Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Pisah ranjang


__ADS_3

Sesampainya di rumah Aira di sambut hangat oleh mbok Jum, dan mendapatkan sambutan dingin oleh Rita.


"Non Aira,"ucap mbok Jum sambil menghambur meneluk Aira.


"Mbok, Aira membalas pelukan si mbok."


"Akhirnya non Aira kembali," ucap mbok Jum dengan haru.


Aira tak menjawab hanya melempar senyum kearah mbok Jum.


Rita mencibir, dengan perlahan ia mendekati Aira dengan memasang wajah sinisnya.


"Ehm masih punya muka kamu Aira kembali kerumah ini lagi setelah kabur dengan selingkuhan kamu itu?". Sarkas Rita.


Aira tak sedikit pun menoleh kearah Rita, melihat sikaf Aldi saja ia sudah muak, di tambah lagi dengan kehadiran Rita di hadapanya, Aira lebih memilih diam dan berlalu dari hadapan perempuan yang telah melahirkan suami nya tersebut.


Simbok mengkerecutkan bibirnya, ia pun menggandenga Aira untuk membawanya menuju lantai atas.


"Ayo Non, kita kekamar, non Aira harus istirahat," ucap si mbok sambil mengarahkan ke kamar Aldi.


"Ngak usah mbok, Aira tidur di kamar Aira yang sebelumnya saja."


"Memangnya kenapa Non ? Kenapa ngak mau tidur sekamar dengan mas Aldi?" Tanya si Mbok Heran.


"Aira ngak mau gangguin mas Aldi tidur mbok, karna setiap malam Aira suka muntah-muntah, nanti malah mengganggu tidur mas Aldi," ucapnya dengan lirih.


Terlihat guratan sedih dan kekecewaan di wajah Aira saat itu meskipun ia menunduk.


"Aduh Non, mas Aldi itu kan ayahnya, salah satu nikmatnya menjadi istri yang sedang hamil ya itu Non, akan ada suami yang menemani non Aira dalam keadaan apapun, ngak mungkin dong mas Aldi akan merasa terganggu, harusnya mas Aldi bahagia dan menjadi suami yang siaga yang selalu menjaga Non Aira, "papar si mbok.


Aira merasa sedih mendengar penuturan simbok,jangan kan menjadi suami siaga, bahkan Aldi sudah tak meperboleh kan Aira untuk menyentuhnya.


"Lagi pula Non, kamar Non Aira sedang di renovasi untuk kamar bayi non Aira yang akan lahir nanti," papar mbok Jum lagi sambil merapi kan tempat tidur.


Aira menatap kearah tempat tidurnya, ia kembali teringat akan kenangan indahnya bersama Aldi di ranjang tersebut, hingga membuatnya rindu akan kasih sayang yang di dapatnya saat berada di atas ranjang itu. Aira berdiri dan mendekati tempat tidur yang telah rapi, dengan tangan kanan nya ia meraih teddy dan mendekapnya.

__ADS_1


"Aku rindu kamu teddy, "ucapnya sambil merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya.


Setelah merapi kan kamar tersebut, si mbok hendak pamit.


"Non, si mbok akan bawa makan siang dan obat penurun panas untuk non Aira."


"Ngak usah repot, nanti Aira bisa ambil sendiri."


"Ah ngak usah Non, ada nyonya Rita, Non Aira istirahat di kamar saja, si mbok ngak mau kejadian yang sama terulang kembali Non," ucap Mbok Jum sambil menutup pintu kamar Aira.


***


Melihat kedatangan Aldi, Rita buru-buru menghampirinya.


"Aldi kenapa kamu bawa perempuan itu kembali kerumah ini lagi, sih?"


Aldi merebahkan bokongnya di sofa empuk di ruang keluarga.


"Lalu dia harus tinggal kemana lagi Ma ? Aira akan tinggal di sini sampai dia melahirkan Ma" ucap Aldi datar.


Mbok Jum turun dari lantai atas menuju dapur, sesaat kemudian ia kembali lagi membawa nampan berisi makan siang untuk Aira.


"Mau kemana mbok? "Tanya Aldi yang melihat mbok Jum yang terlihat khawatir.


"Mau mengantar makan siang untuk non Aira mas, non Aira sepertinya sedang tak enak badan," sahut si mbok.


"Alah, bisanya cuma nyusahin aja," sahut Rita ketus.


"Aldi ingat janji kamu sama Mama, kamu akan menikah denga Laura setelah urusan kamu sudah selesai."


"Dan sekarang wanita itu sudah kembali ke rumah ini, dengan demikian kamu bisa secepatnya mama jodohkan dengan Aura kembali," ucapnya sambil duduk menghadap Aldi.


Rita menyilang kan kedua kakinya agar terlihat anggun, meski berusia hampir lina puluh tahun, tapi Rita memang masih terlihat cantik dan anggun.


Heru langsung bergabung dengan keduanya di ruang keluarga.

__ADS_1


"Bunda, sebaiknya jangan bicara soal perjodohan Aldi untuk saat ini, Aldi masih punya istri dan sekarang istrinya sedang mengandung anak Aldi, bagaimana perasaan Aira, hatinya pasti hancur, saat ini Aira justru butuh support dari Aldi." Heru.


Rita mengalihkan pandanganya ke arah Heru, "Apa yang mau di harap dari perempuan pengkhianat seperti dirinya!" sarkas Rita, suaranya menggelegar hingga terdengar di telinga Aira.


Aldi hanya diam, tanganya mengepal kuat, ia kembali teringat ucapan lirih Aira yang menyebut nama Romeo saat ia menyetubuhi Aira, semua kesalahan mungkin bisa ia maafkan, tapi perselingkuhan apalagi sampai mereka melakukan perzinahan, itu sesuatu yang tak bisa di maafkan, meski Aldi juga merasa hancur harus berpisah dengan wanita yang akan melahirkan buah hatinya, Aldi tak menyangka jika nasib anaknya tak kalah buruk dengan nasibnya, yaitu hidup dalam keadaan broken home.


Heru menghela nafas panjang, ia memutar otaknya bagaimana caranya agar ia bisa mengalihkan perhatian Rita agar tak secepatnya menjodoh kan Aldi lagi, sementara ia tahu sendiri, Aldi tak kan mungkin menolak permintaan dari mamanya, sedangkan Aldi saat ini masih emosi, Heru merasa khawatir jika Aldi akan mengambil keputusan sesaat yang berdasarkan emosi hingga membuatnya menyesal di kemudian hari.


Setelah beberapa saat memikirkanya, Heru kembali membuka suaranya.


"Tapi Bunda, bukannya saat ini Bunda harus mengurusi perjodohan Heru, dan Heru sudah memutuskan untuk secepatnya menikah," cetus Heru.


Tatapan dingin Rita perlahan mencair, matanya tak lagi tajam menatap Heru.


"Oh iya Bunda sampai lupa loh Heru," ucapnya dengan nada suara yang stabil kembali.


"Bagaimana jika nanti malam kita melamar calon istri kamu?" tanya Rita semangat.


Heru mengulas senyum tipis karna merasa Rita sudah terpancing dengan rencananya, meski Heru sendiri tak begitu mengenal Tari, Heru dengan terpaksa harus menerima Tari sebagai calon istrinya, apalagi Tari adalah mantan Aldi, Heru tak dapat membayangkan seperti apa pernikahannya nanti, tapi paling tidak kesibukan Rita akan beralih mengurusi pernikahanya bersama Tari dari pada Rita sibuk menjodohkan Aldi dengan wanita lain, setidaknya sampai Aldi merasa tenang dan tak gegabah dalam memutuskan sesuatu.


"Tentu bunda, Heru berharap Bunda bisa Heru andalkan untuk mengurus pernikahan Heru, dan Heru percayakan semuanya pada Bunda," ucap Heru sambil melemparkan senyum pura-pura bahagianya.


"Rita merasa tersanjung dengan penuturan Heru, Dengar tuh Aldi, Heru saja nurut kata-kata mama," ucapnya ketus kepada Aldi.


Aldi menengadahkan kepalanya, sebentar sambil memikirkan apa tindakan seharusnya yang ia ambil.


Apa gue harus sekamar dengan Aira, atau pisah ranjang saja.


Ha bagaimana menurut kalian ya, tidur sekamar atau pisah ranjang saja mereka di tunggu komentar kalian ya, jangan lupa like nya, berhubung hari ini senin, yang ingin berbaik hati dengan author untuk memberi vote, author ucapkan terima kasih 🙊(kepedean) 😆.


Nih bagi kamu yang suka kisah romansa tapi bertabur misteri author punya rekomendasi: Pulau kematian monggo mampir ya, biar ngak penasaran



__ADS_1


__ADS_2