
Mobil Romeo melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya.
Sementara jantung Tari bedegup tak karuan semakin lama ia merasa semakin serba salah.
"Aduh kok badan gue tiba-tiba jadi panas dinggin seperti ini sih," gumanya.
Tari kembali melirik pria yang ada di sampingnya saat ini, Romeo tetap tenang dan santai, matanya tetap fokus melihat kearah jalan yang mereka lalui.
Tari meremas kuat ujung kemeja yang ia kenakan,.huh helanya dengan menarik nafas panjang.
Suasana terasa tegang saat itu,.Tari semakin gelisah, karna ia sepertinya tak mampu untuk menolak keinginan Romeo yang juga merupakan keinginannya saat itu.
Mobil pun perlahan masuk menuju parkiran sebuah Hotel mewah berbintang lima.
Setelah memarkir kendaraanya dengan rapi, ia pun mematikan mesin mobil dan bergegas membuka pintu mobil.
"Tar, ayo!" ajak Romeo ketika melihat keraguan Tari untuk keluar dari mobil tersebut.
Dengan kaki gemetarnya Tari, turun dari mobil tersebut.
Sekujur tubuhnya menjadi panas dinggin.
Romeo yang berada di sisi kemudi berjalan mendekati Tari yang terlihat Ragu.
"Ayo Tar, kita tak punya banyak waktu" Desak Romeo, ia pun menarik tangan Tari dengan lembut menuju loby hotel.
Derap langkah Tari terdengar saat melewati jalanan licin seperti detak jantungnya yang sedang bergemuruh di dalam dadanya kini.
Tari menggandeng tangan Romeo seraya berjalan menuju meja resepsionis, ia kini sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya di hotel tersebut, ia tak ingin mengecewakan Romeo, ia akan berikan apa saja yang akan Romeo minta darinya sebagai bukti cintanya.
Tari menelan salivanya, pikiranya kini terkontaminasi, ia kini justru membayangkan hal indah, yang akan di laluinya bersama Romeo saat ini, ia menggigit pelan bibir bagian bawahnya menahan hasrat yang kini bergelora di hatinya.
Dengan satu tarikan nafas panjang ia menepiskan keraguanya,.ia yakin setelah hari ini ia dan Romeo akan saling memiliki.
Mereka sampai di meja resepsionis hotel mewah tersebut.
Dengan sambutan ramah dan senyuman manis, wanita cantik tersebut menyapanya dan Romeo.
"Selamat siang, selamat datang di hotel kami, ada yang bisa saya bantu?"tanya nya dengan sopan.
Romeo tersenyum kearah wanita tersebut begitupun Tari.
"Kami ingin menyewa ballrooms hotel ini untuk acara resepsi pernikahan," ucap Romeo singkat.
Tari membelalakan matanya seraya kembali menelan salivanya,.matanya melotot kearah Romeo yang sedang bicara pada wanita cantik tersebut.
"Apa?.ternyata Romeo ngajak gue kesini untuk booking ballrooms hotel bukan untuk chek-in,"gumanya dengan nada kecewa.
Wajah Tari seketika berubah, senyum sumringahnya tertarik menjadi mengkerut.
"Oh iya, nanti akan ada petugas yang mengantar anda melihat lihat aula tersebut," ujar Resepsionis tersebut.
"Terima kasih Mbak," balas Romeo.
Resepsionis tersebut menelpon seseorang di sambungan telponya, tak berapa lama seorang pria datang menghampiri mereka.
Pria tersebut menemui mereka untuk menunjukan ruangan yang akan mereka booking.
Romeo dan pria itu berjalan beriringan di depannya.
"Dasar loh Rom, ngak ada ahlaknya, padahal pikiran gue udah trafeling kemana-mana aja, ngak tau nya kesini cuma mau sewa ballroom, uhuh," dengusnya memandang geram kearah Romeo yang yang berlalu begitu saja meninggalkannya.
Tari berjalan dengan menghempaskan kakinya,.ia sendiri merasa malu dan kecewa.
"Romeo tau ngak ya pikirang gue? Kalau sampai dia tahu, bakalan malu gue, ntar dia ilfeel lagi." Tari bermonolog.
Dengan langkah cepat, ia menghampiri Romeo yang berjalan dengan manager hotel tersebut.
Mereka memasuki lift, tanggan Tari tetap menggandeng lengan Romeo sambil sesekali melirik pria dengan wajah datar nya tersebut.
Pintu lift terbuka saat lampu panel menunjukan angka tujuh, yang bearti mereka berada di puncak tertinggi gedung tersebut.
__ADS_1
Dengan langkah hati-hatinya Tari melangkah, ia masih belum terbiasa menggunakan sendal yang ada heelnya tersebut.
Meski merasa kurang nyaman dengan sendal tersebut, ia belajar membiasakan diri untuk menjadi perempuan yang lebih feminim dan anggun.
Setelah beberapa langkah dari pintu lift, mereka di bawa ke sebuah ruangan yang cukup besar, dengan desaint yang unik.
"Silah kan anda lihat -lihat dulu, "ucap sang menager hotel tersebut kepada mereka.
Romeo dan Tari mengedarkan pandanganya ke sekeliling ruangan besar itu.
Mereka berjalan menuju sebuah lantai panggung yang cukup besar namun tak begitu tinggi.
"Ruangan ini di rancang sebagai gedung dengan multi fungsi yang dapat menampung 3000 tamu sekaligus," papar manager hotel kepada mereka.
"Ehm lumayan, " guman Romeo sambil menggangguk dan kembali melihat sekelilingnya.
"Bagaimana Tar? Kamu setuju ngak kita pilih gedung yang ini saja?"tanya Romeo kepada Tari.
"Ehm, gue sih setuju saja, yang penting sahnya ,bukan gedungnya, " ucapnya dengan senyum terkulum.
"Iya pak, kami booking sekarang juga," ucap Romeo.
"Ok, kalau begitu, silahkan urus admistrasi dan bayar dp di resepsionis, "ucap Manager tersebut.
Romeo menggangguk, mereka pun hendak meninggalkan tempat tersebut.
"Eh tunggu Rom, kita ke sana dulu yuk," ajak Tari menunjuk panggung yang akan di gunakan untuk pelaminan.
"Hah..ngapain?"tanya Romeo binggung.
"Kita gladibersih dulu Rom, " sahutnya dengan malu-malu.
"Glabersih emangnya mau konser,.lagi pula acaranya masih lama, " dengus Romeo yang langsung meninggalkan Tari.
Tari mengkerucutkan bibirnya, ia pun mengejar Romeo yang meninggalkanya.
Mereka kembali memasuki lift untuk kembali ke meja resepsionis.
Setelah urusan administrasi selesai, mereka langsung menuju parkiran mobil mereka.
Di dalam mobil,
Tari melihat wajah Romeo yang terlihat memerah.
"Setelah ini kita kemana Rom?"tanya Tari.
"Rencananya gue mau ngajak loh foto pre wedding, tapi besok saja ya? badan gue ngak enak baget nih, " sahut Romeo.
"Foto pre wedding?" tanya Tari yang seolah tak percaya.
"Iya memangnya kenapa? Tar, hari H nya itu kurang dari dua bulan kedepan, karna masing-masing orang tua kita sibuk, kita harus urus sendiri segala sesuatunya."
"Mulai dari fitting baju, memilih gedung, pre wedding sampai merancang undangan dan memesan sovenir, itu semua kita yang akan urus," papar Romeo.
Tentu saja Tari merasa senang mendengarnya, itu bearti keseharianya akan di habiskan dan di sibukan bersama Romeo.
Tari tersenyum sumringah melirik kearah Romeo.
"Oh Iya Tar, besok pagi jangan lupa siapin berkas-berkas loh karna kita akan mendaftar di KUA langsung," imbuh Romeo.
"Iya Rom, mana mungkin gue bisa lupa sih..," sambarnya dengan senyum bahagia.
Akhirnya sebuah pernikahan yang gue impikan akan terlaksana juga, batin Tari
"Sekarang gue antar loh pulang Tar, " ucap Romeo .
Uhuk ..uhuk.., Romeo batuk.
"Loh kenapa Rom, masih flu ya?" tanya Tari yang sedikit khawatir, ia pun meraba kening Romeo.
"Kening loh hangat Rom, kita pulang ke rumah loh saja Rom, gue khawatir sama loh, ntar gue pulang naik taksi saja," ucap Tari.
__ADS_1
"Ngak usah, gue yang jemput loh, gue juga yang akan ngantar loh."
"Tapi gue belum mau pulang Rom, di rumah...gue pasti manyun sendirian, Aira pasti menghabiskan waktunya bersama Aldi, sementara nyokap dan bokap gue, mereka sudah pulang ngurusi kerjaanya, gue jadi kesepian," ucapnya lirih.
Romeo merasa iba mendengar penuturan Tari.
"Ya sudah, loh kerumah gue saja, pulangnya ntar malam saja, sekalian ketemu nyokap gue, katanya dia mau ngomong sama loh Tar."
"Ok," sahutnya dengan perasaan senang.
Mereka pun sampai di rumah Romeo.
Di rumah tersebut memang sepi, hanya ada dua orang asisten rumah tangga, sementara kedua orang tua Romeo sedang bekerja.
Romeo langsung membawa Tari kedalam kamarnya," Masuk saja Tar,".ucapnya sambil membuka pintu kamar, kemudian menutupnya kembali.
Setelah menyimpan sepatu nya pada rak sepatu khusus, Romeo juga meletak kan tas ranselnya di atas meja belajarnya
Romeo langsung mendarat bokong nya ke kasur empuk tersebut, badanya terasa lelah dan ingin istirahat, namun rasanya tak enak jika membiarkan Tari sendiri.
Tari duduk, di kursi yang ada di kamar Romeo, pandanganya mengedar ke segalah arah.
"Kegiatan loh biasanya di rumah,.ngapain saja Rom?"tanya Tari.
"Ngak ngapa-ngapain, biasa saja,,makan, tidur, gue kan jarang banget ada di rumah, paling main gitar," ujarnya sambil meraih gitarnya yang berdiri bersandar di headboard.
"Kalau gitu boleh dong, gue request lagu romantis?" pinta Tari dengan malu-malu.
"Ehm boleh lagu apa? tanya Romeo.
"Hehe, cinta satu malam boleh ngak?" tanya nya dengan maksud bercanda.
Itu sih bukan lagu romantis Tar, lagu nekad, sahut Romeo.
"Nih loh tau lagu ini ngak?" tanya Romeo sambil memainkan melodi gitarnya.
๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ
Tau Rom kita duet bareng ya, cetus Tari
Romeo mengacungkan jempolnya, sementara Tari berpindah duduk di samping Romeo, mereka pun menyanyikan lagu duet Al gazali dengan judul kesayanganku,
๐ถ๐ถDengar lah cinta hati ku remuk redam, bila tak ada kamu menemani aku,๐ถ๐ถ๐ถ. Romeo.
๐ถ๐ถ๐ถDengar lah cinta, ku memanggil namamu, di setiap nafas memikirkan kamu๐ถ๐ถ๐ถ.Tari.
๐ถ๐ถ๐ถAku sepi, sepi, sepi sepi, bila tak ada kamu,๐ถ๐ถ.Romeo.
๐ถ๐ถaku mati, mati, mati, mati, bila engkau pergi.
๐ถ๐ถ.Dengan lah kesayangan ku, jangan tunggalkan aku, tak mampu..bila ku tanpa mu,๐ถ๐ถ.Romeo.
๐ถ๐ถDengar lah kesayanganku, hidup mati ku untuk mu, ku mohon pertahan kan aku!๐ถ๐ถ. Tari.
๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ
Mereka pun berduet hingga lagu selesai.
Seusai berduet mereka saling melempar senyum dan saling memuji.
"Suara kamu bagus juga Tar, ujar Romeo sambil tersenyum ke arah Tari
"Suara kamu juga Rom," balas Tari yang juga tersenyum kearah Romeo.
Dan...dan...., bersambung dulu guys, oh ya author punya cuplikan episode selanjutnya nih, yang paling kamu tunggu-tunggu.
Seorang wanita sedang membakar sesuatu di dalam sebuah alat hisab yang biasanya di sebut Pom tersebut, setelah menghasil kan asap, wanita tersebut menghirup asap yang keluar dari botol yang di beri selang tersebut, baru beberapa saat menikmati benda jahanam tersebut, beberapa orang menerobos pintu kamarnya.
"Jangan bergerak!, anda kami tahan!," ucap seorang polisi, sambil mengacungkan senjatanya.
Hayo siapa ya, berikan terus dukungan kepada author ya, like, komen, vote dan hadiah, lope u all.
__ADS_1