Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Rahma


__ADS_3

Keluarga Satria sudah berkumpul di pemakaman umum menunggu datangnya Nova dan Adrian.


Sambil menunggu, mereka langsung menuju sebuah titik yang ada di pemakaman tersebut.


Mereka pun telah menabur bunga dan doa-doa di depan pusara kecil bernisan putih dengan tulisan Rahma binti Satria Hari kusuma


"Ini makam siapa Bunda?" tanya Aira.


"Ini makam anak kami Rahma, yang di tukar oleh mbak Rita saat masih bayi," jawab Maya dengan sedih


Tari menghampiri Maya dan memeluknya.


Bulir bening menetes di pipi Maya, ia pun mencium lekat putrinya.


"Mama bersyukur ternyata kamu masih hidup, bertahun-tahun mama menangis kepergian Rahma, tapi naluri seorang ibu memang tak pernah bohong, mama selalu merasa bahwa putri mama masih hidup, dan ternyata Tuhan mengabulkan doa Mama," Ucapnya sambil terisak.


"Memang rasanya tak mungkin untuk menghidupkan orang mati,karna mama selalu meminta agar Rahma bisa hidup kembali, ternyata Tuhan maha baik, ia mengabulkan doa mama, kini kamu hadir di hadapan mama dan mama bisa mencium dan memeluk kamu sekarang," ucap Maya sambil menatap wajah Tari berembun.


Tari tersenyum ia pun memeluk Maya, sejak mengetahui jika ia adalah putri Maya, Tari berubah dari gadis tomboi menjadi gadis manja yang selalu berada di samping Maya.


Tak lama berselang, Nova dan Adrian tiba di pemakaman tersebut, melihat kedatangan Nova, Tari berlari kecil mendekati Nova dan langsung menghambur memeluknya, rasa haru pun menyeruak antara anak dan ibu angkat tersebut.


"Mama senang Tari kamu sudah menemukan orang tua kandung mu," ucap Nova sambil membelai wajah Tari dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, terima kasih karna mama tak pernah mengganggap Tari sebagai anak angkat, Tari bahagia karna sekarang Tari punya dua Mama dan dua Papa," ucap Tari sambil tersenyum.


Pandangan Tari tertuju pada Adrian "Papa," ucap sambil memeluk Adrian.


Adrian pun menyambut pelukan hangat Tari," Maaf kan Papa, Papa sudah salah paham tentang kamu," ucap Adrian dengan air mata yang menggenang.


"Iya Pa, terima kasih karna selama ini Papa sudah menjaga dan menyayangi Tari," ucap Tari seraya melepaskan pelukanya.


"Iya sama-sama," Ucap Adrian sambil mengacak-acak Rambut Tari.


Ketiganya berjalan menghampiri keluarga Satria, dengan mata yang berbinar Nova memeluk Maya.


"Terima kasih mbak telah merawat dan membesar kan Tari, kami tak kan pernah bisa membalas kebaikan, apa yang mbak dan keluarga Mbak lakukan," ucap Maya yang terharu dalam pelukan Nova.


"Saya iklas kok, karna saya tak pernah mengganggap Tari orang lain, dia adalah putri kami," tutur Nova seraya melepaskan pelukan terhadap Maya.


"Iya Mbak, Tari itu putri kita, ia boleh kembali kerumanya dan menemui mbak Nova, kapan saja dia mau," balas Maya.


Mereka pun saling menggangguk dan tersenyum.


Setelah berbasa- basi Satria pun mengambil posisi di depan pusara.


"Pak Adrian, ini adalah makam putri kandung anda, berhubung kita sudah mengetahui kebenarannya, maka dengan ini kami sudah meminta seseorang untuk mengganti batu Nisan Rahma yang awalnya bernasab Saya sebagai ayah, kini nama tersebut berubah menjadi Rahma binti Adrian Syahputra," papar Satria sambil menyerah kan batu nisan tersebut kepada Adrian.


Sesaat kemudian Adrian berjongkok menghadap pusara Rahma, titik air mata mengalir di wajah teduh Adrian, ia pun mengadahkan tanganya memulai doa-doa untuk putri tercinta, begitu pun nova yang mengikutinya.


Sejenak suasana terasa sepi di pemakaman tersebut, setelah melakukan ritual doa dan menabur kembang, mereka berbincang sebentar.


"Maaf mbak Nova sebenarnya apa yang terjadi dengan putri anda hingga ia meninggal setelah di lahirkan?" Tanya Satria.


"Sejak di awal mengandung, kehamilan saya memang sudah bermasalah, pendarahan sering terjadi di masa kehamilan saya, sebelum mengandung putri kami ini, saya sudah beberapa kali keguguran."


"Sebagai seorang bidan, saya tahu jika kandungan saya tak akan bertahan, tapi saya masih terus berharap agar janin saya tumbuh dengan baik selama dalam kandungan."


"Suami saya sudah sangat ingin memiliki anak, karna itu saya pertahankan meski pun terasa sangat menyiksa, karna sedikit saja saya  bergerak, maka saya akan mengalami pendarahan, baik itu saat buang air kecil apalagi saat buang air besar, dan di usia mendekati tujuh bulan, anak tersebut tak bisa bertahan, saat itu mas Adrian dinas keluar kota."


"Saya pun mengalami pendarahan hebat, dengan sendirinya janin saya keluar dari rahim akibat kontraksi yang hebat."


"Saat itu saya merasa sedih dan  kecewa, tapi saya lebih tak ingin lagi suami saya yang sudah mengharapkan anak tersebut menjadi kecewa, saya pun mengikuti saran mbak Rita."


"Mbak Rita bilang ada seorang pasangan muda, mereka tak punya biaya untuk operasi, jadi mereka akan memberi bayi mereka kepada mbak Rita sebagai imbalan karna membayar operasi tersebut."


"Saya pun menyetujuinya, saya hanya ingin agar suami saya tak kecewa jika mendengar anak kami meninggal, tapi dengan syarat saya tak pernah membocorkan masalah ini sebelumnya,"papar Nova.


"Tetapi saya tak pernah menyangka ternyata bayi perempuan itu malah di tukar dengan bayi saya yang sudah tiada,dan saat saya menanyakan keberadaan makam putri saya, mbak Rita tak pernah memberi tahu saya." Pungkas Nova.


Satria mengguman "Ehm begitu rupanya, saya ingin memperkara kan kasus ini mbak, saya ingin menjerat Rita, jika polisi meminta keterangan dari anda, saya harap anda bisa memberi keterangan yang sebenar-benarnya, Rita tak bisa di biarkan, kali ini dia harus membayar perbuatanya," dengus Satria.

__ADS_1


Keluarga Satria pulang dari makam tersebut setelah mengganti batu nisan.


Adrian memandang kearah batu nisan Rahma, "Kenapa kau tak jujur Nova, kenapa kau sembunyikan semua ini dari ku?" tanya Adrian sambil menatap Nova tajam.


Nova terdiam sejenak, dengan perlahan air mata menetes di pipinya.


"Maaf kan aku bang, karna telah menyembunyikan semua ini dari mu, aku hanya tak ingin kau merasa kecewa, karna aku tahu kau begitu menginginkan anak dari ku," tutur Nova sambil menyapu titik air matanya.


Adrian menarik nafas panjang, ia mendekati Nova dan memeluknya, "Maaf kan aku Nova, aku telah menuduh mu selingkuh, aku telah menuduh Tari sebagai anak haram, aku menyesal, aku menyesal Nova," ucap Adrian sambil memeluk Nova haru.


Nova terdiam sejenak, beberapa saat kemudian ia membalas pelukan Adrian.


"Iya Bang, saya sudah memaafkan abang-, saya juga salah karna tak berbicara jujur."


"Iya Nova, tapi bisakah kita perbaiki hubungan kita? mumpung kita masih sama-sama sendiri." Adrian memeluk Nova senakin erat.


Nova terdiam sejenak kemudian menggangguk pelan, "Iya bang, tentu saja," sahut Nova.


"Terima kasih Nova, karna kau telah menerima ku kembali, kita akan rujuk dan akan kembali membangun rumah tangga kita," ungkap Adrian.


"Iya bang" sahut Nova singkat, mereka pun terharu, rumah tangga yang terpisah selama beberapa tahun itu kini bersatu kembali, mereka akhirnya menemukan kebahagian mereka sendiri.


***


Malam harinya Aldi mendatangi kamar Satria yang kebetulan saat itu, Satria sedang sendiri.


Aldi mengetuk pintu yang terbuka tersebut.


Tok..tok..tok..


Satria menoleh dan melihat ternyata  Aldi yang mengetuk pintu kamarnya.


"Eh Aldi masuk!"


Aldi menggangguk dan berjalan perlahan mendekati Satria.


"Bisa Aldi bicara empat mata Pa?" Tanya Aldi yang kini duduk di samping Satria.


"Aldi mau Papa pertimbangkan lagi Pa untuk melaporkan mama Pa, Kasihan mama Pa," ucap Aldi lirih.


"Tidak bisa Aldi mama kamu itu sudah keterlaluan, dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal!" Ucap Satria dengan sedikit emosi.


"Tapi Pa Aldi mohon Pa, jika tidak untuk mama, maka lakuman lah untuk Aldi Pa, Aldi ngak bisa melihat mama menderita Pa," ucap Aldi dengan mengiba.


"Tidak Aldi! kalau Papa tak melaporkan kasus ini, maka mama kamu bisa saja  akan mejadi semakin gila, dia bisa berbuat apa saja, karna dia punya uang yang banyak untuk memuluskan tujuananya, dan Papa tak ingin ada korban lagi di keluarga kita!" dengus Satria.


Nafas Satria memburu, ia pun menjadi emosi kembali jika teringat apa yang di lakukan Rita terhadap anak-anaknya.


"Tapi pa Maafkan lah mama, bukan kah kalian pernah saling mencintai Pa?" Ucap Aldi dengan memelas.


"Papa sudah memaafkan mama kamu Aldi, tapi keadilan harus di tegak kan, jika kamu kasihan pada mama mu, lalu bagaimana dengan bunda mu? Bagaimana dengan Tari? Dan bagaimana dengan Heru yang harus menanggung akibat dari perbuatan mama mu?"


Aldi tergaman ia menelan salivanya sambil memutar otak agar Satria merubah keputusanya.


"Tapi Papa mama melakukan semua itu karna dia sangat mencintai Papa, sampai saat ini, mama cemburu pa, karna papa ngak bersikaf adil terhadap nya."


"Cukup Aldi, kamu ngak tahu apa yang sebenarnya yang terjadi antara kami, Mama kamu punya cinta, tapi ia tak punya rasa kasih sayang, dan cinta tanpa kasih sayang hanya melahirkan obsesi dan ambisi semata, mama kamu tak memikirkan akibat dari semua perbuatan buruk nya." Satria.


"Tapi Pa berilah mama kesempatan untuk memperbaiki semua ini, Aldi janji akan merubah Mama Pa, " bujuk Aldi.


"Sudah Aldi, papa ngak akan merubah keputusan papa, dan papa ngak akan mengulangi kesahan papa di masa lalu."


" Asal kamu tahu Aldi mama kamu pernah berencana untuk mencelakai Heru dan Maya dengan menyuruh orang untuk membobol rem mobil mereka,dan mereka hampir celaka, bunda Maya mengalami keguguran karna saat itu dia menggandung, dengan terpaksa bunda kamu harus menggambil tindakan  steril hingga tak bisa hamil lagi, saat itu karna papa merasa kasihan, papa tak melaporkanya, hanya saja papa terpaksa menceraikan mama kamu."


Aldi tergaman ia tak percaya jika mamanya bisa melakukan tundakan kriminal.


"Tapi_pa?"


"Aldi! Mama kamu itu sakit Di! sakit jiwa Di! Dia bisa nekat untuk melakukan apa saja yang menghalangi rencananya, apa kamu tak takut jika istri kamu yang akan jadi korban selanjutnya?" karna ia merasa Aira telah merebut cinta dan kasih sayang kamu terhadapnya," papar Satria.


"Apa Pa. tapi itu ngak mungkin," kilah Aldi.

__ADS_1


"Terserah percaya atau tidak, papa lebih mengenal Mama kamu jadi_".


"Ah sudalah Pa_" cetus Aldi ia pun berlalu meninggalkan Satria.


Aldi masuk kekamarnya dengan hati yang dongkol, ia seperti tak terima jika mamanya di jelek-jelek kan seperti itu.


Aldi pun menghempaskan tubuhnya di atas kasur, tanganya meraih handphone yang ada di nakas, Aldi menggkutak katik handphonenya untuk melihat sebuah video yang di kirim Rita kepadanya, ia langsung saja membulat dan tubuhnya langsung bangkit dari tempat tidur dan meraih kunci mobil yang ada di atas nakasnya.


Aldi berjalan cepat menuruni anak tangga setibanya di lantai bawah ia menemui Aira.


"Aira sayang!," sapa Aldi mesra.


"Iya Mas Aldi sayang, ada apa?"


"Sini mas mau memperlihatkan sesuatu kepada kamu," bisik Aldi ia pun menarik tangan Aira lembut.


Aira mengikuti Aldi yang membawanya di sudut ruang tengah.


Mereka duduk bersebelahan, Aldi pun memperlihatkan video ia dan Romeo yang dikirim oleh Rita.


Aira kaget, karna tak menyangka Rita merekam kejadian saat itu.


"Mas, itu hanya salah paham, Aira dan bang Romeo ngak ada hubungan apa-apa, sumpah Mas! kejadian tersebut tak sengaja dan Aira ngak tahu kenapa sampai di rekam oleh mama," papar Aira dengan sedikit panik, ia takut jika Aldi terpengaruh.


Aldi menatap lekat manik kecoklatan pada netra bening istrinya.


"Mas, Aira mohon kali ini percaya sama Aira, jangan sampai kesalah pahaman menghancurkan hubungan kita," mohon Aira dengan mata yang berkaca-kaca.


Aldi menatap Aira tajam, tatapanya seperti hewan buas yang ingin menerkam mangsanya.


Melihat Aldi yang seperti itu, Aira menjadi takut, berkali-kali ia menelan salivanya, ia takut jika Aldi tak percaya dengan ucapanya.


"Mas, Sumpah demi apa pun, Mas Aira hanya mencintai mas Aldi dan _"kata-kata Aira terhenti ketika dengan tiba-tiba Aldi mendaratkan kecupan di bibirnya.


Membuat jantung Aira yang awalnya berdegup kencang kini menjadi berdebar-debar manja.


Setelah memaut bibir istrinya beberapa saat Aldi pun menarik wajahnya, ia pun tersenyum melihat Aira yang mengurut dadanya.


"Tenang saja sayang, mas Aldi ngak akan terpengaruh kok, mas hanya mengerjai kamu, mas hanya ingin melihat usaha kamu untuk mempertahankan rumah tangga kita, dan mas semakin jadi semakin yakin," papar Aldi.


"Hah jadi mas ngak marah?" tanya Aira lega.


Aldi tertawa kecil, ia kembali mendaratkan kecupan di bibir istrinya, mereka pun saling memangut beberapa saat, dan terhenti ketika suara teriakan seseorang.


"Woi, ngak bisa apa dramanya di kamar saja?" dengus Tari kesal karna melihat adegan panas mereka.


Aira menjadi salah tingkah,' Ah untung mbak Tari yang melihatnya, kalau yang melihat tadi, bunda Maya atau papa, bisa malu aku.


"Kenapa Tari? kamu jealous? udah lama ngak aku cium, sini gue cium juga," ucap Aldi ia pun memeluk dan mencium pipi Tari.


"Ish apa-apaan sih loh Di." dengus Tari sambil menahan tubuh Aldi.


"Ih lo sok jual mahal ya? padahal loh kangen kan sama peluk cium gue," cetus Aldi dengan nada bercanda.


"Em Sory aja ya, gue udah lama move on," sahut Tari sambil memukul kan bantal ke kepala Aldi.


"Move on sama siapa loh? sama Romeo ? cewek galak kayak lo mana ada yang mau, yang kemaren gue kasihan saja sama lo," ledek Aldi iapun tertawa terkekeh.


"Apa loh bilang? Tari berdiri dengan emosi, ia pun menarik kerah baju Aldi," Bukan nya loh yang merayu-rayu gue!"


Aldi terpaksa berdiri, mengikuti Tari," Aduh Tari ampun deh, gue cuma bercanda kok, lo cantik, cantik banget malah," ujar Aldi merendah.


Tari melepaskan cengramanya.


"Awas loh ungkit lagi ya, gue tak segan-segan menghajar loh Di,"ancam Tari ia pun berlalu meninggalkan mereka.


"Duh galak banget si Tari, bisa jadi perawan tua dia," dengus Aldi yang kembali duduk di samping Aira.


Aira hanya tersenyum melihat keduanya.


Selalu di nanti ya, like komen, vote dan hadiahnya untuk karya receh dari author kacang-kacangan ini he he..

__ADS_1


__ADS_2