
Arsyad dan Nisa kini berada di kantor polisi guna memberi keterangan.
Dengan tubuh yang masih gemetar Nisa bersandar pada bahu Arsyad, ia pun menggigit ujung jarinya.
Apa yang baru saja ia lalu seperti mimpi buruk yang masih menghantuinya.
Arsyad melaporkan semua kejadian tersebut pada kedua orang tuanya. Aldi dan Aira pun segera melakukan perjalanan untuk menjemput Arsyad dan Nisa.
Keduannya di tetapkan sebagai saksi untuk sementara waktu.
"Silahkan duduk, "ucap petugas polisi.
Nisa memandang ke arah Arsyad, ia sendiri masih di bayang-bayangi rasa takut untuk membeberkan kejahatan yang di lakukan oleh paman dan bibinya.
"Aku takut Syad,"ucap Nisa.
Arsyad merangkul Nisa, ia pun mengait beberapa lembar rambut ke belakang daun telinga Nisa.
"Kalau kamu ingin dapat keadilan, jangan takut menyuarakan kebenaran Nis, tenang saja Nis, ada aku di sini," ucapnya sambil menggenggam tangan Nisa.
Nisa menatap dalam manik mata Arsyad.
"Kamu ngak usah takut, mulai sekarang kamu ada dalam perlindungan hukum, aku dan keluarga ku juga akan melindungi kamu, mereka tak akan bisa menyakiti kmu lagi."Arsyad.
"Katakan saja apa yang seharusnya kau katakan, Ungkapkan juga kecurigaan mu tentang kecelakaan yang menimpa orang tua mu."
Nisa kembali menatap manik mata teduh dari Arsyad, yang membuatnya sedikit punya keberanian.
"Ayo!" Arsyad berdiri kemudian menarik pelan tangan Nisa dan menuntunnya menuju sebuah kursi di ruang penyelidikan.
Mereka berdua duduk di hadapan polisi yang meminta keterangan dari Nisa.
Bibir Nisa gemetar ketika mengungkap krononologi yang terjadi padanya, tangannya pun terasa dingin.
Masih ada keraguan di hatinya. Nisa merasa bagaimana pun juga, mereka adalah paman dan bibinya. Iya juga mengkhawatirkan nasib kedua saudara sepupunya jika kedua orang tua mereka di penjara.
Arsyad mengulurkan tanganya kemudian menggenggam tangan Nisa untuk membuatnya semakin yakin.
Keduanya pun saling menoleh dan menatap, Arsyad kembali memberi keyakinan kepadanya lewat tatapan matanya.
Nisa pun mulai memberi keterangnnya sesuai dengan pertanyaan polisi.
Selama beberapa jam keduanya berada di ruang pemeriksaan.
***
Sementara kedua tersangka sudah di amankan oleh pihak berwajib.
Mereka di angkut dengan menggunakan mobil tahanan.
Di dalam mobil Nando masih menyangkal jika ia memaksa Nisa menikah.
"Pak tolong lepaskan saya Pak! Saya tidak bersalah Pak! Yang saya lakukan hanya untuk menjalankan wasiat dari Abang saya Pak! Keponakan saya itu senangnya bergaul dengan anak-anak yang tak benar," ucap Nando.
"Katakan saja itu kepada pihak penyidik nanti, tugas kami hanya menjalan kan.perintah atas laporan yang masuk ke pihak kepolisian." petugas.
"Aduh Pak, kenapa saya juga ikut ditahan sih, saya kan tak tahu apa-apa!" Mala ikut membela diri.
Sementara Gladis dan Jesica hanya bisa menangis melihat kedua orang tuanya di bekuk.
__ADS_1
"Hiks hiks, bagaimana nasib kita sekarang Kak?!" tanya jessica yang panik dan syok.
"Aku juga ngak tahu, tapi sebaiknya kita ikut ke kantor polisi saja."
Mereka pun meminta kepada salah seorang anggota kepolisian untuk mengantar mereka ke kantor polisi.
Mereka pun berboncengan dengan dua dari angota polisi yang menggunakan sepeda motor.
***
Semua bukti yang Arsyad miliki ia serahkan langsung pada pihak kepolisian.
Untuk mempercepat proses penyelidikan Nisa pun di minta untuk melakukan visum yang akan jadi salah satu barang bukti yang semakin memberatkan para tersangka.
Sesampainya di kantor polisi Nando dan Mala di masukan dalam sel yang berbeda, sebelum di mintai keterangan.
Sementara Frans juga di mintai sebagai saksi di tempat terpisah.Begitu pun ketua Rt dan ustadz yang di mintai untuk menikahkan Nisa dan Frans.
Setelah di selidiki, keterangan yang mereka beberkan hampir sama.
Mereka di mintai tolong oleh Nando untuk menikahi keponakannya tersebut, karna menurut Nando Nisa itu anak yang sulit di atur dan meresahkan.
Hingga mereka membawanya kerumah mereka yang pernah mereka tempati.
Dahulu Nando pernah di usir oleh ayahnya karna berusaha mencuri surat tanah dan beberapa aset dan hendak menjualnya secara diam-diam, karna setelah menikah Nando mengalami kesulitan ekonomi. Ia pernah meminta kepada ayahnya untuk menjual sebagian tanah, agar ia punya modal, tapi ayahnya menolak. Ia sangat tahu jika Nando saat itu suka mabuk-mabukan dan berjudi.
Dan mereka terpaksa tinggal di tempat terpencil tersebut. Itulah yang membuat Nando semakin sakit hati.
Setelah ayah Nando meninggal,sang Kakak Herman meminta Nando kembali menempati rumah mereka, sementara Herman menempati rumah orang tua mereka yang lebih besar.
Usaha keluarga Herman pun semakin berkembang pesat. Herman mengangkat seorang consultan untuk menangani.proyeknya sementara dirinya hanya di.jadikan pengawas lapangan.
Nando pun di pecat dari pekerjaannya.
Sejak itu ia semakin dendam dengan sang kakak dan berujung rencana untuk melenyapkan seluruh angota keluarga Herman dan merampas kembali harta warisan dan harta milik keluarga Herman.
***
Nando dan Mala berada di dalam tahanan berbeda.
Mereka menunggu proses hukum yang berlaku sebelum akhirnya masuk kedalam rutan.
Gladis dan Jessica menangis di kantor polisi. Mereka pun meminta ijin dari pihak kepolisian untuk mempertemukan keduanya dengan ayah dan ibu mereka.
Gladis dan jesicca berada di depan ruang tahanan. Melihat sang mami yang terkurung di ruang jeruji besi.
Gladis dan Jessica semakin sedih dan menangis semakin histeris.
"Mami ! hiks hiks, kalau Mami dan Papi di penjara kami mau tinggal sama siapa?" tanya Jessica.
Mala terunduk, ia sendiri binggung. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika rencana jahatnya akan gagal seperti ini.
"Mami jawab dong! Bagaimana kita sekolah !Bagaimana kita makan kalau Papi ngak kerja?!" Desak Gladis.
Hiks hiks hiks, mereka pun semakin jadi menangis.
"Kalian tenang saja uang tabungan Mami dan Papi masih banyak! Segera tarik uang tersebut atau pindahkan uang tersebut ke rekening kalian. Lakukan secepatnya sebelum polisi menyelidiki dari mana uang itu kami dapatkan, "bisik Mala.Ia pun mengeluarkan beberapa atm.
Keduanya pun berhenti menangis secara perlahan.
__ADS_1
"Jangan lupa hubungi pengacara Papi biar dia yang membantu meringankan hukunman kami. Dan ingat setiap harinya harus kalian jenguk Mami dan Papi dan bawa makanan yang enak dengan uang tersebut." Mala.
Gladis dan Jessica saling melongo.
"Tapi bagaimana bisa kami jenguk mami di sini setiap harinya ! Rumah dan sekolah kitakan jauh dari ini Mi!" Gladis.
"Oh iya. Mami lupa."
"Hiks hiks, gimana nasib kita sekarang Mi. Ngak punya saudara. Mami dan Papi di penjara dan tak tahu kapan akan bebas. Mana sebentar lagi aku ujian. Batal deh sekolah kedokteran.Hiks hiks hiks."
Mala tertegun. Bulir bening menetes di pipinya.
Maksud hatinya ingin menghancurkan masa depan Nisa, kini justru masa depan kedua putrinya yang hancur.
Aira dan Aldi sudah sampai di kantor polisi setempat, mereka pun mencari keberadaan Arsyad dan Nisa.
Aira berkoordinasi langsung dengan kepala sektor setempat untuk membawa Arsyad dan Nisa guna di mintai keterangan oleh pihak kepolisian di daerah mereka tinggal.
Kepala sektor langsung menuntun Aira, Aira juga sudah mengerahkan timnya berupaya untuk mengusut kembali kasus kecelakaan yang menimpa keluarga Nisa.
Mereka pun sampai di salah satu ruang penyidikan di mana Arsyad dan Nisa masih menunggu di sana.
Kreak pintu di buka.
Keduanya pun menoleh ke arah pintu masuk.
"Bunda!" Arsyad dan Nisa pun berlari menghambur memeluk Aira.
Aira merentangkan tangannya kearah keduanya.
Aira sedikit syok melihat keadaan Nisa yang begitu memprihatinkan.
Nisa kembali menangis haru.
"Hiks hiks, tubuh Nisa terguncang, saking sedihnya ia sampai tak bisa berkata apa-apa."
"Nisa kamu tenang ya Nak. Mulai sekarang kamu akan tinggal bersama ayah dan bunda. Di sana ngak akan ada yang menyakiti kamu," ucap Aira seraya menusap rambut Nisa.
"Hiks hiks hiks, tapi Nisa takut merepotkan bunda hiks hiks."
"Ngak merepotkan kok Nis, kalau kamu mau jadi menantu Bunda, "canda Arsyad.
Seketika Aira tersenyum.
"Apaan sih kamu Syad," ucap Nisa sambil meninju pelan perut Arsyad.
"Ngak usah di modusin dek! Orang lagi sedih." Aira.
"Ya namanya juga usaha." Arsyad.
Mereka pun tertawa kecil, melupakan mejadian yang menimpa Nisa.
"Yuk. Calon mantu kita pulang," cetus Aldi sambil merangkul dan memeluk Nisa.
" Hiks, terima kasih Yah."
Nisa berjalan dalam rangkulan tanggan Aldi sementara Arsyad ia merangkul sang Bunda.
Bersama Aldi, Nisa seperti merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang ayah yang ia rindukan.
__ADS_1
Bersambung.