenyum manis banget, jadi greget melihatnya.


Alita mengulum senyumnya, sejenak pikirannya teralihkan, konsentrasinya buyar


"Thalita!"seru pak Yanto yang memanggil Alita yang terlihat melamun.


"Iya pak ada apa?"tanya Thalita.


"Mulai presentasinya!"ucap Pak Yanto.


Hah, udah mau presentasi saja, emangnya berapa lama gue melamun?.


Alita merapikan blazer yang ia kenakan agar lebih percaya diri.

__ADS_1


Bismillah.


Bapak-bapak yang saya hormati, disini saya akan memaparkan konsep dari design pembangunan gedung yang akan di rancang sendiri dari perusahaan kami sesuai dengan konsep pada profasal yang perusahaan bapak minta.


Berikut ini saya tanyangkan slide agar mudah di pahami dengan jelas.


Alita mengarahkan proyektornya yang tersambung melalui gadgetnya dan mengarahkannya pada layar lcd, tampaklah gambar dua dimensi dari desain dari sebuah bangunan.


Semua audience melirik ke arah gambar yang di tunjuk oleh Alita, ada pula yang hanya mengamati wajah cantik dari gadis tersebut.


Alita melanjutkan presentasinya dengan memaparkan satu persatu kepada audience yang hadir.


Semua penggunaan bahan dan alat berkualitas, begitu pula dengan tenaga kerja yang ahli di bidangnya jadi dapat di pastikan presentase tingkat ke efisiennya bisa mencapai 90-hingga 98%," papar Alita dengan tegas dan lugas.


Audien yang hadir pada saat itu terkagum-kagum dengan cara gadis tersebut presentase, singkat padat dan jelas, bahasanya pun mudah di pahami dan mengerti.


Diakhir presentasenya, Alita mendapat standing applause.


Bagas tersenyum, melihat keberhasilan Alia dalam mempresentase kan proyek mereka.


Tanda tangan kontrak pun di sepakati saat itu juga.


Selesai dari dari meeting, Alita menuntun Bagas menuju tempat proyek mereka selanjut.


Lagi-lagi suasana hening kembali terjadi, tak ada obrolan atau diskusi diantara mereka.


Mereka pun sampai pada proyek pembangunan gedung kejaksaan.


Mobil Bagas berhenti pada pintu gerbang, lingkungan tersebut tak bisa di masuki sembarang orang, karna berbahaya.


Bagas yang tak mengerti langsung menyelonong masuk pada kawasan proyek tersebut, namun tangannya langsung di tahan Alita.


Tunggu Pak, gunakan helm keselamatan," ucap Alita seraya menyodorkan helm berwarna kuning.


Bagas dan Alita pun menggunakan helm


Mereka melihat beberapa alat berat terlihat sedang dalam pengoprasionalan.


Sementara para pekerja sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Alita menemui pak Bram seorang mandor yang mengawasi proyek mereka.


"Ehm Pak Bram, ini pak Bagas, pimpinan baru perusahaan kita." Alita.


Baram langsung menjabat tangan Bagas dengan sedikit membungkukkan tubuhnya dengan hormat.


"Pak ketangan kami di sini mau mengecek secara langsung, sampai dimana pembamgunan proyek ini berjalan," papar Alita.


Baik, Pak, untuk mengetahuinya secara lamgsung silahkan anda lihat sendiri, kami baru memuluai pembangunan pondasi dan beberapa tiang, mungkin sekitar baru dua puluh persen," papar Bram sambil berjalan beriringan dengan Alita dan Bagas.


Ketika akan memasuki bangunan utama tiba-tiba saja, sebuah kayu penyangga jatuh dan hampir menimpa ketiganya.


"Awas!" teriak seorang pekerja memperingatkan ketiganya.


Tak ayal, menyadari bahaya yang mengintai mereka, Bagas pun menarik tubuh Alita hingga Alita terhutung memeluk Bagas tanpa sengaja, dan tanpa sengaja juga kedua mata mereka bertentangan beberapa saat sebelum bunyi bunyi kayu jatuh dan terhempas ke tanah membutarkan lamunan mereka.


Bruk, untung saja Bram berhasil menghindar.


Alita tersadar begitu pun Bagas keduanya pun saling melapas pelukan mereka.


Debu berhamburan di sekeliling mereka.


Uhuk..uhuk uhuk, Alita batuk karna terhidup debu dari kontruksi bangunan tersebut.


Sadar atau tidak Bagas segera memepuk-nepuk pundak Alia agar berhenti batuk, ia pun meraih air mineral yang kebetulan tersedia tak jauh dari mereka berdiri

__ADS_1


"Kau tak apa-apa kan?"tanya Bagas.--


He he, author cuma bisa bilang, prikitiw dan bersambung.


__ADS_2