
Aldi dan Aira masuk kedalam kamarnya, meski merasa ngantuk ia harus segera bersiap.
Sementara Aldi, ia kembali merangkak di atas tempat tidur.
"Mas Aldi, ayo dong kita harus segera bersiap," ujar Aira sambil melepaskan pakainya satu persatu di depan Aldi, dan itu membuat mata Aldi membelalak sempurna padahal sebelumnya ia begitu mengantuk.
Aira meraih bathrobenya dan menggunakan bandana dan mengikat asal rambutnya, setelah itu meraih piring dan spantula untuk menggunakan masker.
Baru saja menuang masker ke dalam piring kecil khususnya, tubuhnya di tarik oleh Aldi.
Aldi memeluk dari belakang kemudian mengangkat tubuh mungil istrinya, "Mas Aldi mau ngapain? "sungut Aira sambil sedikit meronta.
"Salah sendiri kenapa kamu pancing Mas Aldi, mas Aldi ngak bisa move on kalau sibuyung bangun, "ucapnya seraya berjalan menuju ranjang.
"Tapi Mas, ini sudah jam berapa dan sebentar lagi_" kata-kata Aira terheti karna langsung di blok Aldi dengan bibirnya.
Tanpa ragu ia pun melepas bathrobe yang menutup tubuh istrinya dan terlihatlah tubuh indah sang istri yang membuatnya semakin tak kuat menahan.
Aldi langsung membuka pengaman tubuhnya, lembar demi lembar kain ia lepaskan dari tubuhnya dan membiarkannya tergeletak begitu saja.
Tanpa basa-basi ia membuka lebar pangkal paha Aira dan langsung memasukan senjatanya tanpa permisi.
Dengan pasrah sambil menikmati, ia pun merelakan tubuhnya di hajar sang suami selama setengah Jam.
Akh, segar kembali ucap Aldi sambil menarik senjatanya di lembah yang telah ia basahi dengan peluru ber*len*dirnya.
Keringat mengucur membasahi tubuhnya, padahal hari masih begitu pagi, tapi tubuh mereka sudah terasa hangat dan gerah akibat serangan fajar yang mereka lakukan.
"Ihs, sebel, Aira jadi ngak sempat maskeran dan luluran," dengus Aira sambil meraih bathrobesnya yang tergeletak di atas lantai.
Setelah selesai merias wajahnya, Aira meminta mbok Jum untuk menata rambutnya.
Aldi mengenakan kemeja putih dengan blazer hitam yang membuatnya semakin terlihat tampan, kadang Aira gemes sendiri jika melihat wajah suaminya, ia merasa bangga karna hampir setiap saat bisa mencium wajah tampan sang suami.
"Sayang Mas Aldi turun kebawah dulu ya, siapa tahu papa butuh bantuan Mas Aldi," ucapnya sambil berlalu.
"Iya Mas setelah selesai, Aira langsung ke kamar mbak Tari, " sahutnya sambil memoles perona pada wajahnya.
Setelah selesai berdandan Aira langsung menuju kamar Tari untuk menghampiri kakak ipar tersayangnya, dengan balutan kebaya dan rambut yang di sanggul, Tari tampak begitu cantik dan anggun.
"Sudah selesai," ucap penata rambut tersebut setelah memasang aksesori terakhir untuknya.
"Wah Mbak Tari cantik banget," ucap Aira yang mendaratkan bokongnya di atas kasur empuk.
Aira juga mengenakan kebaya berwana putih dan sanggul senada dengan Tari.
Tari menghampiri Aira, dan menggenggam tanganya," Mbak nervous banget Aira, " ucapnya dengan berbinar.
"Nervous, apa ngak sabar nunggu peresmianya?"tanya Aira dengan senyum mengulumnya.
"Hm dua-duanya Aira, Mbak ngak sabar melihat Romeo menggunakan pakaian pengantin Pria, " ucap Tari sumringah.
"Pasti ganteng banget deh," imbuhnya girang.
"Masak sih, bukan ngak sabar untuk malam pertamanya ya?"tanya Aira sambil tersenyum menaik turun kan alisnya.
"Iya, tahu aja," ucapnya sambil mencolet hidung Aira.
Tak beberapa lama kemudian terdengar Mc mengambil alih acara, karna acara akan di awali dengan penyambutan kedatangan rombongan mempelai pria.
Romeo keluar dari mobil dan di sambut dengan sebuah tarian penyambutan, kedua orang lelaki berhadap-hadapan sebagai duta dari kedua kubu.
Kubu Romeo pun menyatakan maksud kedatangan mereka, sedangkan dari kubu mempelai wanita menyatakan penerimaan dan penyambutan kedatangan mereka.
Setelah melewati serangkaian adat dan acara, ahkhirnya rombongan pengantin pria di persilahkan untuk masuk dan duduk di pelaminan kecil, pengantin dan kedua orang tuanya duduk bersimpuh di atas lantai.
Di hadapan mereka terdapat meja kecil dan buku nikah dari KUA.
Di samping Romeo juga ada Doni, sahabat sekaligus orang yang bikin konsentrasi Romeo buyar.
"Eh Rom, sudah loh hapal, ikrar ijab qabulnya?"tanya Doni yang tiba-tiba muncul, saat Romeo menghapal ikrar ijab qabulnya.
"Ish brisik banget loh, bikin konsentrasi gue buyar aja," sahut Romeo sinis.
"Eh, gue cuma ingatin kok,butuh selang oksigen ngak?"tanya Doni yang bermaksud memancing reaksi kesal Romeo.
"Diam loh!" sahutnya ketus.
Romeo memang merasa gugup, meski sebelum ini ia sudah menghapalnya.
Seorang penghulu duduk di hadapannya, sedangkan Mc kembali mengambil alih acara.
Romeo semakin gugup, tak hanya Satria dan Maya, kedua saudara Tari juga ikut menyaksikan pengucapan ijab qabulnya.
__ADS_1
Kedua lelaki tersebut menatap Romeo dengan tatapan datar, terutama Aldi, Romeo pernah menjadi sahabat sekaligus musuh baginya dan sekarang dengan lapang dada Aldi harus menerima jika Romeo akan menjadi kakak iparnya.
"Tes.. tes... mohon tenang, karna acara akan segera di mulai,"Mc tersebut menginstruksi kepada hadirin yang hadir.
Sejenak semua terasa sepi dan senyap.
"Bapak Satria, apa anda siap menjadi wali nikah putri kandung anda?" tanya penghulu tersebut kepada Satria.
"Siap!"ucap Satria tegas dan lantang.
"Saudara Romeo, apa anda sudah siap?"tanya penghulu kepada Romeo.
"Siap, "ucap Romeo dengan detak jantung yang berpacu semakin cepat.
Romeo memulai konsentrasinya agar bisa fokus, ia mengatur nafasnya agar lebih menjadi lebih rileks.
Ketegangan terjadi tak hanya diatas pelaminan, tapi juga di dalam kamar Tari.
Tari menggigit lembut bibir bagian bawahnya, sementara tubuhnya terpaku tertunduk menahan debaran jangtung yang berirama ngebeat.
Begitu pun Aira, ia meraih tissu dan mengelap keriangat yang muncul di kening Tari.
"Baik lah, Bapak satria, silahkan menjabat tangan saudara Romeo, kita mulai sekarang," instruksi penghulu.
Satria menyodorkan tanganya kearah Romeo dan di sambut oleh Romeo dengan tangannya yang terasa dingin.
"Sudah siap!"penghulu memberi aba-aba.
Mc mendekatkan mikrofone kearah Satria dan Romeo.
Ketengangan kembali terjadi, saat Satria menatap lekat Romeo dan membuat Romeo sedikit goyang.
Satria menarik nafas panjangnya dan menghembuskan nya pelan, acara tersebut berlangsung dengan khitmat.
Begitupun di kamar, Aira dan Tari menanti detik detik pengucapan ijab qabulnya.
Satria memuai akadnya.
"Saudara Romeo, saya niakah dan kawinkan kamu dengan putri saya yang bernama Mentari Senja Adinda Mahesti, dengan sebentuk cicin emas bermata berlian tunai.!" Satria.
Romeo menarik nafas panjang, menahan dan menghembuskanya secara perlahan.
"Saya terima nikah dan kawinya putri anda, Mentari Senja Adinda Mahesti dengan mas kawin tersebut tunai." sambut Romeo dengan satu helaan nafas.
"Syah,! " sambut para saksidi iringi ucapan syukur.
Ada rasa lega di hati Romeo, ia pun merasa bahagia karna semua berjalan lancar.
Suci mendekati putranya kemudian kembali mencium putranya tersebut.
Selamat Romeo, sekarang kamu susah "resmi menjadi seorang suami, "ucap Suci yang begitu haru sambil memeluk Romeo.
"Iya Ma," ucap Romeo yang juga menitikan air matanya.
Suasana haru tak hanya terjadi di atas pelaminan, tetapi juga di kamar pengantin.
Air mata haru sekaligus bahagia menetes tak tertahan kan mengalir pada pipi Tari, saat menyadari dirinya kini resmi menjadi istri syah Romeo.
Tak kuat menahan haru, Tari pun menghambur memeluk Aira yang juga haru melihat kebahagiaan kakak iparnya tersebut.
Tubuh Tari terguncang di pelukan Aira, ia memang sulit untuk mengendalikan emosinya, baik itu dalam keadaan bahagia, marah ataupun bersedih.
Aira mengusap punggung Tari yang berguncang tersebut.
"Sudah Mbak, jangan menangis lagi, hari ini mbak sudah resmi menjadi istri bang Romeo, dan semoga kalian akan tetap bersama dalam suka dan duka," ucap Aira tulus, ia pun tak bisa membendung rasa harunya, kini dua orang yang ia sayangi menyatu dalam ikatan suci pernikahan.
Bagi Aira tak hanya Tari, tapi Romeo juga sudah di anggapnya sebagai saudara yang selalu melindunginya.
"Udah Mbak, sebentar lagi bang Romeo akan datang kemari untuk menjemput Mbak Tari, "ucap Aira sambil mendorong lembut tubuh Tari.
"Sudah hapus air matanya,"ucap Aira sambil menyodorkan beberapa lemnar tisu, ia pun menepuk pelan pundak Tari.
Tari meraih tissu tersebut di tangan Aira, ia pun menghapus perlahan titik air mata yang menetas di pipinya.
Untung saja, MUA menggunakan bedak impor yang tak meluntur sedikit pun saat dikucur oleh derasnya air mata Tari.
Setelah mengucap syukur dan berdoa, mereka kembali melanjutkan acara selanjutnya, yaitu menjemput mempelai wanita, kemudian menandatangani buku nikah.
"Kami persilahkan mempelai Pria menjemput pengantin wanita," ucap MC.
"Ayo Nak berdiri dan jemput istri kamu," ucap Suci kepada Romeo.
Romeo berdiri dengan wajah datarnya, meski belum tumbuh rasa cinta di hatinya untuk Tari, namun ia bertekad untuk menjadi pria yang bertanggung jawab terhadap komitmen yang sudah di buatnya.
__ADS_1
Dengan didampingi oleh Maya dan Suci, Romeo di tuntun untuk menuju ke kamar pengantinnya, untuk menjemput sang istri.
Dengan siaga, penata rias tersebut kembali membenahkan riasan Tari, dan dalam waktu sekejab saja, wajah Tari sudah terlihat segar dan merona kembali.
Tari merasakan degup jantungnya yang berdetak kencang, saat suara sol sepatu mendekati kearah kamarnya.
"Siap-siap Mbak," ucap Aira yang juga mendengar langkah kaki tersebut.
Benar saja, kedatangan Romeo membuat Tari terbungkam seketika, jantungnya serasa berhenti memompa saat melihat Romeo yang begitu ganteng menggunakan pakaian penganten lengkap dengan balutan jas beskab berwarna putih.
Romeo seketika tersenyum, tapi pandangan matanya bukan tertuju pada istrinya namun wanita yang ada di sebelah Tari.
Ada desiran pada aliran darahnya saat melihat Aira, perasaan rindu tersebut seketika muncul kembali setelah beberapa waktu yang lalu coba ia kubur dalam-dalam.
Romeo menunduk seraya berjalan menghampiri Tari, sebisa mungkin ia mencegah agar tatapan matanya tak tertuju pada Aira.
Ternyata Aldi juga mengikuti ketiganya, Aldi juga ingin menjemput sang istri, karna ada rasa cemburu di hatinya jika Romeo bertemu Aira langsung.
Romeo semakin mendekat, dan Tari hanya bisa tertunduk malu, "Ayo Tar, " ucap Romeo sambil menyodorkan telapk tanganya kearah Tari.
Dengan senyum yang tak bisa di lukiskan dengan kata-kata, Tari menyambut uluran tangan suaminya, sesuatu yang sudah lama begitu ia nantikan.
Tari perlahan mendekat kearah Romeo dan langsung mengandeng tangganya, mereka meninggalkan Aira yang tersenyum bahagia kearah mereka.
Aldi pun masuk kedalam kamar Aira ketika mereka semua keluar dan membawa Tari menuju pelaminan, yang tertinggal hanya kedua penata rias yang membereskan alat make-upnya.
Aldi menghampiri Aira, dan ketika sudah berada di hadapan istrinya, Aldi seketika bertutut di hadapan Aira seraya meraih tangan sang istri dan mencium punggung tanganya, sontak saja perlakuan Aldi tersebut membuat Aira dan orang yang ada di sekitar tercengang.
"Istri Reynaldi tersayang, ayo kita turun," ucap Aldi dengan mesra setelah mencium punggung tangan sang istri.
Aira merasa tersanjung, bahkan Aldi tak sungkan melakukan hal tersebut di hadapan orang yang tak dikenalnya.
"Em, mas Aldi, so sweat," ucap Aira sambil menarik tangan Aldi agar kembali berdiri.
"Ayo pengantin mas Aldi, "ujarnya kembali sambil merangkul sang istri, Aira tersenyum ke arah Aldi, tanpa sungkan ia pun mencium bibir Aldi.
Cup..cup.. beberapa saat,"Emangnya hari ini kita menikah lagi mas?"tanya Aira sambil berjalan menggandeng mesra tangan Aldi.
"Kita kan selalu menikah setiap hari, karna setiap harinya kita selalu melalui malam pertama," ucap Aldi sambil mengecup kening sang istri.
Senyum terlukis di wajah Aira, ia merasa bahagia karna mendapatkan lelaki yang sempurna di matanya.
Kepergian keduanya dari kamar itu meninggalkan decak kagum ketiga orang yang berada di kamar tersebut.
"Beruntung sekali gadis itu mendapat suami ganteng, kaya dan romantis seperti Aldi," ucap seorang dari MUA.
"Iya, mungkin gadis itu juga berasal dari keluarga yang setara dengan mereka," sahut yang lainya.
Setibanya di pelaminan, Tari dan Romeo pun duduk bersanding pada sebuah kursi.
Senyum bahagia tak lepas dari keduanya.
Mc kembali mengambil alih acara, "Tes...Karna kedua pengantin sudah berada di pelaminan acara kami lanjutkan."
"Acara selanjutnya ialah menanda tangani buku nikah, bertukar cincin dan menyerahkan hantaran yang di lakukan oleh perwakilan pihak mempelai pria ke mempelai wanita. "
Penghulu menyodorkan dua buku nikah yang harus mereka tanda tangani.
Mereka pun secara bergantian menandatangi buku nikah tersebut.
Setelah itu acara di lanjutkan dengan bertukar cincin.
Romeo meraih kotak kecil berwarna merah tersebut dan mejumput cinci dan menyematkan nya ke jari manis Tari.
"Adinda , cincin ini adalah bentuk kasih sayang kanda terhadap adinda, mau kah adinda menerima ini dengan tulus," ucap Romeo sambil menahan tawanya, karna ia harus mengikuti apa yang di bisikan oleh seseorang di telinganya.
Sementara Doni, menutup rapat mulutnya mendengar ucapan Romeo yang terdengar lebay tapi lucu tersebut.
Tak hanya Romeo, seseorang juga membisikan kepada Tari untuk membalas ucapan Romeo, dan Tari harus mengikutinya.
"Iya kakanda, Adinda menerimanya dengan senang hati," ucap Tari, ia juga menahan tawanya karna mereka berdua tak pernah bicara lembut seperti itu.
Tak hanya mereka, sebagian tamu juga ikut tertawa mendengar ucapan romantis namun terdengar kaku tersebut.
Setelah kedua cincin tersemat di jari menis masing-masing, Romeo pun mendaratkan kecupan pada kening Tari.
Begitupun Tari yang merasa bahagia saat mencium kedua pipi suaminya di hadapan umum, sebagai deklarasi bahwa mereka adalah pasangan yang sah dan Resmi di mata hukum.
Auh, capek banget reader nulis 3k hari ini, oh ya author minta saran dan kritinya ya, gimana nih, prosesi pernikahan Tari harus di tulis detail atau singkat saja, jujur aja nih, author udah ngak sabar nulis malam pertama mereka, he he, kasih sarannya ya.
trims,
Salam sayang dari author.
__ADS_1